Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-34


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Nyonya Amel jalan tergesa-gesa, tak sabar untuk melihat keadaan putri menantunya. Namun ia begitu malu saat mendapati keduanya dalam posisi yang membuat orang salah paham.


"Heii, apa yang kau lakukan padanya? Dia itu sednag sakit, apa kau tak dapat menahannya sebentar saja?" Nyonya Amel nyelong masuk, tanpa menunggu ia memelintir telinga putranya.


"Ampun Mom, ini salah paham. Gak seperti yang Mommy pikirkan." Henry mengaduh memegang telinganya yang memerah.


Adel terkikik melihat suaminya dianiaya Mommy nya sendiri. Namun dia juga tak tega Henry selalu dimarahi. "Benar Mom, kami tak melakukan apapun. Dia hanya membantuku."


"Membantu apa? Mommy sudah melihatnya sendiri. Jadi jangan kau coba untuk membelanya."


"Benar Mom, dia hanya membantuku minum obat." jawab Adel dengan mengacungkan dua jarinya.


Henry sedang menyuapi Adel obat, namun karena Adel tak mau meminum obatnya, Henry terpaksa menyuapinya dari mulut ke mulut. Saat itu Nyonya Amel masuk, dan mengira Henry akan melakukan sesuatu pada Adel.


"Kali ini Aku maafkan, awas kalau kau sampai membuat menantuku tambah sakit." ancam Nyonya Amel.


"Ga, sampai kapan kau akan berdiri disana?" Henry melirik Arga yang mematung didepan pintu yang masih terbuka setengahnya.


"Dimana El? bukankah kau tadi bersamanya?" tanya Nyonya Amel.


"Dibawah sama Wulan." jawab Arga singkat.


"Mom, ini rumah sakit, lagi pula El masih kecil. Jadi gak boleh masuk, terlebih disini banyak virus, gak baik buat kesehatannya." ujar Henry menjelaskan.


"Kenapa kamu dia kesini Ga?" ucap Adel.


"Tadi dia menangis minta ikut, Wulan juga ingin menemui mu." Arga pakaian ganti yang dibawanya. "Aku akan bergantian menjaga El." Arga pamit menemui Wulan.


Setelah Arga pergi, Henry segera berganti pakaan yang dibawakan Arga. "Hari sudah mulai sore, sebaiknya sekalian mandi untuk menyegarkan tubuh." gumam Henry. Dia bergegas ke kamar mandi yang ada disana. Memberikan Mom dan istrinya untuk berdua.


"Apa yang kamu rasaka sekarang? Apa masih sakit?" tanya Nyonya Amel.


Adel sedikit takut, semoga Nyonya Amel tidak mengetahui yang sebenarnya. Adel dan Henry sudah sepakat merahasiakan keadaan Adel. Agar tak membuat keluarganya cemas dan menjadi beban pikiran.


"Emmm.. Sudah lebih baik Mom." Adel berusaha memaksakan senyumnya.


"Lain kali jangan sampai telat makan, apalagi membiarkan lambung mu kosong. Kan kamu sendiri yang sakit."


Adel mengernyitkan keningnya. "Lambung Mom?"


"Jangan pura-pura lupa, kamu mau bohongin Mom? Henry sudah bilang padaku. Kalau lambung mu bermasalah, makanya kamu sampai pingsan." Nyonya Amel mengomel tanpa henti. Namun itulah bentuk kasih sayangnya pada Adel.


"Ah iya Mom. Hehe..." Adel mengusap dadanya perlahan.

__ADS_1


Syukurlah, aku kira Mommy benar-benar tahu keadaan ku.


Wulan membuka pintu perlahan setelah mengetuk pintu. Dia berjalan menuju samping ranjang yang ditempati Adel. "Adel, kamu sudah lebih baik? kau membuat ku takut."


"Seperti yang kau lihat, Aku baik-baik aja kan."


"Baik apanya? kalau baik gak akan pingsan."


"Dimana El?" Adel mengalihkan pembicaraan. Tak ingin lebih jauh lagi membahas masalah penyakitnya.


"Kau sudah tahu jawabannya kan?" ucap Nyonya Amel.


"Ya kan lebih baik memastikan Mom. Aku sudah merindukan nya." Adel tersenyum, membayangkan tingkah El yang semakin hari selalu ada saja yang membuatnya tertawa.


Ketiga wanita itu saling melempar candaan, tak lama Henry sudah rapi dengan pakaian kasualnya. Dia ingin segera menemui El, lagi pula Adel ada yang menemani saat ini.


Ibu Sari baru saja datang bersama Tuan Wira, disusul Tuan Abimanyu. "Mau kemana Son?" Tuan Abimanyu melirik Henry yang sudah rapi.


"Aku ingin menemani El sebentar Dad, semuanya aku titip istriku ya." Henry mengecup kening Adel sekilas.


"Ih malu, banyak orang disini." ucap Adel setengah berbisik.


"Berarti kalau gak banyak orang mau ya." ucap Henry menggoda. Sehingga dia harus mendapat cubitan dipinggangnya.


"Awww, mau lagi dong." Henry menyeringai, mengabaikan beberapa pasang mata yang mengawasinya. "Oke, oke aku gak ganggu lagi." Henry mengangkat kedua tangannya, berjalan mundur dan menjauh dari ruangan.


Nyonya Amel dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Melihat perlakuan Henry pada Adel.


Sebenarnya Adel meminta pulang, namun dokter menyarankan agar menginap. Untuk memastikan keadaanya benar-benar baik. Henry juga tak ingin terjadi kejadian buruk lagi jika Adel memaksa pulang.


Henry menemui El di taman bermain yang berada tepat disamping rumah sakit. Bocah gembul itu sedang mengoceh bersama Arga. "Papa, mau itu." El menunjuk balon air yang dijajakan keliling.


"Nanti kena mata sakit, yang lain aja ya." bujuk Arga.


"Nooo... El mau itu." El memaksa dengan menarik celana Arga.


"Hai sayang, ada apa? hmm.." Henry mengagetkan El dengan memeluknya dari belakang.


Kau datang tepat waktu, kalau tidak aku gak tahu lagi bagaimana menghadapi putra mu ini.


El segera berbalik dan bergelayut dileher Henry. "Daddyyy... muachhh..." ia juga membalas kecupan Daddy nya.


"Mamaa..." teriaknya saat melihat Wulan.


"Dad, Mami mana? dak ada?" El celingukan melihat sekeliling.


"Mami..." Henry tak tahu harus mencari alasan apa.

__ADS_1


"Mami lagi bertemu om dokter, kan disini ada Mama." ucap Wulan, dia mengajak El bermain perosotan yang ada ditaman.


"Mau cama Papa Ga."


"Ga, dia maunya sama kamu." Henry mendorong Arga yang masih mematung.


"Daddy dak itut?"


"Daddy mau lihat Mami dulu ya. El jangan nakal main sama Mama, sama Papa Arga." Henry mengelus kepala El yang ada di gendongan Wulan.


"Otey, Dah Daddy..." El melambaikan tangannya.


"Bye sayang... kiss bye."


"Muachhh." El menirukan gaya Daddynya.


"Ga, malam ini menginaplah dirumah, temani El dan Wulan. Sepertinya malam ini aku harus menginap di rumah sakit." Henry menepuk bahu Arga. "Aku mengandalkan mu." Henry mengedipkan sebelah matanya.


El, kau bocah mak comblang. Sekarang harus bisa menyatukan Mama dan Papa mu.


Henry kembali ke kamar Adel dirawat. Semuanya masih ada disana. "Mom, sebaiknya malam ini temani El saja. Tapi aku juga sudah menyuruh Arga menginap untuk berjaga-jaga."


"Tapi Mommy mau disini." Nyonya Amel menolak


"Henry benar Mom, kau temani saja El." Tuan Abimanyu membujuk istrinya.


"Ibu sama Eyang juga sebaiknya istirahat dirumah. Adel sudah gak apa-apa." ucap Adel pada Ibunya.


"Bagaimana kalau kita temani cucu kita saja?" Nyonya Amel menggandeng lengan Ibu Sari.


"Tapi kamu beneran sudah gak sakit lagi?" Ibu Sari mencemaskan Adel yang wajahnya masih pucat.


"Benar kata Ibu mu, Eyang disini saja." ucap Tuan Wira.


"Iya Ibu, Eyang lagi pula disini banyak dokter. Dan ada suami yang menemani ku."


"Iya yang sudah punya suami. Sekarang semuanya suami." sindir Nyonya Amel.


"Harus itu Mom. Itu kan tugasku menjaga istri ku." ucap Henry dengan bangga.


"Kalau kau menjaganya dengan baik, dia gak akan sakit." Nyonya Amel mencubit lengan putranya.


"Iya-iya, ini salahku."


"Sebaiknya kita semua pulang saja. Mereka tak membutuhkan kita disini." Tuan Wira berdiri, diikuti Tuan Abimanyu dan kedua nenek.


Namun hal itu hanya candaan semata, mereka tertawa bersama. Namun senang dengan perlakuan Henry yang begitu menyayangi istrinya.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2