Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Cerdas


__ADS_3

Terima kasih bersedia singgah dilapak Baby El.


Jangan lupa like komen dan vote kakak semua.


Maaf ya gak bisa up seperti biasanya, badan minta istirahat dulu, nanti setelah pulih akan up seperti biasanya lagi.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Kau mau pulang?" Tuan Wira menghentikan langkah Henry yang akan meninggalkan pintu rumah. Dia berbalik, hendak berpamitan. "Saya permisi pulang Tuan. Terima kasih mengizinkan saya bertemu El." Henry mengulurkan tangannya.


Tuan Wira tak menerima uluran tangan Henry, dia malah menyebunyikan tangannya disaku celananya. "Siapa yang memperbolehkanmu pulang? Ikuti aku." Tuan Wira menuju ruang kerjanya.


Hahhh, dasar rubah tua, lebih baik menurut saja.


Henry mengekori Tuan Wira. Baru saja Henry menutup pintu, dia sudah dikejutkan dengan berkas yang dilempar kehadapannya. "Kau lihat ini!" Henry semakin tak mengerti, ada apa sebenarnya. Apakah dia melakukan kesalahan fatal?


"Ini kan laporan yang tadi aku buat? Secepat itukah bisa sampai disini? Padaha dia baru menyelesaikannya belum lama ini." Henry menggumam, dia masih terus meneliti setiap angka yang tertera disana. Jauh berbeda dengan laporan yang dia buat. "Ini jebakan, sekarang aku mengerti sistem kerja mereka."


Henry mengepalkan tangannya, pantas saja Tuan Wira menginginkannya disana. Dari cerita Maya, sudah puluhan orang baru keluar masuk bagian pemasaran dalam 1 tahun terkahir. Mereka tak ada yang betah menjalani penindasan Heru. Tuduhan mereka juga sama memanipulasi data, padahal laporan sudah sesuai.


Tetapi apa yang dia lihat ini? Ini pasti jebakan. "Tuan saya bisa jelaskan, ini...."

__ADS_1


Tuan Wira malah tertawa. "Hahahaaa... Aku tak butuh penjelasanmu, aku hanya memberitahumu, mereka sangat picik, tak bisa diremehkan begitu saja. Sekarang kau mengerti?" Tuan Wira menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Pandangannya jauh menerawang ke langit-langit ruangan.


Henry menautkan kedua alisnya. " Jadi sebenarnya Anda sudah mangetahui ada yang tidak beres? Dan Anda menyuruh saya menemukan pelakunya?" Henry geram, ternyata Tuan Wira hanya memanfaatkannya. Sungguh rubah tua yang licik.


"Kau sangat cerdas nak, secepat ini bisa menebaknya. Hahaaa..." Tuan Wira menegakkan duduknya. Menatap Henry dengan wajah serius. "Kau sudah 2 kali membuat cucuku dalam bahaya, dan terakhir kali dia harus berakhir dirumah sakit. Aku hanya tak ingin dia kembali menjadi sasaran empuk mereka."


Menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mungkin aku terlihat egois, seperti halnya dirimu, yang akan melakukan apapun untuk melindungi El. Begitulah yang kurasakan, terlebih dia tak lagi memiliki ayah. Aku tak ingin kehilangannya, baru saja aku menemukannya setelah sekian lama."


Henry mengerti perasaan Tuan Wira. Umpatan yang hendak ia lontarkan, harus ia telan begitu saja. Karena yang dilakukan Tuan Wira juga demi melindungi Adel. Mereka saling menguntungkan. "Apa sekarang kau sudah paham?" Tanya Tuan Wira, lama Henry terdiam, dan menganggukkan kepalanya.


"Saya mengerti Tuan, Anda tidak perlu kuatir, saya pasti akan segera membongkar semua kebusukan mereka. Tetapi sementara waktu biarkan seperti ini. Saya masih harus mengumpulkan bukti dan saksi." Ucap Henry dengan tegas.


"Aku percaya padamu, perjuangkanlah apa yang ingin kau perjuangkan." Tuan Wira menepuk bahunya pelan. Dia hanya ingin memastikan sendiri, apakah Henry adalah orang yang pantas atau bukan. Dia berharap cucunya bahagia, meskipun tak ada yang mengungkapkannya. Tetapi Tuan Wira tahu dari setiap perlakuan keduanya.


"Terima kasih Tuan, mungkin besok saya akan meninap, untuk malam ini masih ada hal yang harus saya selesaikan." Henry melanjutkan langkahnya, mengendarai mobilnya. Membelah padatnya kendaraan yang merayap di Ibu Kota. Perasaanya sedang diselimuti kebahagiaan, Henry senyum-senyum sendiri didalam mobil.


Tetapi ia tak langsung pulang, Henry menemui Arga dan Nathan. Ada rapat internal diantara mereka bertiga. Mereka akan membahas bagaimana kedepannya, agar Wiranata bisa berjalan seperti semula. Dan dalam pengawasan HS Gruop. Bukan hal yang mudah meluluhkan Tuan Wira.


"Ga, bagaimana dikantor?" Henry memulai obrolan, mereka berada disebuah restoran mewah tak jauh dari HS Group. "Aman terkendali Boss." Arga mengacungkan dua jempol tangannya.


Mereka mengobrol lama, tak terasa tiga jam mereka disana. Banyak yang mereka bahas salah satunya tentang Tuan Wira. Henry tak ingin berlama-lama, dia harus segera mengumpulkan bukti. Terlebih satu minggu lagi adalah rapat bulanan Wiranata. Kesempatan ini akan dia gunakan untuk menjatuhkan lawan. Namun sebelumnya, dia harus bekerja keras untuk itu.


...----------------...

__ADS_1


Satu minggu berlalu, setiap hari Henry selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi El. Kondisi El semakin membaik, begitupun Adel dan dirinya. El semakin ceria, terlebih lagi disana El selalu dimanjakan Ibu Sari fan Eyang Wira. Keluarga Syahreza sesekali berkunjung, untuk melihat bagaimana perkembangan El.


Hari ini Henry sangat sibuk, terlebih lagi, -besok adalah rapat yang akan menentukan nasib Wiranata Corporation kedepannya. Akan seperti apa ada ditangan Henry. Dia tak ingin mengecewakan Tuan Wira.


"Kribooo, sudah malam begini kamu belum pulang juga?" Cecar Heru, semua karyawan sudah pulang 30 menit yang lalu. Hanya ada Dia dan satu orang lainnya. "Iya Tuan, sebentar lagi, masih ada beberapa berkas yang harus saya print untuk rapat besok.


"Terserah kau saja" Heru meninggalkan meja kerja Henry. Dia menuju ruangannya. Entah apa yang dia bahas hingga saat Henry pulang mereka masih ada didalam. "Lebih baik aku menemui El, daripada berhadapan dengan mereka." Namun sebelumnya Henry tak sengaja meninggalkan bahan rapat untuk besok. Padahal ia sudah susah payah mengerjakannya.


Henry sampai sudah malam, El juga sudah tidur pulas. Dia hanya mengintip sejenak, Wulan dan Adel berada dibalkon kamar. Tanpa menyadari kehadiran Henry. Tak berniat mengganggu, Henry segera pergi, Tuan Wira membebaskan Henry untuk keluar masuk kediamannya.


Saling berpapasan di tangga, Henry hanya mengedipkan sebelah matanya. Saat bersamaan, Adel ingin keluar kamar. Mendapati suasana canggung anatara mereka. Henry berbalik karena gawainya tertinggal di kamar El.


Dih, kenapa dia genit begitu, hiii aku jadi bergidik.


Adel masih mematung sampai Henry melewatinya. "Tunggu" Adel menghentikan langkah Henry. Dia pun berbalik menatap Adel. "Ada apa hmmm?" Henry semakin mendekat, tentu saja Adel berjalan mundur. "Apa kau ingin terjun kebawah?"


Adel yang menyadari ada diujung tangga memghentikan langkahnya. "A-aku hanya ingin... Emmm... El sudah tidur, jangan diganggu." Adel terbata, dia berusaha menormalkan detak jatungnya yang tak beraturan.


"Jantungku diamlah!" Gumam Adel, setelah Henry pergi.


"Aku sudah tahu..." Henry meninggalkan Adel begitu saja. Mengambil benda pipihnya dan mendapati Adel masih mematung. "Heiii Nona, sampai kapan kau akan berdiri disana?"


**TBC

__ADS_1


Terima Kasih**


__ADS_2