
Terima kasih berkenan singgah dilapak saya.
Terus dukung Baby El ya, dengan Like komen dan vote sebanyak banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel sibuk memilih pernak pernik yang terbuat dari kerang laut. Bersama El yang terus menempel padanya.
"Mamm tuuu" El menunjuk hiasan yang dibentuk menjadi macam macam hewan.
"El mau itu?" Baby El mengangguk dengan telunjuknya terus mengarah pada benda yang dimaksud.
"Kau mau apa? hmmm" Adel mengambil hiasan berbentuk burung. Namun El menggeleng, tanda ia menginginkan yang lain.
"Ini" Lagi-lagi bayi itu menggelengkan kepalanya.
"Huffffttt... Kau mau yang mana sebenarnya?" Adel sangat sebal, sedari tadi tak ada yang sesuai keinginan El.
"Mungkin dia ingin yang ini." Ucap seseorang, menyodorkan hiasan berbentuk ikan.
"Emmmm" El mengangguk. "Yeahhhh" El bertepuk tangan, mendapati barang yang dia inginkan.
Adel memutar kepalanya, pada seseorang yang memberikan hiasan itu. "Rey" gumam Adel.
"Adel, kau disini?" Tanya Rey dengan wajah berbinar.
"El ayo kita pergi, kita cari ditempat lain saja." Adel berbalik badan, dia sangat malas bertemu orang itu.
"Mammm, Tuuuu" El masih menginginkan hiasan tadi.
"Kita cari yang lebih bagus.. Oke." El menganggukkan kepalanya. Beruntunglah El mengerti, Adel secepatnya meninggalkan toko pernak pernik itu.
"Tunggu Del, aku hanya..." Rey mencekal pergelangan tangan Adel.
"Maaf, aku buru-buru, aku harus pergi." Adel menepis tangan Rey. Dan melanjutkan langkahnya.
"Aku hanya ingin meminta maaf, atas semua yang pernah terjadi." Membuat Adel menghentikan langkahnya. Namun memilih mengiraukan Rey.
"Maafkan keluarga ku dulu, itu semua hanya salah paham, aku bisa jelaskan." Rey berdiri menjulang, menghalangi jalan Adel.
"Sayanggg kau lama sekali. Hmmmm" Suara yang tak asing ditelinga Adel. Dia sangat ingin mun*ah mendengar orang itu memanggilnya sayang.
Kenapa dia harus ada disini?Mimpi apa aku semalam, sampai aku harus mengalami hari yang begitu menjengkelkan. Pasti tambah runyam kalau ada dia disini. Adel terus menggerutu.
__ADS_1
Rey melirik laki-laki itu, begitupun Henry. Dia memandangnya dengan tatapan membunuh.
"Berikan El padaku" Henry mengambil El dari gendongan Adel.
"Anda suaminya?" tanya Rey.
"Dan siapa kau?" Henry balik bertanya.
"Aku hanya temannya, Apa dia distri Anda?"
"Apa kau tak bisa melihat? Dan kau dengar dia memanggilnya apa?" Henry melirik El, dan beralih memasang wajah garang pada Rey.
Jadi dia ingin membantuku? Baiklah, ini hanya sandiwara. Aku ikuti saja sandiwara ini, aku juga malas sekali melihat wajah Rey.
"Sayanggg, biarkan dia, ayo kita pergi." Adel menautkan jemarinnya pada tangan Henry.
Si*l, jadi dia bukan kekasihnya? Hah gagal sudah sandiwaraku ingin mengerjai wanita gila ini.
"Hmmmmptt, cepatlah!" Henry berjalan menjauh meninggalkan tempat itu. Sedangkan pandangan Rey tak lepas dari Adel, hingga punggung wanita itu menghilang dipersimpangan jalan.
"Heiiii sampai kapan kau seperti ini? Disini sudah tak ada kekasihmu itu." Henry dengan sebal, dia sangat jengkel, ingin mengerjai Adel malah dia sendiri yang dirugikan. Hahaha.
"Ma-maaf Tuan, terima kasih sudah membantu saya." Adel menjauhkan tangannya, dia berjalan mundur menjauhi Henry.
"Saya tegaskan sekali lagi, dia bukan siapa-siapaku, dan bukankah Tuan sendiri yang melarang saya, agar tak memiliki hubungan dengan lelaki manapun, selama saya merawat El?" Adel membantah ucapan Henry, dia benar-benar kesal.
"Hmmmm, baguslah kalau kau masih ingat." Henry meninggalkan Adel dengan mulutnya masih komat kamit.
"Tentu saja aku ingat, lagian siapa juga yang sempat, boro-boro mencari kekasih, pergi sebentar saja anakmu itu sudah kelimpungan." Adel mengikuti Henry dengan masih menggerutu.
"Heiii aku dengar apa yang kau katakan!" Ucap Henry terus melangkah.
Henry mencari Adel karena sudah sore, sebentar lagi gelap, ia tak ingin El masuk angin terkena angin sore yang semakin kencang. Tetapi malah mendapati Adel bersama laki-laki lain disana.
"Kalian disini rupanya, kami mencarimu sejak tadi." Wulan dari arah berlawanan.
"Untunglah kalian baik-baik saja." Arga dengan nafas terengah.
"Kalian ini kenapa? Seperti habis dikejar hiu saja."
"Kita ini sedari tadi mencari mu Adel." Suara Wulan meninggi, ia sangat kesal harus mencari Adel yang pergi begitu saja meninggalkan mereka, terlebih Adel membawa El bersamanya.
"Sudahlah! Kita kembali ke villa, sebentar lagi gelap." Henry tak ingin dibantah.
__ADS_1
Mereka semua berjalan beriringan, sampai di villa hari sudah gelap, Nyonya Amel sudah menunggu mereka sambil berkacak pinggang, sedari tadi dia sibuk mondar-mandir.
Nyonya Amel berusaha menghungi ponsel mereka, tetapi tak satupun yang menjawabnya. Membuatnya semakin resah, dia takut terjadi sesuatu pada mereka, karena sudah 4 jam lamanya mereka pergi. Tetapi tak ada kabar sedikitpun.
"Heiii anak bodoh, kenapa kau baru pulang, dan kalian, kenapa tak ada yang menjawab telepon ku." Suara Nyonya Amel memekakan telinga.
"Sudahlah Mel, mereka sudah kembali, dan mereka baik-baik saja." ucap Ama. "Kalian bersihkan diri kalian, setelah itu kita makan malam bersama." Ama mengerti, mereka pasti lelah bermain dipantai. Terlebih tubuh mereka masih banyak pasir yang menempel.
"Baik Ama, kita keatas dulu." Adel mengambil El, dia segera menuju kamar mereka bersama Wulan. Begitupun Henry dan Arga menuju kamar masing-masing.
Adel bergantian menjaga El, Adel sudah membersihkan diri dan berganti baju. Sekarang giliran Wulan. Namun Adel memperhatikan Wulan yang jalan sedikit pincang.
"Lan, kaki mu kenapa? Jalanmu jadi seperti itu." Adel mengerutkan alisnya. Melihat Wulan berjalan menahan sakit.
"Ini semua gara-gara pilar lampu jalan itu." Wulan mengerucutkan bibirnya.
"Pilar?" Adel mengerutkan alisnya.
"Yah, siapa lagi kalau bukan Arga yang menyebalkan itu, karena dia kaki ku terkilir." Suara Wulan menggebu-gebu menceritakan kejadian tadi dipantai.
Saat sedang mencari Adel, sandal yang dipakai Wulan putus, jadilah dia harus berhenti sejenak. Namun Arga terus menariknya untuk segera menemukan Adel dan juga El.
Wulan tersandung kakinya sendiri, kerena sendalnya yang putus, jadilah ia terjatuh. Dan kakinya terkilir.
"Hahahaaa kalian ini emang pasangan serasi." Bukannya kasihan, Adel malah merasa senang. Dengan kejadian tadi, rencana Adel mendekatkan mereka akan lebih mudah.
"Kau ini malah menertawakanku." Wulan mendengus, dia melanjutkan langkahnya kekamar mandi.
"Tetapi aku juga harus berterima kasih padanya, karena dia sudah menolongku." Ucap Wulan pada dirinya sendiri.
Arga membantunya memijit kaki Wulan yang terkilir, dia juga melepas sendal yang dia pakai, untuk dipakai Wulan. Dan membiarkan kakinya telanjang menyusuri pasir pantai. Karena jalan Wulan sangat lambat. Arga tak sabar, dia menggendong Wulan dengan kaki telanjang, ahh soo sweettt.
Sampai mereka menemukan toko yang menjual pernak penik, disana Arga baru membeli sendal japit. Wulan merasa kasihan melihat Arga, dia memaksa untuk jalan sendiri, meskipun kakinya masih terasa nyeri.
"Wulannn, kau lama sekali." Adel menggedor pintu kamar mandi. Membuat Wulan berjingkat, dan melanjutkan ritual mandinya.
"Nahh El, kau sudah tampan sekarang." Ucap Adel pada bayi itu, Adel baru selesai memandikan El dikamar sebelah, dan memakaikan pakaian hangat padanya.
"Mammmmiii... Mammmm" rengek El.
"Ah ya, kau lapar? Ayo kita makan dulu." Adel menyuapi El dengan makanan yang baru saja diantarkan penjaga villa.
TBC
Terima kasih
__ADS_1