
Jangan bosan untuk like komen dan vote, seperti thor yang gak bosan up tiap harinya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Arga pulang sudah larut, dia sangat kesal dengan tingkah Henry yang menguras emosinya hari ini. Belum lagi, dia harus mampir untuk mengambil pesanan Henry.
Henry sengaja melakukannya, supaya Arga pulang ke mansion Syahreza malam ini. "Dia sudah dekat, kita siap-siap sekarang." ucapnya memberitahukan seluruh keluarganya.
Arga sampai di mansion, dia melihat sekeliling, sudah sepi, padahal belum terlalu larut, biasanya Tuan Abimanyu dan Henry masih belum tidur jam segini. Mansion juga remang, hanya cahaya penerangan di setiap sudutnya.
"Kenapa gelap sekali sih? masa iya keluarga Syahreza gak mampu bayar listrik?" Arga menggerutu, namun hanya dirinya yang mendengar.
Dasar bocah, kau mengataiku tak mampu membayar listrik? Bahkan sumber daya listrik pun mampu aku beli, lengkap dengan semua peralatannya.
Arga baru menjejakkan kakinya beberapa langkah, ketika lampu tiba-tiba menyala bersama dengar riuhnya teriakan penghuni mansion.
"Happy Birth Day Arga." ucap semuanya dengan penuh semangat.
Wulan berada ditengah mereka, dengan kue ditangannya dan lilin menyala diatas kue. Wulan menyunggingkan senyumnya, melangkah maju mendekati Arga yang masih mematung ditempatnya.
"Selamat Ulang Tahun Arga." Wulan memberanikan diri menyebut nama Arga secara langsung. Padahal di dalam hatinya sangat takut, namun sebisa mungkin dia kuatkan.
Arga tenganga, terharu dengan kejutan yang diberikan untuknya. Bahkan Arga meneteskan air matanya karena terharu. Tetapi hal itu hanyalah angan-angan semua orang.
Yang terjadi adalah kenyataan, kenyataan tak selamanya sesuai dengan apa yang dipikirkan. Justru sebaliknya, Arga sangat murka dengan semua ini. Dia meninggalkan Wulan dan semua orang begitu saja.
Arga berjalan sedikit tergesa, bahkan sedikit berlari menuju mobilnya. Sekian lama dia tak pernah mau merayakan hari ulang tahunnya. Bahkan untuk sekedar berkumpul dengan keluarga, dia sama sekali tak pernah melakukannya. Dia memilih mengabaikan hari dimana dia dilahirkan itu.
Menyadari hal itu, Henry segera menyusul Arga. Namun langkahnya tak bisa menyusul Arga, dia sudah lebih dulu melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi. "Arrgghhhhhh..." Arga berteriak, memukul setir kemudi dengan kepalan tangannya. Sehingga bunyi klakson panjang menggema.
__ADS_1
"Kenapa kalian tak juga mengerti?" Arga menepikan mobilnya pada sebuah tempat, dimana hanya ada dirinya dan riuhnya dedaunan kering yang tertiup angin.
Arga meluapkan semua kekesalannya, pada batang pohon yang berdiri tegak dihadapannya. Dia meninju berulang kali, tak memperdulikan buku jarinya yang memerah akibat darah segar yang mengalir.
Arga tak berucap sepatah kata pun, namun air matanya tak berhenti mengalir, mewakili perasaanya yang begitu kacau. Lagi pula tempat ini tak ada siapapun yang tahu kecuali dirinya.
Lama Arga berada disana, bahkan rintik hujan mulai membasahi dirinya yang menetes dari celah dedaunan. Arga terduduk, bersandar pada batang pohon yang tak bergerak sedikitpun, meski dia mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Aku kira kau berbeda, tapi kau sama saja dengan mereka." Arga menendang dedaunan kering diujung sepatunya.
"Dasar bodoh."
Arga menghentikan tangisnya, dia segera menghapus jejak air mata diwajah nya. Seperti lagu pertepan alias noah. 'Menghapus jejakmu'
Arga tersentak, mengapa ada orang lain disini, padahal hanya dia sendiri yang tahu tempat ini. "Kenapa? terkejut? tolong kondisikan wajah jelek mu itu Tuan Arga." Henry mengambil sapu tangan dari sakunya.
"Tak perlu bertanya kenapa aku bisa tau kau disini. Ini bukan saat yang tepat." Henry duduk disebelah Arga, memegang payung besar dengan sebelah tangannya.
"Aku tak butuh, aku juga tak perlu dikasihani." Arga menepis uluran tangan Henry.
"Aku juga tak ingin mengasihani mu, apalagi peduli pada mu. Kau bilang sendiri, aku tak ada akhlak." Henry menjeda kalimatnya, dia menoleh kesamping, namun Arga membuang wajahnya kearah lain.
Lama mereka terdiam, Henry dengan setia menanti Arga untuk buka mulut. "Kau sudah tau aku tak suka perayaan, kenapa kau tetap membantunya?" akhirnya itulah kalimat yang terucap dari bibir Arga yang sedikit pucat.
"Bukankah kau sendiri yang bilang padaku, kita harus bisa melupakan kesedihan di masalalu, untuk meraih kebahagiaan di masa yang akan datang? Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Kau bahkan lebih buruk dari pada aku." Henry menarik sebelah bibirnya, melontarkan kalimat yang lansung mengena dihati Arga.
"Aku hanya butuh waktu 2 tahun, tapi kau, berapa umur mu sekarang? masih saja terbelenggu pada gal yang sama."
"Persoalan ini lain, masalah yang kita hadapi berbeda." Arga tersenyum pahit.
"Persoalan kita sama, hanya waktu yang berbeda, kita sama-sama harus bangkit, dan menelan pil kepahitan sebelum meneguk manisnya kebahagiaan. Semua orang pernah merasakan masa pahit itu, tinggal bagaimana kita menghadapinya."
__ADS_1
"Kau ini sok bijak, tapi kau sendiri hampir kehilangan anak mu sendiri karena kebodohan mu." Arga tersenyum mengejek.
"Untuk itulah, kau jangan sampai mengikuti jejak Kakak mu yang bodoh ini. Jadilah bijak dalam menghadapi setiap masalah." Henry menepuk bahu Arga. "Kau pasti bisa menghadapinya, tak sulit jika kau mau mencobanya."
Hujan mulai reda, namun baju Arga terlanjur basah, Henry melepaskan mantel hangat yang dia gunakan, melemparnya tepat diwajah Arga. "Seperti saat ini, jika kau tak mau mati kedinginan, pakailah mantel itu." Henry meninggalkan Arga begitu saja.
"Tolong renungkan." Henry menoleh sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya.
Arga masih terdiam, dia masih berusaha mencerna setiap perkatan Henry. Enggan pergi, namun semakin lama tubuhnya semakin menggigil. Membuatnya harus segera kembali ke mobilnya.
"Tuan, Anda silahkan ganti pakaian." Bejo keluar dari mobil, mempersilahkan Arga berganti pakaian.
Henry tak benar-benar meninggalkan Arga seorang diri, terlebih dia tahu kondisi Arga yang kurang fit. Dia pulang membawa mobilnya, dan meninggalkan Bejo untuk mengikuti Arga.
Arga tak punya pilihan lain, dia tak mungkin meninggalkan Bejo disana. Lagi pula tubuhnya menggigil, kepalanya berdenyut karena hujan yang membasahinya. Terlebih dia hanya makan beberapa suap hari ini.
Maaf Ga, aku harus kejam padamu, aku harap kau bisa lebih dewasa menyikapinya.
Henry tiba dimansion tepat jam 12 malam, hawa dingin menggelitik sebagian tubuhnya. Wulan masih duduk di kursi ruang tamu, ditemani Adel dan Nyonya Amel, Ama tak boleh menemani, demi kesehatannya, mereka membujuk Ama untuk istirahat.
"Dimana Arga?" tanya Nyonya Amel, mereka semua berdiri dari duduknya.
"Entah, kalian istirahatlah! Arga tak akan pulang malam ini." Henry berucap dengan santainya.
"Huhuuuu.. hiks hiks..." Wulan kembali terisak. Adel mengusap punggung Wulan yang bergetar. "Ini semua salah ku, jika aku tak memaksa kalian, pasti semuanya tak akan seperti ini." Wulan memukuli dirinya sendiri.
"Hei, tenanglah Wulan, tak ada yang salah disini, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Nyonya Amel membantu Wulan duduk.
"Dia baik-baik saja, hanya sedang menenangkan diri." ucap Henry duduk di sebelah Tuan Abimanyu, sedari tadi dia hanya diam memperhatikan ketiga wanita yang heboh, padahal dia sudah mengetahui keadaan Arga dari Bejo yang baru saja menghubunginya.
Tetapi mereka tak akan percaya begitu saja, jadi Tuan Abimanyu memilih bungkam, menunggu Henry yang menjelaskannnya.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH