Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-74


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Ga, biar Aku yang nyetir. Kamu lelet banget." Henry sudah tak sabar ingin segera sampai dirumah. Baru saja Mommy mengabarinya bahwa hasil pemeriksaan Adel tidak baik. Dan menunggu kedatangan Henry untuk mengambil tindakan.


"Iya, ini juga udah maksimal. Kamu duduk tenang, diam disana, Aku gak mau kita kenapa-napa di jalan." Arga menambahkan laju kendaraannya, tetapi masih dalam batas aman. Ia tak mau menuruti Henry karena jalanan licin sehabis hujan.


"Bagaimana Aku bisa tenang Arga? Katakan padaku caranya."


"Setidaknya jangan mengganggu konsentrasiku. Atau kita berdua tak akan sampai di Jakarta dengan selamat." Arga meninggikan suaranya, ia tahu Henry panik. Tetapi tetap harus berhati-hati.


"Bagaimana sekarang Mom?" Henry kembali menghubungi Mom Amel.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Kamu sampai dimana? Lebih baik langsung saja ke rumah sakit." Nyonya Amel memberitahukan rumah sakit Adel dirawat. Kondisinya semakin menurun, mereka tak mungkin lagi menunggu Henry.


"Ga, langsung ke rumah sakit." ucap Henry, Tanpa banyak bicara Arga segera menuju rumah sakit yang dimaksud.


Henry segera turun dan berlari saat mobil belum berhenti sepenuhnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Adel. Ia menuju ruangan di mana Adel ditangani. Ketegangan ini, suasana ini, dan ketakutan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. "Mom, Dad, dimana Adel." tanya Henry dengan nafas terengah.


"Dia sedang ditangani di dalam, dokter terpaksa melakukan operasi caesare. Untuk menyelamatkan ibu dan bayinya." ucap Tuan Abimanyu, sementara Nyonya Amel terduduk lemas disamping suaminya. Ketakutannya beberapa tahun yang lalu terulang lagi.


"Aaarrggghhh..." Henry menjambak rambutnya sendiri. "Tuhan kenapa Kau hadapkan Aku pada situasi yang seperti ini lagi?" Henry meraup wajahnya kasar, suaranya tercekat ditenggorokan tetapi tak bisa memangis. Sesak, bahkan bernafas pun rasanya sangat sakit.


"Son, Kau tenanglah. Dokter bilang Kau bisa menemani istrimu didalam. Henry mendongakkan wajahnya, ia ingin masuk untuk melihat kondisi istrinya.


"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda tunggu diluar." ucap seorang suster.


"Biarkan Tuan Henry masuk." ucap Dokter Siska, mereka baru akan memulai operasinya. Suasana tegang diruangan itu. Separuh tubuh Adel sudah mati rasa, dan separuh tubuhnya ditutupi dengan kain lebar.


Henry mengenakan kain steril, ia menatap Adel yang masih sadarkan diri, tetapi air matanya tak henti mengalir. Henry segera memeluknya dari samping. Sesuai instruksi dokter, Henry harus terus menyemangati istrinya. "Sayang, Aku disini. Maafkan Aku ya." Henry mengcupi wajah Adel yang berlinang air mata.


"Dad, maaf Aku..."


"Ssttt... jangan banyak bicara lagi. Aku yang seharusnya meminta maaf. Oke." Henry berusaha tersenyum meski hatinya sendiri hancur melihat Adel yang terkulai.


"Kau masih ingat? Kita berjanji untuk merawat bayi kita bersama-sama. Bersama El, Aku yakin Kau Mami yang kuat." Henry menggenggam erat tangan Adel yang terasa dingin.

__ADS_1


Adel menganggukkan kepalanya, di awal kehamilannya, ia dan Henry sering kali bercerita. Membayangkan masa depan mereka, menua bersama, melihat tumbuh kembang anak-anak mereka.


"Sayang, Kamu gak mau kan bayi kita menderita? Kita pasti bisa bahagia bersama. Wanita hebatku, teruslah bersamaku dan anak-anak. Kalau Kau juga pergi, Aku sendirian sayang. Apa Kamu gak kasihan melihatku kembali sendiri?" Henry segera menepis air matanya, ia tak mau Adel melihat air matanya.


Henry terus mengajak Adel berbicara tentang kenangan indah mereka. Dan juga tentang cita-cita masa depan. Meski perasaannya sendiri tak karuan, Henry hanya bisa melakukan hal itu untuk menyemangati istrinya.


Hingga terdengar suara tangis bayi, tak terlalu kencang. Karena kondisinya memang masih lemah. Berat badannya hanya 1.8 kg. Karena memang belum waktunya untuk dilahirkan, tetapi demi keselamatan keduanya, jadwal operasi terpaksa dimajukan.


Bayi itu segera dibersihkan dan dibawa ke ruangan khusus bayi. Detak jantung bayi lemah, ia bahkan bergantung pada alat untuk bernafas. Bayi itu masih dalam pengawasan khusus di inkubator untuk menjaga suhu tetap hangat.


"Sayang, anak kita sudah lahir." ucap Henry dengan penuh semangat.


Adel tersenyum, ia juga bisa mendengar suara bayinya menangis. Tetapi mulutnya serasa terkunci, ia kesulitan untuk mengucapkan sepatah katapun. Bahkan untuk membuka mulutnya rasanya sangat berat.


"Sayang, Kamu harus selamat. Kamu gak boleh tinggalin Aku ya." Henry mengguncang bahu Adel pelan, Adel masih membuka matanya, tetapi tak merespon ucapan Henry.


"Dokter, dokter bagaiman istri Saya? Kenapa dia diam saja." Henry memanggil dokter, dan membawanya untuk melihat kondisi Adel. Hanya air mata yang menetes di wajah istrinya. Adel memejamkan matanya perlahan.


"Sayanggg, bangunlah! Kau sudah janji padaku. Aku akan marah jika Kau tak menepati janjimu." Henry tak dapat lagi menahan perasaaanya melihat kondisi Adel.


"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda tunggu diluar, Kami akan menangani ini." ucap Dokter Alvin yang juga ada disana.


"Tolong menurutlah. Pasien harus segera ditangani." Akhirnya Henry hanya bisa menurut. Ia membuka pintu dengan wajah lesu, tak lagi dia pedulikan penampilannya.


"Bagaiamana?" tanya Mommy.


"Adel Mom, Huuuhuuu... Aku takut Mom." Henry terduduk dilantai, Arga dan Tuan Abimanyu memapah Henry duduk di tempat duduk yang tersedia.


"Son, Kau tenanglah! Daddy yakin Adel wanita yang kuat." Tuan Abimanyu berusaha menguatkan Henry. Ia bahkan belum melihat bayi mereka, hanya suara tangisannya yang terdengar lemah. Dan sekarang, istrinya juga tak sadarkan diri.


Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel kembali melihat putranya menangis, terpuruk. Sangat terpukul dengan kejadian yang dialaminya. Arga hanya bisa menyemangati Henry, bukan hal yang mudah baginya untuk menghadapi semua ini. Tetapi inilah yang Tuhan gariskan untuk rumah tangganya.


"Aku yakin Adel wanita yang kuat, ia pasti bisa melewati masa kritisnya." Arga menapuk bahu Henry, menyalurkan semangat untuknya.


Henry hanya bisa merenung, merenungi semua kejadian demi kejadian. Namun Henry tersentak saat melihat sosok wanita yang tak asing baginya masuk keruangan Adel ditangani. Wanita itu tersenyum, namun senyum yang sangat mengerikan.


Tak lama setelah itu, Tiga orang dokter yang menangani Adel keluar bersamaan. Dipimpin Dokter Alvin sebagai spesialis bedah. Luka sayatan telah selesai dijahit dan dibersihkan, tetapi Adel dinyatakan koma. Ia masih harus dipantau, hanya dipindahkan keruang ICU. Dan hanya seorang saja yang boleh menemaninya.

__ADS_1


Henry tentu saja yang menemaninya, terdengar alat pendeteksi yang berbunyi. Sangat menyayat hati melihat orang yang dicintai terbaring tak berdaya, dan hidup mereka bergantung pada alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Tuhan, tolong kembalikan Adel. Kembalikan dia padaku, kembalikan dia pada Kami. Kasihanilah Aku dan anak-anak ku. Jangan biarkan Kami kehilangan sosok ibu lagi." Henry menggenggam erat jemari Adel dan menempelkannya diwajahnya.


"Gak bisa, Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan untukmu." suara seorang wanita terdengar ditelinganya. Henry merasa suasana menjadi mencekam.


Ia melirik ke kiri dan kanan, namun tak ada siapapun disana. Hanya ada dia dan istrinya yang masih belum juga membuka matanya. Suara pintu terbuka, ternyata suster yang membuka pintu untuk memantau perkembangan keadaan Adel.


Ia bersama seorang dokter wanita memeriksa keadaan Adel. Perlahan Adel membuka matanya, Henry bisa bernafas lega. Ketakutannya tak terjadi, hanya perasaannya saja yang berlebihan.


"Nyonya mari ikut dengan Saya." ucap dokter wanita yang menutupi wajahnya dengan masker kesehatan.


"Gak, gak bisa. Dia baru saja bangun. Kamu gak boleh membawanya." Henry mencekal tangan Adel agar tak mengikuti wanita itu.


"Dad, Aku mau ikut dengannya." Adel melepaskan tangan Henry, ia mengikuti dua orang wanita tadi.


"Tolong jangan bawa istri Saya, Saya mohon." Henry memohon dihadapan dokter wanita itu.


"Semuanya sudah terlambat." ia membuka masker yang menutupi wajahnya, Henry berjalan mindur ia sangat terkejut melihat siapa orang itu. Metta, mendiang istrinya yang telah lama meninggalkannya.


"Ka-kamu, Ka-mu mau apa? jangan bawa Adel." ucap Henry dengan tubuh gemetar. Bagaimana orang yang sudah meninggal bisa kembali.


"Hahaha... Dia mau ikut denganku. Jadi Kamu tak bisa menghalangi Kami." Metta kembali meraih tangan Adel, mereka keluar ruangan dan pergi meninggalkan Henry begitu saja.


"Jangan, jangan bawa dia. Cepat hentikan dia, jangan biarkan dia membawa istriku." Henry berteriak pada Mom dan Daddy nya yang menunggu di luar, anehnya hanya Henry yang bisa melihatnya.


"Dia siapa?" Tuan Abimanyu mengernyit heran, tak ada siapapun di lorong itu. Tetapi Henry masih bisa melihatnya, Metta menggandeng tangan Adel sambil menyeringai.


"Itu Dad, Metta. Dia, dia membawa Adel pergi, cepat hentikan dia Dad." teriak Henry, ia berusaha mengejar, tetapi ditahan Tuan Abimanyu.


"Son, bangunlah! Kau pasti bermimpi, tak ada siapapun disana." Tuan Abimanyu melirik ke kiri dan kanan, kosong. Tak ada siapapun, bahkan semenjak Henry masuk, ia tak melihat siapapun masuk ruangan itu.


"Mom juga gak lihat siapa-siapa." ucap Nyonya Amel.


"Huuhuuu... Jangannn... Jangan bawa istriku pergi. Aku mohon."


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2