
Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak semua.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Ayo nak, kita duduk dulu, maaf sedari tadi membiarkanmu berdiri." Ibu Sari mengajak Rey dan yang lain untuk duduk.
Rey menolak dengan halus." Terima kasih Ibu, mungkin lain kali, sekarang sudah malam. Dan saya masih ada sesuatu yang harus dikerjakan. Saya pamit Ibu, Tuan." Rey menyalami kedua orang itu.
"Saya antar Kakak kedepan." Ucap Adel membuntuti Rey. Sampai didepan pintu utama, Rey berhenti, membuat Adel harus ikut berhenti.
"Sampai disini aja. Udah malam kamu istirahatlah!" Rey mengacak rambut Adel pelan. Adel mengerucutkan bibirnya, dia paling malas kalau Rey mengacak rambutnya. "Ih kebiasaan deh, aku kan bukan anak kecil lagi."
"Masuklah!" Rey tak ingin dibantah, padahal dia masih belum menanyakan semua pertanyaan yang ada dibenaknya. Rey segera berbalik menuju mobilnya. Adel melambaikan tangan, hingga mobil Rey menghilang dari pandangannya. Dia baru masuk ke rumah.
"Ehmmmm" Ibu Sari berdehem, membuyarkan semua hal yang ada dibenaknya. "Ibu belum tidur?" Adel membuat pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya. Entahlah, beban yang ia rasakan sedikit berkurang saat ini.
"Yah, kamu istirahatlah nak, ibu juga akan istirahat." Ibu Sari meninggalkan Adel menuju dapur, untuk mengambil minum. Namun ia berbalik lagi. "Apa kamu sudah makan nak?" Ibu Sari merasa cemas, karena jika ada masalah Adel akan kehilangan selera makannya.
"Sudah ibu, Adel sangat kenyang, Kak Rey mentraktirku makan enak." Menyebut nama Rey, wajahnya berbinar. Ibu Sari yang memperhatikan perubahan wajah Adel, merasa senang. Putrinya baik-baik saja, meskipun masalah yang dia hadapi sekarang tak lagi mudah.
__ADS_1
"Ibu Adel ke kamar ya." Pamitnya, dia segera menuju ke kamarnya. Dia menoleh kejendela kamarnya, ternyata dia lupa menutup jendelanya. Adel melangkah menuju jendela kamarnya. Namun dia berjengkit, melihat mainan El yang ada dibawah horden. Mobil-mobilan yang Ibu Sari belikan saat El datang kerumah ini.
"El, Mami rindu, lagi apa kamu sekarang? Kamu pasti seneng ya bisa pulang kerumah Oma." Adel mendekap mainan El, dia membayangkan sedang memeluk El. Seharian ini Adel tak berjumpa El. Bahkan saat El pergi, Adel tak bisa mengucapkan kata perpisahan. Sakit hatinya berpisah dengan El.
Selama hampir dua tahun Adel selalu bersamanya. Bahkan melebihi sakit disaat Henry menolak bertunangan dengannya. "El kamu baik-baik ya disana, Mami janji, akan mengunjungimu." Adel melanjutkan niatnya, menutup jendela kamarnya.
Adel membersihkan tubuhnya yang terasa lengket seharian beraktifitas. Dia berendam sebentar untuk menghilangkan lelah. Setelah berpakaian Adel merebahkan tubuhnya diatas ranjang, sepi, biasanya sebelum tidur Adel selalu bermain dengan El hingga El terlelap.
Adel mengusap bantal di sebelahnya. Tak terasa air matanya kembali mengalir. Membasahi tangan yang dia gunakan untuk menopang kepalanya. Entah bagaimana caranya agar dia bisa terus bersama El. Tanpa harus memikirkan hatinya yang terluka atas sikap Henry padanya. Adel terlelap dengan memeluk mainan El.
"El tunggu Mami, jangan lari-lari nanti kamu jatuh." Adel berusaha mengejar El yang tengah berlari di jalanan taman yang sangat indah. Jauh didepan sana Adel melihat seorang wanita berambut pendek, dia melambaikan tangannya pada El. Bayi itu dengan senang hati mengulurkan tangannya minta digendong.
Adel kembali berteriak,"tunggu Mami El, jangan tinggalkan Mami." Namun El menghiraukan Adel. Dia terus berlari kearah wanita itu. "Mommy" ucap El saat dia samapai disana. Adel diam sejenak, memutar memorinya pada wanita yang sedang bersama El. Dia adalah Metta, ibu kandung El. Bagaimana bisa dia ada disini?
Adel terbangun, ia terperanjat akan mimpinya tentang El. Dia masih bertanya-tanya tentang mimpinya barusan. Apa maksud dari mimpinya ini? Adel membalikkan badan beberapa kali. Mengubah posisi tidurnya. Tetapi tak kunjung juga bisa memejamkan matanya.
Adel menyalakan televisi, namun tak ada acara yang menarik. Dia kembali keranjang, memutar video El yang ada di ponselnya. Setiap hari dia selalu mengabadikan momen dimana El bertingkah lucu atau sekedar bermain dengan mainannya.
Adel kembali terlelap, namun mimpinya kembali berlanjut. Kali ini Metta membujuk El untuk ikut dengan Adel. Awalnya El menolak dan ingin ikut Metta. Tetapi dia akhirnya mau diajak pulang Adel. "Tolong jaga anakku, sayangi dia seperti menyayangi anak mu sendiri." Belum sempat Adel menjawab, Metta sudah menghilang entah kemana.
Adel bangun ketika matahari sudah mengintip dibalik celah horden yang tersingkap sebagian. "Untunglah ini hanya mimpi." Adel mengusap dadanya sendiri, merasa lega karena itu semua hanyalah mimpi. Adel masih pada posisinya. Sampai suara ketukan pintu mengharuskannya beranjak dari posisinya saat ini.
__ADS_1
"El, sayang ayo bangun, ini sudah siang. Apa kamu tidak ke kantor?" Suara Ibu Sari terdengar dibalik pintu, Adel segera membuka pintu. Dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan.
"Ya ampun, anak ibu ini, sudah jam berapa sekarang? Eyang sudah menunggu mu sedari tadi." Ibu Sari geleng-geleng kepala dengan tingkah putrinya. "Jangan bilang kamu lupa? Hari ini hari pertama kamu bekerja sebagai...."
"Iya bu, Adel segera bersiap." Adel langsung berbalik menuju kamar mandi. Dia bersiap dalam waktu singkat. 15 menit sudah rapi dengan pakaiannya. Tak lupa Adel mengoleskan lipbalm agar bibirnya tak terlihat pucat.
Adel menemui Eyang Wira yang saat itu baru selesai sarapan. "Eyang, ayo kita berangkat, nanti kita terlambat." ucap Adel meraih segelas susu yang diperuntukkan untuknya.
"Duduklah! Kau lupa hmm, kau ini CEO disana. Terlambat sedikit tak akan ada yang menegurnya. Habiskan sarapan mu, baru kita berangkat." Eyang Wira menarik tangan Adel untuk duduk.
"Tapi ini hari pertama Adel bekerja Eyang, apa kata para pegawai nantinya?" Adel masih memegang gelas susunya, yang masih tersisa setengah gelas.
"Jangan dengarkan kata orang." Adel hanya menurut, dia mulai melahap nasi goreng buatan ibunya. Sayang sekali jika dia harus melewatkan masakan ibu yang begitu lezat di mulutnya. Namun Adel tak sanggup menghabiskan nasi gorengnya. Karena sudah menghabiskan satu gelas susu.
Selesai sarapan, mereka berangkat bersama seperti kemarin. Dengan diantar supir tentunya. Namun Adel merasa heran, bagaiman bisa mobil yang dia bawa kemarin sudah ada dirumah? "Adel, tunggu apalagi?" Tanya Eyang yang sudah duduk didalam mobil.
"Ah ya Eyang" Adel mengikuti Eyang dan segera meninggalkan kediaman Wiranata. Untuk memulai aktifitas barunya menggantikan Eyang di Wiranata Corporation.
"Adel, ada hal yang ingin Eyang tanyakan."
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH