Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-75


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Huuhuuu... Jangannn... Jangan bawa istriku pergi. Aku mohon." Henry terus berteriak, tangannya berusaha menggapai Metta yang membawa Adel. Namun jalan mereka terlalu cepat, Henry tak dapat meraihnya.


"Jangannn... Aku mohoonnn..."


"Hei, bangunlah!" Arga mengguncangkan tubuh Henry dengan keras setelah menepikan mobilnya.


Arga mengguncangnya semakin kencang, ia bahkan menampar pelan wajah Henry, tetapi ia tak juga bangun malah semakin berteriak dengan mata masih terpejam.


"Henryyyy.... Bangunlah!!!!" ucap Arga ditelinga Henry.


Henry tersentak, ia terbangun dan segera melihat sekeliling. Ia menatap Heran Arga yang ada disampingnya. Mereka berada ditepi jalan, dengan lalu lintas yang cukup padat.


"Kita ada dimana?" tanya Henry linglung, ia mengusap wajahnya kasar, bahkan ada bekas air mata disudut matanya.


"Menurutmu?"


"Kita sudah sampai di Jakarta?"


"Hmmm..." Arga memberikan air mineral yang ia beli sebelumnya.


"Minum dulu."


Henry menghabiskan setengah botol air mineral yang Arga berikan padanya. Ia berusaha mengingat semua kejadian yang terasa begitu nyata baginya.


"Ga, apa Mommy menghubungi mu?" tanya Henry, ia melihat gawainya ternyata habis baterai.


"Ya, istrimu juga."


"Hah? istriku? jadi..."


"Apa? Kau tertidur sangat pulas, bahkan baru jalan beberapa meter dari cafe terkahir kita berhenti."


"Huuffttt.. ternyata cuma mimpi." Henry bernafas lega karena kejadian itu tak benar-benar terjadi.


"Berikan ponsel mu."


"Tuhh..." Arga menunjuk laci mobil tempat ponselnya tersimpan. Henry segera menghubungi istrinya lebih dulu.


"Ada apa Ga? Kalian sudah sampai dimana? Sekarang sudah malam." tanya Adel beruntun. Henry tertegun mendengar suara istrinya, ia bersyukur masih bisa mendengar suara istrinya.


"Halo, Ga. Kamu masih dengar Aku kan? Halo..."


"Sayang..." suara Henry sedikit bergetar menahan tangis.


"Oh Kau Dad, Aku menghubungimu sejak tadi, tapi sepertinya ponsel mu kehabisan baterai, jadi Aku..."


"Iya, Sayang. Kita sudah hampir sampai, tunggu Aku ya." Henry mematikan panggilan. Perasannya benar-benar lega, Adel baik-baik saja sekarang.


Ish, dasar Daddy menyebalkan. Mainmatiin aja teleponnya. Kan Aku belum selesai bicara.


Adel menggerutu, ia melemparkan ponselnya diatas ranjang. Adel duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang, ia mengelus perut buncitnya. Mengajak Baby berinteraksi. "Baby, Daddy mu itu menyebalkan. Mom sudah menunggunya sejak tadi pagi. Malah dimatiin teleponnya."


Seperti biasanya, Baby dalam kandungannya merespon ucapan Adel. Adel segera mengelus bagian yang bergerak tadi. "Baby, aduh geli. Jangan kencang-kencang ya. Apa Kau rindu Daddy mu?"


Dugg dugg


"Hmm.. tunggu ya sebentar lagi Daddy pulang. Mami akan pastikan dia akan menyapamu." Adel berbicara sendiri dengan Baby dalam perutnya, ia selalu merepon dengan bergerak. Bahkan terkadang seperti sedang bermain bola yang membuat Adel meringis kegelian.


Ia menuruti kata dokter, dibawa rileks, nikmati semuanya. Jangan terlalu dipikirkan, serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Pasti akan ada jalan keluarnya jika kita berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh.


Kehadiran Mommy Amel dan Wulan juga membantu Adel. Mereka bisa menghibur Adel dengan tingkah lucu El dan Baby Arlan yang semakin aktif. Membuat Adel tak terlalu stress memikirkan masalah kehamilannya.


Henry dan Arga tiba dirumah saat matahari sudah sampai diperaduannya. Mereka berdua disambut hangat oleh Mommy dan istri dan anak masing-masing.

__ADS_1


"Daddyyy... Papa... Lama banget pulangnya ihh..." El mengerucutkan bibirnya.


"Hai sayang, Maaf ya. Kan Daddy kerja. Dimana Mami?" Henry celingukan mencari istrinya, ia sudah sangat rindu ingin segera menemui istrinya.


"Lagi bobo." ucap Adel emnunjuk kamar Maminya.


"Anak Papa belum tidur?" Arga hanya mencubit gemas pipi Arlan, yang segera ditepis Wulan.


"Cuci tangan ganti baju. Mandi sekalian sana, kalian dari luar banyak kuman dan virus." omel Wulan, ia mengelap wajah Arlan dengan tisu.


"Iya iya bu dokter." Namun Arga tak bergegas pergi, ia malah mencium Arlan hingga menangis.


"Hihhh.. Kamu ini ya." Wulan mencubit lengan Arga hingga mengaduh.


"Hahahaha... Rasain tuh." ucap Henry mencibir. Diikuti gelak tawa El.


"Kalian berdua mau juga?" ancam Wulan.


"Kaburrr..." ucap El berlarian, sehingga Baby Arlan berhenti menangis dan tertawa melihat El berlari.


"Ahaaaakkk ahaaakkk..."


"Mama, Baby Alan tuh. senyum liat El ya." El semakin menggoda Baby Arlan.


Sedangkan kedua pria dewasa itu menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. "Kalian berdua ini, sudah seperti anak kecil aja." Nyonya Amel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua putranya.


Henry membuak pintu dengan perlahan, ia mengintip sedikit sebelum masuk. Ternyata Adel sedang mengobol bersama Baby yang ada dalam dirinya. Henry berkaca-kaca dan memeluk Adel Adel dengan erat. Mimpinya membuatnya tersadar akan kesalahannya.


"Sayang, syukurlah kalian baik-baik saja." Henry terisak dihadapan Adel.


Adel menautkan kedua alisnya, tak ada angin tak ada hujan. Kenapa suaminya jadi melow begini? pasti ada sesuatu yang terjadi pada suaminya ini. Adel menatap heran Henry yang sednag menghapus buliran bening disudut matanya.


"Dad, Kau ini kenapa?" Adel menyentuh wajah suaminya yang sembab.


"Aku kangen kalian." ucap Henry singkat, ia mengecup wajah Adel dan perutnya bergantian. Setelahnya ia kembali melanjutkan niatnya untuk membersihkan diri.


Adel berjalan perlahan menuju lemari pakaian ia menyiapkan pakaian ganti untuk siaminya. Meski Heney melarangnya melakukan pekerjaan, tetapi hanya hal kecil seperti ini Adel masih bisa melakukannya.


"Terima kasih, sayang." Henry memeluk Adel dari belakang. Tangannya bermain di atas perut buncit Adel, ia bukan sedang bermimpi sekarang. Ini nyata, bahkan terasa sangat nyata saat Adel mengcupnya. Henry bisa merasakan pergerakan Baby dari dalam sana.


"Haii Baby, Kau rindu usapan Daddy?" Henry berjongkok didepan Adel dan menempelkan telinganya pada permukaan kulit Adel. Henry tak kuasa menahan air matanya, ia sangat sedih jika mengingat tentang mimpinya tadi siang.


Adel merasakan sesuatu menetes padanya, ia mengusap wajah Henry. Belum pernah ia melihat suaminya menangis tanpa sebab. "Ada apa Dad? Apa Aku ada salah samamu?"


Henry mensejajarkan tubuhnya dengan Adel, ia segera menepis buliran bening diwajahnya. "Aku sangat bahagia, bisa berinterasi dengan Baby dan Mami lagi." Henry segera melahap chery kesukaannya untuk meluapkan rindu.


...----------------...


Adel terbangun tengah malam, sudah menjadi hal yang rutin baginya. Terlebih saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke- 8. Namun setelah kembali ia meraba tenggorokkannya yang terasa kering. Persediaan air dikamarnya sudah habis, mau tak mau Adel harus mengambilnya ke dapur.


Merasa ada pergerakan di ranjang, Henry turut terbangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dilihatnya Adel ingin pergi dari kamar. "Sayang, kau mau kemana?" Henry menyusul istrinya.


"Aku haus, mau ambil minum di dapur." Adel menunjukkan tempat minum yang kosong ditangannya.


"Baiklah, Nyonya tunggu disini. Biar Aku yang bawakan untuk mu." Henry membantu Adel kembali ke ranjang.


"Dad, kalau ada makanan Aku mau. Buah juga boleh, Aku sangat lapar." tambah Adel.


"Siap Nyonya." Ia segera menuju dapur, mengambilkan air minum dan makanan untuk istrinya.


Nyonya Amel juga kebetulan merasa haus dan hendak mengambil air minum. Namun ia terkejut melihat Henry menuang minum sambil melamun, sehingga air itu tumpah ruah membasahi lantai.


"Dasar anak bodoh, Kau mau membuat tumah ini banjir? Hah, Kau ini sedang memikirkan apa?" Nyonya Amel memelintir telinga Henry.


"Aduh Mom, apa Mom gak lihat Aku sedang mengambil minum." Henry memegangi telinganya yang memerah.


"Apa yang kau isi hah? Lihat itu, lihatlah sendiri!" Nyonya Amel memalingkan wajah Henry kearah air minum.

__ADS_1


"Ya ampun, Mom. Kenapa Kau tak mengingatkan Aku." Henry segera menyudahi kegiatannya mengisi air minum.


"Kamu bilang Mom gak ingetin Kamu? Henry, apa sih yang sedang Kamu pikirkan?" omel Nyonya Amel, ia menarik kursi yang ada di meja makan. Dan mendudukkan diri disana sambil membawa segelas air putih.


Henry mengikuti Mommy Amel, ia mendesah frustasi setiap mimpinya tadi siang. "Huuufffttt... Mom, Aku takut."


"Takut apa? Memangnya ada yang membuatmu takut?" ucap Nyonya Amel dengan santainya, ia mulai mengunyah buah pear yang Heney siapkan untuk istrinya.


"Aku tadi siang bermimpi, Metta membawa peegi Adel."


"Uhukk uhukkkk... Metta?" Nyonya Amel melototkan matanya, kemudian mengunyah kembali setelah minum.


"Itukan hanya mimpi."


"Tapi katanya mimpi disiang bolong bisa jadi kenyataan Mom."


"Kata siapa?"


"Kata orang bilang. Hah, mimpi itu terasa begitu nyata Mom. Aku takut Adel juga meninggalkan ku." Henry menundukkan kepalanya.


"Hei anak bodoh, ku kira julukan itu sudah tak akan Mom ucapkan lagi padamu. Tapi kau akan menjadi bodoh benaran kalau Kau mempercayai mimpi." Nyonya Amel menatap tajam putranya.


"Dengarkan Mom, apa Kamu sudah berkunjung ke makam Metta?" Henry menggekengkan kepalanya.


"Kamu sering mendoakannya?" Henry kembali menggeleng.


"Kau hanya mengunjungi makam Metta setahun sekali, dia juga mau di doakan. Cobalah Kau bawa El kesana. Dia hanya minta Kalian mendoakan dan mengunjunginya. Dan mintalah restu darinya, semoga dengan begitu dia akan.membiarkan Adel tetap berada disisi mu." Nyonya Amel menepuk bahu putranya. Ia meninggalkan Henry seorang diri, Henry berusaha merenungkan kata-kata Mommy.


"Dan satu lagi, berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar membiarkan Adel merawat anak-anaknya kelak." Nyonya Amel kembali berbalik menuju ke kamarnya.


"Mungkin benar yang Mom katakan, tapi belum lama ini Aku juga mengunjungi makamnya bersama Adel. Apa benar ia ingin Aku membawa El kesana?" gumam Henry pada dirinya sendiri.


"Besok Aku akan mengantar El sekalian membawanya ke pusara Mommy nya." Henry meraih tempat minum yang telah terisi penuh, namun ia segera merubah raut wajahnya. Ia snagat kesal karena potongan buah itu hanya tersisa dua potong.


"Moommyyyyyy.... Kau sengaja." Nyonya Amel yang baru saja meraih gagang pintu hanya bisa terkekeh, berhasil mengerjai putranya.


"Hahaha... rasain tuh. Emang enak Mom kerjain." Nyonya Amel segera menutup pintu kamarnya disebelah kamar Adel, ia sengaja tidur di kamar tamu agar lebih dekat dengan Adel jika membutuhkan sesuatu.


Henry kembali mengupas buah pear dan apel, dan membawanya ke kamar. Disana Adel sudah terlelap, Henry tak tega untuk membangunkannya. Adel baru saja terlelap, mungkin sebentar lagi ia akan kembali terbangun menunaikan hajatnya. Semalam ia bisa 3-4 kali bolak balik ke kamar mandi, bahkan bisa lebih.


"Maaf, Sayang. Daddy lama ya, Kamu belum tidur?" Henry meraba perut Adel, ternyata si Baby masih aktif. Sehingga membuat Adel kembali terbangun.


"Dad, Kau lama sekali, Aku kehausan." ucap Adel dengan suara serak. Namun rasa lapar tak bisa mejadikannya tidur dengan lelap. Adel segera memakan potongan buah yang Henry bawakan, bahkan Henry sendiri yang menyuapinya.


"Enak?" tanya Henry.


"Emmm, apalagi Kau yang suapi. Rasanya tambah nikmat." ucap Adel menggoda.


"Sayang, jangan menggodaku. Nanti 'dia' bangun." tunjuknya ke bagian itunya.


"Daddy, jangan mesum. Kau harus puasa, ingat kata dokter."


"Hei, hei... Kau jangan lupa sayang, justru baik jika Aku menengok Baby. Itu akan membuatnya lebih cepat bertemu dengan kita." Henry menyeringai, menaik turunkan alisnya.


"Kasihan Baby, nanti dia gak nyaman di dalam." Adel menepis suapan Henry yang berikutnya.


"Aku kenyang, mau tidur."


"Sabar ya junior, Kamu masih harus puasa." Henry berucap pada dirinya sendiri. Sejak sebulan yang lalu, Adel dinyatakan preeklamsia. Henry harus menahan hasratnya demi kebaikan keduanya.


*preeklamsia umunya terjadi pada usia kehamilan 20 minggu keatas. Ada yang pada awal kehamilan dinyatakan sehat, tetapi kemudian dinyatakan positif. Namun ada juga yang memasuki trimester ketiga baru terdeteksi. Preeklamsia digolongkan menjadi preeklamsia ringan dan berat. Semakin dini terdeteksi akan semakin baik untuk melakukan tindakan pencegahan.


Dan dalam kasus Adel, masih tergolong tak terlalu berat, setelah dirawat dan bedrest dirumah selama tiga hari dan observasi terhadap keadaan janin. Kondisi Adel semakin membaik, namun ia masih harus menjaga asupan yang di konsumsi dan juga minum obat penurun tekanan darah.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2