Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
176. Bakso


__ADS_3

"Mas, masa' kamu mau merenggut jajanan ku?" Tanya Shinta berusaha tegar walau hati nya berasa patah, remuk!!! kretek


"Siapa yang merenggut jajanan kamu?" Tanya Reyhan balik


"Ya kamu" Jawab Shinta mencebikkan bibir nya, jujur kesal sekali rasanya saat beberapa makanan yang di sebutkan tadi di larang


"Gak ada yang ngelarang kamu jajan yang... kamu boleh jajan apapun sepuas kamu, asal jajan itu sehat dan gak merugikan bagi tubuh kamu sendiri" Ucap Reyhan menyebutkan syarat nya


"Seblak itu enak loh... gak merugikan badan, cabe nya juga vitamin" Ucap Shinta sedang berusaha tawar menawar dengan suami nya


"Gak ada gak ada, jangan di tawar terus yang... aku bukan roti" Ucap Reyhan menempelkan telunjuk nya di bibir sang istri


"Kalau anak kamu yang mau gimana? kalau gak di turuti nanti ileran, hih... " Ucap Shinta membuat ekspresi bergidik ngeri


"Gak papa, kalau iya berarti beneran anak mama nya" Ucap Reyhan santai santai saja dengan ucapan barusan


Oke, Shinta menyerah sudah, cukup!!! tawar menawar dengan Reyhan tidak membuahkan hasil


Entah ini mungkin efek kehamilan nya, dia sangat sensitif dengan hal yang di larang, jika dulu sebelum hamil sih dia bisa mengurangi makanan tersebut atas permintaan suami nya, tapi sekarang? rasa nya sungguh susah dan sulit menahan godaan terhadap makanan pedas


"Kenapa?" Tanya Reyhan melihat istri nya mengerutkan kening


"Sedih lah, makanan sejuta umat perempuan harus kandas" Jawab Shinta masih tidak rela


"Ya kalau mau kandas beneran nanti biar aku suruh Evan buat tutup semua tempat yang jual makanan pedas" Ucap Reyhan ngasal


"Enak aja... gak boleh, usaha dagangan orang kok main tutup" Ucap Shinta kesal sambil menggelengkan kepala nya


Dia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar benar terjadi, maka musnah lah makanan pedas abang abang gerobak yang biasa dia makan


"Bercanda sayang, tapi aku bakal berusaha buat wujud in ucapanku tadi ya kalau kamu masih bandel" Ucap Reyhan


"Masakan abang abang gerobak itu enak, jadi gak boleh musnah" Ucap Shinta


"Boleh jajan asal yang sehat yang, aku sama sekali gak pernah ngelarang kamu nyemil kan? syarat nya harus baik, gak ada cabe cabe yang super banyak, gak ada micin yang kebanyakan" Ucap Reyhan


Mereka jika masak sendiri di rumah pun tidak menggunakan micin, hanya tambahan kaldu jamur sebagai pelengkap


"Iya" Ucap Shinta, iya in aja lah biar cepat selesai, masalah pengen seblak nanti bisa cari cara lain untuk makan makanan berkuah tersebut


Reyhan sebenarnya gemas sekali dengan istri nya ketika merajuk, tapi juga kasihan saat dia harus melarang ini dan itu, namun mau bagaimana lagi? itu sudah tugas nya dan menjadi tanggung jawab nya untuk menjaga sang istri


"Kamu tau gak sih makanan yang hampir gak pernah ku makan?" Tanya Shinta, iseng iseng aja dia memberi tebakan


"Mudah, jengkol kan?" Jawab Reyhan enteng dengan senyum nya


"Kok tau sih?!!!" Ucap Shinta mengernyitkan dahi nya


"Karena dulu waktu masih remaja kamu pernah nyoba makan jengkol yang kata orang rasanya kayak kentang, tapi nyata nya rasa gak sesuai harapan, iya kan?" Ucap Reyhan


"I-iya sih, mending mending makan pete aja" Ucap Shinta


Reyhan berpikir sebentar, tiba tiba terlintas ide yang cukup untuk memperingati istri nya


"Yang" Panggil Reyhan


"Kenapa?" Tanya Shinta


"Udah baikan sama..." Reyhan menggantung ucapan nya, takut hal yang ia tanyakan tidak sesuai harapan istri nya


"Sama bunda?" Sambung Shinta


"Iya, gak perlu di jawab kalau belum yakin" Ucap Reyhan


"Ya... gimana ya, aku sendiri udah telfon atau kirim pesan tapi satu pun belum ada yang di bales mas" Jawab Shinta


"Sabar aja, pasti di bales kok yang, tinggal nunggu waktu" Ucap Reyhan mengusap kepala yang berlapis kain tersebut


"Em... aku mau pulang ke rumah bunda sebentar aja, boleh?" Tanya Shinta


Reyhan tersenyum di hadapan wanita yang sedang merindukan ibu nya "Boleh, nanti selesai aku keluar dari rumah sakit kita berangkat ke kota J" Jawab nya


"Kita? kamu bolos kerja gitu?" Tanya Shinta

__ADS_1


"Siapa yang bolos? itu kantor siapa? jadi terserah siapa?" Ucap Reyhan benar benar menggunakan the power of connection yang membuat Shinta geleng geleng kepala


Sebenarnya bukan bolos kerja, tapi pekerjaan yang biasa di kerjaan di kantor pasti akan mengikuti Reyhan kemana mana


"Kamu gak pernah kerja di kantor perusahaan sendiri?" Tanya Reyhan, pasal nya selama dia berkunjung ke Zeze grup tidak pernah satu kali pun ia mendapati istri nya berada di sana


"Enggak, dulu sih waktu kak Zean masih ada aku masuk ke kantor itu beberapa kali" Jawab Shinta


"Ngapain?" Tanya Reyhan karena saat itu Zeze grup belum menjadi milik istri nya


"Belajar aja liat cara ngurus perusahaan itu gimana, dan cuman beberapa kali waktu aku pulang kesini" Jawab Shinta


"Trus sekarang? kamu gak mau mimpin perusahaan itu secara langsung?" Tanya Reyhan


Shinta terdiam sejenak sampai akhirnya "Bukan gak mau, tapi ngurus perusahaan kan gak mudah mas, apalagi perusahaan itu bukan asli milik ku, bisa bayangin berita apa yang muncul kalau aku mimpin perusahaan yang bahkan alasan meninggal nya pemilik asli masih di sembunyikan?"


"Kita bisa beberkan fakta kan? dengan menutupi serangkaian hal yang di anggap privasi" Ucap Reyhan


"Pemikiran orang beda, gak mungkin semaunya bisa percaya dengan speak up dari perusahaan kan? pasti muncul opini entah negatif atau positif dari orang lain" Ucap Shinta


"Lalu Bian? posisi dia bisa aman?" Tanya Reyhan


"Aman aja kalau Bian, kan dari dulu wakil direktur nya juga dia, otomatis kalau direktur utama gak ada kan yang ganti in juga Bian, walaupun ada opini negatif dari orang orang tapi gak seburuk yang ku pikirkan" Jawab Shinta, berbeda jika dia yang menggantikan Zean maka sudah pasti opini negatif akan menggiring nya kemana mana


"Aku ada saham di Zeze grup, kamu bisa manfaatin itu untuk alasan pergantian kepemimpinan kan?" Tanya Reyhan


"Dari dulu sampai sekarang gak ada yang tau kalau aku bagian dari perusahaan itu, tapi kalau sekarang tiba tiba aku muncul trus langsung dapat jabatan tinggi pasti bakal aneh dan gak masuk akal mas" Ucap Shinta yang ada benar nya juga


"Bian gak mungkin mau jadi direktur utama selamanya sayang, kamu juga harus pikirin hal itu" Ucap Reyhan


"Ah... pusing" Ucap Shinta merengek sambil menghela nafas panjang dan memejamkan mata


Bian sudah pasti tidak mau memimpin perusahaan itu dalam kurun waktu yang lama, karena posisi itu bukan milik nya, dia harus meyakinkan Shinta dan mengembalikan hak seperti semula


"Pasti bisa, sekarang kita hadapi pelan pelan aja" Ucap Reyhan


"Hmm... dunia bisnis itu kejam" Ucap Shinta


"Kejam gimana?" Tanya Reyhan menahan tawa, selama ini dia baik baik saja walau mengurus dunia bisnis


"Gak semuanya gitu yang, bukti nya perusahaan papa yang ku pegang dari dulu gak pernah pakai cara licik untuk menjatuhkan orang lain" Ucap Reyhan


"Tau, itu kan perusahaan papa, beda lagi sama orang orang licik di dunia bisnis sana" Ucap Shinta


Reyhan hanya tersenyum saja, dia tau istri nya masih belum siap memimpin perusahaan secara langsung, dan alasan yang di gunakan cukup masuk akal


Shinta tau dia pernah hidup dengan keadaan apa adanya, maka jika dia di beri amanah untuk memimpin sesuatu, dia takut akan di butakan pada harta yang belum tentu bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti dan dia juga takut menyakiti orang lain demi harta itu


"Kalau orang nya istiqomah, insyalloh bakal istiqomah terus sampai ajal menjemput, syarat nya hanya harus tetap rendah hati dan perbanyak amal baik maupun sedekah jariyah" Ucap Reyhan


🌸🌸🌸


Keesokan hari nya, setelah melakukan pemeriksaan ulang dan hasil nya pun juga membaik, maka sudah di pasti kan Reyhan boleh pulang hari ini dengan beberapa pantangan yang harus dia patuhi


Tok tok tok


"Masuk" Ucap Reyhan yang duduk di pinggiran kasur pasien sambil menyaksikan istri nya yang sedang mengemas baju sang suami


"Pagi pak bos, bu bos" Ucap seseorang yang sudah bisa di tebak


"Pagi Van" Jawab Reyhan menganggukkan kepala nya


"Pagi pak, oh iya... titipan saya udah di Beli?" Tanya Shinta


"Sudah kok buk, ini" Ucap Evan memberikan kantong plastik berisi makanan yang Shinta titipkan


"Itu apa yang?" Tanya Reyhan penasaran


"Bubur ayam, bau nya harummmm banget" Ucap Shinta mencium aroma bubur asin itu dari luar kantong


"Kok bisa?" Tanya Reyhan mengernyitkan alis nya sambil melihat istri juga sang asisten secara bergantian


"Apanya yang kok bisa? bisa lah mas, kan aku laper" Jawab Shinta mengelus perut nya yang sudah berbunyi

__ADS_1


Tanpa menunggu lama lama, Shinta segera membuka plastik dan mengeluarkan kotak makanan


Duduk di sofa, makan bubur ayam di sambi teh hangat adalah hal yang damai, walaupun sofa rumah sakit


"Kok bisa kamu punya nomoe nya Evan? dari mana? dan Evan juga kok bisa punya nomor pribadi istri saya?" Ucap Reyhan kian semakin menatap tajam asisten nya


Evan menggarung tengkuk nya, duh... masih pagi juga ada aja pertanyaan yang Reyhan ajukan


"Anu loh pak... tadi selesai sholat subuh saya dapat pesan dari nomor tidak di kenal, ternayata itu bu bos" Jawab nya


"Pesan apa?" Tanya Reyhan masih saja tidak menghilangkan tatapan tajam nya


"Pak, kalau mau jemput ke rumah sakit tolong beliin saya bubur ayam" Ucap Evan hafal dengan pesan yang Shinta kirim


"Bener?" Tanya Eeyhan ragu


"Ya bener lah pak, gak ada gunanya juga saya bohong sama bapak" Ucap Evan gondok sendiri lama lama


Reyhan langsung mengambil ponsel istri nya yang berada di atas meja nakas, ia menggeser sandi yang sama dengan ponsel milik nya


"Bener kan pak saya gak bohong? lagian istri anda itu cuman lagi ngidam kok" Ucap Evan enteng


"Yang, kamu dapat nomor nya Evan dari mana?" Tanya Reyhan tidak mempedulikan lagi ucapan asisten nya


"Dari handphone kamu, udahlah jangan marah marah... aku simpan nomor nya pak Evan juga buat nanya soal kamu nanti" Ucap Shinta antisipasi jika Reyhan tidak dapat di hubungi maka dia bisa menghubungi Evan selaku asisten pribsdi suami nya


"Tapi-"


"Kasihan loh pak... istri nya lagi makan lahap di ajak ngobrol terus" Sahut Evan yang langsung mendapatkan pelototan tajam


"Kamu juga kenapa gak-"


"Udah mas udah, masih pagi jangan ribut" Ucap Shinta berdiri dengan membawa makanan di tangan nya


*Ehey... kapan lagi aku bisa menang di depan pak bos? walaupun berkat pembelaan dari bu bos* Batin Evan bangga dengan dirinya sendiri


"Mau gak?" Tanya Shinta menawari bubur ayam


"Mau, aaa'.... " Ucap Reyhan membuka mulut nya untuk meminta suapan


"Seneng rasanya bisa balik melihat kemesraan dan kekonyolan pasangan yang kadang membuat jiwa jomblo ku meronta ronta" Ucap Evan tersenyum, terakhir dia bertemu pasangan itu sedang dalam keadaan marah, tapi sekarang sudah tidak lagi


"Makanya cari jodoh!" Ucap Reyhan kembali pada sifat ketus nya


"Kalau belum waktu nya juga belum ketemu kali pak, saya gak bisa maksa tuhan" Ucap Evan


"Bener loh kata pak Evan, bukti nya kita ketemu udah lama tapi nikah juga tahun ini mas" Ucap Shinta menanggapi


Oke, Evan merasa kemenangan nya bertambah di hadapan Reyhan walaupun bukan usaha nya sendiri, yang penting kan pernah menang


Dan dapat di pastikan Reyhan juga langsung terdiam sambil melirik sinis asisten nya.


Selesai dengan membereskan pakaian dan sarapan, mereka bertiga keluar dari rumah sakit menuju apartemen yang sempat di tinggal kan


"Akhirnya kita pulang" Ucap Shinta lega meskipun masalah mereka belum selesai


"Jangan pergi lagi loh ya... jangan gampang ngambek karena sesuatu sebelum kita bicara baik baik" Ucap Reyhan


"Lahh... yang kemarin langsung serang siapa? padahal kan aku mau minta penjelasan, malah out of topic" Ucap Shinta memajukan bibir nya kala mengingat kejadian di kamar hotel sebelum dia pingsan


"Khilaf itu, maaf" Ucap Reyhan terkekeh, waktu itu dia hanya memikirkan cara agar Shinta tidak pergi dari nya


Sang asisten lawak yang masih perjaka tulen kini harus kebal dan fokus menyetir ketika mendengar pembicaraan yang sedikit vulgar dari pasangan yang duduk di kursi belakang


"Langit yang cerah" Ucap Shinta tersenyum sambil menatap keluar jendela, langit yang berwarna biru dan putih kini terlihat sangat damai seperti ingin menenangkan hati nya


"Iya, indah" Ucap Reyhan menggeser duduk nya lalu membawa badan sang istri ke dalam dekapan nya yang begitu hangat


*Tangan yang besar, kokoh dan hangat, dia yang menjadi takdir untuk melindingi ku bukan? aku harap itu benar* Batin Shinta menggenggam telapak tangan sang suami yang jelas lebih besar dari tangan nya


Tapi.....


"Pak... stop!!!" Ucap Shinta tiba tiba saat dia membaca tulisan di pinggir jalan raya yakni 'bakso kuah merah'

__ADS_1


*Bersambung


slow update maaf, pasti akan ending*:)


__ADS_2