Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
112.Playboy?


__ADS_3

"Aku ikut" Ucap ajudan setelah mendengar jawaban dari kakak nya


"Mau ngapain ikut?" Tanya bunda bingung


"Masa' kakak ku cuman pergi berdua an? jadi biar adib aja yang menemani kakak ku ini" Jawab ajudan dengan melingkarkan tangan nya di lengan Shinta


*Bunda memang pernah merasakan seperti apa yang kakak rasakan, dan entah sadar atau tidak tapi bunda justru mengulangi hal yang sama pada anak gadis bunda sendiri* Batin ajudan dengan hati yang tersenyum getir


"Aku ke atas dulu" Ucap Shinta melepas tangan ajudan kemudian naik ke atas untuk bersiap siap


Butuh waktu 10 menit bagi Shinta untuk bersiap siap, tidak berlebihan... hanya baju sopan, tertutup dan tak lupa hijab yang menutupi dada lengkap dengan tas mini nya, setelah selesai barulah Shinta kembali turun ke bawah


"Lama banget kak" Ucap ajudan, Shinta hanya heran ketika sang adik sekarang hobi sekali mencibir diri nya


"Lama apanya? perasaan juga sama kayak biasanya" Ucap Shinta membela diri


"Udahlah kalian ini" Lerai bunda dengan menggelengkan kepala nya


"Bunda... Reyhan izin pinjam Shinta nya dulu" Ucap Reyhan dengan menyalami tangan wanita paruh baya yang sudah melahirkan gadis pujaan hati nya


*Ooo, dia bisa bicara lembut juga sama orang lain ya?* Batin Shinta yang baru tahu karena setahu nya Reyhan itu tidak banyak bicara, ya kecuali dengan diri nya


"Boleh, jangan di apa apa in loh ya" Ucap bunda memperingati dan Reyhan pun menganggukkan kepala nya


"Kalau udah nikah baru boleh di apa apa in" Sambung bunda yang membuat Shinta harus menahan malu, kenapa bunda nya itu blak blakan sekali? dia hanya tidak ingin jika sang bunda akan berharap terlalu tinggi pada Reyhan


"Bunda... Adib sama kakak berangkat dulu, jangan kangen sama anak bunda yang tampan dan cantik ini" Ucap ajudan panjang kali lebar


"Panjang amat kayak kereta api!" Cibir Shinta karena dia saja tidak pernah seperti itu pada bunda nya


"Terserah aku... mulut mulutku" Ucap ajudan santai kemudian keluar dari rumah diikuti Shinta juga Reyhan


Dalam perjalanan Shinta sudah sangat gugup dan negative thinking selalu menghantui nya, dia hanya takut saja


"Ekhem... aku punya pertanyaan" Ucap Shinta yang duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama adik nya, hanya Reyhan yang berada di depan, ya... ini peraturan dari ajudan sih


"Apa?" Tanya Reyhan dengan pandangan fokus ke jalan raya


"Kamu playboy gak?" Tanya Shinta yang membuat kening Reyhan berkerut


"Kenapa wanita selalu nanya itu?" Bukan nya menjawab tapi Reyhan justru bertanya balik


"Kalau aku jawab IYA pasti mereka marah, tapi kalau aku jawab ENGGAK pasti mereka gak bakal percaya kan?" Sambung Reyhan yang memang benar sekali adanya di real life

__ADS_1


"Tunggu, siapa mereka yang marah dan yang gak percaya sama kamu?" Selidik Shinta saat menyadari satu hal atas ucapan Reyhan


"Ya kan semua cewek rata rata gitu kak" Sahut ajudan yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka


"Kakak kan gak nanya samaa kamu!" Ucap Shinta


"Perasaan antar laki laki, pasti sama lah" Ucap ajudan terkekeh


Shinta hanya kesal sambil memcebikkan bibir nya, heran sekali dia dengan adik yang sudah satu frekuensi dengan Reyhan, mereka ini bekerja sama atau apa sih? entalah...


30 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai dan memasuki pelataran rumah keluarga Reyhan yang dari gerbang aja udah kayak gapura kecamatan


Setelah mobil benar benar terparkir di depan rumah, Reyhan mengernyitkan dahi nya karena melihat Shinta yang hanya diam saja


"Ayo" Ajak Reyhan menoleh ke belakang,namun Shinta justru tidak bergeming


"Kak... kau yakin?" Tanya Shinta dengan nada khawatir nya


"Apa yang kau ragukan?" Tanya Reyhan balik sedangkan ajudan hanya diam membiarkan mereka berdua bicara tanpa berniat menyela sedikitpun


"Status sosial?" Sambung Reyhan yang dijawab anggukan pelan oleh Shinta


"Aku tidak peduli hal itu" Ucap Reyhan


"Papa ku tidak akan memakanmu, dan dia juga bukan orang yang suka memandang orang lain dari status sosial nya" Ucap Reyhan meyakinkan


*Kak... sampai kapan kau menyembunyikan identitas mu yang sebenarnya? aku sangat takut kalau sampai kakak benar benar tiada di tangan mereka* Batin ajudan


Belum sempat Shinta menjawab ucapan Reyhan, mama Riana tiba tiba keluar dari rumah nya yang lebih pantas disebut sebagai mansion itu, berbeda jauh dengan rumah Shinta yang lebih minimalis


"Udah sampai? kenapa gak di ajak masuk re?" Tanya mama Riana dengan setengah berteriak


"Ada yang takut sama papa mah" Jawab Reyhan ikut berteriak yang membuat Shinta melotot ke arah nya


"Sini sayang..." Panggil mama Riana dengan melambaikan tangan nya, dan jika sudah begini, mau tak mau dia harus segera keluar dari mobil Reyhan


"Assalamualaikum ma" Ucap Shinta mencium punggung tangan mama Riana


"Waalaikumsalam..." Jawab mama Riana kemudian memeluk Shinta yang memang sudah dia anggap sebagai anak gadis nya, begitupun Shinta yang juga membalas pelukan mama Riana karena tidak dapat dipungkiri jika dia juga rindu dengan wanita yang memberikan perhatian bak seorang ibu pada nya


"Assalamualaikum tante" Ucap ajudan tersenyum, begitu juga dengan Reyhan yang keluar dari mobil nya


"Waalaikumsalam..." Jawab mama Riana dengan melepaskan pelukan nya

__ADS_1


"Ayo masuk, kamu tenang aja... papa nya re gak galak kok" Ucap mama Riana dengan membawa mereka semua untuk masuk


"Assalamualaikum..." Ucap mereka kompak saat sudah sampai di ruang keluarga dengan design american classic yang mana sudah ada papa Raka disana


"Waalaikumsalam" Jawab papa Raka seraya berdiri dari duduk nya dan menatap satu persatu orang yang ada di depan nya


"Wah... gak pernah jatuh cinta tapi sekali jatuh langsung suka sama yang tertutup ya rey?" Goda papa Raka dan lagi lagi hanya ekspresi kanebo lah yang keluar dari wajah Reyhan


"Papa nyindir mama ya?" Sengit mama Riana karena dia belum beristiqomah untuk berhijab


"Siapa yang nyindir? mama aja yang ge er" Ucap papa Raka membuat semua orang terkekeh geli kecuali Reyhan


"Oh iya, siapa nama kamu?" Tanya papa Raka lembut seperti seorang ayah yang bertanya pada anak nya


"Shinta... om" Jawab Shinta dengan menyalami tangan papa Raka


"Saya adib om... adik nya" Ucap ajudan yang juga ikut menyalami tangan papa Raka


Mama Riana kemudian menyuruh semua nya untuk duduk agar mereka tidak berbincang dalam keadaan berdiri


"Shinta? papa pernah liat kamu loh..." Ucap papa Raka yang membuat Shinta terlonjak kaget


*Papa?* Batin nya


"Dimana om?" Tanya Shinta


"Di supermarket dulu waktu kamu bantuin mama sama papa" Jawab papa Raka


"Oh... iya om, itu waktu Shinta masih tinggal di Seoul" Ucap Shinta membenarkan


"Panggil papa aja, kamu manggil mama nya rey aja dengan sebutan mama... masa' papa nya rey di panggil om?" Ucap papa Raka


"Iya pa" Ucap Shinta menurut


"Nah gitu dong... kamu jangan merasa takut karena papa orang nya gak pernah memandang seseorang dari sisi apapun itu" Ucap papa Raka tak lupa dengan senyum nya


"Sekarang giliran kamu rey... " Ucap mama Riana yang membuat kening Reyhan berkerut, giliran apa maksudnya?


"Kamu pernah bilang kalau kamu benar benar serius untuk membawa hal ini ke ikatan halal kan?" Tanya mama Riana


"Re serius ma" Jawab Reyhan yang tidak ingin main main


"Kalau kamu memang serius, apa kamu siap menerima segala masa lalu atau apapun itu tentang gadis yang kamu cintai rey?" Tanya papa Raka dengan nada tegas nya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2