
Alhamdulillah sudah sampai episode ini, semua ini berkat dukungan dan semangat yang diberikan oleh readers semua.
Jangan lupa dukung terus dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Seminggu berlalu, semenjak kejadian Henry meninggalkan rapat dengan tergesa-gesa. Selama itu juga, Henry tak lagi datang ke Wiranata Corporation. Tuan Abimanyu sendiri yang mewakili CEO HS Gruop untuk membahas investasi yang mereka sepakati.
Perasaan Adel mengatakan ada yang tidak beres, tetapi dia juga tak dapat berbuat apapun. Tugasnya semakin hari semakin menumpuk. Bahkan sampai dia bawa pulang untuk berdiskusi dengan Eyang.
"Besok hari minggu, aku harus bertemu El. Seminggu ini aku sama sekali tak melihat El, bahkan mendengar suaranya pun tak pernah." Adel berbicara pada dirinya sendiri. Sekarang hampir jam pulang kerja. Dan pekerjaan Adel sudah selesai, hanya menunggu jadwal untuk minggu depan.
Pintu ruangan di ketuk, Nathan datang dengan beberapa lembar kertas ditangannya. "Nona ini Agenda yang telah saya susun berdasarkan keinginan Anda. Dan ini dokumen terakhir yang harus Anda tanda tangani saat ini juga."Nathan menjelaskan dengan rinci setiap kalimatnya.
"Terima kasih, kamu boleh kembali." Adel mulai terbiasa dengan Nathan. Setiap harinya mereka sering bertemu dan membahas tentang pekerjaan, tak lebih dari itu.
Selama seminggu ini juga, Rey selalu menemui Adel. Komunikasi diantara keduanya dibilang cukup akrab. Adel selalu menolak bertemu Rey, tetapi dia selalu ada dimanapun dan kapanpun Adel membutuhkan bantuannya. "Apa Kakak tak ada pekerjaan lain selain mengikuti ku?" Pertanyaan yang sama yang selalu Adel tanyakan.
"Apapun ku lakukan untuk mu." Rey hanya menanggapinya dengan tersenyum. Menampilkan lesung pipi yang menambah nilai plus untuknya. Namun Adel bersyukur, kehadiran Rey sedikit banyak mampu menghibur disaat lelah. Terlebih jika dia sedang merindukan El.
"Nona, apa sudah selesai?" Nathan sedari tadi menunggu, menunggu dokumen yang harus ia bawa saat itu juga, untuk diserahkan pada bagian keuangan. Adel tersentak, dia baru ingat, Nathan sedari tadi menunggunya.
"Maaf Nath, aku membuat mu menunggu." Adel segera membubuhkan tanda tangan diatas cetak nama dirinya.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang sedang Anda pikirkan Nona?" Nathan memberanikan diri untuk bertanya. Dia tahu, ini hal diluar pekerjaannya, tetapi entah keberanian dari mana dia bisa melakukannya.
Adel menyunggingkan sedikit senyumnya. "Tidak ada, mungkin aku hanya lelah, dan belum terbiasa dengan pekerjaan ini." Nathan hanya mengangguk, berlalu meninggalkan Adel disana.
"Lebih baik aku membelikan beberapa mainan untuk El. Dia pasti senang jika melihatku datang. Tapi, bagaimana dengan manusia kutub itu? Hmm lebih baik pikirkan nanti saja, aku bisa minta bantuan Wulan." Adel segera berkemas, merapihkan peralatan tempurnya.
Adel tak langsung pulang, melainkan menuju toko mainan disebuah mall ternama. Dengan langkah pasti, Adel memilih beberapa barang yang akan dia bawa besok. "El pasti seneng, terlebih ini kan mainan kesukaannya."
Melewati perlengkapan bayi, disana juga menyediakan pakaian anak. Adel berhenti sejenak, pandangannya tertuju pada baju anak laki-laki dengan topi yang dipajang di patung manekin. "Lucu banget, El pasti tambah imut jika pakai itu."
Adel melangkah masuk, menuju patung manekin yang sedari tadi mencuri perhatian seorang Adellia.
Adel juga melirik baju dengan dasi kupu-kupu, entah apa yang pikirkan. Hanya beberapa hari tak berjumpa dengan El, rasa rindu yang membuncah di hatinya, mendorong keinginan untuk memberikan El beberapa potong pakaian. Rasanya bahagia sekali, hanya dengan membayangkan El mengenakan pakaian yang dia berikan.
Cukup lama Adel disana, ujung matanya sudah menggenang. Hingga pelayan toko mendatangi Adel. " Silahkan Nyonya, ini adalah produk terbaru kami. Anda memerlukan untuk anak usia berapa? Saya bisa mencarikan size nya" ucap pelayan dengan sopan.
Adel segera memalingkan wajahnya, menepis buliran bening yang hendak menyentuh wajah ayu nya. "Emm... Sa-saya hanya melihat saja." Adel dengan senyum yang dipaksakan. Dia menuju kasih untuk membayar baju El.
Di perjalanan pulang Adel hanya melamun, Pak Maman, supir keluarga yang mengantarnya merasa heran. Pasalnya saat datang Nona Adel penuh semangat dan wajah berbinar. Tetapi saat kembali wajah Nona Muda nya terlihat murung dan tak bersemangat.
__ADS_1
"Nak, seandainya kamu masih ada, ibu pasti sangat bahagia. Kita selalu bermain bersama, ibu pasti tak akan kesepian seperti sekarang ini. Ibu akan memebelikan banyak pakaian dan mainan untukmu." Adel menatap kosong pada mobil yang berlalu lalang diluar kaca jendela mobil.
Dua minggu lagi adalah hari kepergian mendiang putri Adel. Itu berarti, satu bulan kedepan adalah hari ulang tahun El yang ke-2. El akan benar-benar terlepas darinya, dimana saat itu juga kesepakatan antara dia dengan Henry berakhir. Maka tak ada lagi alasan Adel untuk bisa kembali bersama El.
Akankah dia harus kembali merasa kehilangan El? Adel tak sanggup lagi jika harus memikirkan hal itu. Dadanya semakin sesak, jika mengingat harus berpisah dengan El. Tapi dia bisa apa?
"Nona, kita sudah sampai" Pak Maman menegur Nona Adel. Mereka sudah sampai sejak 5 menit yang lalu, tetapi Adel masih tak bergeming akan posisinya. Dia duduk termenung, di kursi penumpang dengan menopang dagunya sendiri.
"I-iya Pak, maaf saya kira belum sampai" Adel segera turun, dengan membawa beberapa paper bag ditangannya.
"Sudah sejak tadi Nona ," Namun Adel sudah tak mendengar suaranya. Adel langsung masuk setelah membawa belanjaan yang tadi di beli. Tanpa mengucapkan terima kasih seperti biasanya.
"Ada apa dengan Nona Adel? Apa mungkin dia melupakan sesuatu? Atau dia tak dapat barang dia cari? Haih, bukan urusanku juga" gumam Pak Maman sangat pelan, sehingga hanya dia yang bisa mendengarnya.
Adel melewati Eyang dan Ibu Sari begitu saja, tanpa berniat bergabung atau sekedar menyapa. Pemikirannya masih berkelana, dia segera menuju ke kamarnya.
"Ada apa dengan anak itu?" Ucap Eyang Wira.
"Entahlah Ayah, mungkin dia kelelahan bekerja. Tapi dia tadi membawa sesuatu ditangannya." Ibu Sari mulai berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada putri semata wayangnya. Sehingga dia mengabaikan Ibu dan Eyang.
"Coba kamu lihat dia, mungkin dia ada masalah." Ibu Sari mengecek Adel ke ke kamar, namun pintunya dikunci, diketuk beberapa kali tak juga ada jawaban. Ibu Sari merasa cemas dengan putrinya. Dia mencoba beberapa kali, dan menunggu cukup lama didepan pintu. Sebelum akhirnya Adel membukakan pintu, yang nampak hanya kepalanya yang dibungkus handuk.
"Maaf Ibu, Adel sedang mandi, ada apa Ibu kesini?" Adel mengambil pakaian ganti dan memakainya di kamar mandi. Dia lupa membawa baju ganti tadi. Untunglah Ibu Sari tak perlu lama menunggunya.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH