
Terima kasih yang masih setia menantikan Baby El, dan juga untuk semua dukungan yang telah diberikan.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya readers.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Hari ini Adel bangun pagi sekali, ia sudah bersiap untuk mengunjungi makam bersama ibunya. Adel membelai lembut pipi El, bayi tampan yang sangat aktif. Rasanya Adel tak rela meninggalkan bayi itu.
"El sayang, hari ini jangan rewel ya, Mam tinggal sebentar. El sama main sama te Na ( panggilan Rena) dulu." Adel merasa pipinya basah.
Dia tak bisa lagi berlama lama disini, atau tangisnya akan membangunkan El. Karena saat bangun yang dicari pasti Mam, dirinya. El mulai belajar bicara, ntah siapa yang mengajarkannya.
El memanggilnya Mam, hatinya trenyuh, mendengar mulut mungil itu memanggilnya 'Mam'.
"Adel, kau akan pergi sekarang?" tanya Rena. Dia baru datang ke kamar El.
"Ya, kalau sekarang mungkin jalanan tidak terlalu macet." ucap Adel.
"Kamu hati hati yah." Rena memeluk Adel.
"Emmmm, kau jaga El yang baik."
"Tentu saja." Rena mengangguk.
Adel sudah berpamitan pada Ama semalam, bahwa dia akan berangkat pagi sekali. Selain menghindari macet, juga agar El tidak rewel ketika melihatnya pergi.
"Kau berangkat sekarang?" tanya Tuan Abimanyu. Ia akan menuju taman untuk jogging.
"Ya Tuan, saya pamit." ucap Adel seraya menganggukan kepala. Dan dibalas senyum olehnya.
Adel berangkat bersama Sisi, diantar oleh Bejo. Sesuai dengan wasiat Ama kemarin. Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara, hanya deru mesin yang menyala.
"Nona Adel, kita sudah sampai." ucap Bejo, mereka ada diparkiran apartement.
"Ah ya, terima kasih Jo." Adel turun dari mobil, diikuti Sisi.
"Jo kamu kembalilah, nanti sore jemput kami disini." perintah Adel.
"Baik, Sisi kau jaga Nona Adel jangan sampai kenapa-napa." ucap Bejo.
"Iya Jo, itu kan pekerjaan ku." sahut Sisi sewot.
Adel dan Sisi menuju ke apartement ibu Sari, tak perlu mengetuk pintu, karena Adel sudah diberi tahukan sandi untuk masuk.
"Ibuuuuu." seru Adel, dia menghambur memeluk ibunya yang duduk disofa.
"Ellll ibu sangat merindukanmu." Ibu Sari mengecupi kening Adel.
"Iya bu, Adel juga rindu."
__ADS_1
"Bagaimana kabar baby El disana?" tanya Ibu.
"Yah dia sangat aktif, El selalu dibuat kewalahan. Sekarang dia juga sudah bisa berjalan bu." tiba-tiba wajah Adel sendu.
"Ah ya, siapa dia?" Ibu mengalihkan pembicaraan.
"Ini Sisi, Si ini ibuku." Adel memperkenalkan satu sama lain.
"Ayo kita sarapan dulu, baru berangkat ke makam." ucap ibu, dia sudah memasak makanan kesukaan Adel.
Mereka berdua menurut saja, karena memang tadi belum sempat sarapan. Setelah sarapan ibu pamit ke kamarnya untuk mengambil tas jinjingya.
"Ibu apartemen ini besar sekali?" ucap Adel mengekori ibunya.
"Tentu saja, bukankah kamu yang memilihnya?" Adel mengernyit. Ia tak merasa peenah melakukannya.
"Tuan Arga bilang ini dibeli dari hasil kerjamu, dan dia yang mengajak ibu kemari. Katanya kamu sibuk mengurus baby El."
"Ibu bangga padamu El, ibu disini hidup seperti Nyonya, bahkan semua pekerjaan disini sudah ada yang mengerjakannya." ucap ibu dengan rasa bangga.
Adel semakin heran, kapan ia bicara seperti itu? Dia harus menemui Arga, untuk menanyakan hal ini.
"Oh gitu ya bu?" Adel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Mereka bertiga pergi ke makam naik taksi online, tak lupa membeli beberapa bucket bunga.
Henry mengernyit, dia melihat Adel ditoko bunga. "Apa yang wanita gila itu lakukan? Minta izin kerumah ibu malah keluyuran gak jelas." gumam Henry.
"Tidak." jawab Henry singkat.
Setelah lampu lalu lintas berubah warna, Arga kembali melajukan mobilnya di HS Group.
...----------------...
Sesampainya di pemakaman, mereka terlebih dahulu menuju makam ayahnya. Kemudian makam suami Adel, setelah berdoa, mereka menuju makam putri nya.
Mata Adel sembab karena banyak menangis, begitupun ibu. Sisi hanya mengusap punggung keduanya, dia ikut terhanyut dalam kesedihan mereka.
"Nak, maaf ibu baru bisa menjengukmu." ucap Adel mengusap nisan didepannya.
"Semoga kamu tenang disana 'nduk' , kamu pasti sudah bahagia bersama ayah dan kakekmu ya." ucap Ibu Sari. Dia terus menyeka air matanya.
( 'nduk' adalah panggilan untuk anak kecil, atau yang lebih muda dijawa, sama artinya seperti 'nak')
"Sayanggg, sekarang ibu merawat El, kalau kamu masih hidup, pasti sudah sebesar dia." Air mata Adel semakin deras.
"Huuu huuu... hiks hiks..." suara Adel tercekat, rasanya sangat nyeri. Dia hanya bisa menangis.
"El, kamu harus ikhlas nak, anakmu pasti ikut menagis disana kalau kamu seperti ini." Ibu Sari mencoba menghibur, meskipin dirinya juga sedih.
"Huuuu... Maafkan ibu nak, karena tak bisa menjagamu dengan baik." Adel terus meraung.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak."
"Kalau ibu bisa menjagamu waktu masih diperut, pasti kamu masih bersama kami nak." Adel terus menyalahkan dirinya sendiri.
Adel terus memikirkan kesalahan yangbia perbuat dulu, sehingga berakibat fatal bagi kesehatan dan bayinya.
Flash back on
Adel sedang membantu ibu membereskan sisa makan malam, saat itu cuaca gerimis. Tak seperti biasanya suaminya, Hasan belum juga pulang. Padahal ini sudah jam 21.00 malam.
Biasanya paling malam 20.30 Hasan sudah tiba dirumah, Adel jadi merasa cemas. Dielusnya perut buncit yang kini mulai membesar, usia kandungannya memasuki 18 minggu, 4 bulan lebih.
"Sayang kenapa ayahmu belum pulang juga ya?" gumam Adel sambil terus mengusap perutnya.
"Sabarlah El, mungkin kena macet, ini kan habis hujan. Jadi jalanan pasti ramai." Ibu Sari menenangkan Adel.
"Iya bu, El tunggu dikamar aja ya bu, sekalian mau tanyakan mas Hasan sampai mana." pamit Adel.
"Pergilah, ini juga sudah selesai." ucap Ibu Sari.
Adel bergegas kekamarnya, hendak mengambil benda pipih diatas meja rias. Tetapi Adel tak sengaja menyenggol foto pernikahan yang ditaruh diatas nya.
Prannngggg
Ibu Sari buru-buru menghampiri Adel. "Ya ampun El, kamu tidak apa apa kan?" Ibu Sari khawatir.
"Iya bu, El tadi gak sengaja menyenggol nya bu." ucap Adel.
"Ya sudah, biar ibu saja yang bersihkan, kamu hubungi saja suamimu." perintah Ibu Sari.
"Baik bu." Adel melanjutkan niatnya. Setelah memberikan sapu dan serok sampah pada ibu.
Adel mendial nomor suaminya, namun beberapa kali tak ada jawaban. Pesan singkat pun tak dibalas, padahal sudah ada tanda pesan sampai, tetapi belum terbaca.
Adel meletakkan gawainya diatas ranjang, namum belum dia berbalik badan, gawainya berbunyi. Nomor suaminya, Adel segera memencet ikon hijau dilayar.
"Halo, Mas kamu dimana? Sudah malam Kok belum sampai rumah?" tanya Adel beruntun.
"Maaf saya bicara dengan siapa?" suara asing diseberang sana. Adel mengernyit, siapa yang menelpon?
"Saya Adel, istrinya Mas Hasan, yang punya ponsel." jelas Adel.
"Nyonya Adel, maaf saya menemukan ponsel ini dimobil suami Anda."
"Lalu suami saya dimana?" tanya Adel, perasaanya tak enak.
"Maaf suami Anda mengalami kecelakaan."
TBC
Terima kasih
__ADS_1