Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-29


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Honey moon, atau liburan keliling eropa telah berakhir. Besok Adel dan Henry harus kembali le Jakarta. Bagaimanapun juga mereka memiliki tugas dan tanggung jawab pada pekerjaan masing-masing.


Tuan Abimanyu dan Arga telah bekerja keras selama Henry tidak ada. Mereka berusaha menyelesaikan semua masalah, bahkan Arga telah menemukan titik terang pada cabang perusahaan yang bermasalah beberapa waktu lalu. Hanya tinggal menunggu persetujuan Hemry untuk bergerak.


Arga tak memberitahukan hal itu pada Tuan Abimanyu, sesuai keinginan Henry. Dia ingin menyelesaikan masalah ini tanpa membebani Daddy yang telah bekerja keras selama ini.


"Ada apa? hmm... kau sepertinya bahagia banget." Henry merangkul bahu Adel yang tengah berkemas.


"Besok kita pulang, aku sudah rindu El." Adel menangkupkan kedua tangannya dipipi.


"Pulangnya ditunda." ucap Henry dengan wajah datar.


"Hah? kenapa bisa begitu?" wajah Adel seketika muram.


"Kau ini yang dipikirkan hanya El dan El terus."


"Terus aku harus mikirin siapa lagi? cowok lain gak mungkin kan?"


"Awas saja kalau berani." Henry dengan nada mengancam.


"Aku hanya bercanda. Lagi pula orang yang selalu ku pikirkan sekarang ada dihadapan ku, untuk apa mencari lagi." tangan Adel bergelayut manja dilengan sang suami, menyandarkan kepalanya pada lengan kekar yang ada disampingnya.


"Tapi kau terus saja memikirkan El."


"Ayolah Dad, gak lucu kalau cemburu sama anak sendiri, lagi pula dia masih kecil. Aku ini Maminya, wajar kalau aku memikirkan dia." Adel melepas tangannya, kembali berkutat dengan barang-barang yang akan dibawanya. Satu koper penuh dengan barang belanjaan yang dia beli untuk keluarganya.


Henry membiarkan Adel belanja sepuasnya siang tadi, bahkan Bejo sampai kerepotan membawa belanjaan Adel. Alhasil beberapa orang yang membantu Bejo membawa ke kamar yang ditempati Henry.


Mulai dari pakaian, tas dan sepatu serta pernak pernik lainnya. Tak lupa mainan untuk El, meski begitu Adel tak membeli satupun untuk dirinya. Saat ditanya, Adel sudah memiliki segalanya.


Henry membantu Adel membereskan barang-barang mereka. Mereka harus tidur lebih awal. Karena perjalanan panjang esok hari. Terlebih harus berangkat pagi-pagi. Tapi bukan Henry namanya jika membiarkan istrinya tidur dengan nyenyak.


Adel baru tidur beberapa jam saat mereka harus meninggalkan negara dengan julukan Negeri Kincir Angin tersebut. Tujuan terakhir mereka adalah Amsterdam, Belanda.


Banyak tempat wisata menarik yang telah Adel kunjungi. Salah satunya adalah The Royal Palace, dan Dam Squqre dan The Van Gogh Museum.

__ADS_1


Namun yang berkesan dihati Adel adalah Hortus Botanicus, yang merupakan salah satu kebun raya tertua di dunia. Tempat wisata di Amsterdam ini memiliki lebih dari 6.000 tanaman berbeda. Beberapa tanaman unik seperti kaktus agave berusia 200 tahun dan cycad raksasa Kape Timur yang berusia 300 tahun. Rumah kaca baru yang besar menciptakan kondisi untuk tiga iklim tropis yang berbeda.


Adel sibuk memperhatikan potret dirinya yang ada di ponsel Henry. Dia senyum-senyum sendiri melihat dirinya dengan berbagai pose. "Dad, kenapa disini gak ada foto kita berdua?" ucap Adel tanpa memalingkan wajahnya dari layar gadget ditangannya.


"Kau mau foto berdua?" Adel menganggukkan kepalanya. "Baiklah ayo." Henry merapatkan tubihnya dengan meraih tubuh Adel. Tak lupa Henry melepas kaca mata hitamnya. Mereka sudah berada dibandara saat ini.


"Jo, tolong foto kami." ucap Adel memberikan gawai ditangannya.


"1, 2, 3, semyum.."


cekrek cekrek


Bejo mengambil beberapa pose, namun Adel memilih satu untuk dia gunakan menjadi wallpaper dilayar Henry. "Nah sudah." Adel mengembalikan benda pipih milik Henry, tak lupa Adel mengirimkan ke ponselnya.



"Bagaimana? Apa aku terlihat tampan begini?" goda Henry, dia membuntuti sang istri menuju pesawat yang terparkir di bandara.


"Sedikit." ucap Adel sekenanya."Tapi lebih banyak El." Adwl sengaja membuat Henry kesal.


"Hmm.. asal kamu suka."


Adel terlelap dengan nyenyak, membalas dendam atas waktu tidurnya semalam yang terus diganggu Henry. Begitupun Henry, dia juga merasa lelah setelah jendralnya bertempur habis-habisan. Perjalanan memakan waktu 14 jam, dari Amsterdam Schiphol ke Jakarta.


Hampir smaa dengan waktu berangkat, dan lebih singkat dengan jet pribadi yang memiliki jalur tersendiri. Ibarat jalan tol non macet.


Tiba dijakarta saat hari sudah gelap, namun rasa letih semua terbayarkan dengan kebahagiaan pada pasangan yang baru menikah sebulan yang lalu. Senyum tak memudar menghiasi wajah keduanya. Berjalan saling mengaitkan jemari, menunjukkan bahwa mereka milik satu sama lain.


"Aku yang mengemudi." Henry mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil pada Arga.


"Tumben baik." Arga menyerahkan kunci mobil dengan melemparnya. Henry menangkapnya dengan tangkas.


"Lagi pengin, kasian adik ku yang malang." Henry terkekeh, melihat wajah Arga yang lesu.


"Dad, gak boleh gitu." Adel mengusap lengan sang suami.


"Hmmm..." Arga berpaling meninggalkan pasanga yang dimabuk asmara.


"Biarin." Henry berbalik saat menyadari Arga semakin menjauh darinya. "Hei siapa yang suruh kamu pergi?"

__ADS_1


"Kau yang meminta kunci mobil, berarti aku ikut Bejo."


"Cepat balik, aku gak suruh kamu pergi."Heney setengah berteriak karena Arga yang semakin menjauh.


Arga mengangkat sebelah tangannya. "Aku gak mau jadi nyamuk." Kesempatan bagi Arga untuk beristirahat dengan tenang.


"Dad, ini bukan jalan ke mansion." ucap Adel saat menyadari jalanan yang lain. Meskipun gelap, setiap hari Adel melewatinya, membuatnya hafal sekelilingnya.


"Hmm..." Henry masih fokus dengan setir kemudi. Mobil berbelok disebuah bangunan megah tak kalah dengan mansion utama bercat cream. Dengan pagar menjulang yang membatasi.


"Ini rumah siapa Dad?" Adel terus bertanya, namun Henry memilih bungkam." Iih sebel, main rahasia-rahasiaan gak asyik." Adel mengerucutkan bibirnya.


"Sudah sampai, silahkan Nyonya." Henry membukakan pintu untuk istri tercinta.


Mata Adel ditutupi dengan tangan Henry, membuatnya tak bisa melihat apapun. "Dad, aku gak bisa lihat jalan." Adel meronta ingin dilepaskan.


"Diam dan ikuti aku." Henry menuntun jalan Adel, setelah menutup mata Adel dengan kain panjang yang dia temukan di laci dashboard.


"Apa sih, sebenarnya kita mau kemana?"


"Bawel, nanti juga tahu." Henry terus membawa El semakin masuk kedalam rumah bak istana itu.


"Mammiii.., Dadddyyy..." teriak Si Bocah Gembul dari kejauhan. El merengek, memaksa ikut, bahkan dia mengingat bahwa sekarang waktu Daddy dan Mami pulang.


Wulan sudah berusaha membujuknya, tetapi El tak juga tidur. Dia terus merengek menanyakan Mami dan Daddy. Suara El mengagetkan Adel.


"El, dimana kamu?" Adel mengulurkan tangannya, untuk meraba sesuatu didepannya. Tetapi hanya udara dan ruang kosong. Adel tak menemukan apapun.


"Surprizeee...." ucap semua orang disana. Henry melepas penutup mata Adel perlahan, namun belum mengizinkan Adel membuka mata.


"Jangan mengintip." Henry menghalangi Adel.


"Tadaaaa... sekarang boleh buka mata."


TBC


jangan lupa terus dukung author ya.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2