Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Rapat


__ADS_3

Mohon maaf kakak semua, beberapa hari hanya bisa up sedikit.


Terus dukung Baby El yah, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Hari yang ditunggu tiba, rapat bulanan sekaligus diumumkannya Adel sebagai pewaris selanjutnya Wiranata Corporation. El diasuh Wulan juga Ibu Sari, Nyonya Amel juga ikut berperan serta. Henry tak perlu kuatir lagi dengan El. Ada banyak orang yang menjaganya.


Adel mondar-mandir dikamarnya, pakaian formal sudah melekat ditubuhnya. Menambah kecantikannya semakin terpancar, namun wajahnya muram, dia seperti memikirkan sesuatu. "Adel, lantai sudah licin, kamu tak perlu mondar-mandir lagi." Ejek Wulan, dia hendak mengambil pakaian ganti untuk El.


"Lan, aku takut, apalagi hari ini didepan pemegamg saham, Eyang akan mengumumkan langsung. Aku belum siap." Adel mengigit kuku jarinya, tak dipungkiri dia merasa belum mampu.


Wulan memegang kedua bahu Adel menghadapnya. "Siap tak siap, cepat atau lambat pasti akan terjadi. Tersenyumlah, pasti Mami El ini akan tambah cantik." Wulan berusaha menghibur Adel.


"Aku memang sudah cantik dari lahir." Adel menyombongkan diri. Wulan hanya mendengus. "Sepertinya orang ini sudah tertular virus narsis Tuan Henry." Gumamnya pelan, untunglah Adel tak mendengarnya.


Adel berangkat ke kantor bersama Eyang Wira. Sebelumnya sudah berpamitan dengan Ibu Sari dan El, serta menitipkan El pada Wulan. "Kamu ini seperti pergi jauh aja, Adel."


"Jauh banget Lan, sejauh mata memandang. Hahaha..."


Adel segera berangkat. Mereka tiba lebih awal.


Rapat akan dimulai 09.00 pagi. Saat ini masih ada waktu 30 menit sebelum rapat dimulai, Henry masih mengenakan atribut badutnya, karena tak ingin membuat orang lain curiga padanya. "Heh Kribo, kamu dipanggil keruangan dirut." Heru berbicara dengan ketus, tentu saja semua karyawan disana berbisik-bisik.

__ADS_1


Karena jika sudah dipanggil keruangan itu, pasti berakhir dengan gaji terakhir, mereka harus angkat kaki dari sini. Heru tersenyum mengejek. "Selamat kribo, kau akan mendapatkan surat cinta Tuan Wira." Yah, mereka menyebutnya surat cinta, surat pemecatan sepihak secara tidak hormat. Henry tersenyum padanya. "Terima kasih Tuan, aku harap kita masih bisa bertemu lagi."


Dengan gaya sombongnya Heru bahkan tak menjawab Henry. Dia menuju ruangannya meninggalkan Henry begitu saja. "Kita lihat saja nanti siapa yang akan pergi." Henry menggumam, merapikan berkas dan menuju ruangan yang dimaksud.


Henry terpaku didepan pintu, memperhatikan sosok wanita dengan balutan pakaian formal. Senyum tipis dibibirnya mengembang, begitu menyadari wanita yang dia kagumi adalah Adel. "Cantik" satu kata penuh makna yang lolos dari bibirnya.


Pletakkk


Sebuah sentilan mendarat dikening Henry, begitu asyik memandangi Adel. Dia tak menyadari Tuan Wira yang berjalan kearahnya. "Awwww, kenapa Tuan menyentilku?" Henry mengusap keningnya, tak terima dengan apa yang dilakukan Tuan Wira. Adel terkikik melihat dua orang itu. "Sampai kapan kau akan berdiri disini hah? Kau menghalangi jalanku." Tuan Wira melototkan matanya seperti hendak keluar.


"Heeee, maaf Tuan, saya hanya...." Henry segera menyingkir, tak lagi membantah ucapan Tuan Wira. Dia berjalan menuju sofa diruangan itu. Duduk berseberangan dengan Adel.


"Berani menertawakanku, aku pastikan besok kau tak akan bisa tertawa lagi." Henry jengah dengan sikap Adel yang seperti mengejeknya tentang penampilannya yang sekarang. "Daddy El sekarang tambah galak, tapi wajahmu sangat lucu. Hahahaaaa...." Bukannya takut, Adel mengeraskan tertawanya. Menggema diruangan yang kedap suara ini.


Henry melepas kacamatanya, menatap Adel dengan tajam. Suasana menjadi canggung, terlebih penampilan Henry. Membuat rasa percaya dirinya menurun drastis.


Tuan Wira kembali keruangan bersama Paman Irawan. Henry memakai kacamatnya kembali. Mereka berjalan beriringan. Paman Irawan mengernyit, dia heran dengan kehadiran Kribo disana. Namun enggan bertanya, lebih baik dia fokus akan apa yang disampaikan Tuan Wira. "Hari ini selain rapat, aku juga akan mengumumkan Adel sebagai penerusku selanjutnya. Kedepannya dia yang akan menggantikan aku disini."


Paman Irawan tentu sudah menduga hal ini akan terjadi, untuk itulah dia sudah mempersiapkan semuanya sedari awal.


Kita lihat saja nanti, kamu memang akan menggantikan kakek tua ini. Tetapi tidak akan ku biarkan begitu saja. Hahahaaaa... Selamat berjuang!


Dia tak menyadari bahwa rencananya akan berbalik padanya. Sungguh ironis, sepuluh tahun menanti. Ternyata perjuangannya akan berakhir sia-sia. Tetapi itulah hidup, setiap perbuatan pasti ada karmanya. Baik ataupun buruk tergantung bagaimana sikap yang telah kita lakukan.


"Baiklah! Kita keruang rapat sekarang, dan kamu Kribo, silahkan kembali keruanganmu, terima kasih sudah bekerja keras membantu kami." Paman Irawan meninggalkan ruangan dengan wajah cerah, tujuannya sebentar lagi akan tercapai. Tuan Wira memberi kode, agar Henry menunggu disana. Dia dan Adel menuju ruang rapat satu lantai dibawah ruangannya.

__ADS_1


"Cucuku tenanglah! Ini hanya pemegang saham, kau tak perlu setegang ini." Tuan Wira menyadari perubahan pada wajah Adel yang semakin terlihat gugup. "Iya Eyang, tetapi Adel merasa takut.


Tuan Wira menghentikan langkahnya diikuti Adel. "Ada Eyang yang selalu mendukungmu." Mereka melanjutkan langkahnya menuju ruang rapat. Suasana menjadi hening ketika Tuan Wira memasuki ruangan. Semuanya berdiri memberi hormat.


Tuan Wira menganggukan kepalanya, diikuti Adel. "Silahkan duduk" Tuan Wira duduk disinggasananya, Adel disebelahnya. Krasak krusuk para pegawai mulai salaing berbisik.


"Dia cucu Tuan Wira itu? Tanya seorang pegawai laki-laki.


"Yah kudengar dia yang akan menggantikan Tuan Wira." Jawab orang disebelahnya.


"Kita akan punya boss cantik, bisa cuci mata tiap hari." ucap satu orang lain.


"Iya cantik banget, aku mau kalau jadi suaminya."


"Hey aku duluan."


Semuanya menjadi riuh, membicarakan wanita muda yang duduk disebelah Tuan Wira. Mereka tak menyangka bahwa pewaris selanjutnya adalah wanita yang sangat cantik. "Apa kalian sudah selesai?" Suara tegas Tuan Wira menghentikan semua orang. Mereka kembali fokus akan rapat yang belum dimulai ini.


Satu per satu kepala bagian menyampaikan laporannya. Tetapi ada yang janggal, laporan Heru, Kepala Bagian Pemasaran, tidak sama hasilnya dengan Bagian Keuangan. Hal ini memunculkan banyak pertanyaan dibenak para peserta rapat. Begitupun Adel, walaupun baru sekali ini, tetapi dia mengerti laporan. Karena kuliahnya dulu Bisnis dan Manajemen.


Tuan Wira berusaha tenang, dia tak boleh terpancing emosi. Saat ini dia sedang menghadapi puluhan pemegang saham. Bukan hanya internal tetapi juga masalah ini akan menjadi masalah eksternal. Yang menghebohkan dalam dunia bisnis.


"Tuan, tenanglah! Ini pasti ada kesalah pahaman." Tuan Wira berdiri dihadapan semua orang. "Saya bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi, iyakan Tuan Irawan." Sedari tadi Irawan hanya diam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Seharusnya dia yang bertanggung jawab, karena dua tahun terakhir dialah yang memegang kendali atas Wiranata Corporation.


Bukanya membantu, dia malah semakin memojokkan. "Saya disini memang menggantikan Anda, tetapi masalah laporan bukankah setia saat saya melaporkan pada Anda. Dan semua berkas juga melalui tanda tangan dan persetujuan Anda."

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2