Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-4


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca ya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐💐


Menjelang pernikahan


Hari begitu cepat berlalu, tak terasa hari pernikahan Henry dan Adel semakin dekat. Dalam hitungan jam, mereka berdua akan resmi menjadi pasangan suami istri, baik dimata hukum maupun agama. Janji suci akan Henry ucapkan di kediaman Wiranata, atas permintaan Adel.


Acara resepsi akan diadakan disebuah hotel ternama di Jakarta, meskipun begitu, hanya beberapa tamu penting dan kerabat yang hadir, Adel tak menginginkan pesta yang mewah. Yang terpenting baginya adalah acara sakral yang akan terkenang. Meskipun ini bukan pertama kali bagi keduanya, namun mereka tetap merasa nervous.


"Adel tidurlah! Besok kamu harus bangun pagi-pagi untuk dirias!" Ibu Sari menyelimuti tubuh Adel, tak lupa memberikan kecupan untuk putri semata wayangnya.


*Ibu harap pernikahan mu kali ini bisa membuat mu bahagia, untuk selamanya keluarga kalian akan terus bersama sampai kakek nenek. Kalian harus bisa menghalau badai dalam rumah tangga kalian secara bersama-sama.


Kamu sudah banyak menderita selama ini, maafkan Ibu yang telah membuat hidup mu susah. Tapi Ibu yakin, Tuhan punya rencana lain untuk mu. Ibu sangat menyayangimu*.


Ibu Sari menutup pintu kamar Adel perlahan, agar putrinya tak terbangun. Pintu telah ditutup rapat, mata Adel tak mau terpejam, dia masih terjaga hingga pagi menjelang, barulah Adel bisa tertidur.


Tokkk Tokkk


Suara pintu diketuk, Adel tak bergeming, masih bergelut dengan mimpinya.


"Nyonya, sepertinya Nona Adel masih tidur," Bibi Yan memberitahu Ibu Sari. Sedari tadi dia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam.


"Ya ampun calon manten kok jam segini masih tidur," Ibu Sari memgomel, berjalan menuju ke kamar Adel yang masih tetutup rapat. Dibawah semua orang sedang sibuk mempersiapkan semuanya. Terutama di taman belakang, yang telah disulap menjadi tempat ijab qobul.


Ibu Sari menerobos masuk, dengan kunci cadangan yang dimilikinya. Membuatnya leluasa masuk tanpa menunggu Adel membukanya dari dalam. Dan benar saja, Adel masih terlelap, memeluk guling kesayangannya.


"Ya ampun... Adellll... Jam berapa ini? Kamu masih belum bangun juga?" Ibu Sari menarik selimut yang menutupi Adel. Membuka horden yang menutupi jendela, diluar langit jingga masih terlihat, matahari yang masih bersembunyi malu-malu mulai mengintip dari peraduannya.


Jam 05.15 WIB, Adel yang baru saja tertidur beberapa jam, enggan membuka matanya yang terasa sangat berat. "Ibu, Adel masih mengantuk, sebentar lagi," Adel berbalik badan memunggungi Ibu.


Ibu Sari sangat kesal, dia memanggil Beberapa pelayan dan orang yang akan merias Adel. "Paksa dia, terserah bagaimanapun caranya," Ibu Sari mengibaskan tangannya, dua orang pelayan wanita dan juga perias dari pihak WO, membawa Adel paksa masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Hah, aku bisa sendiri," Adel berjalan sendiri ke kamar mandi, tetapi lama tak terdengar suara apapun. Membuat Ibu Sari semakin geram.


"Adelllll, buka pintunya," Ibu Sari terus menggedor pintu kamar mandi, membuat Adel membuka pintu dengan mata setemgah terpejam.


"Berisik sekali sih Bu, Adel masih ngantuk," Ibu Sari tak menanggapi Adel, dia menerobos masuk, mengambil air dengan tangannya, dan menghempaskan ke wajah Adel.


"Ibu, basah semua ini," Adel tak terima, namun dia baru sadar akan banyaknya orang di sana, termasuk gaun indah yang terpajang dipatung manekin. "Cepat bantu dia bersiap, kita tak punya banyak waktu lagi," Ibu Sari meninggalkan Adel untuk bersiap diri.


"Ingat, kamu akan menikah, jadi jangan membuat keributan," Adel baru tersadar, hari ini adalah hari pernikahannya. Semalam dia tak bisa tidur karena memikirkan hal ini.


"Cepat bantu aku bersiap," Adel segera masuk kamar mandi, mandi dengan kilat, seperti mandi capung, celup beres dah.


"Nona, apa Anda benar-benar sudah mandi?" tanya seorang pelayan.


"Kau meragukanku?"


"Tidak, saya percaya," pelayan itu undur diri. Tinggallah dua orang yang akan mendandani Adel.


Rasa kantuk menghilang, Adel tak sanggup mengontrol jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Rasa gugup melanda, dia berusaha menghirup nafas panjang, mengeluarkan perlahan. Tak ada perubahan, malah semakin berpacu.


Satu jam lamanya Adel dirias, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Adel tak sedikitpun tersenyum, membuat penata rias harus memaksanya tersenyum. "Nona, Anda cantik sekali jika tersenyum," Adel mendesah pelan, dan mengikuti perkataan penata rias.


...----------------...


Di kediaman Syahreza, Henry sudah tampan dengan pakaian serba putih, selaras dengan gaun yanh dikenakan Adel, berwarna putih tulang.



"Ar, kau sangat tampan," puji Ama, saat ini keluarga sudah bersiap, termasuk El yang memakai pakaian yang sama dengab Daddy nya.


"El, uga ampan Ma," ucwp bocah itu tak mau kalah.


"Tentu saja, cucu Oma paling tampan," ucap Nyonya Amel yang duduk memangku cucu kesayangannya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Tuan Abimanyu yang baru saja bergabung, diikuti Arga dibelakangnya.

__ADS_1


"Sudah Bi, kita sebaiknya berangkat sekarang," Tuan Edric menyahuti, dia tak ingin melewatkan momen bahagia Henry yang sudah dia anggap anak sendiri. Dia terbang jauh ke Jakarta untuk menyaksikan sendiri acara pernikahan Henry. Tapi tidak dengan putrinya, dia tak turut serta karena sedang hamil besar.


"Yeah, tita telumah Mami, Et go." ( Yeah, kita kerumah Mami, Lets go)


"Anak Daddy sudah tak sabar bertemu Mami, hmm," Henry mencolek dagu El.


"Bukankah kau yang tak sabar Son?" ledek Tuan Abimanyu. Mereka semua tertawa berjamaah melihat raut wajah Henry yang memerah.


Arga melirik Wulan yang tengah tertawa bahagia, cantik dengan senyum natural. "Teruslah tersenyum! Kamu cantik kalau senyum begini," bisik Arga. Dia berlalu menuju mobil yang sudah berjajar rapi dihalaman mansion Syahreza.


Mobil yang dihiasi dengan bunga didepan dan belakang cup mobil. "Waoww... Ma, liat tuh, tantik," El menunjuk karangan bunga yang terpajang indah, dengan pita yang menjuntai di mobil.


"Iya sayang, ayo kita jemput Mami," Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu memasuki mobil pengantin. Diikuti rombongan dari keluarga besar Syahreza. Mereka dengan suka cita mengiring mobil pengantin.


"Son, kau bahagia?" tanya Tuan Abimanyu dikursi belakang.


"Tentu Dad, bagaimana tidak? Aku akan menikah, dengan orang yang ku cintai, begitupun dia mencintai ku," senyum tak memudar dari wajah tampannya.


"Mommy berharap kau akan menjadi suami yang bertanggung jawab, terhadap rumah tangga mu, untuk Adel dan juga El. Apapun itu asalkan kalian bahagia, Mom turut bahagia," Nyonya Amel berkaca-kaca. Dia memeluk cucunya dengan erat.


"Oma, atit," El meronta, membuat Nyonya Amel segera melonggarkan pelukannya.


"Maafkan Oma sayang, Oma terlalu bahagia untuk keluarga kecil kalian, akhirnya kau akan terus bersama Mami Adel. El akan terus bersama Mami dan Daddy, Oma bahagia sekali," Nyonya Amel mengecupi wajah gembul El.


"Mom, kita sedang bahagia, jangan mengungkit masalah itu lagi," Tuan Abimanyu membawa istrinya dalam pelukannya.


*Aku juga sangat bahagia, El tak perlu kehilangan Mami Adel. Maafkan Daddy atas semua kesalah Daddy yang telah lampau, seharusnya Daddy melakukan hal ini sejak dulu.


Metta, terima kasih telah hadir dihidupku, dan kau berikan aku El, yang mampu mengubah duniaku menjadi lebih berwarna, aku yakin kau pasti bahagia disana. Maafkan aku yang dulu begitu bodoh, aku akan menebusnya, aku dan Adel akan menjaga El dengan baik*.


Henry berkaca-kaca, setiap mengingat kejadian pahit yang dia alami.


.


.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2