Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-72


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Sayang, ada yang mau dibeli gak?" tanya Henry, mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Ini bulan ketiga Adel memeriksakan kehamilannya, dan sekarang usia si kecil dalam kandungan sudah 12 minggu. Tetapi Adel masih harus sangat berhati-hati, karena masih sangat rawan.


"Gak ada, Aku pusing mau pulang." Adel menyandarkan kepalanya dikursi yang ia duduki.


Henry menepikan mobilnya. Ia mengatur tempat duduk agar Adel lebih nyaman. Ia juga memijat kepala istrinya seraya berkata, "Sayangnya Daddy, jangan nakal ya di dalam sana. Kasihan Mami, jadi anak pintar ya." Henry berbicara sambil mengusap perut Adel yang sedikit mengeras.


Dan ajaibnya, perlahan rasa pusing Adel semakin berkurang. Tetapi ia memilih terus memejamkan matanya sampai di depan rumah. Semenjak hamil, Adel jarang sekali keluar rumah. Ia selalu mengeluh pusing jika mencium bau asap kendaraan.


"Dad, kita sudah sampai?" Adel terbangun saat Henry hendak menggendongnya masuk ke dalam rumah.


"Emmm ya, kau sudah bangun Sayang." Adel menepis tangan Henry, ia ingin berjalan sendiri.


Tetapi baru beberapa langkah, tubuhnya terhuyung dan terlihat sangat pucat. Seluruh dunia rasanya berputar. Henry segera membawa Adel ke kamarnya, Henry memindahkan kamar mereka di lantai satu. Menghindari Adel kelelahan, padahal disana ada lift.


Adel merasa hamil saat ini begitu sensitif, mencium bau yang tak ia sukai mual. Bahkan bau suaminya sendiri saat dari luar ia tak menyukainya. Menjadi pemilih makanan, lebih manja, lebih mudah lelah. Tak seperti sebelumnya, ia hanya mengalami mabuk sekedarnya saja.


Kalau sudah begitu, Henry yang akan dipusingkan dengan berbagai permintaan. Jika tidak dituruti, Adel mudah sekali menangis hanya karena masalah kecil. "Dad, Aku mau mangga muda. Tapi yang sudah kuning." Adel duduk bersandar di sandaran ranjang dengan bantal yang cukup tinggi.


"Sayang, katanya tadi pusing. Terus juga masih pucat gitu..."


"Ya udah kalau gak mau bilang aja. Huh..." Adel memiringkan tubuhnya membelakangi Henry.


"Haih, sabarrr... tambahin setok sabarnya..." gumam Henry, ia mengelus dadanya pelan.


"Huuuhuuu hiiikkksss.. Baby... Daddy jahat gak mau nurutin Mami."


Henry, ingat kata dokter. Suasana hati ibu hamil bisa berpengaruh pada bayinya.


"Mau mangga mudanya sekarang?"


"Tahun depan." jawab Adel ketus.


"Oke.. Sebentar Aku minta Bejto carikan."


Adel merebut benda pipih yang ada di tangan Henry. Ia menaruhnya sembarangan, Adel segera duduk dengan tegap. Seolah sudah sembuh dengan sendirinya. "Gak mau, maunya Kamu yang petik langsung dari pohonya."


"Whattt?"


"Gak mau ya udah biarin anaknya nanti ileran." Adel mengancam, jika begini Henry tak bisa apa-apa lagi. Ia hanya bisa menuruti semua kemauan istrinya.


"Iya Sayang, Aku pasti bawakan untukmu ya." Henry memaksakan senyumnya.


"Maacih Daddy... Cakep deh kalau gini." Adel bergelayut dilengan Henry, ia juga mengendus aroma tubuh suaminya yang sudah berganti pakaian.


"Hhmmm..."


"Hmmm doang, gak iklas nih?" Adel mengerucutkan bibirnya, persis El kalau lagi ngambek.


"Iya Sayang. Ikhlas banget."


"Ya sudah tunggu apalagi." Adel mendorong Henry keluar dari kamarnya, ia sudah tak sabar untuk melahap yang dia bayangkan.


Jangankan memanjat, mengambil saja Aku belum tentu bisa. Dan lagi, dimana Aku harus cari pohon mangga yang sedang berbuah disaat musim durian begini? Dan mana ada mangga muda yang sudah kuning. Itu namanya mangga matang.


Henry mengelilingi mansion, disudut taman ada pohon mangga yang belum lama ditanam. Dan kebetulan sedang berbunga, tetapi buahnya masih kecil-kecil.


"Jo, cari pohon mangga yang sedang berbuah. Aku mau sekarang juga." ucap Henry dalam telepon. Bejo ingin tertawa takut dosa, tapi kalau gak dia pasti yang kena getahnya. Ini bukan pertama kalinya bos besarnya dikerjai sang istri. Baginya hiburan tersendiri melihat Henry bisa ditaklukan oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


Setelah sekian purnama.


"Tuan, ada pohon mangga di mansion Tuan Besar yang berbuah. Tapi pohonnya cukup tinggi, apa Saya..."


"Benarkah? Thank's Jo, Aku akan segera kesana." Henry begitu bersemangat, ia segera melajukan kendaraannya ke mansion.


"Mom, Mommy..." Henry berteriak sambil berlari.


"Ada apa sih? berisik banget, nanti Arlan bangun kalau Kamu teriak-teriak terus." Nyonya Amel menutup pintu kamar Wulan dengan hati-hati, Baby Arlan baru saja tertidur.


"Mom, dimana pohon mangga? Bejo bilang disini ada pohon mangga yang berbuah." Henry mengguncang tubuh Mommy dengan penuh tenaga.


"Heiii.. lepasin Mom. Kau mau menganiaya Mom hah?" bentak Nyonya Amel.


"Hee... Maaf Mom, Aku terlalu bersemangat."


Nyonya Amel mengajak Henry ke taman belakang, disudut taman memang ada pohon mangga besar yang cukup tinggi. Dan juga jarang disentuh, itu terlihat dari banyaknya lumut yang menempe di pohon itu. "Mom, bagaimana Aku mengambilnya?"


"Kau bisa meminta Kang Asep untuk memetiknya."


"Mommy benar."


Lagi pula Adel tak melihatnya, Hahaha.


Henry segera mencari Kang Asep, yang biasa bertugas merawat tanaman disana. Dalam waktu singkat, Henry sudah membawa 5 buah mangga muda yang Adel inginkan.


Sampai di rumah, Henry terlebih dahulu mencuci wajah dan tangannya. Ia meminta Bi Ning untuk membersihkan buah mangga yang di bawanya. Henry membawa buah mangga yang sudah dibersihkan dan di kupas ke kamar Adel. "Sayang, lihat apa yang Aku bawa. Sesuai pesanan, mangga muda yang menguning." ucap Henry dengan bangganya, ia meletakkan mangaa itu di hadapan Adel.


"Daddyyy... Siapa yang memintamu memetik sebanyak ini? Dan kenapa dikupas?" Adel sudah berkaca-kaca, merasa kecewa karena tak sesuai harapan.


"Aduh salah lagi." gumam Henry sangat pelan.


"Jadi bukan Kamu yang petik? bawa pergi... Aku maunya Kamu yang petik dengan usaha mu sendiri. Huuhuuu..."


Aduh ini mulut kenapa gak bisa di rem sih? Jadi salah lagi salah mulu salah terus deh.


Henry sudah tak sabar lagi, ia menyambar sweater hangat untuk Adel. Ia segera menggendong istrinya dan membawanya ke mansion Mommy. Adel hanya mengernyit heran, tetapi ia tak menolak ataupun berkomentar. Meski ia sangat kesal dengan suaminya ini.


Sesampainya di mansion, Henry kembali menggendong Adel. Ia tak membiarkan istrinya untuk berjalan selangkahpun. Mendengar suara mesin mobil, Nyonya Amel segera melihat kearah depan. "Loh, mangganya kurang?" tanyanya heran.


Henry tak menjawab, ia terus melangkah menuju taman belakang. Dan mendudukkan istrinya di gazebo taman, ia kembali mencari Kang Asep. Dan memintanya membantu naik ke atas pohon.


"Bagaimana cara naiknya?"


"Tuan naik perlahan pakai tangga ini, Saya yang pegang tangganya dibawah." Dengan sedikit gemetar, Henry memanjat tangga hingga kedahan yang cukup besar. Ia mencari buah mangga yang bisa diraih dengan tangannya. Nyonya Amel yang penasaran mengikutinya dari belakang. Dan menemani Adel di gazebo.


"Ada apa Sayang? masih kurang mangganya?"


"Aku mau dia yang petik Mom, malah dia suruh orang lain." Nyonya Amel terkekeh mendengar jawaban Adel.


"Hahaha.. Mom kira kurang banyak. Kau memang cucuku, bisa menaklukan Daddy mu yang menyebalkan itu." Nyonya Amel menyentuh perut Adel yang sedikit membuncit.


"Entahlah Mom, Aku juga heran dengan diriku sendiri." ucap Adel.


"Tak apa, itu namanya ngidam. Bawaan bayi." Nyonya Amel kembali terkekeh, teringat dirinya saat hamil Henry dulu. Permintaannya juga aneh-aneh, beruntung Tuan Abimanyu suami yang penyabar dan pengertian.


Kedua wanita itu duduk sambil membicarakan banyak hal. Mereka juga sesekali mengawasi Henry yang diatas pohon.


"Akhirnya dapat juga kamu mangga." Henry merasa lega, sedetik kemudian, tangannya dirayapi semut hitam. Henry segera mengibaskan buah itu hingga terjatuh.


"Semuat si***, husss... pergi, pergi. Aku gak ganggu kalian, cuma mau ambil buah mangga." Setelah itu Henry kembali memetik mangga dan membawanya turun dengan hati-hati.

__ADS_1


"Sayang, sudah ya. Aku udah petik ini khusus untukmu." Henry memberikan dua buah mangga yang dipetiknya.


"Makasih Dad, oh ya ampun. Ada apa dengan tangan dan wajahmu?" Adel menyentuh wajah Henry yang memerah dibeberapa bagian.


"Banyak semut." Henry meninggalkan Adel dan Mommy ke kamar yang biasa ditempatinya. Ia segera mandi dan berganti pakaian.


Baby, kalau bukan karena mu. Daddy mungkin tak akan pernah memanjat pohon mangga setinggi itu. Belum lagi semutnya banyak banget.


Selesai berganti pakaian, Henry kembali menyapa istri dan Mommy nya. Disana ada Wulan bersama Baby Arlan. "Loh kenapa gak dimakan?" Henry menatap heran pada mangga yang masih utuh hanya sudah dibersihkan sebagian kulitnya.


"Aku kasian padamu Dad, Huhuuu... Maaf Dad, Aku membuatmu susah." Adel bergelayut dilengan suaminya.


"Sstttt.. asalkan Kau bahagia. Aku senang melakukannnya." Henry menyunggingkan senyumnya, ia mengusap bahu Adel dan menyandarkan padanya.


"Kalau begitu, sekarang makan mangga muda ini." Adel meraih pisau dan memotongnya sebagian, mangga mengkal, atau mangga yang sudah hampir matang tetapi baru menguning yang baru dipetik. Memang sangat menggoda, sampai thor juga ngiler bayangin.


"Hahhh? A-aku yang makan?" Henry menunjuk dirinya dengan telunjuknya. Adel duduk dengan tegak, ia mengangguk antusias, bahkan siap menyuapi Henry.


"Katanya Kamu yang mau makan?"


"Siapa bilang? Kan Aku cuma bang pengin mangga muda." Henry menepuk keningnya sendiri, lagi-lagi dia yang menjadi korban.


"Tapi Aku...."


"Katanya Kamu senang asal Aku bahagia? sekarang saatnya tunjukan. Aku sangat bahagian kalau Kau memakan mangga ini." Adel menyunggingkan senyumnya, seperti aura memaksa yang tersirat dari semyum manisnya.


"Sudah Kau makan saja." ucap Nyonya Amel.


"Iya benar, kasian kalau gak dituruti nantii...." Wulan tak melanjutkan kalimatnya, Henry sudah lebih dulu menarik tangan Adel dan menggigit mangga itu.


"Iuhhh... Henry memejamkan matanya, mangga yang sangat asam dicampur garam dapur yang asin, ia ingin sekali memuntahkan kembali. Tetapi melihat Adel dengan tatapan memohon, dengan susah payah Henry menelannya.


"Lagi..." Adel kembali menyuapkan potongan mangga pada suaminya. Jangan ditanya lagi seperti apa raut wajah Henry. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


Mungkin ini karma karena dulu Aku mengabaikan istriku yang sedang hamil. Dan sekarang Tuhan membalasnya dengab cara menyiksaku seperti ini.


Nyonya Amel dan Wulan bersorak, mereka tak henti mentertawakan Henry. Begitupun Baby Arlan yang sudha mulai bisa bersuara, usianya saat ini sudah 4 bulan lebih. Bahkan sekarang sudah mulai tengkurap.


"Habiskan, habiskan." ucap Wulan, Nyonya Amel menaruh Baby Arlan dalam pangkuannya, ia menggerakkan tangan bayi itu untuk bertepuk tangan.


"Sudah cukup, Sayang. Aku kenyang, nanti lanjut lagi ya." ucap Henry memohon, Adel juga tak setega itu memaksa suaminya. Ia memberikan air minum untuk Henry.


Cesss..


Giginya terasa ngilu karena mangga yang asam, Henry kembali memejamkan matanya. Belum lagi bekas gigitan semut ditangan dan wajahnya yang belum sepenuhnya menghilang.


Wulan mengirimkan video yang direkam pada Arga. Disana Arga tak henti tertawa hingga perutnya terasa sakit. Ia bahkan membiarkan matanya basah karena terlalu banyak tertawa.


"Ada apa Ga?" Tuan Abimanyu menatap heran Arga yang tertawa terpingkal-pingkal.


"Dad, lihatlah anak kebangaan mu ini." Arga menghapus air matanya, ia menyerahkan gawainya pada Tuan Abimanyu. Sehingga mereka berdua tertawa bersama melihat nasib malang Henry.


"Ahahaaa... Kena karma dia. Dulu aja tertawain Aku pas Wulan hamil, sekarang tau rasa dia." ucap Arga disela tertawanya.


"Kau tau Ga? biar dia juga merasakan yang Daddy rasakan dulu." ucap Tuan Abimanyu.


Keduanya tertawa puas, Adel telah membalaskan dendam untuk mereka berdua.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2