Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Surat


__ADS_3

Terima kasih telah singgah dilapak baby El.


Dukung terus Baby El dengan Like Komen dan Vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Sekarang ini berenang adalah kebiasaan baru bagi El, tidak hanya mengajaknya berjalan-jalan ditaman. Tetapi dia juga mengajarkan olahraga air itu pada El sedini mungkin. Bahkan Wulan sering turun tangan menjadi pelatih bagi El, jika sang pelatih sedang berhalangan hadir.


"Aaaaaa, Adelll jangan memaksaku." Wulan meronta, ketika Adel menarik paksa tangannya. Wulan hanya duduk ditepi kolam, ia sangat enggan masuk ke air, dingiiinnn.


"Kau akan merasa kedinginan, jika tak mencobanya, ini segar sekali." Sambil terus menarik tangan Wulan.


"Elll tolonggg, mami mu ini jahat sekali." Wulan memajukan bibirnya.


"Gak usah manyun, tambah jelek." Arga berpapasan dengannya. Dia malah membantu Adel, mendorong tubuh Wulan ke air.


Byurrrr


Wulan masuk ke air, namun ia tak juga bergerak dan muncuk dipermukaan. Arga dan Adel saling melempar pandangan. Ada apa dengan satu orang ini. Tanpa menunggu lagi, Arga melompat ke kolam, dengan pakaian kasualnya.


Dia terus berenang, membawa tubuh Wulan kedarat, dibantu Adel. Henry sedang sibuk bermain dengan El, yah dia memutuskan untuk menyusul El berenang. Tidak dengan Arga yang sudah segar, dan berganti dengan pakaian santainya. Dia hanya ingin menikmati pemandangan di kolam renang.


"Lan bangunlah! Jangan membhatku takut." Adel menepuk pipi Wulan.


"Bagaimana ini?" Arga ikut panik.


"Nafas buatan, yah kau harus memberinya nafas buatan."


"Tidak, kau saja, dia kan temanmu." Arga menolak keinginan Adel.


"Heiii siapa yang membuatnya jatuh?" Adel melotot, menatap Arga dengan tatapan membunuh.


"Kau yang menariknya." Arga tak mau kalah.


"Ya tapi kau yang mendorongnya, cepat lakukan, atau kau mau dia bablas?"


"Apa itu bablas?" Arga mengernyit, bahasa apa yang Adel gunakan.


"Sudahlah, lebih baik kau bantu dia, atau kau akan membuatnya kehilangan nyawa." Henry datang dengan El di ban karet berbentuk bebek.


Tanpa fikir panjang, Arga segera mendekatkan wajahnya pada Wulan. Semakin dekat, Arga semakin bergetar, dan kini jarak mereka hanya 5 sentimeter.

__ADS_1


Plakkkkk


"Hahahhaaaaa, Wulan tak bisa menahan tawanya. Arga memegang pipinya yang memerah.


"Kenapa kau menamparku, hah?" Suara Arga meninggi, ia tak terima dengan perlakuan Wulan.


"Rasain, siapa suruh kau mendorongku." Wulan dengan wajah tanpa dosa.


"Dasar wanita, tak tau terima kasih." Arga meninggalkan mereka dengan perasaan dongkol. "Argggghhh aku harus mandi lagi, gara-gara dia aku sudah mandi dua kali sepagi ini."


Adel diam, dia pun merasa jengkel dikerjai Wulan. "Tau gitu aku biarin aja tenggelam." Adel bersungut-sungut.


Henry dan El terkikik, melihat drama dihadapan mereka.


"Dasar anak sama ayah sama aja, sama-sama ngeselin." Adel melirik kearah dua orang dengan darah yang sama itu sedang tertawa. Tetapi hatinya menghangat, saat melihat tawa Henry yang sangat lepas. Ini pertama kalinya Adel melihat manusia kutub itu tertawa tanpa beban.


"Heiii wanita gila, kenapa kau senyum- senyum sendiri hah? Kau memang sudah gila." Henry segera merubah mimik wajahnya, ia merasa jika Adel sedang memperhatikan mereka.


"Dasar manusia kutub, El semoga kau tak menuruni sifatnya yang menyebalkan itu."


"Dia putraku, memangnya kenapa kalau sifatku menurun padanya." Ucap Henry dengan datar, dia sudah dibelakang Adel bersama El.


"Aaaaaaa..." Adel terjungkal kedalam air, karena dia berdiri persis ditepi kolam.


"Hahahahahaaaa" Tawa Henry kembali pecah, diikuti El yang ikut menertawakan mami nya itu.


"Tuan, kau mengagetkanku, kau itu seperti jailangkung saja. Datang tak diundang." Adel melempari Henry dengan air. Sehingga tubuhnya yang sebagian mengering basah kembali.


"Cepat naik, dan gantilah baju El, ini sudah siang, El pasti sudah laparr." Adel mengulurkan tangannya, karena tangga untuk naik ada diseberangnya.


"Miiii.." Mata El berkaca-kaca.


"Tuan, kau mau membantuku tidak?"


"Ceh, hanya demi El."Henry terpaksa membantunya, karena ia juga tak ingin El masuk angin. Karena kelamaan mengenakan pakaian basah.


Kau sudah benar-benar bahagia sekarang Adel. Aku akan melepaskan rasa ku ini, aku mengikhlaskanmu. Dan aku juga tak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Tapi aku akan selalu ada jika kamu membutuhkanku.


Rey mengintip kebersamaan mereka dikolam renang, dari balik jendela kamar yang dia tempati, villa yang dia tempati persis berada disamping villa Henry.


...----------------...


Sore hari, semua keluarga sedang bersantai menikmati lemon tea hangat. Cuaca disini sangat dingin menjelang sore ini. Kabut tebal menyelimuti sebagian pepohonan, sehingga tampak awan putih dari kejauhan. Ditambah hujan belum juga reda sejak siang tadi. Jadilah keluarga Syahreza memilih berkumpul diruang tengah dengan berbagai macam cemilan dan minuman penghangat tubuh.

__ADS_1


Suara pintu diketuk, namun mereka enggan beranjak dari tempat mereka saat ini. Sehingga paman penjaga villa yang membukakan pintu.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Kata Mang Asep setelah pintu dibuka.


"Maaf paman, saya hanya ingin mengantarkan ini, untuk nona Adel." Orang itu memberikan amplop berwarna biru dengan gambar hati dibagian depannya. Pasti surat cinta, tebak Mang Asep.


"Dari siapa ya?" Namun orang itu hanya tersenyum. Paman berikan saja ini, dan ini sedikit rejeki untuk paman.


"Baik Tuan"


"Saya permisi paman." Ucap orang itu sambil tersenyum.


Mang Asep segera menuju ruangan dimana semua orang berkumpul. Mereka sedang menonton film bersama, seperti bioskop mini.


"Permisi, Tuan, Nyonya, ada menitipkan ini untuk Nyonya Adel." Mang Asep memberikan amplop kecil itu. Adel mengernyit, siapa yang mengiriminya surat? Lagi pula sudah jaman apa ini? Bukankah mereka hanya perlu bertukar nomor dan saling mengirim pesan.


"Ciyeee, ada yang punya penggemar baru nihhh." Wulan meledek Adel, sementara Adel masih merasa bingung. Akhirnya Wulan yang menerimanya.


"Dari siapa Mang?" Tanya Adel, ia masih enggan untuk bergerak dari posisi nyaman.


"Dari seorang pemuda, dia tampan, tubuhnya tinggi tegap, kulitnya bersih dannn matanya sedikit sipit." Mang Asep membayangkan wajah orang itu.


"Baik, terima kasih Mang."


"Iya, saya permisi dulu." Mang Asep meninggalkan ruangan. Hatinya senang dapat tips dari pemuda itu. "Lumayan, buat jajan dipasar malam besok."


"Heiii Nona, itu bukan untukmu." Tegur Arga.


"Biarin, kan cuma membantunya saja, nih Del." Wulan memberikannya pada Adel. Namun Adel tak segera membukanya, melainkan ia selipkan dibalik sweater hangatnya.


"Kenapa gak dibuka?" Tanya Ama.


"Yah, kita kan pengin tahu dari siapa?" Nyonya Amel menimpali.


"Heee, nanti saja Ama, Nyonya. Kita kan sedang menonton." Adel merasa tak enak takut menganggu.


Sementara dua orang yang sedari tadi diam dipojokkan, saling bertatapan. Dan mengedikkan bahu, tanda tak tahu siapa pengirim surat itu.


*Sainganku banyak juga, duh semakin berat saja, tetapi kamu memang pantas diperebutkan Nona.


Siapa lagi yang memberinya surat? Sepertinya dia tipe orang yang mudah berteman juga*.


***TBC

__ADS_1


Kira kira seperti apa ya wajah Mami Adel ini? boleh intip di igeh ya


Terima Kasih***


__ADS_2