Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
El siuman


__ADS_3

Terima kasih atas semua dukungan yang sudah diberikan untuk novel ini.


Terus dukung Baby El kakak semua, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Dua orang dokter muda mengunjungi ruangan dimana El dirawat, diikuti Wulan sebagai dokter anak yang menangani El. Ruangan tampak lengang, Henry sedang beristirahat diruangan sebelah. Tuan dan Nyonya Syahreza pulang ke mansion, karena sejak El dirawat, Nyonya Amel tak pernah meninggalkan rumah sakit ini.


Adel terlelap, dengan jari tangan menaut pada tangan mungil El. Wulan mengusap bahunya perlahan, "Adel,bangun, kamu bisa istirahat dulu" bisik Wulan pelan.


"Maaf Lan, aku ketiduran" Adel duduk tegak dikursi, rasanya sangat sulit terlepas dari El. Bayi itu menggenggam erat jari telunjuk Adel, tak ingin ditinggalkan lagi.


"Maaf membangunkanmu, kami akan memeriksa kondisi El" dua orang itu memeriksa El dengan teliti, tanpa banyak bicara, keduanya menganggukkan kepala pertanda mereka sudah selesai.


"Dimana Daddy nya?" Tanya seorang dari mereka. Sejak El dirawat, Henry selalu disamping El. Tak heran jika dokter itu menanyakan Henry.


"Dia sedang istirahat, apa ada hal penting yang ingin dibicarakan? apa perlu saya panggilkan?" Adel bertanya dengan runtut, sesekali melirik El yang menggerakkan tangannya.


"Tidak perlu Nyonya, kondisi El sudah membaik, dia bisa melewati masa kritisnya. Dan pengaruh obat juga akan segera menghilang, pesan saya, tetaplah disampingnya. Saat dia membuka mata nanti, harus selalu ada orang yang menjaganya."


Dokter itu mengusap pipi El dengan lembut, setelah itu berpamitan mengunjungi pasien lain. Hanya Wulan dan Adel disana, mereka berdua juga tak banyak bicara seperti biasa.

__ADS_1


"Adel, ada yang perlu aku tanyakan, tapi ini sedikit pribadi" Wulan sedikit gugup dia me***** ujung jas yang dia gunakan hingga terlihat berkerut.


"Yah, selama aku tahu pasti aku akan menjawabnya" Adel menatap Wulan dengan serius. Wulan menarik kursi, duduk berhadapan dengan Adel. Dia memastikan tak ada orang yang masuk ke ruangan itu.


"Sebenarnya, emm,...." Wulan sedikit ragu, dia takut menyinggung perasaan Adel. Terlebih ini menyangkut perasaan, tak ada siapapun yang berhak memaksanya.


Adel tersenyum, dia tahu Wulan merasa sungkan. Tetapi dia ingin Wulan menyampaikan apa yang mengganjal dihatinya. "Katakan, aku tak akan marah padamu" Wulan memberanikan diri menatap Adel. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, agar membuatnya sedikit tenang.


"Jika mungkin, apakah kamu bersedia menjadi ibu sambung untuk El? Sebenarnya bagaimana perasaanmu dengan Tuan Henry, apakah kamu menyukai orang yang waktu itu kita bertemu dipantai?" Wulan menahan nafas, bertanya dengan sangat cepat. Setelah itu dia menenggak air putih yang ada disamping tempat tidur El.


"Hahaha, kamu hanya ingin bertanya itu, tapi wajahmu sampai pucat seperti melihat hantu, dan kamu terdengar seperti seseorang yang sednag melamarku" Wulan mengernyitkan keningnya, apakah itu berarti Adel tak marah padanya?


"Sekarang aku tanya padamu, apa kamu menyukai Kak Rey?" Wulan semakin tercengang, bagaimana bisa Adel malah bertanya seperti itu.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaanku" wajah Wulan memerah, dia segera melihat kearah lain. Tak ingin Adel kembali meledaknya.


Adel menatap El lekat, ada sebuah kesedihan dihatinya. "Aku tak tahu dengan perasaanku sendiri, aku sangat marah ketika melihat kondisi El seperti ini. Hatiku sakit, ketika tak ada orang memberitahu ku keadaan El, bahkan kemarin aku sempat ke mansion. Tapi si manusia kutub itu membohongiku."


"Lan, ada atau tidak perasaanku dengan Daddy El, tak akan mengubah rasa sayangku pada El. Walaupun aku sedikit berharap, jika El benar-benar menjadi putraku" Adel menatap nanar pada tubuh mungil dihadapannya, yang tak kunjung membuka mata dan mengoceh seperti biasanya.


"Dan untuk Kak Rey, dulu memang aku menaruh harapan besar padanya. Tetapi seiring berjalannya waktu, rasa itu sudah tak ada lagi, jadi kamu tenang saja, kalau kamu mau, aku bisa mengenalkannya padamu" Adel juga menceritakan soal lamaran Rey sesaat setelah pulang nonton kemarin, sengaja menggoda Wulan, dia pasti sangat setuju jika Wulan bersama Rey, dia pemuda yang baik dan sopan. Begitupun Wulan, dia sangat sabar dan penyayang.


"Kau ini jangan sembarang bicara Adel, aku sudah memiliki orang lain yang ku kagumi" Wulan membayangkan orang itu, sebuah senyum terbit dibibir imutnya.

__ADS_1


"Oh ya? Cepat beritahu aku, aku pasti akan membantumu" Wajah Adel bersemangat.


"Kepo" Wulan merapikan peralatannya, dia akan membawanya ke ruangan yang dia tempati sebelum menjaga El dulu. Dibalik pintu, ada seseorang yang begitu senang mendengar curhatan dia wanita ini.


"Masih ada harapan" Henry mengepalkan tangannya ke udara. Dia hendak masuk ketika dokter yang memeriksa El keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar Wulan bertanya pada Adel.


El mengerjapkan matanya beberapa kali, Wulan yang hendak pergi mengurungkan niatnya. "Sayang, El udah bangun?" Wulan mendekat, dan memeriksa kembali El. Wulan menyunggingkan sedikit senyumnya.


"El, maafin Mami ya, Mami baru bisa jenguk El" Adel langsung menghadiahkan banyak ciuman diwajah tampan El, walaupun terlihat pucat, tapi tak mengurangi keimutan di wajahnya.


"Adel, kau harus ingat, El baru saja siuman, tolong jaga sikap bar bar mu itu" Wulan mengomel, melihat perlakuan Adel pada bayi tampan itu. Tapi dia juga terharu, melihat kedekatan keduanya, siapa yang menyangka jika mereka tak memiliki hubungan darah.


Orang yang melihat pasti menyangka mereka adalah anak dan ibu kandung. "Maammmiii" rengek El. Suaranya masih sangat pelan, namun jari tangan Adel tak pernah lepas dari nya.


"Iya sayang, Mami disini" Adel membelai kepala El penuh sayang, kembali mencium kening El sangat lama. Seolah mengerti, seperti orang dewasa, El terlihat bahagia mengetahui Adel disampingnya. Bayi itu hanya melihat Mami nya tanpa berkedip.


'Aku sangat merindukan Mami' tatapan mata El mengatakan demikian, namun kondisinya masih lemah. Membuat El lebih banyak terdiam. "Dia pasti sangat merindukan mu, sebelum dia masuk rumah sakit, dia selalu mencarimu, dan hanya Daddy nya yang bisa menghiburnya" Wulan sangat senang melihat El sudah banyak kemajuan.


"El, sayang, kau sudah bangun hmm. Daddy sangat senang, Daddy rindu El" Henry merentangkan tangannya, namun dicegah Adel. Dia berdiri tepat dihadapan Henry, jarak yang sangat dekat, untunglah Henry bisa berhenti tepat waktu.


"Uhuk uhuk" Wulan pura-pura batuk, membuat keduanya saling menjauh. Keduanya jadi salah tingkah.


"Kau bilang sayang? Kau yang membuatnya seperti ini, masih tak ada malu seenaknya main nyosor sama El" ucap Adel sinis, dia masih menyalahkan Henry. Ini semua ulahnya, jika dia tidak egois pasti hal ini tak akan pernah terjadi.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2