Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-30


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Tadaaaa... sekarang boleh buka mata." Adel mulai mengerjapkan matanya yang sedikit buram. Nyonya Amel menggendong El, disampingnya Tuan Abimanyu dan Ama. Eyang Wira dan Ibu Sari. Ditengah mereka ada Wulan yang memegang kue dengan lilin yang menyala diatasnya.


"Selamat ulang tahun sayang." Henry mengecup bibir Adel sekilas.


"Siapa yang ulang tahun?" Adel mengernyitkan keningnya.


"Kelamaan bulan madu, jadi lupa semuanya." Nyonya Amel menyindir.


"Ini kan hari ulang tahun mu." ucap Ibu Sari memeluk putri kesayangannya.


"Cucuku, kamu sudah semakin dewasa." Eyang Wira bergantian memeluk cucu perempuannya.


"Selamat sayang." Ama tak ingin kalah.


"Jadilah istri dan ibu yang baik." Tuan Abimanyu mengusap pucuk kepala Adel.


"Anak perempuan ku, sekarang tambah tua ya." canda Nyonya Amel.


"Besdeh Mami, El cayang Mami. Muahhh." El mengecup pipi Mami Adel.


"Selamat Nyonya Muda Syahreza." ucap Arga yang baru saja bergabung.


"Aduh keburu lilin nya abis nih." Wulan sedikit kesal, karena dia masih membawa kue dan tak bisa memeluk sahabat sekaligus Nyonya rumah.


"El mau itut." El ikut meniup lilin bersama Mami yang sangat dia rindukan. Bersama Henry disampingnya.


"Yeay... Amat taun Mami." El kembali mencium pipi Mami, membuat Henry merasa diabaikan.


"Daddy gak dicium?" Henry pura-pura merajuk. Akhirnya dengan bergantian El mencium Daddy, dan Kedua nya mencium El yang berada ditengah bersamaan.


"Yeay, Mamiiii, Daddy..." El mengalungkan tangannya dileher kedua orang tuanya. Moment yang tak akan pernah terlupakan. Kebahagiaan yang tiada tara sepanjang hidup Adel. Berkumpul bersama semua orang tersayangnya.


Arga tak ingin melewatkan moment bahagia itu. Dia mengambil potret kebersamaan mereka dengan kamera ponselnya. Tak lupa berfoto keluarga bersama. Siapa lagi kalau bukan Bejo yang jadi fotografer amatir nya.


El sudah sangat mengantuk karena dia menahan sampai Mami dan Daddy pulang. "Lan kau bawa El tidur dikamarnya." ucap Nyonya Amel yang menyadari cucunya tak lagi aktif. Wajahnya lesu menahan kantuk yang tinggal 2 watt.


"Baik, ayo sayang bobok." El hanya pasrah digendong Wulan, bahkan matanya setengah terpejam.


"Naight sayang, mimpi indah ya." Adel menegcup El beberapa kali. Tetapi El sudah tak merespon. Kantuk lebih menguasainya.


"Kamu suka?" ucap Henry duduk disebelahnya. Mereka berkumpul diruang bersantai, setelah memotong kue dan makan bersama.


"Sangat, bahkan sangat bahagia. Thank's Dad." Adel berkaca-kaca, karena terlalu bahagia, dengan semua yang Henry berikan untuknya.


"Rumah ini dan semua isinya milik mu. Juga seluruh jiwa dan raga ini milik mu." Henry menepuk dadanya membanggakan diri.


"Apaan sih, mulai gombal." Adel sedikit menjuhkan tubuhnya.


"Ehm, yang lagi hangat, lupa kalau masih ada kita disini." ucap Ama menyenggol lengan Nyonya Amel.


"Iya Mam, seperti gak ada waktu lain aja."


"Apaan sih Mam, kayak gak pernah muda aja." ucap Henry mengqbaikan ucapan Mom dan Ama.


"Iya tapi disini ada mertua juga."


"Hehee... Maaf Bu, Henry lupa." Henry mengagruk tulang selangkanya.


"Maklum aja, kan pengantin baru." ucap Eyang yang duduk agak menjauh.

__ADS_1


"Pengantin lama Tuan, tapi mesranya baru. Haha..." ucapan Tuan Abimanyu mengundang gelak tawa semua orang. Mereka tertawa berjamaah, suaranya menggema didalam ruangan yang pantas disebut lapangan futsal.


Henry sengaja menyiapkan rumah ini sebagai hadiah ulang tahun Adel. Jauh-jauh hari Henry telah merencanakan semuanya. Meski mengalami beberapa kendala, namun semuanya bisa diatasi dan berjalan dengan baik.


Malam semakin larut, seluruh keluarga sudah masuk kamar masing-masing. Tidak dengan Arga, dia masih menyendiri ditepi kolam, ditemani sejuknya angin malam.


Henry yang memperhatikan Arga dari lantai atas, memutuskan untuk menemuinya. Tetapi niat itu segera diurungkan, Wulan telah lebih dulu berada disana.


"Aku lelah, sampai kapan kamu akan diam seperti ini?" tanya Wulan dengan nada kesal. Beberapa hari ini Arga tak pernah mau berbicara dengannya. Bahkan untuk sekedar membalas pesan darinya.


"....." Arga masih diam, memalingkan wajahnya kearah lain.


"Aku sedang bicara padamu, kau anggap aku ini apa? patung atau radio rusak?" Wulan geram, dia duduk dipangkuan Arga.


"Apa yang kau lakukan?" Arga tersentak, segera menjauhkan Wulan darinya. Wulan hampir terjatuh, sampai Arga menariknya dalam pelukannya.


"Kalian ini sepeti ABG, padahal saling suka tapi masih gengsi." gumam Henry pelan.


"Siapa yang gengsi?" Adel mengernyitkan keningnya, melirik arah pandangan Henry.


"Tuhhh.. Dua sejoli." Henry merapatkan diri pada sang istri.


"Sama."


"Sama?" Henry melirik sang istri.


"Sama seperti mu."


"Ssttt... Jangan bahas lagi, sekarang sedang lihat drama dua sejoli. Kita juga bisa sepeti mereka." Keduanya kembali fokus pada dua orang pemain drama dibawah sana. Dengan saling merapatkan diri karena dinginnya malam.


Tatapan Wulan dan Arga saling terkunci, Wulan segera menjauhkan diri. Begitupun Arga, lama mereka terdiam duduk saling berhadapan.


"Aku..." ucap Arga dan Wulan bersamaan.


"Kamu duluan..." ucap Arga.


"Sebenarnya apa hubungan kamu dan Fauzi?" Arga memberanikan diri bertanya, bagaimanapun keslaah pahaman diantara mereka harus segera diakhiri.


"Dia... dia..." Wulan menggigit bibir bawahnya, tak tahu harus mulai bercerita dari mana.


"Kalau kamu diam berarti aku anggap kalian benaran ada hubungan." Arga berdiri dari duduknya dengan kedua tangan dimasukkan saku celana.


"Huuuu... huu.. hiks..." Wulan hanya bisa menangis, tanpa bisa menjelaskan yang sebenarnya.


Flash Back On


Wulan sedang bermain dengan El saat gawainya berdering. Lintang yang menghubunginya. "El sebentar ya, Mama mau angkat telepon dulu." Wulan meninggalkan El bersama Sisi, saat ini Sisi bekerja untuk membantu mengasuh El, sekaligus untuk menjamin keamanan Tuan Kecil keluarga Syahreza.


"Kakak, Lintang kangen." ucap Lintang diseberang sana.


"Iya Kakak juga kangen, bagaimana keadaan kamu dan Ibu?" tanya Wulan. Dia begitu bersemangat karena sudah tiga hari ini Lintang tak berkomunikasi dengan adiknya.


"Kak, kapan pulang?"


"Masih lama dek, kan baru minggu lalu Kakak pulang."


"...." hening, Wulan memanggil Lintang namun tak ada jawaban. Tiba-tiba suara riuh namun tak terdengar pasti.


Ayah Wulan menemukan alamat tempat tinggal baru Ibu Yuli dan Lintang, membuatnya semakin marah. Uang yang dijanjikan Arga sudah habis, sekarang Ayah Wulan datang untuk meminta uang lagi.


"Ayah cukup, apa belum cukup Ayah membuat kami menderita?" teriak Lintang, membela Ibunya yang tersungkur dilantai akibat perbuatan ayahnya.


"Kalian enak disini bersenang-senang, sedangkan aku harus hidup seperti gelandangan. Kalian sengaja kan?" Ayah Wulan semakin marah, dia juga mendorong tubuh Lintang sampai terjatuh.

__ADS_1


"Aku cuma mau Wulan, dimana anak tidak tahu diri itu?" Ayah Wulan mengamuk, satpam yang berjaga dirumah sudah berusaha menghentikannnya. Namun tak sanggup menahan Ayah yang mengamuk seperti orang yang kesetanan.


"Dia gak ada disini, kamu pergi, pergi kamu bajin***." Ibu Yuli berteriak, mengusir orang yang telah membuat dirinya dan Lintang terjatuh.


"Dia harus menikah, kalau tidak mau aku akan seret dia." suasana semakin mencekam. Bersamaan, seorang pemuda tampan yang adalah tetangga diseberang rumah Wulan baru saja kembali.


"Ada apa ini?" tanyanya pada tetangga yang berkerumun diluar.


"Ada yang mengamuk." ucap seorang warga.


"Sudah panggil keamanan?" tanyanya.


"Sudah sekarang masih menuju kesini." Fauzi , orang itu adalah Fauzi yang baru pulang dari Jakarta, dia hanya pulang beberapa kali. Rumah yang baru dia tempati beberapa bulan ini terlihat sepi tanpa penghuni, hanya ada seorang penjaga dan seorang lagi yang bertugas bersih-bersih. Sedangkan rumah orang tuanya di daerah dekat tempat tinggal Wulan yang lama.


Fauzi menerobos masuk, biasanya dia tak suka ikut campur. Tetapi mendengar teriakan wanita didalam membuat hatinya tergugah. "Ibu, Lintang." ucap Fauzi.


"A Ozy," gumam Lintang pelan.


Disinilah drama dimulai, Ayah Wulan meminta uang banyak pada Fauzi. Sebagai gantinya, Wulan harus menikah dengannya. Padahal Arga sudah memberinya uang tak setiap bulan. Tetapi seberapa banyaknya uang jika terus berjudi dan bersenang-senang tak akan cukup bagi Ayah Wulan.


Lintang terpaksa memberikan alamat Wulan bekerja, Fauzi sangat senang karena bisa menemui Wulan kapan pun. Lagi pula sesuai janjinya, setelah sukses, dia akan melamar Wulan.


Saat itu, Arga belum kembali dari kantor, karena ada urusan mendesak yang tak bisa ditinggalkan. Fauzi bertamu di kediaman Syahreza. Wulan sudah mendengar semuanya dari Lintang. Wulan tak tahu lagi harus berbuat apa. Sedangkan semua tabungannya sudah terkuras habis untu biaya operasi ibunya.


"Wulan ada tamu untuk mu." ucap Nyonya Amel.


"Baik Nya, saya tinggal dulu." Wulan pamit.


"Siapa yang bertamu? tumben sekali ada yang mencariku." gumam Wulan. Dia berjalan menuju ruang tamu, ada seorang pemuda yang duduk membelakanginya.


"Ehm, cari siapa ya?"


"Wulan, akhirnya aku menemukan mu." Fauzi refleks memeluk Wulan. Saat itulah Arga berdiri didepan pintu, tanpa mendengarkan penjelasan, Arga pergi begitu saja. Namun dia tak benar-benar pergi, Arga bersembunyi dibalik pintu, karena penasaran dengan mereka.


"Tolong lepas A, gak enak kalau ada yang lihat." Wulan menjauhkan tubuhnya.


"Maaf, aku terlalu senang."


"Ada apa mencari ku?" ucap Wulan kesal, "baru datang sudah main peluk." Wulan terus menggerutu.


Fauzi menceritakan semuanya, termasuk perasaanya yang masih sama. Fauzi tak rela melepas Wulan yang lebih memilih meninggalkannya dulu.


"Sekarang aku sudah sukses, dan murni hasil kerja keras ku. Jadi aku harap kamu menepati janji mu."


"Jan-janji apa?"


"Kamu akan menikah dengan ku setelah aku berhasil dengan hasil kerja kerasku sendiri. Bukan dari orang lain." Fauzi menggenggam tangan Wulan.


"Hah? kapan aku pernah bicara begitu?" Wulan tersentak.


"Saat kita lulus sekolah kamu bilang ingin menikah dengan orang sukses yang meniti karir dari hasil keringat mu sendiri."


"Aduh kamu salah paham. Bukan itu maksudku." Wulan serba salah, bagaimana dia harus menjelaskan semuanya.


Wulan sedang berlatih drama untuk pementasan akhir sekolah. Saat Fauzi menyatakan perasaanya , sehingga Fauzi menganggap bahwa jawaban Wulan adalah menuruhnya sukses baru bisa menjadi kekasihnya. Sejak saat itu, Fauzi berusaha keras untuk mewujudkan impiannya.


"Aku gak mau tahu, kamu harus menikah dengan ku. Kalau tidak, aku akan laporkan ayah mu biar dipenjara seumur hidup." ancam Fauzi.


"Bagaimanapun dia Ayahku, aku memang benci sifatnya. Tapi dia Ayahku."


Flash Back Off


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung author ya.


TERIMA KASIH


__ADS_2