Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
139.Dua fakultas


__ADS_3

"Harus nyanyi nih?" Tanya Reyhan ragu setelah meletakkan gelas minum nya


"Iya lah, mau ya? hmmm... hmmm" Ucap Shinta kembali menunjukkan puppy eyes nya yang mana jika sudah begini Reyhan tidak akan bisa menolak nya


"Oke, nyanyi disini aja kan?" Tanya Reyhan


"Di taman rooftop" Jawab Shinta sembari mengenakan piyama nya, kemudian turun dan mengambil sesuatu di laci meja nakas, Reyhan hanya memperhatikan apa yang akan di ambil istri nya


"Tara... kalimba yang kamu kasih" Ucap Shinta memegang kalimba berbentuk love hadiah ulang tahun nya kemarin


"Yaudah ayo!" Ajak Reyhan, keduanya kemudian keluar kamar dan berjalan menuji taman rooftop


"Kamu gak pakai hijab?" Tanya Reyhan saat mereka berdiri di pintu rooftop


"Dari luar taman ini gak kelihatan kok, cuman orang di dalam rumah aja yang tau kalau ada rooftop" Jawab Shinta dan suami nya itu mengangguk faham sebagai jawaban


Pasutri itu masuk dan duduk manis bersebelahan di sofa, rooftop itu benar benar mengingatkan mereka dulu sebelum menikah, apalagi Reyhan yang menelisik sudut ruangan itu satu persatu


"Katanya mau nyanyi? ini malah nostalgia" Ucap Shinta terkekeh


"Kan ada kenangan indah disini sayang, waktu itu aku yang gendong kamu ke kamar juga kan?" Ucap Reyhan memastikan


"Itu kan dhorurot, mana mungkin kamu biarin aku tidur di luar gini" Ucap Shinta kemudian memberikan kalimba pada suami nya


"Aku gak bisa cara nya main ini sayang" Ucap Reyhan mengerutkan alis nya


"Hampir sama kayak piano kok" Ucap Shinta


"Dari mana kamu tau aku bisa main piano?" Tanya Reyhan


"Heol... aku istri kamu, jelas mama yang ngasih tau" Ucap Shinta menjulurkan lidah nya


Reyhan lagi lagi mengangguk, ia kemudian mulai memakai pengaman jari dan jari lentik nya perlahan memainkan kalimba itu, mulut yang selama ini ia gunakan untuk memarahi pegawai nya pun mulai mengeluarkan suara


"Untuk istri ku tercinta, satu satu nya" Ucap Reyhan sembari tersenyum lebar sebelum bernyanyi


🎵Jika 'ku radio dan engkau lagunya


Dan aku putarkan hingga semua terleka


Begitulah kita ditakdirkan untuk bersama


Jika 'ku air wudhu mu


Menjadi seri mu


Dalam lima waktu


Jika kau kuat percaya


Akulah jodoh mu


Jaga mu selalu


Menarilah sayang di hari bahagia


Di bawah bulan bintang


Kasih kita berdua


Jangan bimbang sayang


Kita arungi bersama berdua s'lamanya


Sampai ke hari tua


Mencintaimu🎵


Shinta menyaksikan penampilan suami nya dengan hikmat, mata berbinar, disertai tepuk tangan ringan yang mengiringi lagu cinta itu , tidak menyangka kalau suara Reyhan bagus juga


🎵Kaulah watak utama dalam setiap drama


Yang sering dimainkan menjadi kegilaan


Begitulah kita ditakdirkan untuk bersama


Jika 'ku air wudhu mu


Menjadi seri mu


Dalam lima waktu


Jika kau kuat percaya


Akulah jodoh mu


Jaga mu selalu


Menarilah sayang di hari bahagia


Di bawah bulan bintang


Kasih kita berdua

__ADS_1


Jangan bimbang sayang


Kita arungi bersama berdua selamanya


Sampai ke hari tua


Mencintaimu


Jangan bimbang sayang


Kita arungi bersama berdua s'lamanya


Sampai ke hari tua


Engkaulah cinta terindah


Engkaulah satunya


Sampai ke hari tua


Menjadi milikku


Hingga ke hujung nyawa


Hu-u-uu


Mencintaimu


Mencintaimu


Mencintaimu🎵


•Sampai ke hari tua by. Rey


Prok prok prok!


"Wah... suara kamu bagus sayang" Ucap Shinta dengan nada gembira, kemudian langsung menabrakkan tubuh nya ke tubuh suami nya, bahkan Reyhan sedikit terhuyung karena serangan tiba tiba dari istri nya


"Berarti cocok jadi penyanyi nih?" Goda Reyhan sambil meletakkan kalimba ke meja, melepas pengaman jari, lalu membalas erat pelukan sang istri yang selalu terasa sangat nyaman dan hangat bagi nya


"Gak boleh, emang kamu mau nanti mata wanita yang jelalatan pada liatin kamu? gak jadi penyanyi aja banyak yang deketin, nah kalau jadi penyanyi? oh no... nanti di kelilingi sasaeng" Ucap Shinta mengomel panjang lebar dan menggelengkan kepala nya


Reyhan terkekeh, ia semakin mengeratkan pelukan mereka dan berkali kali mengecup dalam dahi istri nya, mengelus rambut panjang itu, serta mendalami perasaan mereka satu sama lain


"Bercanda sayang, aku juga gak mau jadi penyanyi" Ucap Reyhan, urusan pekerjaan saja kadang sudah membuat nya pusing, apalagi kalau nambah pekerjaan sampingan jadi penyanyi


Berpelukan terus seperti itu selama beberapa menit, menikmati terpaan angin malam, bercampur nya rasa hangat dan cinta mereka menjadi satu, dengan bulan bintang yang menjadi saksi kegiatan manis mereka malam ini


"Ini udah jam 1 loh, tidur ya" Ajak Reyhan menepikan rambut istri nya yang terkena angin


"Kok bisa? sebanyak apa pekerjaan kamu?" Tanya Reyhan heran, kenapa istri nya terbiasa tidur selarut itu


"Ke kamar aja, nanti aku tunjukin semuanya" Ajak Shinta yang diangguki suami nya karena semakin malam juga udara semakin dingin


Selepas bernyanyi dan berpeluk ria, barulah kedua pasutri itu kembali ke kamar mereka karena dingin yang melanda, tapi Shinta bukan membawa mereka ke ranjang, melainkan masuk ke wardrobe milik nya yang mana ada lemari lemari besar di sana


"Kamu pernah nanya soal sapu tangan biru itu kan?" Tanya Shinta sembari jongkok di depan salah satu lemari


"Iya, emang masih ada?" Tanya Reyhan balik dan ikut jongkok di samping istri nya


Shinta hanya tersenyum sekilas kemudian membuka pintu lemari yang paling bawah, dan mengeluarkan satu kotak besar dari sana


"Coba buka" Ucap Shinta memberi perintah setelah kotak itu di letakkan di depan suami nya


Reyhan perlahan membuka kotak itu yang mana dia sendiri cukup penasaran apa isi nya, dan ketika penutup kotak itu terbuka lebar, Reyhan cukup di buat terngaga alias terkejut dengan isi nya


"Gimana? masih ada?" Tanya Shinta dan suami nya mengangguk sebagai jawaban


Isi kotak itu penuh dengan sapu tangan biru pemberian Reyhan, dan di setiap satu sapu tangan ada tulisan tanggal di pojok lipatan nya


"Ini tanggal pemberian?" Ucap Reyhan menebak karena semua sapu tangan tulisan tanggal nya berbeda beda, lebih tepat nya tanggal setiap dia memberikan sapu tangan itu


"Iya, semua masih lengkap" Jawab Shinta menganggukkan kepala nya


"Udah di cuci belum?" Tanya Reyhan lagi lagi dengan sengaja menggoda istri nya


"Diliat aja di sapu tangan itu ada ingus nya gak? kalau ada ya kelewatan belum di cuci" Jawab Shinta ngawur karena semua sapu tangan sudah dia cuci bersih


"Emang kamu ingusan?" Tanya Reyhan menahan tawa


"Iya, dia yang selalu setia dan menemaniku saat aku nangis" Jawab Shinta nyengir


"Kedepannya aku terus yang dampingi kamu saat nangis" Ucap Reyhan yakin


"Beneran ya?" Tanya Shinta memastikan


"Iya" Jawab Reyhan tanpa keraguan sedikitpun


"Janji?" Ucap Shinta memberikan jari kelingking nya dan Reyhan pun menurut dengan menautkan jari kelingking mereka


"Insyaalloh janji!"


Keduanya tersenyum lalu Shinta melepas tautan tangan itu dan membuka lemari di sebelah tempat penyimpanan kotak tadi

__ADS_1


Ada satu brankas yang ia gunakan untuk mrnyimpan semua surat surat penting termasuk ijazah milik nya, ia menekan sandi dengan sidik jari nya kemudian terbukalah brankas berwarna putih itu


"Sebenarnya saat kuliah di Seoul aku mengambil dua fakultas" Ucap Shinta mengeluarkan dua ijazah


"Dua fakultas?" Tanya Reyhan memastikan dia tidak salah dengar


"Iya, satu nya farmasi dan satu lagi fakultas bisnis" Jawab Shinta memberikan dua ijazah


"Berarti kamu harus nya kuliah yang sama di gedung fakultas ku?" Tanya Reyhan setelah melihat ijazah itu


"Iya, tapi aku mengambil kuliah bisnis online saja, mempelajari nya di rumah sakit tanpa tatap muka langsung dengan dosen" Jawab Shinta


"Rumah sakit? maksudnya? kenapa harus di rumah sakit dan tidak di apartemen mu saja?" Tanya Reyhan


"Aku sekolah SMK mengambil jurusan farmasi industri, dan aku juga sempat kuliah satu tahun di surabaya yang artinya aku menyandang gelar D1 saat kabur ke Korea waktu itu" Ucap Shinta menjelaskan dengan memberi jeda, Reyhan mengangguk dan menyuruh nya untuk meneruskan cerita


"Saat aku tiba di Korea, aku mencoba untuk melamar kerja di rumah sakit pusat karena aku mendapat info kalau di sana sedang membutuhkan apoteker, dan alhamdulillah aku bisa kerja di sana walaupun belum mendapatkan gelar sarjana"


"Awal nya aku mendapat tawaran sift pagi, tapi aku menolak karena di pagi hari aku harus kuliah kan? maka dari itu aku mengambil sift malam"


"Pagi pagi jam 5 mandi, sholat dan bersihin apartemen dulu sama Jannah, jam 9 pagi berangkat kuliah dan selesai sore aku pulang ke apartemen untuk sholat, mandi dan makan malam, jam 8 malam aku selalu duduk di taman apartemen kan?" Ucap Shinta mengingat Reyhan selalu memberi nya sapu tangan di jam itu


"Duduk termenung memikirkan semuanya sejenak, lalu jam 9 malam aku kerja di rumah sakit sambil mempelajari materi bisnis yang dosen rutin dosen kirimkan melalui email, kalau lagi ramai orang yang ngambil obat ya terpaksa belajar nya harus di tunda sampai sepi lagi, jam 2 malam aku selesai kerja dan langsung balik ke apartemen, mandi sebentar lalu belajar materi yang terlewati karena banyak nya pasien, jam 3 malam baru aku bisa tidur dan hari hari seterusnya tetap berlangsung seperti itu"


Deg... lagi lagi hati Reyhan harus merasa tercubit ketika mendengar kegiatan istri nya sehari hari waktu masih di Korea dulu


"Kenapa kamu harus bekerja keras seperti itu?" Tanya Reyhan karena istri nya bahkan hanya mendapat jatah tidur malam kurang lebih dua jam


"Aku harus melakukan nya, aku harus pulang dengan membawa kesuksesan, tidak mungkin aku kabur dan pulang hanya membawa badan saja" Jawab Shinta


"Prestasi mendapat gelar di dua fakultas itu menurut mu masih kurang? itu juga sebuah kesuksesan sayang" Ucap Reyhan


"Aku perempuan yang di tuntut untuk sukses, sama seperti saudara laki laki ku yang lain nya, tidak ada perbedaan di antara kita 5 bersaudara" Jawab Shinta


"Apa harus dengan cara kamu bekerja keras seperti itu?" Tanya Reyhan menatap sendu istri nya


"Gak ada cara lain lagi, aku bekerja untuk mengumpulkan dana dan membuka cafe yang awal nya hanya menyewa ruko dan beberapa karyawan, lalu merambah membangun sendiri sampai terbentuk cabang cabang lain nya, tidak mungkin aku bisa mempunyai cafe hanya dengan sulap saja"


"Dulu kerabat dari pihak ayah maupun bunda sering menghina aku, dan saudara ku yang lain nya ketika kami belum punya apa apa, tapi aku tidak peduli karena satu satu nya cara membuat mulut mereka bungkam adalah dengan membuktikan kalau aku bisa sukses. Namun sekarang? jika mereka bertemu denganku mereka sekaan bertemu dengan dewi, selalu memujiku membanggakan ku pada orang lain, itu membuatku sangat muak, mereka hanya ada ketika aku punya uang, tapi ketika aku miskin? tidak ada yang membantuku atau menyemangatiku sama sekali haha... " Ucap Shinta di akhiri dengan tawa sinis ketika mengingat perlakuan kerabat nya dulu, Reyhan menarik istri nya ke dalam pelukan nya, Shinta sudah berjuang untuk membungkam mulut lemes dari keluarga nya


"Kamu udah bekerja keras sayang... sekarang waktu nya kamu menikmati jerih payahmu, dan lupakan masa itu" Ucap Reyhan mengelus punggung istri nya


"Aku sudah memaafkan mereka dan tidak pernah menyimpan dendam, aku juga selalu berdo'a agar sifat mereka dapat berubah, hanya saja aku belum bisa melupakan nya" Ucap Shinta memejamkan mata, berusaha menjernihkan sejenak pikiran nya


"Aku tau itu susah, kamu hanya perlu sedikit waktu lagi" Ucap Reyhan karena perlakuan kerabat istri nya itu masih sama dan tidak berubah, dia juga tau setelah bertemu dengan mereka secara langsung di resepsi pernikahan yang mana mereka mengeluarkan kata kata pujian yang menurut nya terlalu berlebihan


"Hanya saja kadang aku merasa kalau semua yang aku raih itu hampa" Ucap Shinta


"Kenapa sayang?" Tanya Reyhan mengerutkan alis nya


"Meraih semuanya tanpa dukungan orang tua itu bukan hal yang mudah, ketika semua anak sedang melakukan proses dengan orang tua nya sebagai penopang, tapi aku tidak, mereka tidak mendukungku, hanya kak Zean dan sahabat ku saja yang terus selalu memberiku semangat, aku... hanya merasa kalau perjuangan ku selama ini benar benar tidak ada artinya di mata mereka" Jawab Shinta semakin menelusupkan wajah nya di dada hangat suami nya


"Apapun itu, ingat kalau kamu itu wanita yang berharga sayang, seperti apapun kamu di mata orang orang, tapi bagiku kamu wanita yang berharga dan sempurna" Ucap Reyhan yang juga semakin mendekap erat istri nya


Uhuk uhuk... Shinta terbatuk karena pelukan yang terlalu erat membuat nya susah untuk bernafas


"Longgarin dulu" Ucap Shinta menepuk punggung suami nya, Reyhan terkekeh dan melepaskan pelukan mereka secara perlahan


"Kan aku bilang longgarin sayang, bukan di lepas" Protes Shinta tidak terima


"Iya, ini di beresin dulu baru nanti pelukan lagi" Ucap Reyhan membereskan barang yang baru dia lihat tadi, setelah selesai barulah ia mendekap istri nya lagi, membopong badan itu dengan gaya bridal style dan merebahkan nya perlahan di atas ranjang


"Peluk" Ucap Shinta merentangkan kedua tangan nya, tentu saja Reyhan menyambut itu dengan senang hati hingga tidur saling berpelukan satu sama lain, pelukan pasangan halal memang benar benar nyaman dan menenangkan hati mereka


"Kamu mode manja ya?" Tanya Reyhan sembari mengecup dahi istri nya


"Baru kali ini aku manja" Jawab Shinta, dia yang dulu adalah gadis yang selalu di tuntut dewasa


"Oh iya kamu bisa gambar desain rumah kan?" Tanya Reyhan


"Hmm? bisa, mau buat apa?" Jawab Shinta dan bertanya balik


"Aku mau kita mandiri dan membangun rumah kita sendiri, rumah untuk kehidupan kita bersama anak anak kita nanti, kita sementara bisa tinggal di apartemen sampai rumah kita jadi" Jawab Reyhan tersenyum membayangkan dia yang sudah menjadi seorang papa


"Aku setuju aja, karena setiap suami istri lebih baik memang menentukan tempat tinggal nya sendiri, agar lebih bisa quality time dan memiliki privasi" Ucap Shinta yang mana menurut nya jika kedepan nya ada huru hara, orang tua mereka tidak akan tau dan tidak boleh sampai tau


"Itu juga yang ku maksud" Ucap Reyhan tak henti henti nya membelai rambut panjang itu


"Kita bisa menentukan desain nya bersama, besok minggu kan? kalau kamu gak sibuk mungkin kita bisa gambar sama sama rumah itu" Ucap Shinta karena itu nanti akan menjadi rumah mereka berdua, dia ingin menggambar rumah itu bersama suami nya


"Boleh aja karena besok aku free gak ada kegiatan, tapi aku gak bisa gambar sayang" Ucap Reyhan di akhiri dengan tergelak


"Kamu bilang aja pendapat kamu dan pengen yang kayak gimana, nanti aku yang gambar dan kita bisa diskusi kalau beda pendapat" Ucap Shinta


"Iya sayang, sekarang ayo tidur atau mau begadang sampai pagi?" Goda Reyhan menaik turunkan alis nya


"Siapa takut?" Tantang Shinta


"Oke ayo-


"Tidur!" Potong Shinta memejamkan sebelum suami nya benar benar menyanggupi ucapan nya


"Menggemaskan" Ucap Reyhan lirih sambil mengecup seluruh wajah istri nya dan ikut menyusul ke alam mimpi

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2