Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Extra part 6


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry menutup pintu kamar dengan perlahan. Ia berjalam mengendap-endap seperti seorang pencuri. El dan Al sudah tertidur di atas ranjang. Begitupun Adel, ia memilih memejamkan matanya menemani kedua anaknya terlelap.


Henry menyingkirkan anak rambut Adel yang menutupi wajahnya. Wanita itu masih tampak cantik dan teduh dipandang mata. Meski tak ada polesan make up yang menghiasi wajahnya. Henry enggan mengalihkan perhatiannya dari sang istri. Betah berlama-lama menatap wajah Adel.


Adel merasa terusik dengan pergerakan tangan Henry di wajahnya. Terlebih hembusan nafasnya yang menyapu hangat di permukaan kulit. "Emm.. Dad. Kau sudah kembali?" Adel mengerjapkan matanya beberapa kali. Jarak mereka sangat dekat, Adel sudah mengenali aroma tubuh Henry yang begitu menggoda di indera penciumannya.


"Hmm... Seperti yang kau lihat, Sayang." Henry mencondongkan tubuhnya. Semakin mengikis jarak diantara mereka. Henry sudah tak sabar melahap bibir chery yang begitu menggodanya.


"Dad, nanti Al bangun." Adel dengan napas tersengal. Keduanya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Untuk mengisi pasokan oksigen diparu-paru setelah ciuman yang semakin menuntut.


"Sssttt.. Jangan banyak bicara, atau mereka akan benar-benar terbangun." Henry mengangkat istrinya menuju sofa. Tak ingin membangunkan kedua pengganggu yang terlelap. "Mereka sudah tertidur, tetapi Kau membangunkan yang lain." bisiknya ditelinga Adel. Membuat tubuhnya terasa meremang.


Di sela kegiatan mereka yang semakin memanas, Al terbangun, mencari Mami Adel di sampingnya. Namun tak mendapati apa yang dicarinya, Al menangis histeris. Membuat El juga terbangun. Henry mendengus kesal, selalu ada gangguan di saat ingin memanfaatkan waktunya berdua dengan Adel.


"Kalian ini, selalu merusak suasana." gerutu Henry.


Adel segera merapikan pakaiannya. Sebagian kancing dress yang terbuka karena ulah suaminya. Adel terkekeh melihat kekesalan Henry. Ia segera menenangkan Adel agar kembali tertidur. Namun bayi itu seolah mengerti, ia sama sekali tak mau melepaskan Mami Adel dari sisinya.

__ADS_1


"Sayang, bobok lagi ya. Kakak El juga, bobok lagi." Adel mengusap punggung Al dengan lembut. El yang memang masih mengantuk kembali merebahkan tubuhnya disamping Al dengan guling sebagai pembatasnya.


Henry menghentakkan kakinya menuju kamar mandi, terpaksa ia harus meredam suasana hatinya yang bergemuruh menahan gairah yang sudah mencapai ubun-ubun. Berendam air dingin adalah keputusan yang paling tepat.


...----------------...


Satu minggu keluarga Syahreza menetap di London. Ama terlihat semakin bugar. Bahkan sudah mulai bisa berjalan perlahan, meski harus dibantu tongkat untuk menopang sebagian tubuhnya. Tetapi hal itu membuat seluruh keluarganya merasa senang. Bahagia atas kesehatan Ama yang semakin membaik. Dan juga semangat Ama untuk sembuh, tidak lain adalah berkat doa dan dukungan dari anak serta serta cucu dan cicitnya.


Keisengan El yang tak pernah hilang saat bermain bersama kedua adiknya. Serta keharmonisan keluarga kecil mereka menjadi pemandangan indah yang selalu menyegarkan mata Ama setiap memandangnya.


"Mama... Mau ain... Tata El atal... Huaaaa..." Arla menangis saat mainan yang sedang dimainkannya di ambil El. Arlan yang sudah hampir berusia 2 tahun itu sudah mulai banyak kosa kata. Walaupun masih belum fasih dalam pelafalan setiap katanya.


"El, jangan iseng. Balikin mainan Arlan." Tegur Adel, ia sangat pusing jika mereka bertiga berkumpul. Pasti akan ada banyak drama jika El sudah mulai bertingkah.


"Bagaimana mau ambil kalau di taruh di meja." El sengaja menaruh mainan Arlan di atas meja yang tak bisa digapai Arlan.


"Begini bisa ya kan?" Arga mengambil mainan itu dan memberikannya pada Arlan. Perubahan cuaca membuat Arlan terserang demam dua hari pertama di London. Kini kondisinya sudah membaik, sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tetapi ia menjadi lebih sensitif dan rewel dari biasanya. Wulan dan Arga sampai kuwalahan menangani Arlan jika sudah begitu.


"Papa, jangan dibantuin."


"El, Mami nggak suka El begitu. Kasihan Mama Wulan, Arlan baru sembuh." El mengerucutkan bibirnya dan berlalu mendekati Tuan Abimanyu dan Tuan Edric di teras rumah. El lebih senang bermain dengan cucu Tuan Edric yang hanya berbeda 2 tahun darinya.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Kakak El suka jahil." Adel mengusap jejak air mata di wajah Arlan. Wulan yang sudah hafal dengan sikap El hanya menggelengkan kepalanya. Tetapi meski suka jahil, El selalu menyanyangi kedua adiknya dengan caranya sendiri.


"Mami..." Arlan mengulurkan tangannya meminta gendong pada Adel. Kebetulan Al sedang bermain dengan Oma dan Ama di kamar.


"Kau ini, ada aja alasan minta gendong Mami." Adel terkekeh sembari membawa Arlan menyusul Al dan Oma.


"Baguslah, jadi Mama dan Papa Arlan bisa memanfaatkan waktu." Arga menyeringai penuh kemenangan. Ia duduk berhimpitan dengan Wulan di sofa single. Padahal masih banyak tempat lain yang kosong.


"Waktu apa?" ujar Wulan dengan ketus. Ia tahu tujuan Arga kemana selanjutnya. Apalagi di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.


"Yang, jangan jutek gitu dong! Ya tentu saja waktu kita berdua. Quality time, Mama dan Papa Arlan."


"Jangan harap." Wulan meninggalkan Arga menyusul Adel yang sudah menghilang dibalik lorong. Ia malas meladeni Arga. Hormon wanita. Saat sedang datang tamu bulanan akan lebih sensitif.


"Ahahaha... Kacian Papa Arlan." Henry baru datang bersama menantu Tuan Edric. Mereka berdua terkikik bersama melihat raut masam Arga.


"Kalian berdua, awas aja ya. Kalau dapat karma nanti."


"Huhhh takutttt..." Henry malah semakin tak dapat menahan tawanya hingga perutnya terasa keram karena terlalu banyak tertawa. Arga semakin kesal dan memilih menyusul El ke teras samping.


Thanks

__ADS_1


Kuyy intip novel terbaru thor... Gak kalah seru loh...


•> Terjerat Cinta Semu


__ADS_2