
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Henry tak langsung menuju kamarnya. Karena melihat kamar disebelahnya masih menyala terang dengan pintu sedikit terbuka.
Keningnya berkerut, mendengar ocehan bayi kecil itu. Henry sedikit mengintip. Adel sedang bermain dengan Baby El. Dan Baby El sesekali tertawa riang menanggapi keusilan Adel.
Sebuah senyuman terukir dari sudut bibir Henry. Hingga ia tak menyadari Adel sudah ada dihadapannya. Seketika ia memasah wajah datarnya.
"Ngapain Tuan disini?" tanya Adel.
"Kau ini sudah malam berisik sekali. Bawa anakmu itu tidur," ucap Henry dengan wajah datarnya.
"Ini juga mau ditidurin, tapi mau hangatkan susu dulu. Air panas dikamar habis Tuan," ucap Adel menjelaskan.
"Ya sudah sana," Henry berbalik badan.
"Emmm Tuan, Tolong jaga Baby El ya," Adel menyerahkan El pada Henry. Henry bebalik badan.
"Apa? kau kan pengasuhnya, kenapa menyuruhku?" Henry memutar bola matanya. Baru kali ini dia disuruh suruh.
"Atau Tuan saja yang membuatkan El susu? Aku takut dia rewel."
"Biar Bibi Mey saja yang kerjakan," Henry ingin berteriak tetapi dicegah Adel.
"Tuan Henry yang terhormat, ini sudah malam. Mereka pasti lelah butuh istirahat. Seharian mereka sudah bekerja keras. Tolong biarkan mereka istirahat," ucap Adel menasehati.
"Terserah kau saja," Henry sudah meraih gagang pintu kamarnya.
"Tuan tolong bantu aku ya," Ia memberikan Baby El yang mengantuk dan mulai rewel. Tanpa menunggu persetujuan Henry, Adel berlalu kedapur membawa ASIP yang beku untuk dihangatkan.
Wajah Henry menegang, wajahnya pucat, ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara Baby El mulai menangis.
Henry membawa El kekamarnya. Ia menaruhnya dalam box bayi, bukanya diam El malah semakin menangis.
Apa yang harus aku lakukan? bayi diamlah!
Henry mengambil mainanyag tadi dimainkan El, Tetapi tidak berhasil. Mau tak mau dia menggendongnya lagi. Naluri seorang ayah, ia mendekap El, dan menepuk pelan bokongnya. El mulai diam. Namun Henry tak ingin menatapnya. Ia melihat kesembarang arah.
"Maaf Tuan\, biarkan aku menyu***nya\," ucap Adel yang datang tergopoh. Ia segera berlari\, karena mendengar El menangis.
"Kau ini dari mana saja? Hanya kedapur saja lama sekali," hardik Henry. Adel mengabaikan omelan Henry, ia lansung mengambil El dari gendongan Henry.
__ADS_1
Adel menimangnya kemudian, menaruhnya diatas ranjang dan memberinya ASIP. Ia mengusap lembut punggung bayi tampan itu. Hingga lama kelamaan baby El tertidur.
Henry diam mematung sedari tadi. Memandangi Adel yang sibuk dengan El. Tangannya masih bergetar, namun sebisa mungkin dia tahan.
"Tuan mau sampai kapan Anda berdiri disana?" suara Adel mengagetkan Henry.
Henry berlalu begitu saja. Menuju kekamar tidurnya. Henry masih tak percaya, ia baru saja menimang Ansell putranya.
Dasar orang aneh, begitu saja samapai gemetaran~ batin Adel.
Henry mengguyur tubuhnya dibawah shower. Ia berusaha menenangkan dirinya. Tanganya masih gemetar, padahal ini bukan pertama kalinya ia menggendong El.
Ini tidak benar, apa yang sudah aku lakukan? Aku baru saja menggendongnya. Tidak ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membuatnya menjauh.
Membayangkan ia akan bertemu setiap hari dengan El, membuat Henry tak dapat tidur hampir semalaman. Jadilah pagi ini dia bangun kesiangan. Beruntungnya dia adalah owner HS Group, terserah dia mau datang jam berapapun.
Arga sudah menunggunya sejak lama, ia merasa bosan. Arga berniat membuat kopi, kebiasaanya kalau dimansion. Sudah seperti rumah sendiri. Dan ia tak suka dilayani, jadilah Bibi Mey membiarkannya.
Namun niatnya diurungkan, saat melihat Adel sedang mendorong kereta bayi ditaman belakang.
"Hai Baby El," sapa Arga pada bayi tampan itu.
Adel menoleh. Seketika pandangan mata keduanya bertemu. Namun Adel segera mengalihkanya.
"Emmm Tuan Arga, ada apa kemari?" tanya Adel mengurangi kecanggungan.
"Kau jangan memanggilku Tuan, Nona Adel," Arga sedikit melirik Adel.
"Itu tidak sopan Tuan, saya hanya pengasuh El, itu berarti sama dengan pelayan lain," Adel merendahkan diri.
"Tapi bagiku kau bukan pelayan Nona," ucap Arga.
"Terserah Tuan saja, tapi cukup panggil saya Adel, jangan ada embel embel Nona."
"Baiklah Adel," ucap Arga seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Ya Tuhan, sejak kapan dia bisa tersenyum semanis ini? Biasanya dia selalu menyebalkan, dan membuat masalah saat bertemu denganku.
"Ehmm," Arga membuyarkan lamunan Adel.
"Mammmmamamm Taaataaaataaaa dadaaaadaaa..." El terus saja mengoceh sambil memainkan ujung strolernya.
"Ada apa sayang? Kau lapar?" tanya Adel pada bayi tampan itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya Baby El lapar, saya permisi dulu," ucap Adel hendak mendorong stroler.
"Tungguu, kau boleh memanggilku Arga, apalagi saat tak ada siapapun," ucapan Arga menghentikan Adel.
"Baiklah Tuan, eh maksudku Ar- ga, saya permisi," Adel segera masuk kedalam mansion.
Dari atas balkon kamar, Henry memlerhatikan mereka.
Arga berani sekali kau menggodanya. Bukan itu tujuanku membawamu kemari.
Henry geram, dia berpikir bahwa Arga sedang menggoda Adel. Padahal iya. Henry melanjutkan niatnya yang tertunda, ia segera bersiap untuk pergi kekantor.
Henry melewatkan sarapannya. Ia tak ingin berlama lama dimansion. Sebisa mungkin harus menghidari Ansell. Hanya itu yang bisa ia lakukan, untuk mengurangi perasaan gamang pd hatinya.
...----------------...
Sementara itu setelah berhasil mengatasi masalah perusahaanya, sore ini Tuan dan Nyonya Syahreza, sedang menikmati indahnya kota London.
Tepatnya dari atas London Eye atau disebut juga Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar di atas Sungai Thames, London, Britania Raya dan mulai beroperasi pada akhir 1999.
Mereka menyewa kapsul private, yang dapat menampung 24 orang penumpang, namun saat ini hanya digunakan oleh dua orang pasutri ini.
Dari atas sana mereka dapat menikmati keindahan kota London. Apalagi saat malam hari suasanya akan semakin romantis bagi pasangan. Dengan lampu yang menyala terang, semakin menambah keindahannya.
Layaknya sepasang muda mudi yang sedang kasmaran, Nyonya Amel duduk dengan menyandarkan kepalanya, pada bahu kekar sang suami.
"Sayang," panggil Tuan Abimanyu.
"Yes Dad," Nyonya Amel dengan suara manjanya. Gak inget umur si Oma.
"Sepertinya kita harus memperpanjang masa liburan kita," ucapnya mengecup pucuk kepala sang istri.
"Yah kau benar Dad, kita harus menikmati honey moon kita untuk kesekian kalinya," ucap Nyonya Amel menyeringai.
"Terserah kau saja sayang," jawab Tuan Abimanyu.
Mereka menaiki bianglala raksasa itu hingga dua kali putaran. Satu jam lamanya mereka saling bercerita mengenang masa awal menikah. Setelah malam barulah mereka pulang.
Namun sebelum itu, mereka menikmati makan malam disebuah restoran mewah. Yang menyajikan menu steak terbaik. Gillarys Steakhouse and Bar. Yang pastinya Akan memanjakan lidah setiap pengunjung.
TBC
__ADS_1
MOHON DUKUNGAN LIKE KOMEN DAN VOTE YA SUPAYA AUTHOR TAMBAH SEMANGAT
TERIMA KASIH