Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-22


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Harap bijak dalam membaca, yang masih dibawah umur sebaiknya diskip aja part ini!!!!


Arga dipaksa ikut pulang ke mansion, Henry sengaja menggunakan El sebagai senjata. Dengan begitu, Arga tak bisa lagi mengelak. Good job Bocah Gembul.


Mereka tiba tepat saat makan malam, Nyonya Amel langsung menyongsong Arga. Rasanya lega bisa melihatnya kembali, meski kondisinya sedikit pucat. "Dasar kepala batu, suka banget bikin orang khawatir."


"Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut Arga.


"Kau memang harus dihukum, tapi sekarang kita makan dulu." Mereka mengikuti Nyonya Amel ke meja makan, disana sudah ada Ama dan Tuan Abimanyu yang menunggu.


"Mami, bobo." El menyandarkan kepalanya dibahu Adel, matanya sedikit terpejam. Seharian bocah itu aktif bergerak sehingga melupakan tidur siangnya.


"Kita makan dulu yuk," bujuk Henry.


"No matan, El mau bobo." El mengerucutkan bibirnya.


"Oke kita bobok ya, semuanya saya permisi dulu." Adel berpamitan pada semuanya.


"Biar aku saja " cegah Wulan.


"Gak apa, kamu makanlah dulu." Adel menyunggingkan senyumnya, sambil mengusap kepala El.


"No, El mau cama Mami." El melingkarkan tangannya dileher Adel.


"Nah, kau dengar sendiri kan?" Adel kembali melanjutkan langkahnya.


"Ayo makan, Aku yang akan membawakan makanan untuknya," ucap Henry.


Wulan akhirnya ikut bergabung bersama keluarga yang lain, Wulan merasa canggung, karena diperlakukan seperti keluarga sendiri. "Gak perlu takut, duduklah!" Ama menunjuk kursi di sebelahnya.


"Kamu gak makan, Son?" Tuan Abimanyu memperhatikan piring Henry yang masih kosong, dia masih sibuk dengan benda pipih ditangannya.


"Ah ya, maaf Dad, semuanya, Aku makan diatas saja bareng Adel nanti." Henry meletakkan benda pipih persegi panjang itu.


"Iya yang lagi anget-angetnya, maunya berdua," ledek Nyonya Amel.


"Bagus itu Mom, biar kita cepat ada kabar baik." Tuan Abimanyu mengedipkan sebelah matanya.


Apaan? bahkan sampai sekarang aku masih harus puasa, ugh menyebalkan.


"Sepertinya kamu harus berusaha lebih keras Ar," sahut Ama ikut meledek.


Wulan dan Arga hanya mendengarkan, mereka fokus pada makanan di piring masing-masing. Rasanya canggung membahas hal itu diantara mereka.


"Ayolah, kasihan yang masih jomblo Ama." Henry melirik Arga disebelahnya. Wajah Arga memerah, dia tak berani mengangkat wajahnya. Hanya menunduk.


"Tuh kan, dia bisa tersipu juga. Hahaha.... Lan lihatlah wajah Arga sangat lucu." Henry semakin memojokkan Arga.


Dasar Kakak gak ada akhlak, selalu saja membuatku jadi bahan bully.


"Sudah-sudah, kita makan dulu." Tuan Abimanyu menengahi.


"Hehe.. Maaf Dad, aku keatas dulu." Diangguki semua orang. Henry membawa namapan berisi makanan yang disipakan Bibi Mey. Nyonya Amel memerintahkan Bibi Mey untuk menyiapkan makanan untuk Henry dan Adel.


Adel baru saja keluar dari kamar El, dia sudah mengelap tubuh El dan mengganti baju El. Adel sendiri juga merasa tak nyaman karena belum mandi. "Dad, kau tak makan?" tanya Adel menutup pintu kamar El perlahan.


"Ini." Henry menunjuk makanan dinampan.


"Maksud ku makan bersama, biar aku yang membawanya." Namun Henry menolaknya.


"Silakan, Nyonya." Henry mundur selangkah, meminta Adel untuk memimpin jalan.


Adel langsung menuju kamar mandi, setelah mereka sampai dikamar. Namun Adel lupa membawa baju ganti, selesai mandi dia hanya berdiam diri dikamar mandi sambil menggigit jari telunjuknya.


"Duh, kenapa bisa lupa begini sih?" Adel mengutuki kebodohannya sendiri. Meski sudah menikah dengan Henry, namun dia masih belum bisa jika hanya menggunakan handuk. Terlebih hanya selembar handuk.


Adel mengintip sedikit, Henry tak terlihat. "Semoga dia gak ada dikamar." Adel berjalan perlahan, dengan berjinjit kaki.


Setelah memastikan aman, dia berlari ke lemari yang ada di walk in closet. "Harus cepat, harus cepat." Adel mengambil pakaiannya asal.


"Kenapa buru-buru, Sayang." Henry menyeringai dibelakangnya. Tangannya membelit tubuh Adel.


"Aaaaa, jangan ganggu aku." Adel terjingkat, melempar baju yang dia pegang kesembarang arah. Sehingga kacamata tepat mengenai wajah Henry.

__ADS_1


"Hei, ini aku." Henry berbisik ditelinga Adel.


"Emm, maaf itu ... anu ...." Adel benar-benar bingung harus berkata apa, dia melirik Henry dengan kacamata pink diatas kepalanya, dan sedikit menjuntai diwajahnya.


Adel semakin ketakutan, saat tangan Henry mulai bergerilya ketempat yang tak semestinya. Adel berusaha mempertahankan satu-satunya pelindung ditubuhnya.


"Apa kau berniat menggodaku, hmm." Henry berbicara dengan lembut ditelinga Adel, membuatnya meremang. Wajah Adel sudah semerah tomat, jantungnya maraton seperti bukan jantungnya.


Dari mana dia datangnya sih? perasaan tadi gak ada, kenapa tiba-tiba ada disini. Duh, aku malu banget.


"Bu-bukan begitu, a-aku lupa membawa baju ganti," ucap Adel sedikit tergagap.


"Lupa atau sengaja?" Henry membalik tubuh Adel, membuatnya semakin gugup, Adel menggigit bibir bawahnya karena takut.


"Sayang, berarti tamu mu sudah pergi?" Henry menghirup aroma tubuh Adel yang ada dipelukannya.


Adel tetap terdiam, mulutnya seolah terkunci, dia berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tak juga kunjung mereda.


"Kalau diam berarti iya, dan kamu gak perlu berpakaian, biarkan seperti ini." Henry melepaskan Adel darinya, tak lupa kacamata yang dia lempar begitu saja. Dia bergegas ke kamar mandi, tanpa mengunci pintunya.


"Tunggu aku sayang, aku gak akan lama," teriaknya dari kamar mandi.


Adel mengabaikan teriakan Henry, berpakaian secepat mungkin, dan menggunakan piyamanya. Adel juga menyiapkan pakaian tidur Henry. "Gak pakai baju, nanti yang ada aku masuk angin," gerutu Adel, terlebih diluar cuacanya gerimis. Yah, gerimis mengundang ....


Adel duduk di depan meja rias, menyisir rambut panjangnya yang digerai. "Apa yang harus aku lakukan? aku gak punya alasan lagi, tapi cepat atau lambat juga pasti akan terjadi." Adel sedikit melamun, tak menyadari Henry yang berdiri tegap di belakangnya.


"Dad, pakai bajumu," teriak Adel setelah menyadari kehadiran Henry. Dia hanya menggunakan handuk yang melilit di pingganganya. Sebelah tangannya mengeringkan rambut yang sebagian menetes membasahi tubuhnya.


Adel m3nelan saliva dengan susah payah, bagaimana tidak? pemandangan ini sayang jika dilewatkan. "Sudah puas memandangi suami tampan mu ini?" goda Henry.


"Haih, si-siapa yang memandangi mu, aku lapar, cepat pakai bajumu." Adel meninggalkan Henry begitu saja.


"Tunggu saja, istriku." Henry menyeringai, dia segera mengenakan pakaian yang Adel siapkan.


"Kamu gak lapar?" tanya Adel yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Suapi." Henry merengek, seperti El yang meminta mainan.


"Kamu kan punya tangan," jawab Adel kesal.


"Aku sudah kenyang," ujar Henry, padahal ia hanya makan tiga suap, selebihnya Adel yang menghabiskan makanan di piring. Dia malas berdebat, karena masih ada satu piring lagi yang masih utuh, pikirnya.


"Kenyang?" Adel meletakkan sendok ditangannya, dia sudah selesai makan.


"Emm, aku sudah kenyang melihat mu makan dengan lahap."


"Tapi kamu kan baru makan beberapa suap, Dad. Nanti kamu lapar." Adel tak mengindahkan penolakan Henry.


"Kalau aku lapar, aku bisa memakan mu," ucap Henry manja, dia merapatkan duduknya, dengan menarik pinggang Adel dengan sebelah tangannya.


"Dad, aku haus, mau minum." Adel menjauhkan tubuhnya.


"Haus ya minum, apa perlu aku ...."


"Tidak, tidak perlu, aku bisa sendiri." Adel menenggak air putih hingga menyisakan setengahnya.


"Pelan-pelan, nanti tersedak."


Adel masih berusaha mengulur waktu, berharap Henry melupakan janjinya, padahal dia tadi sangat bersemangat. Dia beralasan sakit perut, padahal hanya berkumur, dan menggosok gigi.


Bukankah aku sudah sikat gigi tadi? apa yang aku lakukan?.


Henry bermain gawainya, dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur. Henry sudah pergi ke dapur membawa piring kotor, namun Adel tak juga keluar kamar mandi.


Apa yang dia lakukan didalam sana? Jangan-jangan dia sedang mempersiapkan diri untuk memyambutku.


Henry senyum-senyum sendiri, membayangkan Adel mengenakan gaun malam untuk menggodanya.


"Dad, kau ini kenapa?" tanya Adel heran dengan tingkah konyol suaminya, terlebih dia sudah melepas pakaiannya. Hanya menyisakan boxer yang tertutup selimut.


"Aku, memangnya kenapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Dipandanginya Adel dari ujung kepala hingga ujung rambut. Tak ada yang berbeda, sama seperti sebelumnya.


"Kemana bajumu?"


"Owh, tadi kena air minum, jadi aku lepas. Lagi pula aku gerah," ucapnya berbohong.


"Aku ambilkan yang baru."

__ADS_1


"Jangan, tidak perlu, biarkan begini." Henry tersenyum penuh maksud, dengan menaik turunkan alisnya.


Adel tidur membelakangi Henry, dia tidak tahu lagi harus apa. Mengelak juga tidak mungkin, saat ini hanya bisa pasrah. Tangan Henry mulai nakal, memeluk Adel dari belakang, mengecup tengkuknya. Dan tangannya mulai menjelajah dunia.


"Dad, aku ngantuk." Adel masih memejamkan matanya, dan berusaha menahan geli.


"Tapi aku belum," bisiknya di telinga Adel.


"Besok kita harus bekerja."


"Kan kita bos nya." Henry semakin nakal, dia mulai mengecup leher belakang Adel yang terekspos. Adel menggigit bibirnya, berusaha menahan suara.


"Ayolah, Sayang." Henry bermain-main dengan kancing piyama Adel. Hingga terlepas satu persatu. Henry membalikkan tubuh Adel, namun Adel tetap memejamkan matanya.


Henry mulai menikmati bibir cherry Adel dengan rakus, mengabaikan Adel yang memberontak di bawahnya. Henry baru melepaskannya setelah keduanya kehabisan oksigen. Dan melihat Adel yang berlinang air mata.


Henry menyadari, bahwa Adel tak menginginkannya. Dia berbalik badan, menutupi tubuhnya dengan selimut. "Tidurlah!"


Adel membuka sedikit matanya, mendapati Henry yang memunggunginya. Dia merasa bersalah, tetapi dia juga takut. Lama Adel berperang dengan perasaannya sendiri. Dan memutuskan untuk meminta maaf pada suaminya.


Adel ikut bergelung dalam selimut, dia memeluk Henry dari belakang. "Sorry, Dad." Adel kembali terisak, sehingga sebagian air matanya mengenai punggung Henry.


Adel mengeratkan pelukannya, karena Henry tidak juga merespon. Sehingga kini tidak ada jarak diantara keduanya, hanya piyama Adel yang sudah terbuka beberapa kancingnya. Adel semakin tergugu, Henry mengabaikannya.


"Sttt ... Aku yang seharusnya minta maaf." Akhirnya Henry tak tega membiarkan Adel terus bersedih. Dia membalikkan tubuh Adel, dan mendekapnya.


"Maafkan aku yang memaksakan kehendakku." Henry mengecup kening Adel lama. Hingga Adel mulai tenang, barulah Henry sedikit menjauhkan tubuhnya.


"Sorry." Henry menghapus jejak air mata diwajah Adel. Dan mengecup kedua matanya. Adel menggeleng, dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang Henry.


"Aku takut," ucap Adel pelan.


"Aku tidak akan memaksamu, aku sudah pernah mengatakan sebelumnya." Henry merapikan anak rambut Adel yang menutupi wajahnya.


"Tapi, Dad ...."


"Tidurlah, besok kau harus ke kantor." Henry kembali mengecup kening Adel dan mendekapnya.


"Tapi pelan-pelan, ya." Henry menjauhkan tubuhnya. Mendengar ucapan Adel barusan, seolah memberinya lampu hijau untuk melanjutkan yang sebelumnya tertunda. Namun dia berusaha mengabaikannya dan menekan sesuatu yang mencapai puncaknya.


Henry menatapnya cukup lama, Adel menganggukkan kepalanya. "Apa kau yakin? aku gak mau jika terpaksa dan menyakitimu." Henry membelai wajah Adel yang sembab.


"Hmm ... tapi perlahan," ucap Adel malu-malu. Bagaimanapun juga ini sudah kewajibannya.


Henry bersemangat, dia membalikkan tubuh Adel, sehingga Henry berada diatasnya. "Aku akan memulainya dengan perlahan. Dan kau bisa menghentikanku kapan saja." Adel mengangguk, meski perasaanya dag dig dug der.


Henry mulai mengecup bibir Adel, semakin lama semakin intens, tidak sampai disitu, Henry mulai bergerilnya, mencari jalan untuk mendaki. Adel yang awalnya kaku, kini mulai rileks, Henry benar-benar memperlakukannya dengan lembut.


Hareudang euy. Adel melingkarkan tangannya. Dengan begitu, Henry semakin bersemangat mengabsen deretan gigi sang istri. Menjelajah setiap inci bagian yang tersembunyi.


Henry semakin bergelora, bagaikan api yang disiram minyak. Tanpa sadar, semua kancing telah terlepas, menampilkan pegunungan gersang yang tertutup kacamata pink.


Adel hanya bisa menikmati permainan Henry yang membuatnya melayang, bagaikan layang-layang. Henry menelusup di belakang membuka penutup berwarna ping.


Henry membuangnya paksa, melemparkan kesembarang tempat. Pemandangan indah yang disuguhkan, benar-benar membuatnya lupa diri. Henry menjelajah dua gunung gersang dengan bebatuan hitam di atasnya.


Apalagi Adel tidak berusaha menghentikan dan semakin membuatnya ingin berlanjut. Henry berusaha mendaki gunung dan terus mendaki. Puas mendaki, dia kembali berkelana, dan mendapati gua yang tetutup rimbunan semak belukar. Adel tak bisa lagi mengontrol dirinya, untuk tidak terhanyut dalam permainan Henry.


"Aku akan perlahan, oke." Suara Henry semakin serak, menahan gejolak yang harus dia tuntaskan. Henry membuang sisa kain yang tersisa. Mereka siap berperang.


Adel tersentak saat jendral Henry menerobos dalam gua. Henry tak melanjutkan serangannya. Dia kembali menuruni gunung sehingga membuatnya rileks. Meski bukan pertama kali Adel tetap merasa kesakitan, terlebih sudah lama dia tidak melakukannya.


Setelah Adel merasa lebih baik, sang jendral terus menjelajah gua, dia berusaha masuk lebih dalam. Dia mondar-mandir, keluar masuk seenaknya.


Begitulah sampai sang jendral pusing, dimabuk kepayang. Sampai dia memuntahkan semua makanannya.


Woy udahan ... Bubarrrr ... bubar semua ....


Jujur nih saya nulisnya sambil dag dig dug, cenat cenut nih maraton jantungnya ampun dahh.


Jangan dibayangin yah, cukup dibaca.


Jangan lupa like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2