
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Siapa yang mengizinkan kalian? Aku gak setuju." Lelaki paruh baya datang dengan satu tangan dipinggang dan satu lainnya mengacungkan celurit yang tadi dia sembunyikan dibalik bajunya. Matanya merah, sepertinya dia dalam pemgaruh minuman keras.
"Jo." Henry melirik Bejo yang bersiap dibelakangnya. Bejo hanya mengangguk, mengerti apa yang seharusnya dia lakukan saat ini.
Bejo mundur perlahan, beberapa anak buahnya sudah bersiap dalam posisi masing-masing. Hanya dengan jentikan jari Bejo. Seluruh anak buahnya telah berkumpul mengepung tempat itu.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan lagi, Bejo telah mempersiapkan pengawal bayangan untuk melindungi mereka. Dan benar saja, sesuai perkiraan Bejo. Orang-orang tersebut berguna disaat seperti ini.
"Lan, ajak Mommy dan semua wanita masuk." Bisik Arga yang berdiri didepan Wulan.
"Maaf Ga, ini semua urusan keluarga ku. Lebih baik kami disini." ucap Wulan, meski tubuhnya gemetar memeluk ibu dan adiknya, tetapi Wulan tetap bersikeras.
"Sayang, bawa El pergi diam-diam." Henry yang sedari tadi menutupi wajah El dengan tangannya. Bocah itu mulai memberontak.
"Daddy, El dak liat." ucapnya berusaha menyingkirkan tangan Daddy.
"Sayang, kita main petak umpet dulu ya." Adel membujuk El.
"Otey, Daddy cali El ya."
"Iya sayang, anak pintar." Henry berusaha tenang, mengusap kepala El dan mulai mendekati Daddy dan Arga.
Tuan Abimanyu mengangguk, bersama Henry. Nyonya Amel bersama Ama dan Adel. Serta semua wanita yang ada disana mulai mundur perlahan.
"Hei mau kemana kalian?" teriak Ayah Wulan, saat menyadari Wulan dan yang lain mulai menjauh.
"Kita bisa bicarakan baik-baik." Arga mulai maju sedikit demi sedikit untuk mengalihkan perhatian.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya gak setuju anak saya menikah dengan orang lain. Saya punya calon yang lebih baik. Hahahaa...." seperti orang kesurupan. Ayah Wulan mulai mengamuk, memecahkan barang-barang yang ada disekitarnya.
"Baik, saya akan mundur. Tolong Bapak berhenti." Arga mengangkat kedua tangannya. Dan berjalan menjauh.
"Bapak tolong tenang ya." Henry ikut bicara.
"Tenang-tenang katamu." Ayah Wulan menatap Henry nyalang.
"Saya akan berikan apa yang Bapak inginkan." Tuan Abimanyu membuka koper yang telah Bejo siapkan.
"Hahahaa... Kalian memang pantas menjadi besan." Ayah Wulan sibuk membuka koper, tetapi dengan celurit ditangannya. Bejo telah bersiap dibelakangnya. Dengan sekali pukul, Ayah Wulan terkapar dilantai. "Pranggg" suara celurit jatuh bersama tubuhnya.
"Tuan apa yang harus kita lakukan?" tanya Bejo dan anak buahnya.
"Bawa kantor polisi." ucap Tuan Abimanyu.
Diruangn lain, Wulan dan Ibu Yuli tak henti menangis. Mereka sangat malu atas perbuatan Ayahnya. Wulan menatap Ayahnya yang tak bergerak sedikitpun. Begitu banyak kebencian dalam dirinya.
__ADS_1
Semula Wulan mengira dengan menuruti keinginan Ayahnya, berharap sang Ayah akan berubah dari kebiasaan buruknya. Tetapi bukannya berubah malah semakin menjadi.
"Huuhuuu... Ibu, maafkan Wulan Bu."
"Kamu gak perlu minta maaf. Seharusnya Ibu yang minta maaf padamu."
"Kakak, Ibu." Lintang turut sedih, kejadian ini benar-benar menampar mereka. Bahkan Ibu Yuli mengurung diri dalam kamarnya bersama kedua putrinya.
Bibi dan sepupu Wulan hanya bisa menggunjing, dan ada yang pergi tanpa pamit.
"Maaf Tuan-Tuan, Saya sungguh minta maaf atas kejadian ini." Pak Sholeh, selaku perwakilan dari keluarga Wulan meminta maaf atas kejadian ini. Beliau juga adik kandung Ayah Wulan. Dan dia satu-satu nya orang masih baik terhadap Wulan dan keluarganya. "Saya juga minta maaf, karena perbuatan saudara Saya. Yang telah membuat semuanya menjadi takut."
"Ini semua diluar dugaan, Bapak nggak perlu minta maaf." Tuan Abimanyu sudah mengetahui keadaan orang tua Wulan. Arga telah menceritakan semuanya sebelum datang kesini. Namun untuk mengambil tindakan, semua dilakukan dengan perencanaan.
Ayah Wulan sudah sering keluar masuk sel, dengan kasus yang berbeda-beda. Perjudian, minuman keras, bahkan jambret. Namun hal itu tak membuatnya jera, malah semakin menjadi. Dengan menjual anaknya sendiri demi uang.
Sementara Adel dan Nyonya Amel, membawa Ama dan El dihalaman kecil disamping rumah Wulan. El harus dijauhkan dari sesuatu yang tak pantas dilihatnya.
"Mami, liat nih." El menunjukkan binatang ditangannya.
"Apa itu sayang?" ucap Ama.
"Nahhh...." El membuka genggaman tangannya, Ada kumbang kecil yang baru saja dia tangkap di dahan kecil.
"Mom, Ama, kita masuk kedalam yuk, sepertinya sudah selesai." ajak Adel.
"Kita lihat Mama Wulan dulu ya." bujuk Adel.
"Dak, El mau dicini." Akhirnya Adel mengalah, Nyonya Amel dan Ama kembali bergabung dengan yang lain diruang tamu. Namun Wulan dan Ibunya tak kunjung datang.
"Ga, dimana Wulan?" tanya Henry. Arga juga tak tahu Wulan dimana. Hingga salah seorang dari mereka memberi tahu bahwa Wulan dikamarnya.
"Aku butuh bantuan mu."Arga memelas. Henry mencari Adel, hanya dia yang bisa membujuk Wulan.
Adel menuju kamar Wulan, diantar oleh Bibi yang sehari-hari bekerja disana. Adel mengeyuk pintu, namun tak ada yang membukanya.
"Lan, ini aku Adel, tolong buka pintunya." Adel masih berusaha mengetuk pintu.
"Gak, kalian pergi." teriak Wulan dari dalam.
"Lan, please aku peelu bicara dengan mu."
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, pergi."
"Tolong dengarkan aku, sekali ini saja." Adel menunggu cukup lama, sampai Wulan membuka pintu dengan penampilan acak-acakan.
"Ikut aku, semuanya dibawah nungguin kamu Lan." Adel meraih tangan Wulan, namun segera ditepis.
"Aku malu, Aku gak sanggup bertemu mereka." buliran bening kembali menghiasi wajah Wulan.
__ADS_1
Adel mendesah, memang tak mudah bagi Wulan. Tetapi seberat apapun masalah itu, harus dihadapi bersama. "Kita perlu bicara berdua."
Akhirnya Wulan menurut, Wulan membawa Adel ke kamar adiknya. Mereka duduk berhadapan. Adel memeluk Wulan dan mengusap punggungnya yang semakin bergetar.
"Aku malu, Aku gak sanggup lagi bertemu mereka." ucap Wulan ditemgah isakannya.
"Lan, ini semua bukan kesalahn mu. Kamu gak perlu malu, Arga pasti ngerti."
"Arga ngerti, bagaimana dengan yang lain?"
"Mommy dan Daddy semuanya juga oasti mengerti keadaan kamu. Kita temui mereka ya." Adel merapikan rambut Wulan yang acak-acakan.
Setelah menunggu lama, akhirnya Adel berhasil membujuk Wulan, bersama Ibu dan adiknya, Wulan menemui Arga dan keluarganya.
"Ga ada yang mau Aku omongin."
"Aku juga."
"Saya minta maaf Tuan, atas perlakuan Ayah Saya. Dan Saya kembalikan cincin ini. Maaf Saya tidak bersedia menerimanya." Wulan berlari keluar, tanpa memperdulikan apapun. Perasaan sedih, marah dan malu bercampur menjadi satu.
"Lan, tunggu Aku." Arga berusaha mengejar Wulan. Masalah ini harus secepatnya diselesaikan, gak boleh ditunda lagi.
"Ga, lepas. Aku gak bisa, Aku gak layak buat kamu. Kamu bisa cari orang lain yang lebih baik dari ku." Wulan meronta saat Arga mendekap Wulan erat, bersama air matanya yang tak henti mengalir.
"Lan, kita masuk dulu ya." Arga membujuk Wulan, supaya lebih tenang.
"Aku malu Ga, sekarang Aku sadar siapa aku sebenarnya. Orang seperti ku gak pantas mendampingi kamu." Wulan semakin terisak, bersama tubuhnya yang semakin lemas.
"Wulan, gak ada yang lebih baik dari kamu. Aku akan tetap menerima kamu." Arga menjauhkan tubuhnya, sehingga mata keduanya beradu pandang.
Wulan menggelengkan kepalanya, matanya nanar menatap Arga, yang juga sedih melihat wanita yang dicintainya begitu terpuruk. "Maaf Ga, biarkan Aku sendiri." Wulan mendorong Arga perlahan.
"Tapi Lan..."
"Ga, biarkan Wulan menenangkan diri." ucap Adel yang menyusul bersama Henry.
"Huuu huuu hiks." Adel merapatkan tubuhnya pada Wulan. Pasti tak akan mudah bagi Wulan, namun saat ini Wulan harus berfikir lebih jauh.
"Tinggalkan kami Ga." Adel membawa Wulan duduk ditaman kecil didepan rumah Wulan. Dibawah pohon mangga yang tengah berbuah. Thor cuma mau bilang, hati-hati kejatuhan buah mangga. Hehehe...
"Ga, ikut aku." Henry menarik tangan arga menjauh.
"Tapi Wulan, Aku..."
Henry memijat pelipisnya, bagaimana harus menenangkan Arga? Mereka memang perlu bicara berdua tetapi tidak dalam kondisi seperti ini. "Ga, istriku pasti bisa menangani Wulan. Sekarang ikut Aku."
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1