
Budayakan like komen dan vote setelah membaca ya kakak.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Pergilah!" Edo mengembangkan senyumnya. Walaupaun dia sendiri masih merasakan sakit luar biasa. Karena pengaruh obat yang mulai menghilang. Tetapi senyumannya tak memudar sedikitpun. Edo sangat bahagia, melepaskan dendam yang menghantuinya. Hanya akan membuat dirinya semakin tersiksa.
Dokter masuk bersama perawat, memeriksa keadaan Edo. " Tuan, sebaiknya jangan banyak bergerak dulu. Kalau tidak lukanya bisa infeksi, dan jahitan akan semakin lama mengering." Dokter menjelaskan kondisi Edo, sungguh keajaiban. Orang yang dinyatakan kritis sekarang bisa sadar dan penuh semangat berjuang melawan maut.
Dokter juga berpesan, agar segera menghubungi dokter jaga atau suster yang bertugas. Jika menginginkan sesuatu. Mulai hari ini, Edo akan dipindahkan keruang perawatan. "Tuan, saya mengantar makanan dan obat untuk Anda." Suster itu menaruh nampan yang dia bawa diatas nakas. Dan membantu meninggikan tempat Edo berbaring, agar memudahkan ia makan.
Edo masih harus memakan bubur yang halus, karena takut pencernaanya terganggu. "Sudah, aku tak mau lagi." Edo menyodorkan mangkuk berisi bubur pada perawat. Padahal baru beberapa suap yang masuk kemulutnya. "Tapi Tuan baru makan sedikit, Nan....."
"Kalau aku bilang sudah berarti sudah, apa kau mendengarnya?" Suara Edo terdengar ketus. Tetapi perawat itu masih bisa tersenyum, dan membantu menyupi Edo. Awalnya menolak, tetapi akhirnya luluh juga. "Jadi maunya disuapin? Bilang dong dari tadi."
Perawat itu mendapat tatapan tajam dari Edo, bukanya takut dia malah tertawa. Melihat Edo yang bertingkah seperti anak kecil. "Sudah, aku kenyang." Ketika melihat tinggal beberapa suap lagi di mangkuk. "Kenyanglah, kau hampir menghabiskan bubur ini." Kali ini perawat itu yang mendengus. Setelah itu membantu Edo minum obat, dan berlalu bergitu saja.
"Heiii, kau lupa menurunkan ini." Tunjuknya pada tempat tidur yang masih tinggi. "Hmmmm" perawat itu berbalik, dan membantu menurunkan seperti sebelumnya. "Bukanya terima kasih sudah dibantu." Perawat itu menggerutu, setelah meninggalkan ruang perawatan Edo.
__ADS_1
...----------------...
Sesuai janji, Henry mengantarkan Adel kerumah Eyang Wira. Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu utama mansion megah Wiranata. Tetapi Henry masih mematung di dalam mobil, entahlah, dia merasa nervous, padahal ini bukan kali pertama ia berkunjung. Hingga suara teriakan Adel dari luar menyadarkan kembali dirinya.
"Tuan, sampai kapan kau akan berada didalam sana?" Henry terjingkat, segera menyusul Adel yang membawa El kedalam rumah bak istana itu. Adel jalan melambat, mensejajari Henry yang terlihat tegang. Ini baru pertama kalinya, Adel melihat raut wajah takut pada Henry. "Bisakah kau memanggilku Henry?"
Adel mengernyit, biasanya tak pernah mempermasalahkan, kenapa sekarang hanya panggilan jadi topik mereka. "Aku sudah terbiasa." Jawab Adel santai.
"Mulai saat ini jangan kau biasakan memanggilku Tuan, kau harus terbiasa memanggilku nama." Henry menatap Adel sangat dalam. Hingga jarak mereka semakin terkikis. "Mammmiii." El berada ditengah, dalam gendongan Adel. Keduanya saling menjauh, menjadi salah tingkah.
Ibu Sari datang dari arah dapur, membantu Bibi Yani memasak untuk makan malam. "Adel, kau pulang? Kalian duduklah, ibu akan memanggil Eyang." Ibu Sari menuju kamar Eyang Wira, tetapi dia sudah berpesan agar Bibi Yan membuatkan minum untuk Adel dan Henry.
Tak lama Ibu Sari kembali bersama Eyang, "bagaimana keadaanmu nak?" Tanya Eyang, yang baru saja mendaratkan tubuhnya pada sofa single di seberang Adel. Dia duduk memangku El yang sibuk memainkan kancing baju Adel.
"Tuan, emmm, maksudku Henry, kau tidak apa? Apa kau sakit?" Adel yang melihat Henry diam, jadi merasa tak enak.
"Aku tak apa." Henry memaksakan senyumnya. Dia harus mengatakan maksud dan tujuannya datang kemari. "Tuan Wira, maksud saya kemari..." Henry tak menlanjutkan kalimatnya, melihat Eyang Wira mengangkat tangannya. "Kita bicarakan nanti, aku tunggu diruang kerjaku, setelah makan malam."
"Nak, ayo kita makan dulu, kalian juga pasti sudah lapar. Dan untuk El, Bibi Yan sudah membuatkannya bubur." Ibu Sari mengajak anak dan tamunya untuk makan malam bersama, menyusul Eyang yang sudah lebih dulu duduk dimeja makan.
__ADS_1
"El, sayang, mam dulu ya" Adel menyuapi El terlebih dulu. "Aaaaaaaa" El membuka mulutnya. Adel bahagia karena El mulai mebingkat nafsu makannya. Sampai dia membiarkan piring miliknya kosong tanpa terisi makanan. "Adel, kau makanlah! Biarkan ibu yang menyapi El." Ibu Sari bermaksud menggantikan Adel, tetapi El tak mau membuka mulutnya.
"Ibu makanlah duluan, nanti Adel menyusul, setelah El menghabiskan bubur ini. Akhirnya semuanya makan dalam diam, kecuali Henry yang menghentikan makannya. Dia berpindah disebelah Adel, mengisi piring Adel dengan makanan dan menggantikan menyuapi El. "Makanlah! Biarkan aku yang menyuapi El."
Henry tak ingin dibantah, Eyang hanya diam, melanjutkan makannya. Dan meninggalkan meha makan terlebih dahulu. Ibu Sari sudah selesai makan, tetapi masih menunggu Adel yang belum selesai makan. Terlebih piring Henry yang baru berkurang beberapa suap.
Adel baru saja menyelesaikan makannya, melihat El yang belum juga selesai makan. Adel mengambil makanan Henry, dia menyodorkan piring dihadapan henry, seperti hendak menyuapi Henry. "Apa kau pikir aku El? Aku bisa makan sendiri." Ibu Sari hanya menggelengkan kepalanya, melihat kecanggungan dua orang ini.
"Yah sebaiknya memang begitu, aku hanya mendekatkan piringmu saja. Jangan terlalu percaya diri." Namun wajah El bersemu, membuat Henry terkekeh. "Lalu kenapa wajahmu memerah?" Adel memegang pipinya.
"Tuan, cepat habiskan makananmu, Eyang sudah menunggumu." Adel kembali fokus pada El, nampaknya bayi itu sudah kenyang. Dia menutup mulutnya dengan tangan, dan menggoyangkan kepalanya. "Nooo Mammm".
"Kau sudah kenyang? Hmmmm. Minum dulu ya." Adel mengambil gelas minum milik El, dengan cekatan El minum dengan memegang gelas sendiri. "Ummm cayangggg udah pinter cekarangg." Adel menghadiahkan ciuamn diwajah El.
Menunggu Henry selesai makan, Ibu Sari dan Adel mengajak El ke kamar. Ibu Sari sudah membeli beberapa mainan, karena dia tahu El akan ikut pulang bersama Adel. "Kau menyukainya sayang?" Ibu Sari sangat menyayangi El. Dia sudah menganggapnya cucu sendiri, padahal baru beberapa kali bertemu, tetapi bayi itu mempunyai daya tarik sendiri. Untuk orang menyayanginya.
Lelah bermain, El tertidur dengan sendirinya. Dengan mainan mobil-mobilan yang berada ditangannya. Padahal Adel baru saja menyiapkan susu untuknya. "Dia sudah tidur El, sebaiknya kau simpan saja dulu, siapa tahu saat terbangun dia meminta susu." Adel pun menyimpan kembali susu itu kedapur. Karena disini tak ada tempat khusus penyimpanan ASI.
Dengan perlahan Adel memindahkan El diatas ranjang, dipandanginya dengan seksama wajah tampan El. Beberapa hari tak berjumpa, terlebih berada dirumah sakit. Pipi gembul El banyak menyusut. "Maafkan Mami El, seharusnya Mami selalu menjaga El, sehingga hal ini tak perlu terjadi." Genangan disudut matanya terjatuh begitu saja.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH