
"Kamu bawa sarung gak?" Tanya Shinta yang tengah mencari barang di koper milik Reyhan
"Bawa kok" Jawab Reyhan ikut duduk di samping Shinta, ia tak henti henti nya memandang wajah tanpa make up itu, sesekali ia menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajah istri nya
"Ini dia, di taruh paling bawah" Ucap Reyhan memegang sarung itu kemudian meletakkan nya di samping Reyhan
"Sarung buat apa sih sayang?" Tanya Reyhan
"Buat kostum maling" Jawab Shinta yang tau jika Reyhan hanya mengerjai nya saja
"Istighfar loh sayang" Ucap Reyha tergelak
"Buat sholat lah sayang... udah aku mau wudhu dulu" Ucap Shinta berjalan masuk ke kamar mandi
Wait....
Reyhan baru sadar jika Shinta tadi menyebutkan panggilan 'sayang' untuk diri nya, ia kemudian berdiri di depan kamar mandi dan berniat membuka pintu itu
Apes...
Pintu dikunci dari dalam karena Shinta tidak hanya berwudhu tapi ingin buang air kecil juga, jadi Reyhan hanya bisa menunggu di depan pintu persis seperti anak kecil yang menunggui ibu nya
Shinta yang baru menyelesaikan urusan nya di kamar mandi pun langsung keluar dan melihat Reyhan yang berdiri di depan pintu dengan memandangi nya dari atas sampai bawah
"Kenapa gitu banget ngelihatin nya?" Tanya Shinta dengan kening berkerut dan melihat penampilan nya sendiri
"Kamu bilang apa barusan?" Tanya Reyhan
"Bilang apa sih?" Tanya Shinta balik
"Yang tadi" Jawab Reyhan
"Iya yang tadi apa?" Tanya Shinta
"Tadi loh sayang" Jawab Reyhan
"Gak tau ah, minggir dulu... aku mau pakai mukenah" Ucap Shinta yang dihiraukan oleh Reyhan dan dia justru semakin mendekat
"Mau ngapain? minggir... aku udah wudhu ya, jangan sentuh sentuh!" Ucap Shinta memundurkan langkah nya
"Gak papa dong, katanya banyak wudhu itu muka nya semakin berseri seri loh" Ucap Reyhan tetap memajukan langkah nya
"Kamu aja yang wudhu berkali kali, aku mau sholat" Ucap Shinta berusaha kabur dari tubuh kokoh di hadapan nya
"Bilang dulu atau wudhu lagi" Ucap Reyhan
"Dingin loh air nya, tega banget kamu ngeliat aku kedinginan" Ucap Shinta
"Kan ada aku yang menghangatkan kamu" Ucap Reyhan mengedipkan mata nya
"Emang kamu microwave yang tugas nya menghangatkan?" Ucap Shinta
"Iya dong, microwave versi suami halal" Ucap Reyhan
Tok tok tok
"Rey woy... udah mau komat gila lo buruan keluar" Ucap Rendra setengah berteriak
"Tuh mau komat, minggir" Ucap Shinta yang lagi lagi di hiraukan
"Ngomong dulu!" Ucap Reyhan tanpa bisa di bantah, dan oke... lebih baik Shinta melawan malu daripada nanti jadi perbincangan teman nya
"Sayang" Ucap Shinta lirih
"Gak kedengeran sayang" Ucap Reyhan sengaja karena telinga dia kan tajam pendengaran nya
"Sayang" Ucap Shinta sedikit mengeraskan suara nya
"Gak denger sayang, yang keras" Ucap Reyhan benar benar jahil
"IYA SAYANG...." Ucap Shinta menggema di kamar mereka hingga membuat Rendra yang berdiri di depan kamar hanya menggelengkan kepala nya
"Nah... gitu dong" Ucap Reyhan tersenyum kemudian berlalu masuk ke kamar mandi dan bergantian wudhu
Shinta memakai mukenah nya dan menunggu Reyhan sebentar, setelah suami nya keluar ia menyodorkan sarung juga peci, Reyhan mengucapkan terimakasih kemudian keduanya langsung membuka pintu kamar
"Gila mau sholat aja pake drama lo berdua" Ucap Rendra heran
"Lo gak tau rasa nya bercanda bareng istri" Ucap Reyhan
"Lah... kan sama aja, cengengas cengenges doang" Ucap Rendra enteng
"Jomblo gak akan faham" Ucap Reyhan kemudian mengajak Shinta untuk segera ke musholla yang mana Jannah dan Laila sudah duluan berangkat
"Nasib gue ditinggal terus apa gimana sih?" Gerutu Rendra, kalau bukan Jannah yang menyuruh nya untuk menunggu Reyhan juga dia tidak mau menunggu pasutri yang sedang menikmati dunia milik berdua
Selesai sholat di musholla, mereka kembali ke rumah di iringi canda dan tawa tentu nya, tapi berbeda dengan Shinta yang lebih diam dan sering kali memegang bibir nya
"Lo kenapa sih?" Tanya Jannah membuat langkah mereka semua berhenti saat di jalan ingin kembali ke rumah
"Ha? apanya yang kenapa?" Tanya Shinta balik menanggapi dengan gelagapan
"Itu lo sering banget pegang bibir sendiri" Jawab Jannah membuat Reyhan segala melirik ke belakang untuk melihat istri nya
"Oh, tadi habis kepentok pintu, gue gak liat" Jawab Shinta berusaha memberikan alasan yang masuk akal
"Lah... pintu pake di tabrak segala, makanya hati hati" Ucap Laila menggelengkan kepala
"Pintu bentuk nya lain ya Shin" Goda Rendra yang langsung mendapat hadiah geplakan sajadah dari Reyhan
"Galak galak galak" Cibir Rendra kesal yang tidak di pedulikan Reyhan, dia justru menarik tangan Shinta yang ada di belakang nya dan membawa pundak itu ke pelukan nya agar dapat berjalan beriringan
"Kaget loh" Ucap Shinta terkejut dengan memegang dada nya
"Ketagihan ya?" Ucap Reyhan tepat di telinga istri nya hingga membuat nafas hangat nya mengenai pipi Shinta dan itu membuat nya tubuh nya sedikit meremang, padahal dia masih menggunakan mukenah
"Apanya yang ketagihan?" Tanya Shinta balik dengan mengerutkan alis nya dan berusaha menahan geli karena bisikan Reyhan
"Kiss, jam empat sore waktu kita di kamar kamu tadi sebelum sholat ashar" Jawab Reyhan sengaja memperjelas dengan lengkap karena istri nya ini pasti akan pura pura lupa, tapi pasutri itu tetap berbisik agar yang lain tidak mendengar pembicaraan mereka
"Oh.. enggak tuh" Jawab Shinta menggelengkan kepala, namun tetap saja pipi nya langsung memerah mendengar jawaban Reyhan
"Beneran?" Tanya Reyhan memastikan dan Shinta mengangguk sebagai jawaban nya
"Yaudah sekarang ayo kiss" Ajak Reyhan yang membuat Shinta langsung memelototi nya
"Gak mau, malu ini di jalan" Jawab Shinta menggelengkan kepala dan berusaha melepaskan pundak nya dari genggaman Reyhan
"Sini gak?" Ucap Reyhan mulai memegang leher belakang istri nya
"Enggak enggak, gak mau..." Ucap Shinta berusaha melepaskan tangan kekar yang menyangga leher nya
"Sini... nurut sama suami" Ucap Reyhan yang benar benar menjadi senjata untuk istri nya
Shinta memejamkan mata dengan terus menggelengkan kepala, namun Reyhan terus mendekatkan wajah nya
Cup... satu kecupan mendarat di kening Shinta membuat sang empu langsung membuka mata nya
"Heh... masih di jalan Rey, tahan napa" Kesal Rendra yang berjalan di belakang Reyhan
"Ngiri nih ye..." Goda Laila pada Rendra
"Enak aja, ya iyalah..." Jawab Rendra yang membuat semua orang tertawa kecuali Reyhan
"Mereka udah halal, gak papa sih cium kening malah jadi pahala" Ucap Jannah membela karena dia turut senang bahwa Shinta yang mempunyai trauma akhirnya bisa bahagia dengan laki laki pilihan nya
"Tuh... dapat pahala" Ucap Reyhan menatap wajah istri nya
__ADS_1
"Walaupun hukum nya ganti jadi mubah juga kamu tetap mau kan mas?" Tanya Shinta membalas tatapan suami nya
"Mau dong" Jawab Reyhan tergelak dengan menarik gemas hidung pesek istri nya
Sesuai kesepakatan, pulang dari musholla mereka langsung bersiap siap untuk pergi ke rumah Jannah dengan memakai mobil Egi setelah meminta izin pada pemilik nya
"Gue yang nyetir aja gimana?" Tanya Shinta meminta pendapat saat mereka semua sudah siap dan berada di teras rumah
"Gak gak gak, gue masih takut sama nyetir lo yang kalap" Jawab Jannah menggelengkan kepala nya
"Uwo... pernah kalab dia jan? gue kira pas waktu naik motor doang kalab nya" Ucap Laila menggelengkan kepala nya
"Pernah, waktu perjalanan ke bandara buat jemput tante, gila kalau nyetir di atas rata rata sampe gue pusing" Ucap Jannah
Reyhan langsung menatap Shinta untuk meminta penjelasan
"Iya itu kan dulu... sekarang udah insaf" Ucap Shinta ingin sekali menghentikan perkataan sahabat nya yang pasti akan membuat Reyhan marah nanti
"Awas kalau ngebut lagi!" Ucap Reyhan mewanti wanti yang dibalas Shinta dengan anggukan kepala juga dua jari membentuk peace
Akhirnya Reyhan yang menyetir dengan Rendra duduk di sebelah nya, sedangkan di bangku tengah di tempati oleh ketiga cewek yang sedang bersenandung ria
"Itu belok kiri" Ucap Shinta memberi tahu Reyhan kemudian melanjutkan acara menyanyi dengan dua sahabat nya
🎵'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Lagu perfect menjadi pilihan mereka bertiga, jarang sekali mereka melakukan ini semenjak sibuk dengan urusan pekerjaan masing masing
"Kalau udah kumpul kelihatan bobrok nya" Ucap Rendra menggelengkan kepala nya
"Dasar kalau ngomong suka bener" Ucap Jannah terkekeh karena itu memang benar adanya, saat mereka kumpul bertiga kalau tidak rebahan bareng ya pasti ada aja kelakuan nya
"The really bestfriend" Timpal Laila tersenyum
Reyhan hanya menyimak saja karena dia juga senang jika istri nya menebarkan senyum bahagia saat bersama sahabat nya
Dua puluh menit perjalanan, mereka berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang mana terlihat sekali jika rumah itu baru selesai di renovasi
Reyhan memarkirkan mobil tepat di depan halaman rumah, setelah itu masuk bersama yang lain nya
"Assalamualaikum nenek..." Ucap Jannah ketika pintu di buka dan muncul lah wanita yang sudah sepuh atau tua
"Waalaikumsalam... ya alloh udah pulang kamu nduk?"
"Udah nek, ini sama temen temen nya Jannah" Jawab Jannah sopan dengan mencium punggung tangan nenek nya bergantian dengan yang lain
"Yaudah tamu nya suruh masuk ayo, jangan berdiri di luar"
Mereka masuk di ruang tamu dan memulai perbincangan hangat dengan teman camilan tentu nya, apalagi Rendra yang harus banyak berusaha untuk meluluhkan dan meminta restu
"Shinta udah nikah ya... semoga langgeng terus nak" Ucap nenek Jannah yang tentu saja di amin kan oleh pasutri baru itu
Setelah sholat maghrib, Reyhan dan Shinta pamit sebentar meninggalkan Rendra karena mereka ingin jalan jalan berdua di kota J sebelum besok akan pergi ke Surabaya
"Makasih tuan putra" Ucap Shinta tergelak yang selalu saja mendapat balasan tarikan hidung
Mereka berdua masuk mobil dan duduk manis dengan Reyhan yang sudah siap memegang kemudi
"Mau kemana?" Tanya Shinta mengalihkan pandangan nya ke samping
"Kemana aja, asal jalan jalan" Jawab Reyhan yang juga membalas pandangan itu
"Udah jangan ngeliatin aku terus, kita ke pusat kota aja" Ucap Shinta karena dia rindu dengan jajanan pinggir jalan yang ada di alun alun kota
"Oke, jangan lupa kasih tau jalan nya ya mbak peta" Ucap Reyhan mulai meninggalkan pekarangan rumah Jannah
"Siap pak sopir" Jawab Shinta tersenyum menunjukkan barisan gigi nya
Selama perjalanan, Reyhan selalu menggenggam tangan Shinta yang tidak pernah dilepas oleh nya
"Kamu gak capek apa? gandengan terus?" Tanya Shinta di sela sela perjalanan mereka
"Gak sayang, kamu capek?" Tanya Reyhan balik dengan melirik istri nya sekilas
"Bukan capek, tapi keringet an telapak tanganku" Jawab Shinta merenggangkan genggaman tangan mereka, namun langsung di perkuat lagi oleh Reyhan dan ia kemudian meninggikan suhu AC mobil agar tangan Shinta tidak akan keringet an lagi
"Smart idea" Ucap Reyhan bangga, sedangkan Shinta hanya menggelengkan kepala saja karena baru tau sikap Reyhan yang cukup absurd
Sepuluh menit mobil itu melaju dan saat melewati pemukiman warga, Shinta mengalihkan pandangan nya ke kiri sampai sampai dia menoleh ke belakang saat mobil nya semakin menjauh dari sesuatu yang dia lihat
"Kamu ngelihatin apa sayang?" Tanya Reyhan
"Rumah" Jawab Shinta yang terus memandang ke belakang
"Mau putar balik sebentar?" Tanya Reyhan karena dia merasa ada sesuatu yang aneh ketika Shinta tidak berhenti menatap rumah yang mereka lewati
"Emang boleh?" Tanya Shinta balik
"Boleh sayang" Jawab Reyhan lembut kemudian ia berputar balik menuju rumah yang Shinta lihat dan berhenti tepat di depan rumah itu
"Rumah siapa sayang?" Tanya Reyhan ikut melihat apa yang di lihat istri nya, rumah dua lantai dengan cat berwarna hijau dan ada pagar hitam di depan nya
"Aku dulu tinggal disini" Jawab Shinta yang berniat untuk mulai menceritakan masa lalu nya
"Dan... disini lah semua kejadian itu berlangsung, kejadian yang membuatku benar benar terpuruk, kejadian yang sangat ingin aku lupakan" Ucap Shinta dengan menunjuk rumah dua lantai itu
"Kamu masih ingat semua nya?" Tanya Reyhan yang dibalas anggukan kepala oleh istri nya
Reyhan melepas sabuk pengaman nya, kemudian membawa Shinta ke dalam pelukan nya
"Rumah ini sekarang milik siapa?" Tanya Reyhan membelai kepala yang tertutup hijab
"Milik orang lain, rumah ini udah di jual" Jawab Shinta yang semakin menelusupkan wajah nya di dada bidang Reyhan
"Sayang... jangan memancingku" Goda Reyhan berniat mengalihkan perhatian istri nya
"Ish... pikiran nya kok kesitu sih" Ucap Shinta dengan kembali duduk bersandar di kursi mobil
"Kamu gak pengen rumah ini ada di tangan kamu lagi?" Tanya Reyhan
"Enggak, aku tadi cuman pengen lihat aja" Jawab Shinta merasa hati nya dicubit saat melihat pemandangan rumah itu, namun tidak dapat di pungkiri jika ada juga sepucuk rindu di hati nya dengan rumah masa kecil nya dulu
"Beneran?" Tanya Reyhan karena dia bisa saja membeli rumah itu lagi
"Beneran mas...aku pengen ngelupain semua nya, dan tadi cuman pengen liat keadaan rumah ini doang yang ternyata gak banyak berubah" Jawab Shinta nyengir
Reyhan diam, dia mulai mendekatkan wajah nya yang membuat Shinta gelagapan
"Kamu mau ngapain?" Tanya Shinta panik memundurkan badan hingga punggung nya mentok menghantam pintu mobil
Bukannya menjawab namun Reyhan justru semakin mendekatkan wajah nya
__ADS_1
"Jangan aneh aneh deh" Ucap Shinta memperingatkan yang masih dihiraukan suami nya, saat jarak wajah nya dengan wajah Reyhan hanya beberapa centi dan sedikit lagi bibir itu pasti akan menempel bak perangko dengan kertas nya
"Ini pemukiman warga, jangan sampai kita di hakimi gara gara berbuat hal yang tidak senonoh" Ucap Shinta mendorong pelan dada Reyhan dan menyadarkan menyadarkan suami nya
"Siapa yang mau berbuat tak senonoh?" Tanya Reyhan membuat kening Shinta berkerut
"Trus mau ngapain?" Tanya Shinta
Cetek...
"Sabuk pengaman kamu lepas" Ucap Reyhan dengan memasang sabuk pengaman istri nya
"Ck, jangan ngerjain aku terus ma-"
Cup... omelan Shinta terhenti karena satu kecupan secepat kilat dari Reyhan mendarat di bibir nya, untung saja kaca mobik mereka gelap, jadi tidak akan ada orang lain yang melihat aksi Reyhan barusan
"Kak Rey..." Pekik Shinta terkejut dengan aksi Reyhan dan menatap kesal suami nya yang hobi sekali mengerjai nya
"Senjata ampuh bikin kamu diem" Ucap Reyhan terkekeh kemudian keduanya melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda
🌸🌸🌸
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di pusat kota alun alun kota J yang mana banyak lampu lampu juga jajanan pinggir jalan disana
"Wah..." Shinta yang sudah lama tidak kesini tentu saja langsung tergiur dengan jajanan pinggir jalan yang ada di sana, apalagi mata nya yang sudah berbinar binar
"Ini alun alun kota J?" Tanya Reyhan setelah memarkirkan mobil mereka di parkiran alun alun
"Iya, ayo kita foya foya" Ajak Shinta bersemangat yang membuat Reyhan menautkan alis nya sebelah
"Oke, siapa takut" Ucap Reyhan menyanggupi saja, padahal dia belum tau foya foya apa yang dimaksud istri nya
tiga puluh menit mereka jalan memutari lapangan alun alun, dan benar saja... dalam sekejap tangan kanan dan kiri Shinta sudah penuh dengan tentengan kantong plastik berisi jajanan pinggir jalan yang dia beli
"Sayang... tunggu bentar" Ucap Reyhan menghentikan langkah istri nya
"Hmm, kenapa?" Jawab Shinta menoleh
"Katanya mau foya foya?" Tanya Reyhan
"Ini kan foya foya" Jawab Shinta dengan menunjukkan tangan kanan dan kiri nya
Reyhan hanya melongo dan menggelengkan kepala karena baru faham jika yang di maksud istri nya foya foya adalah dengan membeli rata jajanan pinggir jalan
"Sini biar aku yang bawa" Ucap Reyhan mengambil alih bawaan Shinta
"Mau makan?" Tanya Reyhan
"Mau, kita duduk di sana" Jawab Shinta menunjuk salah satu bangku dan mereka duduk di sana karena ingin menyantap jajanan tadi
Shinta membuka salah satu bungkusan dan memakan nya dengan lahap, tidak ada malu lagi di depan Reyhan
"Emm... lama gak kesini makanan nya enak banget" Ucap Shinta menikmati dengan memejamkan mata nya
"Enak sih enak, tapi jangan comot gitu dong" Ucap Reyhan membersihkan sudut bibir itu jari nya
"Cobain ini" Ucap Shinta menyuapi makanan dengan tangan nya dan diterima dengan baik oleh mulut Reyhan
"Enak kan?" Tanya Shinta
"Enak kok, makanan sebanyak ini mau di apain?" Tanya Reyhan karena makanan itu cukup banyak
"Di sini banyak anak anak yang cari uang di pinggir jalan raya, kita kasih mereka makanan boleh ya?" Ucap Shinta meminta izin karena itu menang kebiasaan nya
"Boleh sayang" Jawab Reyhan tersenyum dengan mengusap lembut kepala istri nya dan melanjutkan kegiatan makan mereka
Adzan isya' berkumandang, mereka segera meletakkan makanan di dalam mobil kemudian langsung menjalankan Sholat berjamaah di masjid yang ada di sebelah alun alun kota
Selesai sholat, mereka kemudian memulai perjalanan pulang dengan kaca mobil yang terbuka karena Shinta ingin membagikan makanan yang mereka beli tadi
"Udah selesai?" Tanya Reyhan
"Udah, yang ini nanti buat abang sama adek" Jawab Shinta dengan menutup kembali kaca mobil di samping nya karena sudah selesai membagikan makanan
"Kita jemput Rendra dulu kak" Ucap Shinta tanpa membimbing jalan karena dia yakin kalau Reyhan sudah mengingat nya
"Mas sayang" Ucap Reyhan mengingatkan panggilan untuk nya
"Eh iya.. kita jemput Rendra dulu mas" Ucap Shinta mengulangi lagi
jam delapan malam mereka baru sampai di rumah dengan Rendra yang tak henti henti nya menggoda mereka berdua di jalan tadi
mereka memang sengaja tidak ingin pulang terlalu lama karena besok pagi pagi harus berangkat ke Surabaya
Shinta lebih dulu masuk ke dalam kamar setelah meletakkan makanan di meja karena dia ingin membersihkan badan terlebih dahulu
"Rey" Panggil Rendra yang sedang duduk di ruang keluarga
"Apa?" Jawab Reyhan
"Jangan kasar kasar Rey, kasian Shinta besok gak bisa jalan" Ucap Rendra mengedipkan mata nya
"Piktor lo" Kesal Reyhan kemudian dia lebih memilih menyusul Shinta ke dalam kamar
Ceklek
Reyhan membuka pintu kamar dan melihat Shinta yang sedang duduk di depan meja rias dengan menyisir rambut panjang nya
Reyhan mendekat kemudian memegang pundak istri nya dari belakang
"Kenapa mas?" Tanya Shinta dengan melihat pantulan mereka berdua dari kaca yang ada di depan nya
Bukan nya menjawab namun Reyhan justru menunduk dan menenggelamkan wajah nya di caruk leher istri nya
"Mas, geli" Ucap Shinta berusaha menahan, ia kemudian memutar posisi duduk nya hingga menghadap Reyhan
"Mau apa?" Tanya Shinta lembut dengan sesekali mengusap rambut klimis suami nya
"Ini" Jawab Reyhan menunjuk bibir itu kemudian mendekat untuk mencium nya, Shinta membiarkan saja dan memejamkan mata saat bibir mereka benar benar menempel tanpa jarak seperti lem dengan lawan nya
Reyhan benar benar tidak memberinya kesempatan untuk mengambil nafas, namun justru membuat ciuman mereka semakin dalam dengan menekan tengkuk istri nya begitu pula Shinta yang meletakkan tangan nya di pinggang Reyhan
Dan seakan terhipnotis, Shinta mulai membuka mulut nya saat suami nya benar benar ingin menyelam lebih jauh lagi
Reyhan tersenyum dalam hati karena Shinta sudah memberikan celah untuk nya, dan bagi Reyhan bibir itu adalah candu yang menyimpan rasa manis dan tak akan pernah habis
Beberapa menit seperti itu, bahkan Shinta perlahan mulai membalas perbuatan suami nya meskipun gerakan nya masih sangat kaku
Sama sama memejamkan mata dan menikmati rasa manis masing masing, hingga mereka kemudian melepas tautan kedua benda kenyal itu dengan nafas yang tersenggal, dan bibir yang sama sama basah tentu nya
"Kamu udah bisa ciuman ya" Ucap Reyhan menatap lekat wajah yang sedang memerah bak kepiting rebus
"Kan kamu yang ngajarin" Ucap Shinta dengan dada yang naik turun berusaha mengambil nafas sebanyak banyak nya
*Aku ingin kamu tau tentang masa lalu ku sebelum kamu mengambil hak mu sebagai seorang suami* Batin Shinta membalas tatapan suami nya
"Boleh aku menceritakan nya sekarang? hal yang membuat kamu penasaran sejak dulu mas" Ucap Shinta meminta izin secara perlahan
"Kamu udah siap membuka kenangan lama yang membuat kamu trauma?" Tanya Reyhan memastikan
"Aku siap, aku akan menceritakan nya sekarang" Jawab Shinta yakin
"Baiklah, aku akan menjadi pendengar yang baik malam ini, jika nanti tidak kuat lebih baik hentikan saja dan lanjut lain kali" Ucap Reyhan karena dia tau bahwa membuka kenangan masa lalu yang menyedihkan itu pasti tidak akan mudah
Bersambung
Khilaf tiga ribu kata di bab ini😝✊
__ADS_1