Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Arga Dirgantara


__ADS_3

Haiii readers, mohon maaf apabila upnya lama, ada sedikit gangguan saat proses review.


 


 


Terima Kasih yang masih setia menanti baby El, ikuti terus ya.


 


 


Semoga berkenan meninggalkan jejak like, komen dan Vote.


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


"Kau lupa? Bahkan aku ingin kau mendengarku memanggil kakak, seperti waktu kita kecil dulu." Henry menerawang, membayangkan masa kecilnya bersama Arga.


 


 


"Tu... Maksudku" Arga menggaruk kepalanya yang ku rasa tak gatal.


 


 


"Lupakan masalah kantor, saat ini aku hanya butuh seorang teman, bukan tangan kanan. Bukan pula ahli IT, apalagi bawahan." Henry menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya.


 


 


"Dari kecil aku tak memiliki saudara, bahkan kedua orang tuaku, mereka tak ada waktu hanya untuk sekedar menemaniku bermain. Tetapi aku sangat senang, ketika Daddy mengajakmu dan paman pulang."


 


 


"Aku merasa tak sendiri lagi, dan ada Ama yang selalu menemaniku. Aku merasa sangat beruntung, aku tak menginginkan semua kemewahan yang aku dapatkan. Tetapi saat itu, aku merasa berharga, aku merasa memiliki keluarga."


 


 


Arga mengusap punggung Henry, begitu banyak beban yang ia tanggung. Dan sebagai manusia biasa, dia butuh melampiaskan semua keluh kesahnya. Arga mengerti itu, disaat dirinya merasa sendiri, Henry dan keluarganya yang memberi uluran tangan padanya.


 


 


Flash Back on


 


 


Ayah Arga hanyalah seorang pedagang koran, ibunya meninggal karena penyakit paru-paru yang diderita. Arga kecil, yang saat itu masih berusia 4 tahun, harus rela mengikuti sang ayah. Berjalan sepanjang jalan menjajakan koran.


 


 


Suatu hari, Tuan Abimanyu baru selesai meeting dengan koleganya. Dan karena lengah, ia kecopetan. Tuan Abimanyu berusaha mengejar, tetapi malah dia hampir celaka. Ada mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi. Beruntunglah ada ayah Arga yang menyelamatkannya.


 


 


"Tuan tidak apa-apa kan?" tanya Pak Pri, ayah Arga.


 


 


"Iya, terima kasih Bapak sudah menolong saya."


 


 


"Ayahhhh.. Huuuu huuu" Arga kecil menangis, menyusul ayahnya. Dan melihat siku dan lutut sang ayah berdarah.


 


 


"Heiii nak, ayah tak apa, jangan menagis" Pak Pri mengusap kepala Arga penuh sayang.


 


 


"Maafkan om ya, kita akan mengobati luka ayahmu" ucap Tuan Abimanyu.


 


 


"Arga jangan nagis lagi ya, kita beli es krim" Tuan Abimanyu membujuk Arga. Padahal dia sendiri tak pernah melakukan itu pada putranya.


 


 


"Benel ya om" tanya Arga polos.


 


 


"Ya, tapi kita obati dulu luka ayahmu." Arga mengangguk, mereka menuju klinik terdekat.


 


 


"Terima kasih Tuan, sudah mengobati luka saya."


 

__ADS_1


 


"Saya yang harus berterima kasih, kalau tidak ada Bapak, entah apa yang akan terjadi pada saya."


 


 


Sesuai janji, Tuan Abimanyu membelikan es krim untuk Arga. Tentu saja bocah itu sangat senang bukan main, es krim baginya adalah makanan mahal. Jadi Arga kecil hanya bisa membayangkan saja, pernah sekali ayah membelikannya, biasanya hanya mampu beli es dung dung. Sebagai es krim bagi Arga.


 


 


Mereka mengobrol panjang lebar, menanyakan ini dan itu. Sampai akhirnya Tuan Abimanyu menawarkan pekerjaan untuk Pak Pri.


 


 


"Apa Bapak mau kerja sama saya?" tanya Tuan Abimanyu.


 


 


"Kerja apa Tuan, saya hanya lulusan SD, dan tidak memiliki ketrampilan."


 


 


"Apa Bapak bisa menyetir mobil? Kebetulan saya sedang membutuhkan seorang supir." Ucap Tuan Abimanyu.


 


 


"Tetapi saya sudah lama tidak melakukannya Tuan, dulu saya pernah menyetir angkot. Tetapi sudah lama berhenti."


 


 


"Bapak bisa mencobanya, setelah luka Bapak sembuh. Dan ya Arga, om punya anak laki-laki. Usianya satu tahun diatasmu, apa kamu mau berteman dengannya?"


 


 


"Apa saya boleh belteman dengan anak Tuan?" Tanya Arga polos.


 


 


"Tentu saja, kamu anak yang baik."


 


 


Tuan Abimanyu membawa Arga dan Pak Pri pulang ke rumahnya. Saat itu Tuan Abimanyu belum sesukses sekarang, tetapi rumah yang mereka tempati cukup besar.


 


 


"Wahhh ayah lihat, lumahnya sepelti istana." Arga memandang kagum pada bangunan didepannya.


 


 


 


 


Tuan Abimanyu mengajak mereka masuk, Henry sedang disuapi pengasuhnya. Meskipun sudah berumur 5 tahun, tetapi Henry sangat manja, hanya untuk mencari perhatian kedua orang tuanya.


 


 


"Hai Son, lihatlah! Daddy bawa teman untukmu."


 


 


"Aku gak mau punya teman." Henry berlari menuju kamarnya.


 


 


"Kau sabarlah nak, Dia memang sulit beradaptasi dengan orang baru."


 


 


"Pak Pri, Arga, sebaiknya kalian istirahat dulu. Kalian pasti lelah, Bibi Mey akan menunjukkan kamar kalian." Tuan Abimanyu meninggalkan mereka, menyusul Henry ke kamarnya.


 


 


"Mari saya antar Tuan" ucap Bibi Mey.


 


 


Dua orang itu mengikuti Bibi Mey, menuju kamar tamu. Arga tampak sangat bahagia, melihat keadaan kamarnya. Dia juga diberikan baju ganti milik Henry. Tentu saja Arga kecil begitu bahagia.


 


 


Dikamar Henry, anak itu sedang menangis, kenapa Daddynya malah membawa anak lain pulang? Apa karena itu dia tak disayangi. Begitulah yang ada dalam benak Henry.


 


 


Namun kenyataanya malah sebaliknya, perlakuan Pak Pri pada Arga, membukakan hati Tuan Abimanyu. Bahwa selama ini dia hanya mengacuhkan Henry, padahal yang Henry butuhkan hanyalah kasih sayangnya.


 


 


Tuan Abimanyu masuk ke kamar Henry, dia duduk ditepi ranjang. Dengan tangan kaku, dia membelai kepala Henry. Merasa terusik, Henry mendongakkan kepalanya.


 

__ADS_1


 


"Son, maafkan Daddy ya, selama ini Dad selalu mengacuhkan mu. Maafkan Dad yang tak pernah ada waktu untukmu. Dad menyesal, Dad janji akan memperbaiki semuanya."


 


 


"Dad jahat, Dad gak sayang aku." Henry merajuk.


 


 


"Kau tahu, siapa yang Dad ajak kemari?" Henry hanya menggeleng.


 


 


"Ayah anak itu sudah menyelamatkan Dad, dan dia juga akan tinggal disini, menemanimu."


 


 


"Benarkah?" Henry dengan wajah yang berbinar. Prasangkanya ternyata salah, Daddy sangat menyayanginya. Dan anak itu tidak mengambil Daddy darinya.


 


 


"Yah tentu saja, apa kau mau berteman dengannya?"


 


 


"Yes Dad, I Will." Henry sangat senang, dia akan punya teman bermain, jadi tak akan kesepian lagi.


 


 


"Siapa namanya Dad?" Tanya Henry.


 


 


"Arga, Arga Dirgantara"


 


 


"Oke Dad, aku harus menemuinya sekarang, aku akan mengajaknya tidur disini."


 


 


"Besok saja, sejarang mereka harus beristirahat." Henry menurut saja, walaupun dia tak sabar menunggu besok.


 


 


Dan begitulah, Henry mulai berteman dengan Arga. Bahkan mereka sering tidur satu kamar. Saking senangnya, Henry selalu berbagi dengan Arga. Dia bahkan ingin dipanggil kakak, karena merasa umurnya lebih tua.


 


 


Henry menganggapnya adik, karena dari dulu dia menginginkan adik agar dia punya teman bermain. Tetapi Nyonya Amel tak lagi bisa melahirkan karena suatu alasan.


 


 


Flash Back Off


 


 


"Kak, ceritalah aku siap mendengarkannya" ucap Arga. Saat ini dia duduk disamping Henry.


 


 


"Kau memang saudaraku" Henry menepuk bahu Arga.


 


 


Namun bukannya bercerita, Henry malah menggoda Arga. Hanya itu yang Henry inginkan, kehidupan nyaman, bersama keluarganya.


 


 


"Kenapa malah menggodaku? Kalau tak ingin cerita maka aku lanjutkan hasil penyelidikan ku tadi." Arga memutar bola matanya malas.


 


 


"Kenapa kau terlihat seperti wanita, Hahahaa.... Dimana Arga yang bijaksana dan berwibawa itu?" Henry tertawa puas. Setidaknya hal itu membuat hatinya sedikit lega.


 


 


Aku senang melihatmu bisa tertawa, meskipun harus menurunkan harga diriku didepanmu. Aku tahu kau hanya pura pura tegar dihadapan semua orang. Tetapi hatimu sendiri berisi beban yang mungkin aku sendiri tak sanggup memikulnya.


 


 


"Aku ini Arga, saudara Henry, jadi bisa saja merajuk" ucapnya dengan wajah datar.


 


 


TBC


 


 


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2