
Happy Reading
๐๐๐๐๐๐๐
Rena sudah datang sore tadi, sewaktu Adel ditaman belakang. Tugas menjaga El sekarang Rena, jadilah Adel tak punya alasan untuk menolak.
Apa istimewanya dia? Dia kan hanya pengasuh El, sama sepertiku, gerutu Rena.
"Ama sepertinya saya harus kembali ke kamar, saya takut El menangis," bisik Adel.
"Ayolah Adel, ini permintaan Ama, tolong kau hargai itu," ucap Ama setengah berbisik.
"Tapi ini sangat canggung, saya tidak nyaman Ama," ucap Adel. Ia sangat gugup, ia mere**s kedua tangannya satu sama lain. Hingga telapak tangannya berkeringat.
Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel, tak merasa keberatan dengan sikap Ama. Ia malah mendukung Ama, bagaimanapun Adel berjasa pada keluarganya.
Sedang apa wanita menyebalkan itu disini? Siapa yang berani membawanya kemeja makan?ucap Henry dalam hati.
Henry hendak mendudukkan tubuhnya, dikursi samping Mommynya. Namun Ama melarangya.
"Ar, kau duduklah disana," tunjuk Ama pada kursi sebelahnya, dan berhadapan langsung dengan Adel. Lama Henry terdiam, ia masih bergeming ditempatnya.
"Son." panggilan Daddy menyadarkannya.
Dengan berat hati, Henry melangkah ketempat yang ditunjuk Ama. Mereka makan dalam diam, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring. Ini adalah peraturan tak tertulis dimeja makan. Adel semakin merasa tak nyaman, Henry terus saja meliriknya.
Astaga, ada apa dengan manusia kutub ini? Aku serasa ingin ditelannya hidup hidup. Adel
Hahaaa lihatlah wajah masamnya itu, aku semakin ingin melihatnya ketakutan. Dia seperti anak kucing yang ada didongeng. Henry
Meskipun penuh kecanggungan, tetapi mereka sangat bahagia. Ini adalah makan malam spesial bagi mereka. Terutama Henry, ia merasakan kehangatan sebuah keluarga. Sesuatu yang selama ini dia impikan.
Berbeda dengan Adel, dia terus saja makan sambil menundukkan kepala. Ia merasa sangat risih dengan lirikan tajam Henry. Henry memang akan tinggal dimansion mewah ini, semua atas permintaan Ama. Dengan alasan ingin selalu melihatnya setiap hari.
Padahal semua itu tak lepas dari rencana Tuan dan Nyonya Syahreza. Mereka ingin Henry lebih dekat dengan El. Lambat laun, hubungan ayah dan anak ini diharapkan menjadi lebih baik lagi.
Makan malam selesai, keluarga ini ingin menghabiskan malam ini bersama. Diruang bersantai, atau bioskop mini dilantai satu.
__ADS_1
"Maaf Ama, Tuan dan Nyonya, saya harus kembali. Saya takut baby El memerlukan saya," ucap Adel.
"Kau tenanglah Adel, ada Rena yang menjaganya," jawab Nyonya Amel.
"Tunggu, siapa yang menyuruhmu memanggilnya Ama?" tanya Henry tak terima.
"Astaga, anak bodoh ini benar benar seperti anak kecil," gumam Nyonya Amel.
"Aku yang menyuruhnya, apa kau ada masalah?" Ama membuka suara.
"Yah, aku keberatan, itu kan panggilan khusus dariku, Ama." Henry masih kesal.
"Heiii.. Arrr... Ku rasa kau bukan anak kecil lagi. Jadi kita tak perlu mejadikan panggilan ini sebagai sebuah masalah."
"Tapii Ama...."
"Sudahlah Son, kau jangan membahasnya lagi. Kita ini sedang menikmati menjadi keluarga bahagia. Kau jangan merusaknya," seru Tuan Abimanyu.
"Dan apa ini? Keluarga, dia itu hanya orang asing Dad!" Henry menunjuk Adel.Adel yang sedari tadi hanya mendengarkan perasaanya sangat sakit. Ia menyadari siapa dirinya dikeluarga sultan ini.
"Saya permisi," Adel segera berlari, tetapi tidak kekamar El. Melainkan kegazebo taman belakang.
"Kau tidak boleh menilai orang dari siapa dia, tetapi lihatlah bagaimana sikapnya, dan ketulusan hatinya," ucap Tuan Abimanyu, ia menyusul istrinya.
Kini tinggallah mereka berdua, Ama dan Henry. "Apakah Ama pernah mengajarimu, untuk bersikap tidak sopan pada orang lain?" tanya Ama. Henry menggelengkan kepalanya, Henry melihat kearah lain.
"Bagaimanapun, sekarang Adel adalah bagian dari keluarga ini. Meskipun tak ada ikatan darah sekalipun. Ama yakin dia orang yang baik."
"Maaf Ama, aku membuatmu kecewa," Henry memelas.
" Ya kau memang bersalah, tetapi yang harus memberikan maaf bukan Ama. Tapi Adel, dan kau harus meminta maaf padanya," ucap Ama seraya berdiri.
"Tapii Amaaa... " Henry masih mematung ditempatnya. Acara kebersamaan yang penuh canda tawa, harus ia kubur dalam dalam. Semuanya berantakan, tak sesuai harapan.
Semua ini karena wanita gila itu, jangan harap aku akan meminta maaf padanya. Hah berjasa apanya? Bukankah dia yang lebih diuntungkan? Bisa tinggal di istana ini, ibunya aku biayai, bahkan sekarang dia menghancurkan acara keluargaku. Henry meninggikan egonya.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu di gazebo, Adel tampak merenung, tak ada air mata. Namun hatinya tercabik cabik. Ia dianggap benalu dirumah ini.
Padahal ia disini bekerja, untuk membiayai ibunya yang sedang sakit. Ah ibu, entah bagaimana kabarnya sekarang? Adel bahkan sudah lama tak mendengar kabar darinya, biasanya setiap haris ia menyempatkan diri. Hanya untuk sekedar menelpon ibunya.
Adel teringat semua perjalanan hidupnya, apa dia memang tidak diinginkan?
Keluarga dari ibunya tak menerimanya, karena ia anak dari keluarga biasa. Ayahnya memilih pergi dari rumah, demi hidup bersama Adel dan ibunya. Namun ayahnya pergi, karena sebuah kecelakaan saat bekerja.
Bahkan suami dan anak yang sangat dia sayangi meninggalkannya. Hanya ibunya yang berada disampingnya. Dan sekarang ia sebatang kara, hidup dimansion mewah bak istana.
Tetapi ia merasa sepi, hanya El, bayi tampan yang menggemaskan. Yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Tingkah lucunya, ocehan dia. Sangat menggemaskan.
Tetapi jika teringat perjanjian itu, akankah Adel akan kembali merasa kehilangan? seperti yang sudah ia alami selama ini. Membayangkan hal itu, membuatnya kembali merasa sesak didadanya. Namun tak bisa dikeluarkan, ia hanya bisa menahannya seorang diri.
Setelah satu jam lamanya Adel kembali kekamar El. Disana Nyonya Amel dan Rena sedang kewalahan. Baby El menangis, tak mau ditenangkan siapapun. Berbagai cara mereka coba namun sia sia.
"Kemana saja kau ini hah?" bentak Henry.
"Bukan urusan Anda Tuan," jawab Adel.
"Ini sudah menjadi urusanku, kau melalaikan tugasmu, untuk menjaga El," suara Henry meninggi.
"Oh ya? Sejak kapan Anda peduli dengan El?" ucapan Adel seolah membungkam Henry. Nyonya Amel yang mendengar keributan, segera keluar dari kamar El.
"Kalian ini, El sedang menangis, kenapa malah bertengkar disini?" ucap Nonya Amel.
"Maaf Nyonya, saya akan segera menenangkannya," ucap Adel. Ia segera masuk menemui Rena yang menggendong El.
"Ya, kau cepatlah!" Nyonya Amel dengan nada memerintah. Henry hendak masuk kedalam kamarnya. Namun Nyonya Amel mencegahnya.
"Apa kau belum puas menyakitinya tadi? Dasar anak bodoh, apa yang ada diotakmu itu sebenarnya hah?" Nyonya Amel tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Terus saja Mommy membela orang itu." Henry membanting pintu kamarnya. Lalu menguncinya. Henry mengusap wajahnya kasar, ia membanting dirinya dikasur king sizenya. Selalu saja ia salah di hadapan Mommy nya.
TBC
Terima kasih yang masih setia menanti Baby El, dan selalu mendukung author๐๐๐๐
__ADS_1
Yang belum, semoga berkenan mendukung author dengan like, komen dan vote.
Terima kasih