
Terima kasih yang masih setia menantikan baby El, dan semua dukungan yang telah diberikan.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote nya, supaya up nya lebih semangat lagi.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"sesuatu paling dekat dengan kita adalah kematian, dimanapun, kapanpun, siapapun. Tak akan ada yang bisa mengelaknya, jika Yang Maha Kuasa telah berkenhendak".
Waktu terasa begitu cepat berlalu, tak terasa dua minggu lagi Ansell berusia satu tahun. Saat ini bayi itu sudah bisa berjalan sendiri, meskipun belum terlalu jauh.
Tetapi El sangat bersemangat untuk melatih diri, siang malam ia ingin berjalan terus.
Hubungan Henry dan putranya sedikit mengalami perubahan, Henry tak lagi sedingin dulu. Tetapi masih enggan menunjukkan kasih sayangnya secara terang terangan.
Meski begitu, Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel selalu berusaha mendekatkan keduanya. Bagitupun Ama, ia selalu menasehati Henry.
Besok adalah hari kematian putri tercinta Adel, dia sangat bimbang, bagaimana meminta izin pada Tuan nya. Ia sangat ingin berkunjung kemakan sang putri, juga mendiang suaminya.
Tadi pagi ibu Sari, ibunda Adel. Sudah menanyakan kapan mereka mengunjungi makam. Sudah lama sekali mereka tak kesana.
Sekarang ibu Sari tinggal di sebuah apartement, bersama suster yang merawatnya. Keadaan ibu Sari sudah membaik, semenjak pemasangan ring pada jantungnya 8 bulan yang lalu.
"Adel." panggil Ama. Mereka sedang ditaman belakang, rutinitas setiap pagi yang tak pernah dilupakan.
Adel sedang fokus memperhatikan El, bayi itu sedang berusaha menangkap kelinci, binatang peliharaan disini. Kelinci tersebut sengaja Ama lepaskan, agar El bisa leluasa bermain.
"Adel, hei." panggil Ama lagi, ia menyentuh bahu Adel.
"Ah ya, ada apa Ama?" tanya Adel.
"Kau ini kenapa? masih pagi sudah melamun." Ama balik bertanya.
"Tidak Ama, Adel tidak melamun." sanggahnya.
"Kalau kau ada masalah ceritalah, mungkin Ama bisa membantu." ucap Ama lembut.
Adel menundukkan kepalanya, ia masih ragu untuk mengatakan keinginannya. Ia takut tidak akan diizinkan.
"Tidak ada Ama". Adel berusaha menyunnggingkan senyum.
"Baiklah, tetapi kalau ada sesuatu, kau bicaralah padaku." Ama mengusap lengan Adel.
"Iya Ama sayang." ucap Adel. Dia memeluk Ama dengan erat, seolah ada beban berat yang Adel tanggung.
Ada apa dengan anak ini? Tak biasanya dia murung seperti sekarang. Seharusnya dia kan bahagia, Ansell sekarang sudah bisa jalan. Jadi dia tak terlalu repot menggendongnya.~ batin Ama
Ama mengusap lembut punggung Adel, membuatnya berkaca-kaca. Buliran bening itu hendak lolos, namun segera Adel tepis. Ama merenggangkan pelukannya, dan kembali mengawasi El.
"Adel cepat kau mandikan bayi ini, lihatlah dia kotor sekali." seru Rena. Dia datang menggendong El, dengan tubuh yang kotor karena berlarian dan sengaja melewati kebun bunga.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita mandi sayang." Adel mengambil alih El.
Tetapi bayi itu ingin jalan sendiri. Mau tak mau Adel memegang tangan kanan El, dan Rena memegang tangan kiri El. Mereka betiga berjalan bergandengan.
Sungguh bahagianya kamu El, mempunyai dua ibu asuh yang tulus menyayangimu, gumam Henry dari atas sana.
Setiap pagi, Henry selalu memperhatikan El dari balkon kamarnya. Ama hanya tersenyum mengetahui kebiasaan Henry. Mungkin pelan tapi pasti Henry akan menjalankan perannya, sebagai seorang ayah.
...----------------...
Hingga sore menjelang, Adel masih saja murung. Rena sudah menyarankan, agar dia berterus terang. Menyatakan keinginannya pada Tuan dan Nyonya Syahreza. Tetapi Adel menolaknya.
"Ayolah Del, aku akan menemanimu." ucap Rena.
"Aku takut Ren, aku takut tak diizinkan." ucap Adel frustasi.
"Setidaknya kita harus mencoba." bujuk Rena.
"Baiklah, aku titip El, biar aku sendiri saja." ucap Adel.
Adel segera turun ke lantai satu, tetapi masih sepi. Ini baru jam 17.00, pantas saja semua orang masih sibuk. Adel kembali kekamar El.
"Kenapa cepat sekali? Apa kau sudah bicara?" tanya Rena beruntun. Adel hanya menggelengkan kepalanya.
"Hahhh kau ini bagaimana, tinggal bilang saja pakai takut segala." ejek Rena.
"Bilang apa?" tanya Ama. Tiba tiba muncul dibalik pintu.
"Jadi Begini Ama, Adel ingin meminta ijin." ucap Rena dengan lancar, ia melirik Adel yang memicingkan matanya.
"Oh ya? Ijin kemana?" tanya Ama seraya duduk disebelah Adel.
Adel merasa takut, ia mere*** kedua tangannya. Hingga tangan itu tersa basah oleh keringat.
"Sa-saya ingin, saya ingin..." Adel terdiam sejenak.
"Ingin apa hm?" Ama mengusap tangan Adel.
"Ingin meminta izin untuk... untuk mengunjungi ibu." ucap Adel.
"Jadi kamu kangen ibumu? Itu sebabnya kamu murung seharian?" tanya Ama.
"I-iya Ama."
"Baiklah, kapan kamu akan pergi?" tanya Ama.
"Kalau boleh besok pagi." jawab Adel dengan cepat.
"Ya, tetapi Sisi harus ikut denganmu." ucap Ama tegas.
"Saya hanya mengunjungi ibu Ama." Adel merasa keberatan.
__ADS_1
"Sisi ikut, atau tidak sama sekali." Ama tak ingin dibantah. Akhirnya Adel menyetujuinya, walaupun ia merasa risih jika ada yang mengikutinya.
"Tapi Ama, apa Tuan dan Nyonya akan mengijinkan saya pergi?" tanya Adel.
"Biar Ama yang bicara." Ama tersenyum teduh.
"Terima kasih Ama." Adel memeluk Ama erat.
"Iya iya, jangan berterima kasih terus, kita ini keluarga." ucapan Ama membuat Adel tak kuasa menahan air mata. Butiran Bening itu lolos begitu saja.
"Heiii kenapa malah memangis?" Ama menjauhkan tubuhnya.
"Maaf Ama, Adel hanya terharu." Mereka kembali berpelukan.
Makan malam hari ini, keluarga Syahreza dengan formasi lengkap. Tuan Abimanyu dan Henry sengaja menyempatkan waktu, karena akan membahas acara ulang tahun El.
Mereka berencana mengadakan pesta untuk El, karena ini merupakan ulang Tahun El yang pertama.
"Bi, besok pagi Adel ijin keluar." ucap Ama memulai percakapan.
"Ijin kemana Mam?" tanya Nyonya Amel.
"Dia rindu ibunya, jadi dia berniat mengunjungi ibunya." ucap Ama.
"Baiklah, biarkan dia pergi." ucap Tuan Abimanyu.
"Lalu bagaimana El?" tanya Nyonya Amel.
"Ada Rena, ada kita juga, kurasa tak akan ada masalah besar." ucap Ama.
Henry hanya diam mendengarkan, bicara ulang tahun El. Mengingatkannya pada Metta, wanita yang telah melahirkan El. Duka kembali menyelimuti hati Henry, padahal beberapa bulan terakhir, dia sudah merasa sedikit lega.
"Yah, kurasa Mami benar, lagi pula ada banyak pelayan disini. Mereka bisa membantu Rena." Tuan Abimanyu menyetujui ide Ama.
"Bagaimana dengan acara ulang tahun El?" tanya Nyonya Amel. Ia yang begitu antusias, menyiapkan ini itu untuk cucu pertamanya.
"Menurutmu bagaiman Son?" tanya Tuan Abimanyu. Henry sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hei anak bodoh, Daddy sedang bicara padamu." sentak Nyonya Amel.
"Terserah kalian saja, aku akan kembali kekamar." Henry berlalu dari sana.
Perasaanya semakin tak karuan, disatu sisi dia bahagia, melihat El semakin besar. Tetapi disisi lain dia juga merasa sedih, karena kehilangan istri tercintanya.
Metta, kau pasti bahagia melihat putra kita, dia sangat aktif, bahkan sekarang dia sufah bisa berjalan. Andaikan kamu disini, pasti akan terasa lebih menyenangkan.
Melihat tumbuh kembang El, menemaninya bermain, membelikan mainan, mengajaknya liburan. Ahh pasti aku akan menjadi orang yang paling bahagia didunia.
TBC
Terima Kasih
__ADS_1