Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-54


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Tumben jalanan kecil seperti ini macet?" Henry menurunkan laju kendaraannya. Didepan banyak kendaraan yang berhenti, dan juga ada banyak orang berkerumun.


"Pak, maaf ada apa ya?" tanya Henry pada seorang yang melintas.


"Ada kecelakaan, Tuan. Korbannya seorang wanita. Kabarnya memang berniat bunuh diri. Kasihan sekali, sepertinya lukanya sangat parah."


Deggg


Perasaan Henry mengatakan ada yang tidak beres. Apakah itu Adel istrinya? Bahkan tempat ini adalah tempat favoritnya. "Seperti apa ciri-cirinya? apa masih muda? bagaimana keadaannya?" tanya Henry beruntun.


"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Saya hanya melihat sekilas, korban memakai pakaian rumahan. Dan masih memakai sandal juga. Tingginya kira-kira segini." Jantung Henry seolah berhenti memompa darah, wajahnya pucat pasi. Tak dapat membayangkan jika wanita itu benar-benar istrinya.


"Saya mau lihat." Henry mendorong pintu mobil dan tanpa membuka safety belt.


"Sekarang korban sudah dibawa kerumah sakit, Tuan. Pakai mobil putih, yah mobil putih." Henry kembali menutup pintu mobilnya. Dan langsung menginjak pedal gas. Lalu lintas sudah mulai lancar.


"Aduh, Aku lupa gak tanyain dirumah sakit mana tadi." Henry memukul setir kemudinya, gagal menyusul mobil yang dimaksud. Henry menepikan mobilnya dibahu jalan, Bejo yang dia andalkan saat ini.


"Jo, segera lacak semua rumah sakit disekitar Danau Cinta." ucap Henry setelah panggilan terhubung.


"Hah? semua rumah sakit?" Bejo menganga tak percaya. Tugas mencari Nyonya Mudanya belum beres. Sekarang harus melacak semua rumah sakit.


Tuan, kalau berniat mengerjai Saya tidak begini caranya. Ini sama saja kerja rodi Tuan.


Bejo hanya bisa membatin, menggaruk kepalanya yang terasa gatal memikirkan tugas mana yang harus Dia selesaikan terlebih dahulu.


"Jo, Kamu dengar Aku?" Berulang kali Henry memanggil Bejo, tetapi tak juga ada jawaban. Padahal panggilan masih terhubung.


"Ada apa sih Bejo ini? Gak tau orang lagi panik apa?" Henry mematikan panggilan sepihak, dan kembali mendial nomor Bejo untuk kedua kalinya.


"Ya Tuan."


"Kamu dengarin Aku ngomong gak?" suara Henry meninggi, sangat kesal karena Bejo mengabaikannya.


"I-iya Tuan. Jadi Saya harus memgerjakan yang mana dulu Tuan?" Henry mengacak rambutnya sendiri, begitu geram pada Bejo yang tulalit disaat yang tidak tepat.


"Kamu lacak semua rumah sakit yang ada di sekitar Danau Cinta. Baru saja ada yang kecelakaan. Korbannya adalah seorang wanita muda....."


"Apa? kecelakaan? Maksud Tuan, Nyonya mengalami kecelakaan. Saya turut prihatin Tuan."


"BEEEJOOOOOO..... B-E-J-O, Bejo. Kamu nyumpahin istri saya kecelakaan?" Kepala Henry serasa ingin meledak menghadapi Bejo hari ini.


"Jangan banyak tanya, cepat lakukan. Atau Kau gak usah kerja selamanya." Henry mengakhiri panggilan sepihak tanpa menunggu jawaban Bejo.


"Ih main matiin aja, Tuan kadang-kadang ngeselin." Bejo segera menghubungi beberapa anak buahnya untuk berpencar mencari korban kecelakaan yang dimaksud Henry.


Padahal seharusnya ini hal yang mudah dilakukan. Kenapa malah sekarang jadi seribet ini? Hah, Sayang, sebenarnya ada di mana Kamu?"


Henry juga tak tinggal diam, menyusuri jalanan aspal yang mulai basah oleh tetesan air hujan yang mulai turun. "Semoga benar rumah sakit ini."


Henry segera menuju ruang pendaftaran untuk bertanya. "Apakah ada korban kecelakaan wanita yang dibawa ke rumah sakit ini? Kejadiannya sekitar satu jam yang lalu." tanya Henry pada petugas yang berjaga.


"Tunggu sebentar, Tuan. Akan Saya cek dulu datanya." Pertugas wanita itu fokus pada layar yang menyimpan data pasien yang keluar masuk.


"Ada Tuan, tetapi sekarang sedang ditangani di ruang ICU karena kondisinya kritis. Dan tak ada identitas apapun yang bisa dikenali." ucap petugas wanita itu memperlihatkan catatan yang ada dibuku dan belum sempat diinput.


Detak jantung Henry semakin bergemuruh, jangan sampai yang ditakutkan itu benar. Tetapi menurut keterangan saksi dan data yang ada itu sesuai. Terlebih tak ada identitas yang ditemukan. Serta ciri-cirinya sangat mirip dengan istrinya.


"Dimana dia ditangani?"


"Tuan lurus, belok kiri lalu belok kanan. Disitu ada ruang ICU, untuk pasien yang baru masuk ta...."


"Dih, gak sabaran banget sih. Kan Aku belum selesai bicara." Petugas itu menggerutu, sebal dengan kelakuan Henry yang pergi begitu saja.


Henry tak mendengarkan penjelasan petugas sampai selesai, perasaannya bercampur jadi satu, antara marah, takut kehilangan dan kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang tak kunjung menemukan keberadaan istrinya. "Sayang, Kamu harus baik-baik saja. Maafkan Aku sayang."


"Sus, apa di dalam adalah korban kecelakaan dan dia seorang wanita?" tanya Henry pada suster yang membawa peralatan medis dengan meja dorong didepannya.


"Iya, apa Anda keluarganya?" tanya suster itu.

__ADS_1


"Ya, Saya suaminya." Suster itu mengernyit heran, namun ia segera masuk tanpa berkata-kata lagi. Karena peralatan yang di bawanya harus segera digunakan saat itu juga.


"Sus bagaimana keadaannya? Saya harus melihat istri Saya." Henry mencoba masuk tetapi dihalangi.


"Tuan, silahkan tunggu diluar. Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawa pasien. Jika Anda mengganggu Saya tak menjamin keselamatannya. Pasien kehilangan banyak darah, dan luka dikepalanya sangat serius." Suster segera menutup pintu ruangan.


Henry menyugar rambutnya dengan sebelah tangannya, sebelah lagi berada dipinggangnya. "Apa yang harus Aku katakan pada semua orang. Sayang, Kamu harus baik-baik saja." Henry sibuk mondar-mandir didepan ruangan.


Pintu ruangan terbuka, Henry segera menggundang tubuh sang dokter. "Dok bagaimana istri saya? apa saya sudah bisa melihatnya?" tanya Henry celingukan mengintip ke dalam.


"Mohon maaf, Tuan. Anda siapanya?"


"Saya suaminya." jawab Henry dengan tegas.


"Dengan sangat menyesal, Saya harus mengatakan..."


"Mengatakan apa dok, cepat katakan apa yang terjadi?" Henry sudah panik, tak siap mendengar pernyataan dokter.


"Maaf, istri Anda tidak dapat diselamatkan." ucap dokter dengan wajah lesu. Tak lama beberapa orang mendorong brankar dorong dengan seseorang terbaring diatasnya. Seluruh tubuhnya ditutupi kain rumah sakit.


"Dokter pasti bercanda kan? ini gak mungkin." Henry benar-benar sulit mempercayai apa yang dokter katakan. Apakah dia benar-benar kehilangan istrinya lagi?


"Sayang bangunnn... Jangan bercanda seperti ini, ini gak lucu sama sekali. Sayang, maafkan Aku. Semua foto itu gak benar. Ada yang sengaja ingin menghacurkan rumah tangga kita. Sayang, Kamu harus percaya padaku." Henry menangis diatas tubuh pasien itu.


"Maaf karena Aku tak jujur padamu, tetapi Aku hanya tak ingin membuat mu salah paham seperti sekarang ini. Aku hanya ingin Kamu bahagia, tanpa ada yang mengusik kebahagiaan itu."


"Sayang, bangunlah! Apa Kamu tak memikirkan El? Apa Kamu gak kasihan jika El kehilangan Maminya? Sayang Aku mohon maafkan Aku." Henry terisak diatas tubuh pasien yang tak lagi bergerak itu.


"Apa benar dia suami orang ini sus?" bisik seorang suster pada yang lainnya.


"Bilangnya sih begitu, dasar ya anak muda jaman sekarang." cibir suster lainnya.


"Kenapa Kamu menyembunyikan semuanya dari ku?" ucap seseorang.


Henry mendongakkan kepalanya, merasa familiar dengan suara ini. Yah, suara Adel, istrinya. "Sayang, Kamu bangun? Kamu mendengarkan Aku?"


"Aku gak bermaksud membohongi mu. Aku memang ada masalah dengan proyek yang Aku tangani kemarin. Dan ada yang sengaja menjebakku. Aku hanya tak ingin Kamu sakit hati, Aku benar-benar tak melakukan apapun. Semua itu hanya rekayasa. Percaya padaku."


"Aku gak berniat membohongi mu, ini semua ide Arga." Tunggu, suara ini benar-benar nyata, apa mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi?


"Tapi Aku marah karena Kamu punya istri lain selain Aku."


"Hah? istri lain?" Henry mencari asal suara. Adel sedang duduk dengan santainya di kursi panjang didepan ruang ICU.


"Sayang, Kamu masih hidup?" Henry segera meraih tubuh Adel dan membawanya dalam pelukannya. Sangat erat, Henry memeluknya erat. Merasa bahagia bahwa istrinya masih ada dihadapamnya.


"Jadi Kamu mendoakan Aku yang ada disana?" ucap Adel ketus, dengan menunjuk brankar dorong yang masih ada didepan ruang ICU.


"Kalau Kamu disini, lalu siapa yang ada disana?" Henry merasa penasaran, siapa wanita yang dinyatakan meninggal itu. Henry segera membuka kain yang menutupi wajahnya. Wanita paruh baya yang wajahnya terluka parah. Henry segera menutupnya kembali.


"Jadi wanita ini bukan istri Anda?" tanya suster yang tadi dengan terkekeh.


"Dia istri Saya. Bagaimana mungkin istri ku jadi tua dalam beberapa jam?"


"Jadi kalau Aku tua dan keriput seperti itu Kamu gak akan mengakuiku?" Adel mencubit lengan suaminya hingga memerah.


"Ampun sayang, bukan seperti itu. Maksudku.."


"Apa maksud mu?"


"Aduh, sayang malu banyak orang disini." Henry bahagia tak terjadi apapun pada istrinya. Meski harus dianiaya, Henry rela asalkan Adel tak meninggalkannya.


Flash Back On


Adel tak memiliki tujuan untuk kabur, pulang kerumah orang tuanya gak mungkin. Kerumah mertua apalagi, semuanya gak mungkin. Adel terus berjalan, sampai di jalanan yang ramai. Adel menyetop taksi yang sedang lewat. Tetapi Adel melupakan sesuatu, ia tak membawa uang atau benda apapun.


Akhirnya Adel memutuskan untuk pergi ke danau, tempat favoritnya disaat perasaaanya kacau seperti sekarang ini. Taksi berhenti ditempat yang Adel tuju, saat itulah Adel baru teringat bahwa tak ada uang sepeser pun. "Pak, maaf saya benar-benar tak memiliki uang atau apapun saat ini."


"Kalau gak punya uang gak usah sok naik taksi segala Neng, Saya juga butuh uang untuk menghidupi istri dan anak Saya." ucap pemgemudi taksi.


"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Atau begini saja, Bapak bisa kerumah Saya untuk menagih ongkos taksi Saya. Dan juga Saya akan membayar 3 kali lipat dari ongkos."


"Neng gak usah bohongin Saya ya." Pengemudi taksi marah, merasa dipermainkan penumpangnya.

__ADS_1


"Saya gak bohong Pak, atau saya minta alamat Bapak. Saya sendiri yang akan datang dan sesuai janji 3 kali lipat." Adel berusaha meyakinkan pengemudi taksi tersebut.


"Ada apa ini?" Seorang yang kebetulan lewat, menengahi keduanya yang terlibat adu mulut.


"Rena, Kamu ngapain disini?" tanya Adel yang merasa tak asing dengan orang yang ada didepannya.


"Adel, ada masalah apa?" Bukannya menjawab, Rena malah ikut bertanya.


"Aku lupa membawa dompet ku. Aku pergo dari rumah. Dan Aku harus membayar taksi sekarang." Tanpa pikir panjang, Rena merogoh tas kecil yang ia selempangkan dibahu kirinya.


"Berapa ongkosnya?" tanya Rena.


"400 ribu." ucap pengendara taksi.


"Hah? Tadi kan gak sampai 200 ribu, kenapa sekarang mahal banget?" Adel tak terima, ia berusaha menghalangi Rena untuk membayar.


"Neng sendiri yang bilang, mau bayar 3 kali lipat. Nah saya hanya minta 2 kali aja." ucap orang itu dengan santainya.


"Sudahlah! Nih 500 ribu, deal ya Pak." Rena mengambil tangan sang pengemudi dan meletakkan 5 lembar uang merah diatasnya.


"Tapi Ren..."


"Gak apa, Aku ikhlas menolong." Rena mengajak Adel ke sebuah cafe yang belum dibuka pemiliknya. Namun masih ada tempat duduk untuk mereka beristirahat sejenak.


"Aku..." ucap keduanya bersamaan. Suasana menjadi canggung sejenak, namun Rena segera memecah keheningan diantara mereka.


"Kamu duluan." ucap Rena.


"Tidak, Kamu duluan yang bicara."


"Aku ingin minta maaf padamu dan keluargamu untuk semua perbuatan ku dulu. Aku menyesal karena telah bertindak bodoh." Rena tersenyum pahit saat mengingat kejadian waktu itu.


Menghela nafas sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sudah menerima semua akibatnya, Aku gak diterima bekerja dimanapun. Saat itu, Aku benar-benar merasa harapan ku berakhir. Hidup bagaikan gelandangan, dan tak ada kedamaian sedikitpun."


"Setelah Aku menyadari semua kesalahan ku, Aku berusaha bangkit. Dengan pengetahuan yang ku miliki, Aku bisa membantu orang yang tak mampu. Hanya dengan begitu Aku merasa sangat berguna untuk orang lain." Rena menepis buliran air mata yang lolos tanpa permisi.


"Lalu, sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Adel pelan.


Rena menarik sudut bibirnya sedikit, membentuk sebuah senyuman. "Gak jauh dari sini, Aku bekerja di apotek. Terkadang juga menerima panggilan jika ada yang sakit tetapi tak sanggup ke rumah sakit."


"Oh ya, bagaimana keadaan El sekarang? Pasti dia sudah besar dan tambah lucu ya." Rena mengalihkan pembicaraan.


"Ya, kalau kau bertemu dengannya pasti semakin gemas. Sekarang El sudah pandai bernyanyi, sudah cerewet, tapi selalu ada saja tingkahnya yang membuat kita tertawa." Adel berbinar saat membicaraan tingkah El.


"Bagaimana hubungan mu dengan Daddy El?" tanya Rena, meski enggan tetapi dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Adel memaksakan senyumnya, sakit hatinya kembali mengingat hal yang membuatnya kabur dari rumah.


Keduanya saling bertukar cerita, Rena memberitahu Adel bahwa semua itu hanya rencana Gaby, saudara angkatnya. Dua minggu yang lalu, Rena kembali kerumah Gaby, ayah angkatnya sakit. Tanpa sengaja Rena mendengar semua ucapan Gaby bersama seseorang ditelepon.


"Kamu harus percaya pada suami mu, ini hanya sebuah ujian bagi ruamh tangga kalian." ucap Rena mengusap bahu Adel.


Setelah puas bercerita, Adel dan Rena memutuskan untuk pulang kerumah. Adel harus mendengar sendiri dari suaminya apa yang sebenarnya terjadi.


Namun saat Adel hendak menyeberang, dia melihat seorang yang berlari menuju halan raya. Dari arah berlawanan sebuah mobil truk hilang kendali. Kecelakaan tak dapat dihindarkan, sebagai seorang dokter, Rena segera membawanya kerumah sakit bersama Adel.


Tak ada identitas apapun ditubuh wanita itu, terlebih lagi Adel tak membawa ponselnya. Jadi ia tak dapat menghubungi siapapun.


Flash Back Off


"Jadi Pak Tua itu salah memberiku informasi?" Henry mengeratkan gengaman tangannya pada Adel.


"Pak Tua?"


"Ya, tadi Aku bertemu orang dijalan, Tetus Aku tanya ciri-ciri orang yang mengalami kecelakaan. Dia mengatakan wanita muda dan ciri-ciri yang dia berikan sama seperti mu."


"Ahahah... Jadi Kau kena prank Dad." Adel tertawa hingga mengeluarkan air mata.


Henry begitu senang melihat istrinya bisa teryawa lagi. "Terima kasih sayang." Henry mendekapnya erat, dan menghadiahkan banyak kecupan diwajah istrinya.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2