
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Mama, mau mam." El memelas meminta makan, padahal dia baru saja menghabiskan satu cup es krim tadi.
"El mau makan? sebentar ya." Wulan mengelus wajah El dengan sebelah tangannya.
"Dak mau, maunya cekalang."
"Ya sudah, kita makan ya." Arga memutar balik, menuju restoran cepat saji yang tak jauh dari sana.
"Emmm... Jangan ditempat seperti ini." ucap Wulan.
"Ini yang paling dekat."
"Iya tapi gak baik buat kesehatan El. Lebih baik restoran yang...."
"Gak apa, gak tiap hari juga." ucap Arga datar, dia sudah membuka pintu mobilnya.
"Mau gak?" Akhrinya Wulan mengiyakan, lagi pula sudah hampir gelap, El juga sudah mengantuk karena tadi siang hanya tidur sebentar.
"Silahkan, Tuan, Nyonya, untuk berapa orang?"
"Tiga." jawab Arga singkat.
"Disebelah sana, sekalian dekat tempat bermain untuk anaknya." seorang pramusaji menunjukkan meja kosong diujung.
"Dia bu... Awww..." Arga menginjak kakinyan membuat Wulan mengaduh.
"Jangan banyak bicara, cepat." Arga mengambil alih El, dan membawanye kearena bermain.
"Yeee main..." ucap El kegirangan.
"Katanya mau mam? kalau sudah main kita makan ya." bujuk Arga.Bocah gembul itu hanya mengiyakan.
"Sok lembut, dasar menyebalkan." Wulan menggerutu.
"Jangan mengatai ku." Arga melirik Wulan sisnis.
"Terserah aku lah." Wulan duduk dikursi yang disediakan. Sedangkan Arga menmani El bermain.
"Dari kemari dia cuekin aku. Sekarang bukanya minta malah sok imut. Huh." Wulan masih ngedumel sendiri.
Makanan yang mereka pesan segera datang, membuat El harus menyudahi bermain. "Kita makan dulu, tapi sebelum itu, kita cuci tangan dulu." Arga membawa El ke wastafel yang tersedia.
"Maaf." ucap seseorang yang tak sengaja menabrak Arga. Namun dia tak begitu memperhatikan, karena sibuk dengan El.
__ADS_1
"Hmmm..."
Kamu mengabaikan peringatan ku ya? tunggu saja nanti, aku akan membuatmu menyerahkan dirimu padaku. Jangan salahkan aku jika nanti aku harus memaksa mu.
Seringai muncul diwajahnya, orang itu duduk agak jauh dari tempat Wulan untuk mengawasi.
Wulan sibuk menyuapi El, sehingga melupakan makanan sendiri. Arga hampir selesai makan, melirik piring Wulan yang tak tersentuh sama sekali.
"Apa ini?" tanya Wulan saat menyadari sendok yang melayang di depan wajahnya.
"Jangan Geer, kamu itu lelet, ini sudah malam." Arga mengalihkan pandangannya kearah lain. Dengan enggan Wulan mengambil suapan Arga.
"Cepat makan, kaisan ini makanan. Jangan disia-siakan." Arga kembali melahap makanan dipiringnya.
"El mau itu Pa."
"Ini pedas sayang, sini sama Papa." Arga mengulurkan tangannya. Dia sudah selesai makan, mengajak El bermain dipangkuannya, dan membiarkan Wulan makan dengan tenang.
"Uhukkk uhukkk.."
"Mama napa?"
Wulan mengangkat tangannya, ingin berbicara namun tak bisa. Wajah Wulan memerah karena tersedak.
Arga mengyodorkan segelas air putih yang sudah ia minum sebelumnya. Dia segera berdiri dan mengusap punggung Wulan. Begitupun El yang digendong Arga, dia menirukan apa yang dilakukan Arga.
Dia ini benar-benar ingin aku mati ya? tadi menyuruhku cepat. Sekarang malah mengatai ku kelaparan. Huh apa maunya sih manusia satu ini.
Wulan telah menghabiskan minuman hingga tersisa setengahnya. Dia baru menyadari bahwa ia minum dari gelas yang sama dengan Arga. "Kau memberikan ku minuman sisa?" ucap Wulan kesal.
"Aku kan refleks, mana sempat memilih gelas." Arga mengelak. "Iya kan El? kita tos dulu."
"Tos."
Aku biarkan kalian bahagia sejenak, dan lihat apa yang bisa aku lakukan padamu.
Ada beberapa pengunjung yang membicarakan mereka. "Suaminya sangat perhatian ya, beruntung banget istrinya." ucap seseorang yang duduk dibelakang kursi Wulan.
Beruntung dari mananya? yang ada aku hampir mati tersedak tadi.
"Sudah makannya?" Arga melirik makanan yang masih tersisa setengah dipiring Wulan.
"Selera makan ku hilang gara-gara kamu." ucap Wulan ketus.
"Ya sudah kita pulang." Arga meninggalkan Wulan sendirian. Tak lupa membayarnya pada pelayan.
"Bisa gak sih pelan dikit jalannya?" Wulan mengikuti Arga dengan sedikit berlari. Dia harus menyusul langkah panjang Arga.
__ADS_1
"Jedug." Wulan menabrak tubuh tegap Arga. Yang berhenti didepannya.
"Kamu kalau jalan itu matanya lihat kejalan. Jangan melamun." Arga menyentil kening Wulan.
"Sakit tau." Wulan mengusap keningnya yang memerah.
Tanpa bicara, Arga menyerahkan El pada Wulan. Dia berbalik membuka pintu mobil untuk Wulan, setelah Wulan masuk, Arga memutar dan menjalankan mobil nya menuju mansion Henry.
Hari sudah malam, saat Wulan dan Arga sampai dirumah. Nyonya Amel dan Ibu Sari sudah menunggu mereka di meja makan.
"Kalian dari mana saja? jam segini baru sampai dirumah." tanya Nyonya Amel menarik kursi di hadapannya.
"Maaf Nya, kami mengajak El makan diluar untuk menghiburnya." ucap Arga membawa El dalam gendongannya.
"Iya, maaf kami sudah makan diluar." ucap Wulan merasa tak enak hati. Dia mengikuti Arga membawa perlengkapan El.
"Ya sudah, bawa El keatas. Lagi pula dia sudah tidur."
"Baik Nya, kami permisi." Arga berjalan beriringan bersama Wulan, menuju kamar El.
Arga merebahkan tubuh El perlahan, supaya tak membangunkannya. Wulan menyiapkan air hangat dan handuk untuk lap tubuh El. Dia juga mengganti baju El dengan pakaian yang lebih hangat. Sekarang musim hujan cuaca lebih dingin dari biasanya.
Wulan mengira Arga sudah keluar, dia merebahkan tubuhnya sejenak. Kemudian melepas atasan kemeja yang dikenakan. Menyisakan tanktop berwarna merah muda.
"Aaaaaa... Wulannn apa yang kau lakukan? cepat pakai bajumu..." Arga segera berbalik badan dan menutupi wajahnya. Dia sengaja menunggu Wulan dibalkon kamar. Ada yang perlu dia bicarakan dengannya.
Wulan ikut berteriak, sangat terkejut dengan Arga yang datang tiba-tiba. "Aaaaa... Dasar mesum, apa yang kau lakukan disini?" Wulan mengenakan kembali kemejanya.
Wulan mendekati Arga, dia menunjuk Arga tepat di dadanya. "Kamu sejak kapan disini? sengaja mau berbuat mesum ya?"
"Sejak tadi, aku sengaja menunggu mu...."
"Dasar mesum, bren****, ca***..."Wulan memukuli Arga bertubi-tubi. Untung saja El tak bergemimg sedikit pun.
Arga meraih tangan Wulan, membawanya dalam pelukannya. Wulan meronta, namun Arga tak melepaskannya, justru semakin mengeratkan pelukannya. "Diam sebentar, aku ingin bicara sebentar saja." Wulan mulai melemah, tak lagi memberontak.
"Ya udah, tapi gak usah begini juga." Wulan menjauhkan tubuhnya dengan mendorong Arga. Mereka duduk dibalkon kamar, cuaca cukup dingin diluar. Rupanya rintik hujan mulai turun.
"Cepat bicara aku ngantuk." Wulan mendaratkan tubuhnya dikursi yang di dekat pembatas.
"Lan, bisakah kita mulai lagi semuanya dari awal?" Arga duduk diseberang, sehingga mereka saling berhadapan dengan meja bundar sebagai pembatasnya.
"Gak bisa." jawab Wulan refleks.
Arga sudah menduga, Wulan akan menjawab demikian. Arga hanya bisa menghela nafas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening. Masalahnya dengan Wulan tak akan pernah selesai jika keduanya masih mementingkan ego masing-masing.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH