Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
El hilang?


__ADS_3

Terima kasih yang masih setia menantikan Baby El, dan juga untuk semua dukungan yang diberikan.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote ya ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Happy Reading


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Arga sudah menyelidiki Adel, jauh jauh hari sebelum Adel masuk rumah ini. Hal mengejutkan baginya. Bahwa Adel adalah atlet silat,dan sering mengikuti kejuaraan sebelumnya.


"Tetapi dia kan sudah lama tidak pernah melatih diri," ucap Tuan Abimanyu.


"Mungkin Rena bisa membantu Tuan," ucap Arga.


"Rena?" tanya Ama.


"Ya Nyonya," ucap Arga


"Dia juga bisa ilmu beladiri, ketika menyelesaikan study nya, dia juga mengembangkan bakat beladirinya," lanjut Arga.


"Baiklah, tetap awasi mereka, jangan sampai kejadian hari ini terulang," ucap Tuan Abimanyu.


"Bagaimana Son?" tanyanya pada Henry.


"Yah aku setuju, tetapi mereka harus tetap membawa pengawal jika keluar," ucap Henry.


Dengan enggan, Ama dan Nyonya Amel menyetujui apa yang menjadi keputusan bersama. Mereka harus membawa Susi dan Sasa, jika terpaksa harus keluar. Semua demi keselamatan mereka sendiri.


...----------------...


Disuatu tempat, yang penuh dengan aroma alkohol yang menusuk indra penciuman. Gaby sangat marah, rencananya gagal. Bukan hanya itu, bahkan sekarang hidupnya sendiri terancam.


"Arrrgghhh dasar *****, gak berguna. Buat apa kubayar kalian, hah?" bentak Gaby, pada anak buahnya yang babak belur.


Orang itu hanya menunduk takut, dia salah, karena orang mereka usik adalah keluarga Syahreza. Lebih baik menyerah sebelum perang, dari pada lenyap sampai ke akar. Bahkan keluarga mereka taruhannya.


"Maaf Nona, uang Anda saya kembalikan," ucap orang itu memberikan selembar cek.


"Dasar tak berguna, kenapa tak m*** saja kau ini hah?" Gaby semakin marah.


"Akan lebih baik kau tiada, daripada hidup tak ada guna."Gaby meluapkan semua amarahnya, pada anak buah bodohnya. Ia sangat kesal, sangat sangat kesal. Anak buahnya hanya bisa tertunduk.


"Hah lebih baik kalian pergi," ucap Edo, dia baru saja datang.


"Heh, apa hakmu mencampuri urusanku?" bentak Gaby.


"Tentu saja ada Nona, tapi kita bisa menjadi partner," ucap Edo mengulurkan tangannya.


"Partner?" Gaby mengernyit.

__ADS_1


"Yah, tentu saja, tujuan kita sama. Keluarga Syahreza," ucap Edo.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Gaby.


"Tentu saja, bahkan kami adalah sahabat. Tapi, lain dulu lain sekarang," ucap Edo menyeringai.


"Jadi apa yang kau inginkan?" tanya Gaby.


"Kau ingin Henry?" tanya Edo.


"No, aku hanya ingin kekayaannya, Hahaha..." ucap Gaby bangga.


"Kalau begitu kita bekerja sama," Edo mengulurkan tangannya.


"Deal." Gaby membalas uluran tangan Edo.


Kamu akan merasakan bagaimana sakitnya di khianati, seperti yang kurasakan dulu. Rasa sakit yang tak akan pernah kamu lupakan. Ketika melihatmu hancur, itupun rasanya belum cukup. Edo


Lihatlah apa yang bisa kulakukan, untuk membalas semua penghinaanmu padaku. Aku akan mengambil semua milikmu, hingga tak ada yang tersisa satupun. Dan aku ingin kau mengiba padaku. Hahahaha.. Gaby


"Jadi apa rencanamu?" tanya Gaby.


"Kau tenanglah Nona, kita akan bermain cantik," ucap Edo.


"Tapi aku sungguh tak sabar, ingin melihatnya hancur," Gaby mengepalkan tangannya.


"Yah, terserah kau sajalah." Gaby menenggak minuman berwarna merah dalam gelasnya.


(Jangan bilang isinya m*** coco pandan ya thor. said audience.


Dikira ini mau bulan puasa, iklan sirup dimana mana? said otor)


Mereka berdua tertawa bersama. Sungguh suatu kebetulan yang menguntungkan.


...----------------...


Mentari pagi malu malu mengintip setiap insan, untuk memulai kegiatan mereka dihari ini. Suasa masih sejuk, kicauan burung, dan suara syahdu gesekan dedaunan karena angin pagi. Menambah suasana semakin sejuk.


Pagi ini seperti biasa, Adel hendak mengaja El ketaman belakang. Menunggu Rena yang tengah bersiap dikamarnya.


"Kau tunggulah sebentar sayang." Adel berlari ke kamar mandi.


Ada panggilan alam yang tak bisa ia tunda lagi. Namun, Adel lupa bahwa pintu kamar El tidak tertutup rapat. Bayi tampan yang begitu aktif ini merangkak. Mainan bola menggelinding kesana kemari. Bayi itu sibuk mengejar kesana kemari.


"El, ayo kita...." Adel panik, menyadari El tak lagi berada ditempatnya.


Dia sibuk mencari El disekitar ruangan, tetapi tak juga mendapati bayi tampan itu. Rena yang baru saja masuk ke kamar mereka dibuat heran.


"Ada apa Del? Lalu dimana El?" tanya Rena. Wajah Adel memucat, ia tak dapat menemukan El dimana pun.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Apa kau sakit?" Adel hanya menggelengkan kepala.


"El hilang," mata Adel berkaca kaca. Ia jatuh terduduk.


"Kau ini jangan bercanda, cepat jawab aku," Rena menggoyangkan bahu Adel.


"Aku benar benar tidak tahu Ren, tadi aku ke kamar mandi, dan setelah aku kembali El hilang," tangis Adel meledak.


"Ini gak lucu Del," ucap Rena ikut panik.


"Siapa yang bilang ini lelucon Rena? Aku serius, sangat sangat serius," ucap Adel sambil menyeka air matanya. Mendengar suara keributan di kamar El, Ama yang ingin mengajak El ketaman pun heran.


Ada apa dengan mereka ini? Pagi pagi udah melow.


"Adel, kau kenapa menangis?" tanya Ama.


Rena dan Adel menoleh bersamaan, wajah keduanya semakin memucat. Seperti tak ada aliran darah. Jantung mereka lebih dari sekedar maraton.


"Itu Nyonya, eh maksudku Ama..." Rena melirik Adel, meminta persetujuan.


"Ada apa? Cepat katakan, jangan membuatku takut," ucap Ama.


"Tu-an Mu-da Ke-cil El, itu... anu...." Rena terbata, ia sangat takut untuk mengatakan kebenarannya. Sementara Adel terus saja menangis, ia merutuki dirinya atas keteledorannnya.


"Ma-afkan A-del Ama, El meng- hi-lang," ucapnya sesegukan. Ia semakin terisak, Rena memeluknya dari samping.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Ama meninggi. Adel menceritakan semuanya, dia pasti tidak akan dimaaf kan atas kesalahan ini, pikirnya.


"Ya sudah ayo kita cari disemua sudut mansion. Sebentar aku panggil Amel dan yang lainnya." Ama pergi dengan tergopoh. Memerintahkan semua orang untuk mencari El, disemua tempat yang mungkin El datangi.


"Adel, kau ceroboh sekali? Kenapa kau tak menutup pintunya?" tegur Nyonya Amel.


"Maaf Nyonya, ini salah saya," ucap Adel menunduk.


"Sudah lah Mom, sebaiknya kita segera mencari El," ucap Tuan Abimanyu.


"Iya ayo kita berpencar," ucap Ama.


Jadilah pagi ini penuh dengan kehebohan, semua orang sibuk, bukan melakukan pekerjaan masing masing. Tetapi sibuk kesana kemari, mencari 'Tuan Muda Kecil' mereka.


Suasana sangat riuh, saling menyahut, mungkin saja sudah ada yang menemukan bayi tampan itu. Mereka terus mencari, hingga kesudut kamar, bahkan dikolong tempat tidur. Bahkan setiap kamar digeledah paksa. Seperti sidak penangkapan penjahat.


Hahahaaa.. Author ketawa jahat.


Ada yang tahu dimana baby El? Yang tahu tolong hubungi kediaman Syahreza. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2