
Mereka menghabiskan makanan nya dulu baru membayar dan masuk ke mobil karena tidak mungkin Shinta menceritakan kejadian kemarin di tempat umum
"Ayo cerita sayang, kamu ada masalah apa sama kak Harun?" Tanya Reyhan
"Jadi... " Shinta menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, bermula dari dia yang pingsan lalu Rafiq yang menolong nya
Lalu dia yang masuk ruang gawat darurat, depresi nya muncul, ajudan yang marah dan mencoba mengingatkan bunda nya tentang semua termasuk ucapan seperti sumpah, di lanjut dengan pesan marah dari Harun yang di tambahkan malam itu
"Maaf, ini juga karena aku kan" Ucap Reyhan membawa wanita itu ke dalam dekapan nya, dia tahu bahwa depresi itu muncul karena masalah kemarin
"Aku gak papa, beneran" Ucap Shinta yakin dengan ekspresi berusaha ceria, meskipun hati nya sakit tapi untuk menangis itu rasanya sudah lelah dan tidak ada guna nya
"Maaf, maaf sayang" Ucap Reyhan memperdalam pelukan itu, tidak ada yang bisa dia katakan kecuali ungkapan minta maaf
Dia juga tahu bahwa ventolin sudah tidak Shinta gunakan lagi saat mereka sudah menikah, karena jika Shinta bermimpi buruk di tengah malam tentang masa lalu nya, maka Reyhan pasti menenangkan dan mengelus tubuh itu agar tidak panik tanpa menggunakam ventolin lagi
Seharus nya sudah bagus jika Shinta berhenti menggunakan barang berisi uap kimia itu, tapi sekarang? istri nya kembali menggunakan ventolin karena kecerobohan nya juga
"Aku gak papa, sungguh. Aku tidak menyalahkan takdir sayang, aku percaya kalau ini adalah jalan hidup, tuhan tidak berniat menyiksa hamba nya" Ucap Shinta menyunggingkan senyum manis itu, berharap suami nya tidak akan merasa bersalah lagi
"Tapi gimana sama bunda sayang?" Tanya Reyhan
"Aku belum bisa menghubungi nya sama sekali mas, karena kak Harun benar benar melarangku" Jawab Shinta tetap tersenyum walau suami nya tahu jika dia sedang sedih
"Sabar ya, yang di lakukan Adib sebenarnya gak salah karena dia hanya ingin menyadarkan kesalahan orang tua nya, hanya saja cara itu kurang tepat karena seharus nya dia bicara baik baik tanpa ada emosi yang menyelimuti" Ucap Reyhan
Karena bagaimanapun orang tua, dialah orang yang melahirkan kita, yang membuat kita ada di dunai ini, kalaupun ingin mengingatkan maka harus menggunakan tutur kata yang baik dan sopan agar tidak menyakiti hati orang tua nya
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibubapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali janganlah kamu mengatakan ke pada keduanya perkataan 'ah' dan ja nganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS al-Isra[17]:23).
Latihan mencintai Tuhan ialah mencintai orang tua. Secara visual, kita telah merasakan dan akan terus merasakan betapa orang tua berjasa dalam hidup ini. Selain sangat tulus dan ikhlas, keduanya juga sangat konkret memberikan jasa itu kepada kita.
Sulit membayangkan ada cinta tulus kepada Alloh SWT tanpa ada cinta tulus kepada orang tua. Berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain) salah satu amal istimewa yang wajib dilakukan bagi setiap orang.
Berbuat baik kepada orang tua kita diingatkan berkali-kali dalam Alquran. Di antaranya surat al-Isra di atas. Sementara Rasulullah SAW bersabda:” رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ "Ridha Tuhan terletak pada ridha kedua orang tua".
Artinya, jika kita hendak melihat Tuhan tersenyum, buatlah kedua orang tuanya tersenyum. Sebaliknya, jika ingin melihat Tuhan cemberut, buatlah kedua orang tuanya cemberut.
Durhaka terhadap kedua orang tua tidak akan mendapatkan keberuntungan dunia akhirat. Jika kedua orang tua telah berbuat baik langsung kepadanya, seseorang tidak sanggup berbuat baik terhadapnya, apalagi terhadap orang lain yang tidak pernah punya social saving terhadapnya.
Ayat yang disebutkan di atas menggunakan kalimat-kalimat khusus yang secara gramatikal memiliki makna spesifik yang perlu dikaji.
Ayat di atas Allah menggunakan istilah "wa bil walidaini ihsana", Allah menggunakan huruf ba (bi) yang menunjukkan kedekatan, bukannya huruf lam (li) yang mengisyaratkan adanya jarak.
Artinya, berbuat baik kepada fakir miskin, tetangga, dan orang lain dapat melalui perantaraan. Namun, berbuat baik kepada kedua orang tua sebaiknya dan semestinya anak itu langsung melaksanakannya.
Tidak cukup hanya mengirimkan uang ke kampung, atau mengirimkan obat, suster, atau bahkan dokter. Yang lebih tepat ialah anak langsung berbuat baik kepadanya secara langsung. Di manapun dan dalam keadaan apa pun, sang anak tidak ada alasan untuk menelantarkan orang tuanya.
Dalam perkembangan masyarakat kita, ada kecenderungan rasa respek anak terhadap kedua orang tua semakin krisis atau semakin bermasalah. Anak- sudah mulai tidak mau mendengarkan nasihat orang tuanya, bahkan sudah banyak yang berani menyiksa orang tua karena tidak diberi uang jajan atau tidak dibelikan motor. Bahkan, ada yang memaksa orang tuanya untuk menjual rumah tinggalnya dengan alasan minta bagian warisannya sebelum orang tuanya meninggal. Naudzubillah.
Bisa dibayangkan, jika kenyataan ini merajalela di dalam masyarakat, dikhawatirkan akan turun azab Tuhan secara masif. Rasulullah pernah bersabda, salah satu tanda-tanda hari kiamat kecil, sebelum nanti datangnya tanda-tanda besar, ialah para orang tua melahirkan raja atau ratunya.
Artinya, orang tua akan melahirkan pemaksa dan teror yang akan menyiksa dirinya. Sekarang sudah umum kita saksikan anak-anak durhaka kepada kedua orang tua. Ada yang secara langsung dan ada dalam bentuk tidak langsung, dengan melakukan pembiaran orang tuanya telantar di tempat lain.
Belum lagi banyaknya anak-anak remaja yang seperti menyandera orang tuanya. Mereka mengancam mogok sekolah atau kuliah kalau tidak dibelikan kendaraan, sungguhpun itu berat bagi orang tua.
"Ya, aku juga bilang seperti itu tapi mungkin dia masih di selimuti rasa kesal atau apa sehingga mengabaikan ucapan ku" Jawab Shinta membenarkan apa yang suami nya ucapkan tadi
"Sabar sayang, aku akan coba bicara sama kak Harun nanti" Ucap Reyhan mengerti jika kakak iparnya memang agak keras kepala
"He'em, nanti aja kalau dia udah tenang dan bisa di ajak ngobrol santai, aku juga akan menghubungi bunda atau pulang kesana langsung setelah semua ini selesai" Ucap Shinta mengutarakan jika nanti nya tidak ada jalan lain lagi
"Iya, semua butuh waktu dan proses, seperti kita sekarang" Ucap Reyhan tersenyum
"Tau, mungkin emang gak mudah tapi setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya" Ucap Shinta meskipun jalan keluar itu harus belibet dulu, tapi kan yang penting bisa menemukan jalan keluar, iya kan?
"Oh iya sayang, Rendra udah ngasih izin buat pinjam lab nya. Kita mau kesana sekarang atau besok aja?" Tanya Reyhan yang tidak mungkin memaksa jika istri nya sudah lelah
"Langsung aja" Jawab Shinta
"Gak pakai foreplay dulu?" Goda Reyhan
__ADS_1
Plakk! Shinta memukul lengan suami
"Malah travelling ini pikiran nya"
"Maksudku semakin cepat kita mengetahui obat itu maka semakin cepat pula masalah ini selesai mas" Jawab Shinta yakin
"Becanda, emang kamu amu gak capek? kalau iya mending istirahat dan kita lanjut besok aja" Ucap Reyhan
"Aku pengangguran, kerjaan ku cuman makan tidur sholat. Capek dimana nya mas?" Ucap Shinta tergelak, ada ada saja suami nya ini
"Kan barangkali aja capek sayang, bisanya ibu hamil suka capek atau pegel pegel badan nya" Ucap Reyhan sembari mulai menyalakan mesin mobil itu
"Ada kamu mas, tukang pijit mesum dan handal" Goda Shinta menaik turunkan alis nya dengan senyum mengembang
"Iman ku rendah kalau herhadapan sama kamu sayang, jadi jangan goda in aku kalau gak mau 'itu' terjadi di dalam mobil" Ucap Reyhan
"Lah... terjadi juga gak papa asal jangan di jalan raya" Ucap Shinta malah semakin menggoda suami nya, hobi baru nih!
"Awas aja kamu ya, nanti pulang periksa kamu harus tanggung jawab!" Ancam Reyhan
"Kenapa harus periksa dulu? sekarang juga boleh loh, banyak hotel kan?" Ucap Shinta lalu mengecup pipi itu sekilas
"Sayang!!!" Pekik Reyhan, jika tidak hamil maka sudah pasti ia akan lebih dulu merebahkan tubuh istri nya itu di kasur hotel yang nyaman
"Bercanda calon papa, jangan marah marah nanti cepat tua" Ucap Shinta ganti memainkan hidung mancung suami nya
"Bukan tua sayang, tapi hot daddy" Ucap Reyhan pede dengan senyum sok kecakepan walaupun asli nya juga cakep
"Ayah panas? badan kamu gak sakit kan mas?" Tanya Shinta menerjemahkan kata hot daddy ke dalam bahasa indonesia
"Gak tau ah sayang, terserah kamu" Ucap Reyhan ganti ngambek dan memajukan bibir nya
Shinta hanya tertawa, jika kemarin dia linglung dan seperti orang tidak waras, tapi berbeda dengan sekarang yang ada suami di sisi nya, rasa semangat dan ceria itu kembali akibat orang spesial hadir dalam hidup nya
Beberapa menit perjalanan, mereka sampai di perusahaan atau lebih tepat nya pabrik pembuatan obat, sudah pasti ada lab karena semua obat dan pemeriksaan kandungan obat pun akan di laksanakan di lab
"Assalamualaikum, Ndra" Sapa Shinta melambaikan tangan nya kala mereka berhenti di parkiran dan keluar dari mobil, kebetulan memang Rendra menunggu di sana
"Waalaikumsalam Shin" Jawab Rendra ramah kemudian berjalan menuju Reyhan yang berdiri di samping istri nya
Satu pukulan mendarat di pipi Reyhan, sedangkan yang terkena pukulan hanya diam
"Astagfirullah, ada apa sih Ndra? dan kalian ini ada masalah apa?" Ucap Shinta berdiri di tengah tengah kedua pria itu
"Lo kenapa sih Ndra? gue dateng langsung main pukul gitu aja" Ucap Reyhan kesal sembari mengelap sudut bibir nya, pukulan dari ajudan saja masih terasa, lah ini? malah di tambahin lagi
"Lo yang kenapa? udah gila apa gak waras? hah?!!" Ucap Rendra cukup meninggikan nada bicara nya
"Maksud lo apa sih?" Tanya Reyhan heran, kenapa sahabat nya ini? langsung mukul gity aja
"Lo main perempuan? mainin hati istri lo? ingat Rey! dia juga wanita, sama kayak nyokap lo, dan lo justru terang terangan selingkuh sampai tersebar di portal bisnis? udah kebanyakan duit trus mau nambah dosa ya lo?" Ucap Rendra mengeluarkan semua unek unek nya, dia juga sempat membaca berita tidak senonoh tentang Reyhan dan selingkuhan nya
"Kayak nya ada yang salah paham" Ucap Shinta bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya
"Shin, aku kalau jadi kamu mending tinggalin si Rey, udah sok kebanyakan duit tu orang" Kesal Rendra
Reyhan yang mendengar hal itu sudah paham dimana letak kesalah pahaman mereka "Sembarangan lo, dia istri gue dan selamanya bakal jadi istri gue" Ucap nya
"Eleh, gak mau di tinggal istri tapi masih aja gak bersyukur punya istri pandai, cerdas gak kayak lo yang cetek pemikiran nya. Gue gak nyangka Rey" Cibir Rendra dengan dada naik turun, pertanda jika dia sedang emosi
"Ndra udahlah, ini jebakan dan gue gak pernah selingkuh" Ucap Reyhan yang membuat Rendra mengangkat alis nya
"Eh... beneran Shin?" Tanya nya memastikan
"Iya Ren, jadi ada yang menjebak mas Rey dan menyebarkan foto itu ke portal bisnis" Jawab Shinta
Rendra malu sekarang, udah mukul mana salah paham pula. Sebenarnya dia tidak percaya tapi ketika melihat foto itu emosi nya semakin membesar
"Oh iya, jangan jauh tahu Jannah karena aku gak mau dia khawatir" Ucap Shinta
"Oke" Jawab Rendra tapi dengan mata melirik sahabat nya yang memberi tatapan tajam, glek! ini juga salah nya sih karena main tampol aja
"Apa? mau minta maaf? gak perlu dan lebih baik bantuin istri gue ke lab" Ucap Reyhan datar
__ADS_1
"Iya, mari silahkan pak Reyhan dan bu Shinta" Ucap Rendra berharap agar Reyhan tidak akan kesal ataupun marah dengan nya karena pukulan barusan
Hanya Shinta yang masuk ke ruang lab, tentu dengan APD lengkap peraturan lab seperti masker, kacamata, jas lab, sepatu boat dan sarung tangan latex, sama seperti yang dia pakai saat kuliah dulu
"Bismillah... ya Alloh, permudahkan urusan hamba" Ucap Shinta mengambil obat yang sempat Reyhan konsumsi
Ia mengambil mortar dan menghancurkan obat itu, lalu mengambil sudip dan memindahkan obat yang sudah menjadi serbuk itu ke dalam tabung reaksi yang sudah di sertai dengan penjepit
( Langkah selanjut nya belum tahu karena author juga belum pernah praktikum membuat obat)
Reyhan yang berada di luar ruangan hanya mondar mandir dan menunggu istrinya keluar, entah apa saja yang Shinta lakukan di dalam sana
"Lo kenapa sih? hal itu udah biasa bagi abak farmasi" Ucap Rendra menggelengkan kepala
"Gak sabar pengen tahu hasil nya, dan untuk lo juga apa apa di pastikan dulu, jangan mukul gue sembarangan" Ucap Reyhan masih kesal dengan kejadian tadi
"Tau Rey, gue minta maaf" Ucap Rendra merasa bersalah, tangan nya ini memang tidak bisa untuk di ajak kompromi
"Hmmm" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Reyhan
Beberapa saat akhirnya Shinta keluar dan membawa satu catatan kecil hasil pemeriksaan yang dia lakukan
"kamu baik baik aja kan sayang? gimana hasil nya?" Tanya Reyhan menggebu
"Ini obat tidur dosis tinggi, kalau di konsumsi secara terus menerus sudah pasti itu akan menyebabkan kerusakan pada salah satu organ tubuh" Jawab Shinta lirih, bersyukur karena suami nya hanya meminum dua butir saja
"Hah... alhamdulillah sayang" Ucap Reyhan juga dan lagi lagi memeluk tubuh itu
"Hiks, lain kali tolong hati hati dan jangan minum obat sembarangan" Ucap Shinta, hampir saja suami nya menderita sakit karena obat itu
"Aku minta maaf, aku baik baik aja sayang... dan aku juga janji kedepannya harus hati hati lagi, oke?" Ucap Reyhan menenangkan istri nya dengan mengelus punggung itu
Rendra plonga plongo di sini, dia masih bingung dengan apa yang terjadi karena belum mengetahui semuanya
"Ck, kalian mesra mesra an sedangkan gue masih bingung di sini" Kesal Rendra menarik kasar rambut nya
Setelah dari lab, Shinta minta di antarkan ke panti asuhan saja karena dia juga ingat jika belum berpamitan dengan Han, bocah itu pasti mencari diri nya
"Nanti aku mampir pas jemput kamu sayang, sekarang masih ada beberapa kerjaan soal nya" Ucap Reyhan kala mobil mereka berhenti di depan pagar panti
"Gak papa mas, aku ngerti kok" Ucap Shinta tersenyum lalu berpamitan dengan mencium punggung tangan itu
Baru saja masuk gerbang, Shinta melihat ada Han berdiri di tengah halaman dengan ekspresi cemberut nya
"Assalamualaikum, kenapa cemberut gitu?" Sapa Shinta sekaligus bertanya
"Waalaikumsalam, Han sebel kalena tante pulang gak bilang Han" Ucap bocah itu semakin memajukan bibir nya
"Maaf, tadi tante cuman pergi sebentar dulu sayang" Ucap Shinta memegang kedua pundak bocah gemoy itu
"Yaudah Han maafin, tapi kita main ya?" Ucap Han memberi syarat
"Oke" Ucap Shinta menyanggupi karena dia memang berniat untuk puas main dengan anak anak dulu sebelum Reyhan menyuruh nya pulang ke apartemen
Sore hari sesuai ucapan nya, Reyhan kembali ke panti untuk menjemput istri tercinta, sebenar nya pasti itu tidak jauh dengan kantor milik nya, hanya saja dia tidak pernah kepikiran kalau Shinta ada di situ karena panti dekat dengan hutan dan perkebunan teh, sedangkan kantor nya ada di pusat kota
"Sore pak, saya mau jemput istri saya" Ucap Reyhan ketiga pagar panti asuhan di buka oleh pak Aman
"Sore juga pak, langsung masuk aja karena neng Shinta lagi ngobrol sama neng Tiara di sana" Ucap pak Aman menunjuk area taman yang cukup jauh dari jangkauan anak anak
Dahi Reyhan mengernyit, dia tahu kalau Tiara adalah ketua white blood satu, tapi bagaimana bisa istri nya mengenal wanita seperti Tiara? apa mungkin mereka berteman?
Ceklak! Reyhan yang sangat tajam pendengaran nya seketika mencari bunyi itu dan menatap sekeliling
Setelah menemukan, matanya membulat ketika melihat ada seseorang di dekat hutan yang cukup jauh, tapi senjata api yang bisa di gunakan untuk jarak jauh itu mengarah ke Shinta, istri nya!!!
*Apa apaan ini?*
Reyhan langsung berlari, menuju istri nya dan "Sayang awas!!!" Ucap nya menghalangi tubuh itu, memeluk nya dari samping agar tidak terkena peluru
Dor!
"Nona awas!!!"
__ADS_1
Bersambung