
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Henry tak melepaskan Adel sedetik pun. Ia selalu di samping Adel, ia menuruti semua perkataan dokter. Mungkin masih perlu waktu untuk sampai proses melahirkan. Tetapi Henry lebih memilih menunggu di rumah sakit. Rasa sakit yang Adel rasakan semakin bertambah dan sering.
"Dad, Aku lapar." Rasa sakitnya mengilang lagi. Kini berganti rasa lapar. Ia hanya makan tadi pagi, itupun tak seberapa. Siang hari, ia hanya makan beberapa buah potong sampai sekarang.
Menatap Adel dengan lembut, Henry justru senang melihat Adel bersemangat. Hal itu menular padanya, Henry menuruti keinginan Adel. "Apa yang ingin Kau makan?"
"Aku mau makan Baso yang pedas." Membayangkan saja air liurnya serasa menetes.
"Tapi, Sayang. Lebih baik minta yang lain ya. Nanti perut mu tambah sakit. Kasihan Baby."
Bukankah acara mengidam sudah berlalu? Tuhan, cobaan apalagi ini?
"Dad, Aku mau itu." Adel merengek, layaknya El yang meminta sesuatu padanya.
Henry tak mungkin bisa menolak keinginan istrinya. Merogoh saku celananya, Ia meminta Bejo untuk mencarikan makanan yang Adel minta. "Hmm, tunggu disini sebentar."
"Mana, Dad?"
"Iya, tunggu. Masih macet mungkin."
"Kenapa gak Kau beli sendiri?" Adel mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, Aku gak mungkin tinggalin Kamu sendirian."
"Ssshhh.. Daddd... ini sakit sekali." Adel merasakan sakit yang lebih dari sebelumnya. Henry mengusap punggung istrinya, bergantian mengelus perut yang dia kata seksi.
"Baby, Sayang. Jangan membuat Mami sakit terlalu lama ya. Kasihan Mami." Usapan Henry seolah menjadi obat mujarab, sakit yang Adel rasakan semakin lama semakin berkurang.
Henry memberikan air minum, Baso pedas yang Adel minta sebelumnya hanya dilirik. Rasanya sudah tak lagi berselera. "Sayang, kata dokter Kau harus makan. Mengisi tenaga sebelum berjuang bersama Baby."
__ADS_1
Adel hanya memakan beberapa suap, makanan yang di siapkan rumah sakit. Pesanannya sama sekali tak di sentuhnya.
Sore menjelang, sang mentari telah kembali ke peraduannya. Rasa sakit yang Adel rasakan semakin lama semakin sering dengan durasi bertambah pula. Henry tak lagi bisa memikirkan apapun. Hanya Adel yang ada dalam pikirannya.
Setiap kesakitan yang Adel rasakan, bagai tusukan duri dalam dirinya. Ia ikut merasakan kesakitan istrinya. Ibu Sari datang, namun hanya boleh menjenguk sebentar. Selebihnya, hanya boleh menunggu diluar ruangan. Begitupun Nyonya Amel.
Adel meminta maaf, meminta restu dari kedua orang tua dan mertuanya. Juga suaminya, begitulah yang Ibu Sari ajarkan sebelumnya.
"Dad, maaf jika se..."
Meletakkan telunjuk kanan di bibir pucat Adel. Mengusap peluh diwajahnya, Henry berusaha tersenyum untuk menguatkan Adel. "Ssttt.. Jangan banyak bicara, Aku sudah memaafkan mu sebelum Kau meminta maaf."
"Saat ini, Kau harus kuat. Berjuang bersama Baby, Kau tak lupa tentang impian Kita sebelumnya kan?"
Adel menganggukkan kepalanya. Setiap sakitnya datang, Henry selalu mengusapnya. Berjalan-jalan, jongkok, duduk, berdiri. Semua terasa tak nyaman. Henry membantu Adel sebisanya, ia melakukan yang diajarkan pelatih senam padanya beberapa waktu yang lalu.
"Maaf, Tuan. Saya akan memeriksa kondisi Nyonya Adel." Dokter Siska mengecek keadaan ibu dan bayi.
"Bagaimana Dok?"
Henry menautkan kedua alisnya, berapa lama lagi ia harus menunggu? Rasanya sudah tak sabar untuk mengakhiri rasa sakit yang Adel rasakan. Tetapi begitulah perjuangan seorang wanita. Betapa mulianya seorang wanita. Yang mampu mengalami hingga 57 Del rasa sakit, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.
Setiap kesusahan dan kesakitan yang di alami seorang ibu, akan dibayarkan dengan pahala yang tak terhingga.
Meski sudah pernah dihadapkan pada hal yang sama sebelumnya, Henry masih merasa takut. Menghadapi kenyataan, ia seperti sedang bermimpi.
"Ssshhhh.... Eemmmm..." Adel membekap mulutnya sendiri, setiap kontraksi kembali ia rasakan.
Tak lama setelahnya, ia merasa seperti ada balon pecah dalam perutnya. Setelahnya ia merasakan kontraksi yang semakin kuat. Bahkan seperti tak ada hentinya.
"Do-dokter..." ucap Adel dengan suara bergetar. Ia sudah tak tahan lagi, bahkan bayi dalam perutnya seolah ingin segera melihat dunia saat itu juga. Namun Adel berusaha menahan.
"Dokter, cepat bantu istriku." ucap Henry dengan wajah panik. "Dokter, cepat kemari." teriak Henry lagi.
__ADS_1
Dokter Siska bersama beberapa orang lain segera memeriksa keadaan Adel. "Baik, Nyonya. Sudah pembukaan penuh. Anda di larang mengejan, jika bayi tidak mendorong sendiri. Ingat, hanya jika bayi mendorong. Anda baru boleh mengejan."
Henry hanya bisa duduk lemas, ia menggenggam erat tangan Adel yang terasa dingin. Bahkan wajahnya juga terlihat pucat. "Sayang, Aku percaya Kamu kuat. Kamu wanita yang hebat." Henry mengecupi wajah istrinya.
Saat mulas kembali datang, Adel baru boleh mengejan. "Tarik nafas dalam, jangan tertahan ditenggorokan. Seperti Anda ketika P*P."
"Aaaaaarrggghhh...." Adel mencengkeram tangan Henry sekuat tenaga. Ia melakukan yang diinstruksikan dokter padanya.
"Huhhhh haaaaahhh huuuuhhhh..." Nafas Adel terengah. Ia mengumpulkan tenaganya untuk dorongan berikutnya.
Saat rasa sakitnya datang lagi, Dokter Siska membimbimg Adel kembali. "Aarrrggghhhh... Saakiittt..." Adel menggigit tangan Henry karena tak kuasa menahan sakit. Henry hanya mendesis, ia tak lagi berkomentar. Hanya genangan di sudut matanya yang mulai tak terbendung.
Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perjuangan seorang ibu. Seolah ia juga merasakan sakit yang sama.
"Iya, terus... Semangat Nyonya. Sudah terlihat rambutnya. Ayo lebih semangat lagi." Dokter Siska memberikan semangat sekaligus arahan untuk Adel. Ia sudah bersiap, dengan sarung tangan dan kain steril ditangannya.
"Huuhhh... huuuhhhh.... Aaarrgghhhh...." Adel kembali merasakan sakit luar biasa. Namun dorongan dari Baby, untuk segera keluar dan melihat indahnya dunia. Ia seperti tak melakukan apapun, melainkan sang bayi yang mencari jalannya sendiri.
"Oaaaaaa.... Oooaaaaa...." tangis nyaring seorang bayi terdengar begitu merdu di telinga Adel dan Henry. Tangis haru menyelimuti kedua pasangan ini. Henry menghadiahkan banyak kecupan untuk istrinya. Dia telah berjuang, mempertaruhkan hidup dan matinya untuk sebuah kehidupan baru.
Di luar, Nyonya Amel dan Ibu Sari saling memeluk. Bersyukur atas kelahiran cucu mereka. "Cucu Kita sudah lahir." Keduanya bersamaan.
Dokter anak segera membawa bayi Adel untuk dibersihkan. Dokter Siska kembali memeriksa keadaan Adel. Henbatnya lagi, tak ada luka yang perlu dijahit dari jalan lahir. Ibu dan anak itu segera dibersihkan.
"Selamat Nyonya, anak Anda perempuan. Dia sehat dan cantik seperti Ibunya." Dokter anak memberikan bayi di dada Adel. Kontak pertama dengan bayi merah yang baru saja di lahirkannya. Rasa sakitnya terbayarkan sudah.
Senyum merekah dari wajah pucat Adel. Memeluk istri dan putri yang baru lahir, Henry menumpahkan seluruh genangan di sudut matanya. "Terima kasih, Sayang." Henry mengecup dua wanita hebatnya bergantian.
"Bayi itu berhenti menangis, Dia pasti bisa merasakan kehadiran Mami." Henry meletakkan jari-jari mungil itu ditangannya.
Namun semuanya tiba-tiba gelap. Henry tak mengingat apapun.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH