
Kiss online dari author untuk semua yang setia mengikuti coretan amburadul saya. π₯°π₯°π₯°ππππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote setelah membaca ya kakak semua.
Happy Reading
πππππππ
"Tapi Aku masih ingin disini, sangat damai dan menentramkan hati." Henry mengirup udara sebanyak-banyaknya, dan membuangnya perlahan. Pepohonan yang rindang dan dikelilingi bunga-bunga, suasana yang sangat sejuk.
"El membutuhkan mu, apa Kau mau dia terus bersedih karena tak bisa lagi melihat Daddy nya?" Metta masih terus membujuk Henry.
"Lihatlah! Dia memang pantas Kamu perjuangkan, dia pantas menggantikan posisi ku, kembalilah untuk El. Ini belum saatnya kamu pergi, kebahagiaan mu masih menanti mu, Mommy, Daddy, El, Ama dan Adel. Kalian pasti akan bahagia bersama."
"Bukankah kamu ingin menemui ku untuk meminta restu dariku? Sekarang aku sudah memberikan restuku untuk kalian, menikahlah dengannya. Aku juga bahagia bisa melihat El dari jauh, aku senang melihat kebahagiaan kalian." Metta memeluk Henry sangat lama. Metta menjauhkan diri. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Henry, dia hanya menatap kepergian Metta dengan senyum merekah diwajahnya.
"Kembalilah! Mereka menatimu." Metta melambaikan tangannya, disambut Henry yang turut melambaikan tangan. Metta menghilang ditelan kabut yang tiba-tiba. Henry kembali melihat El yang sedang menangis, dan Adel yang kebingungan untuk menenagkan El. Mommy juga menitikkan air matanya, membuat Henry tak sanggup jika harus membuat mereka bersedih.
"Terima kasih Metta, Aku pasti akan menjaga El, terima kasih karena telah merestui kami, Kau juga bahagia disana." gumam Henry. Henry tak kuasa menahan genangan air mata disudut matanya.
"Son, Kau dengar El menangis? Dia merindukan mu, sampai kapan Kau akan terus tidur seperti ini?" Nyonya Amel menangis, membelai wajah pucat putranya yang memar, bahkan luka itu membiru.
Adel dan Nyonya Amel segera menuju rumah sakit dimana Henry dirawat, karena belum juga sadarkan diri, pihak rumah sakit tak mengizinkan Henry untuk dipindahkan. Kondisi El sudah mulai membaik sejak semalam, dengan catatan masih harus memenuhi rawat lanjutan dirumah sakit yang sama dengan Henry dirawat.
Doktet Alvin turun tangan langsung, dia yang berkonsultasi dengan pihak rumah sakit. Jadi mereka tak perlu bolak-balik, karena jarak yang cukup jauh. Wulan selalu setia disisi El, dia bertemu rekan sewaktu kuliah, jadi mereka tak perlu waktu lama dan El segera bisa dirawat dirumah sakit ini.
Adel masuk ruangan, disana nampak manusia kutub yang tak berkutik sedikitpun, berbagai macam alat menyatu ditubuhnya. Luka disebagian tubuhnya mulai membiru. "Hei manusia kutub, apa Kau tak lelah terus tertidur seperti ini?" Adel duduk dikursi, membawa El yang kini mulai tenang saat melihat Daddynya.
"El, kau sudah bertemu Daddy, sekarang tidurlah!" Adel menina bobokan El, sepanjang perjalanan menuju kesini, El terus saja menangis, tetapi sekarang dia sudah mulai tenang dan benar-benar tertidur.
"Anak pintar." Adel mengecup pucuk kepala El. Masih dengan posisi duduk, dia kembali pada tubuh tegap dihadapannya yang masih setia memejamkan matanya.
"Ini sudah dua hari, tapi Kamu masih saja seperti ini, apa Kamu tak kasihan melihat El? Mommy dan Daddy mu, semua sedih melihat mu. Ku mohon bangunlah!! Aku bersedia menjadi Mami El, Aku bersedia melakukannya, tapi Kamu harus bangun." tak terasa bendungan air bah meluap dari kedua sudut mata Adel.
Adel terisak, mengusap aliran yang semakin menderas "apa Kamu juga akan meninggalkan ku? apa Kamu akan menyerah? Kamu bilang akan memperjuangkan ku, tapi tak sanggup untuk memperjuangkan hidupmu sendiri!"
Henry melihat semuanya, mendengar setiap ucapan orang yang datang mengunjunginya. Tapi tubuhnya tak bisa merespon, bahkan dia ingin sekali memeluk El, dan menghapis air mata Adel, tapi semua itu hanya angan saja.
"Aku harus kembali, seperti kata Metta, aku tak kuasa melihat mereka menangis seperti ini." Henry mengikuti perkataan Metta, dia benar bahwa belum waktunya Henry untuk pergi.
Adel memberanikan diri mengusap punggung tangan Henry, sambil menunduk, karena dia tak sanggup melihat Henry, mengingatkan akan almarhum suaminya dulu. "Aku sudah banyak kehilangan orang yang aku sayangi, apakah Kamu akan meninggalkan ku juga?"
Tubuh Adel bergetar, beruntung El benar-benar sudah pulas. Terlebih bayi itu pasti lelah, karena terlalu lama menangis. "Aku gak sanggup jika harus kehilangan lagi, lebih baik Aku ikut pergi juga, maafkan Aku, semua ini terjadi karena Aku, huuu huuu hikksss..." suara Adel benar-benar pilu, siapapun pasti ikut menangis.
Flash back on
__ADS_1
Orang yang menolong Henry datang dengan menggunakan pakaian dokter, masker dan sarung tangan lengkap dengan snelli yang melekat ditubuhnya. Diikuti seorang asisten dokter yang juga memakai pakaian serba tertutup.
Tuan Abimanyu sedang menjaganya, dia diminta keluar dengan alasan akan dilakukan pemeriksaan. "Tuan, saya mohon Anda tunggu diluar, karena kami akan melakukan pemeriksaan." Dengan terpaksa Tuan Abimanyu berjalan keluar ruangan. Tinggal dua orang itu di dalam.
Dokter itu membuka maskernya, dia ikut prihatin melihat kondisi Henry yang belum juga bangun dari tidur panjangnya. "Apa Kamu belum lelah tidur hmm? bahkan ini sudah lewat satu hari dari prediksi dokter, dasar lemah, apa dengan begini Kamu bisa menjaga Yasmine untuk ku?"
Dokter itu tersenyum mengejek, " bukankah Aku sudah memberimu banyak kesempatan? tapi selalu Kau sia-siakan, sekarang adalah kesempatan terakhirmu, jika Kau masih tak juga berusaha, Aku pastikan akan merebutnya dari mu. Aku akan membahagiakannya, tapi sayangnya, dia hanya bisa bahagia bersama mu. Hah, bodoh sekali Kamu ini."
"Sampai kapan Kamu akan membuatnya menangis? dan ingat keluarga mu, mereka menaruh harapan besar padamu, tapi nyatanya Kamu hanyalah lelaki lemah yang melawan rasa sakit pun tak mampu." Rey menggenggam erat tangan Henry, dia adalah Rey, orang yang menolong Henry.
Dia juga orang yang sudah mendonorkan darahnya untuk Henry. "Kamu jangan membuat perjuangan ku ini sia-sia, Aku sudah banyak membantumu, apa Kau tak berniat berterima kasih padaku? Bangun, Aku percaya Kamu bisa diandalkan." Rey menepuk punggung tangan Henry, setelahnya dia memakai kembali masker wajahnya.
Tuan, hati Anda terbuat dari apa? Anda sudah merelakan wanita yang Anda cintai untuk pergi bersama laki-laki lain. Bahkan sekarang Anda mengabaikan perasaan Anda sendiri demi menolongnya, perjuangan Anda sampai sejauh ini. Aku harap Anda juga bisa menemukan orang, yang bisa mengetuk kerasnya hati Anda yang telah membatu.
Henry menitikkan air matanya, dia bisa mendengar semua yang dikatakan Rey, namun tak bisa merespon. Hal itu tak disadari Rey, dia segera meninggalkan tempat itu. Liam berjalan mengikuti Rey, dia patut bangga pada Tuannya yang satu ini. "Kau tahu apa yang harus Kau lakukan." Liam hanya mengangguk tanda mengerti.
Flash back off
Henry menggerakkan ujung jarinya, dia perlahan membuka matanya, melihat Adel yang menangis, dengan El dipangkuannya membuat hatinya teriris. "Ada apa dengan ku? Bukankah dia hanya pengasuh El? Tapi hatiku sakit melihatnya menangis." ucap Henry dalam hati. Dalam ingatannya, dia hanyalah pengasuh El, pendonor ASI untuknya, tanpa ada ikatan lebih.
"Kenapa menangis?" suara serak Henry menyadarkan Adel dari tangisannya, dia segera menghapus air matanya dan tersenyum bahagia. Henry telah sadar, namun wajahnya dingin, acuh pada Adel.
"Kamu sudah bangun? Aku akan memanggil dokter untuk mu." Adel berdiri, membuat El sedikit terusik, namun tak membuatnya terbangun.
"Dia sudah sadar." setelah mengucapkan itu, Adel membawa El keruangan anak, dimana El dirawat. Hatinya begitu sakit kembali diacuhkan Henry. Dokter yang menangani segera memeriksanya, bemar dugaanya, ada sedikit memory yang dia lupakan.
"Bagaimana Dia dok?" tanya Nyonya Amel disebelah kanan Henry. Beberapa saat dokter memeriksa keadaan Henry, dia juga menanyakan beberapa hal untuknya, bahkan Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu ikut bertanya. Hasilnya memang benar, sesuai dugaan dokter di awal.
"Ya apa benar yang Anda katakan?" Tuan Abimanyu menimpali. Dia sesekali saling melempar pandangan dengan istrinya.
"Mom, tunggulah disini, temani Henry, Aku akan menemui dokter." Nyonya Amel mengiyakan, dia menarik kursi yang tadi diduduki Adel. Dan menatap putranya yang mulai membaik.
"Mari bicara diruangan saya." dokter itu menuju ruangannya, diikuti Tuan Abimanyu. Sampai diruangan dokter, keduanya duduk saling berhadapan.
"Apakah masih bisa disembuhkan dok? Saya takut dia tak akan mengingat lagi, kejadian antara dia dan Adel yang baru saja akan dimulai." Tuan Abimanyu benar-benar takut, jika putranya akan kembali dingin dengan Adel.
Tuan Abimanyu sudah mendengar semuanya dari Adel, bahwa dia berbohong padanya dan keluarganya untuk menemui Tuan Wira, tetapi malah mengalami kecelakaan. Tuan Wira dan Ibu Sari juga datang menjenguk, namun hanya sebentar, Tuan Wira harus menggantikan tanggung jawab Adel di kantor.
"Saya rasa itu semua tak ada yang tak mungkin Tuan, pasien baru saja siuman. Perlu waktu untuk bisa mengingat kembali apa yang terjadi padanya, termasuk kejadian saat dirinya mengalami kecelakaan." dokter menjelaskan panjang lebar, bahkan semua kemungkinan baik dan buruk yang akan terjadi, jika terlalu memaksakan Henry mengingat semuanya.
Tuan Abimanyu berjalan perlahan, memikirkan semua ucapan yang dokter sampaikan, dia tak tahu lagi harus berbuat apa? Namun ia berdoa Henry bisa mengingat semuanya.
Adel menutup pintu perlahan, dia berjalan tak ada semangat, dipandangi wajah El yang tertidur pulas. Sudut matanya kembali basah, apakah Eyang belum merestui hubungan mereka? Sehingga membuat Henry marah, dan mengabaikan dirinya? Berbagai prasangka berputar dalam pikiran Adel.
"Sayang, Mami tak ingin lagi kehilangan mu, membayangkan saja Mami tak ingin, apapun yang terjadi nantinya, Mami akan selalu ada di sampingmu." Adel membaringkan tubuh El dengan sangat perlahan. Rasa lelah membuatnya ikut berbaring disebelah El, dan ikut terlelap le alam mimpi.
__ADS_1
Henry tak dapat memejamkan matanya, dia berusaha keras mengingat apa yang terjadi padanya, tapi ketika hal itu terjadi, kepalanya akan terasa sangat sakit seperti tertimpa benda berat. Seperti saat ini, Henry meraung kesakitan, ketika kepingan memory itu kembali. "Aaarrrghhhh sakit sekali."
Henry menarik rambutnya sendiri, tak kuat menahan sakit yang luar biasa, Hal itu membuat Arga yang baru datang menerobos masuk, Tuan Abimanyu ada di kamar mandi saat itu, Nyonya Amel menemani Adel menjaga El yang sudah terbangun. "Heii Kau kenapa?" Arga segera menekan tombol darurat, dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.
Dokter datang dengan sedikit berlari, "Dokter, tolong, Dia merasa sangat kesakitan, saat Saya datang dia semakin histeris, dan berteriak." Dokter menyuruh Tuan Abimanyu dan Arga menunggu diluar.
"Bagaimana ini bisa terjadi Ga? tadi dia baik-baik saja saat aku tinggalkan ke kamar mandi." Tuan Abimanyu panik, dia berjalan mondar-mandir seperti ayam hendak bertelur, tak bisa diam.
"Saat Saya masuk, dia sudah kesakitan, Saya tak tahu Tuan." Arga sedikit ketakutan, dia belum tahu dengan kodisi Henry saat ini, dia seharian sibuk dengan urusan di HS Group, selama Henry sakit, Arga dibantu Nathan menghandle semua pekerjaan.
...----------------...
Lima hari berlalu, Henry sudah diizinkan pulang, dengan catatan harus check up setiap seminggu sekali. Dan juga saat dirinya merasa sakit tak tertahankan. El sudah lebih dulu pulang, tiga hari yang lalu, Adel membawanya menginap dirumah Tuan Wira. Tentu saja hal itu disambut baik oleh Tuan Wira dan Ibu Sari.
Selama itu pula Henry mengacuhkan El, dalam ingatannya, dia tak sedekat itu dengan putranya. Apalagi dengan Adel, di masih bersikap acuh dan dingin seperti tak terjadi apapun. Henry masih menggunakan kursi roda, karena dia masih sering pusing jika berjalan jauh. Sebelah tangannya harus di gips, dan digendong menghindari guncangan, dan agar tulang yang retak bisa pulih kembali.
"Hei anak bodoh, apa Kau tak merindukan El? sebentar lagi dia ulang tahun, apa Kau tak berencana membuatkan pesta untuknya?" Nyonya Amel memecahkan keheningan, dia duduk berdampingan dengan putranya, Tuan Abimanyu harus menghadiri rapat penting yang tak bisa diwakilkan Arga.
"Sedikit." tak dipungkiri, rasa sayangnya terhadap El masih sama, namun gengsi lebih mendominasi. Bedanya, saatvini Henry lebih terbuka tentang perasaannya.
"Kita jemput El dulu, atau Kau ingin pulang dulu?" Nyonya Amel lebih banyak bicara, menurut saran dokter dia harus membantu Henry mengingat, dengan banyak mengajaknya mengobrol.
Henry mengernyitkan keningnya "jemput dimana? bukankah dia sudah ada dirumah?" Nyonya Adel lupa bahwa Henry tak mengingat Tuan Wira. Bahkan saat menjenguknya di rumah sakit, Henry mengabaikannya. Tuan Abimanyu menjelaskan keadaan yang terjadi, sehingga Tuan Wira maklum dengan keadaan Henry.
"Dirumah Tuan Wira, Eyangnya Adel."
"Sejak kapan si wanita gila itu punya Eyang? Bukankah Dia hanya punya ibu yang sakit itu?" Nyonya Amel geram, sifat menyebalkan Henry kambuh lagi.
Sabar, sabar, dia sedang sakit, kalau tidak ingat dia sakit, sudah kubuat dia remahan rengginang.
Nyonya Amel hanya bisa mengatupkan rahangnya, dia harus menambah setok sabar untuk menghadapi putra bodohnya. "Sejak saat ini, dan Kau harus menghormati Tuan Wira, keluarganya banyak membatu kita dulu." Nyonya Amel tak ingin kejadian buruk terulang lagi, dengan temperament Henry saat ini, dia kuatir akan memperkeruh suasana.
"Jadi kita kemana dulu Nyonya?" Bejo menghentikan mobilnya, karena lampu lalu lintas berwarna merah, dia juga bingung harus kemana, arah tujuan kerumah Tuan Wira dan pulang berlawanan arah.
"Pulang."
.
Alhamdulillah, semoga selalu diberi kesehatan agar tetap bisa memberikan yang lebih baik lagi. Untuk readers semoga sehat dan poinnya banyak agar bisa terus mengikuti dan mendukung denga**n memberikan vote**.
.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1