
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Sampai di mansion, Arga sudah menunggu mereka. "Jo, ada perlu aku bicarakan." ucapnya melirik Bejo.
"Nanti saja bicaranya, aku beli kue banyak, kita makan bersama." Wulan menunjukkan bungkusan yang ditentengnya.
"Baiklah, kali ini kamu selamat, ingat urusan kita belum selesai." Arga setengah berbisik. Dan menyusul Wulan juga El yang lebih dulu meninggalkannya.
Tuan, kalau cemburu bilang dong. Jangan gensi, nanti keburu diambil orang tau rasa. Dan lagi, pake acara bohong segala. Haddeh, cinta orang kaya mereka rumit.
Bejo memarkirkan mobilnya, dia kembali ke paviliun karena tugasnya sudah selesai. Tugas selanjutnya menjemput Tuan dan Nona Muda nya.
Wulan menaruh kue yang baru saja dia beli dalam piring. Untuk dinikmati bersama Ama dan Nyonya Amel. "Ada apa Ama mencari ku?" tanya Wulan sambil meletakkan piring berisi kue.
"Siapa yang mencari mu?" Ama mengernyitkan keningnya. Kemudian melirik Arga yang sedikit memucat.
"Owh tadi ada yang menanyai mu, kangen katanya. Tapi kamu gak pulang-pulang." sahut Nyonya Amel yang melihat Arga mondar-mandir sejak tadi. "Iya kan Ga?"
Arga terbatuk, padahal baru saja mengunyah kue yang Wulan bawa. "Uhukk uhukkk..."
"Makanya sambil dihayati, apalagi Wulan yang beli." ledek Ama, membuat Arga semakin tersedak.
"Nih minum," Wulan membantu Arga menepuk punggungnya. Dan memberikan segelas air.
"Ciye yang perhatian, kita main diluar yuk El." Nyonya Amel mengajak El ke kamar bermain.
"Otey Oma, Ama dak itut?"
"Ah ya, ayo kita main."
"Hoyeee..." El bertepuk tangan karena senang.
"Loh, tunggu Mama El." Wulan hendak mengejar, tetapi ditahan Wulan. Tarikan tangan Arga membuat Wulan duduk dipangkuan Arga.
Daggg Digg Duggg
Tatapan keduanya saling terkunci, namun Wulan segera menjauhkan tubuhnya. Dan menyusul El bersama kedua nenek rempong.
"Ahahaa... wajahmu lucu sekali." Arga malah tertawa melihat Wulan yang tersipu.
...----------------...
Satu minggu berlalu, Arga sudah kembali bekerja, tetapi Nyonya Amel tak memperbolehkan Arga tinggal sendirian. Demi kebaikannya, Arga akhirnya setuju, terlebih dia menjadi lebih akrab dengan Wulan.
Namun tidak dengan Henry, dia sedikit mengacuhkan Adel. Meski begitu dia tetap bersikap baik jika diluar. Adel sendiri tak mengerti, bahkan sekarang dia tak lagi mau menyentuhnya. Terlebih lagi Henry selalu pulang larut, dengan alasan sibuk.
"Ga, apa Bejo sudah menjemputnya?" tanya Henry saat mereka selesai meeting diluar.
"Sudah, mungkin sekarang ini sudah sampai di mansion." jawab Arga membuntuti Henry.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian? kalian ada masalah?"
"Gak ada masalah, kita baik-baik aja. Kamu kan lihat sendiri." Henry masih mengelaknya.
Apa aku terlihat sedang marah padanya? Aku hanya tak ingin menyakitinya. Mungkin ini lebih baik.
Henry teringat dengan percakapannya dengan Dokter Alvin, mengenai keadaan Adel.
"Ada banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya mungkin penggunaan alat kontra**** atau juga bisa karena penyakit. Untuk lebih jelasnya sebaiknya periksa langsung pada dokter kandungan."
Noda merah yang Henry lihat, dia mengira Adel belum selesai datang bulan. Tetapi Adel memastikan bahwa sudah bersih sejak dua hari yang lalu.
Hal itu menjadi tanda tanya besar untuk Henry. Namun dia belum memastikan kebenarannya, karena belum menanyakan langsung pada Adel. Terlebih dia juga benar-benar sibuk karena akan kembali mengambil cuti untuk pergi berlibur.
Aku harus memastikan semuanya baik, baru bisa mengambil sikap padanya. Semoga saja tak ada hal buruk yang terjadi padanya. Aku harap kau tak melakukan apapun yang akan membuatku marah.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Henry setelah mereka sampai di HS Group. Masih ada yang harus Henry kerjakan disana, jadi sepulang meeting dia tak langsung pulang kerumah.
__ADS_1
"Beres, 90% sudah selesai tinggal finishing. Tepat waktu, selesai liburan sudah selesai." Arga memperlihatkan gambar yang dia minta dari orang kepercayaannya.
"Hmm..." Henry kembali berkutat dengan komputernya.
Seperti biasa Henry pulang larut, Adel masih setia menunggu kedatangan suaminya. Adel meletakkan gawainya begitu melihat Henry membuka pintu kamar.
"Biar aku bantu." Adel meraih tas kerja Henry, dan meletakkan dimeja. Tak lupa Adel menyiapkan semua keperluan Henry.
"Love you sayang." Henry mengecup kening Adel dan berlalu ke kamar mandi, sudah disiapkan air hangat untuknya. Begitupun pakaian tidur untuknya.
Apa dia sudah gak marah lagi? Kenapa aku merasa dia menjauhi ku?
"Dad, apa kau sudah makan?" tanya Adel setelah Henry selesai berpakaian.
"Hmm, tadi bareng Arga." Henry menyelimuti sebagian tubuhnya. Memejamkan matanya tanpa memperdulikan Adel yang masih terjaga.
"Apa aku ada salah sama mu?" tanya Adel, suaranya tercekat ditenggorokan. Dia tak bisa terus diam seperti ini.
"Apa kamu merasa ada salah sama aku?" Henry kembali membuka matanya. Menoleh pada Adel yang berkaca-kaca.
"Aku gak tau, kesalahan apa yang telah ku lakukan, tolong beritahu aku." Adel menundukkan kepalanya.
Henry mendesah pelan, meraih Adel dalam pelukannya. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" Henry mengangkat wajah Adel, namun Adel memalingkan wajahnya. Adel sedikit menegang, padahal Henry bertanya dengan lembut.
"Ti-tidak, aku tak berani." jawab Adel pelan.
"Ku harap kau tak pernah melakukannya." ucapan Henry pelan namun penuh penekanan. Membuat Adel ketakutan. "Apa aku menakutimu?"
Adel hanya menggelengkan kepalanya, Henry kembali memeluk Adel. "Tidurlah, ini sudah malam, sebagai gantinya besok temani aku kesuatu tempat."
"Kemana?" Adel mendongakkan kepalanya.
"Besok juga tau." Henry mengusap bahu Adel, yang bersandar pada dad bidangnya. Hingga Adel terlelap, Henry merebahkan diri disampingnya.
"Entah apa yang kamu sembunyikan dariku." gumam Henry mengecup puncuk kepala Adel lama.
Maaf Dad, aku memang bersalah padamu. Tapi aku harap kamu mengerti keputusan ku.
...----------------...
Keesokan paginya, Adel bangun lebih dulu, seperti biasa dia menyiapkan semua keperluan untuk dirinya dan suaminya.
"Dad, ayo bangun." Adel sudah rapi dengan pakaian kantornya. Celana bahan grey yang dipadukan dengan blazer warna senada dengan corak dibagian kerahnya. Menambah cantik penampilan Adel.
"Emm, sebentar lagi." Henry masih enggan membuka matanya.
"Katanya mau mengajakku kesuatu tempat, nanti kesiangan." Adel duduk disamping Henry.
"Iya sayang tapi aku masih ngantuk." ucap Henry manja, Adel hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Henry yang kembali manja padanya.
"Ya sudah tidur lagi, aku berangkat diantar Bejo aja." Adel beranjak dari duduknya, Henry seketika terduduk mencekal pergelangan tangan Adel.
"Jangan sampai itu terjadi, tunggu aku bersiap. Tak akan lama, kau harus menunggu ku." Henry berlari ke kamar mandi. Adel terkekeh sendiri, dia merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian Henry.
Ditengah kesibukannya, Adel mendengar dering ponsel milik Henry bergetar di atas nakas. Adel tak berani mengangkatnya. "Dad ada yang menghubungi mu." Adel sedikit berteriak.
"Angkat aja, aku sebentar lagi selesai."
Adel memperhatikan nama yang tertera dilayar, ada apa Dokter Alvin menghubungi suaminya sepagi ini? Apa Henry tak enak badan?
Adel memilih mengabaikan panggilan tersebut, dia memilih melanjutkan kegiatannya. Dan merias diri didepan cermin.
"Siapa sayang?" Henry yang baru selesai mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Adel mulai terbiasa dengan pemandangan ini. Tak lagi canggung seperti awal mereka tinggal satu kamar.
"Dokter Alvin."
"Ooo.. terus bilang apa?" Henry melanjutkan berpakaian.
"Gak tau." jawab Adel seadanya.
__ADS_1
"Loh, kenapa gak tau? dia bilang apa barusan?" Henry mendekati Adel dimeja rias.
"Aku gak angkat, jadi gak tau."
"Ya sudah, bantu aku pakaikan dasi." Henry berjongkok di depan Adel.
"Biasanya pakai sendiri juga bisa." Adel mendengus tapi melakukan apa yang diinginkan suaminya.
"Ini gak biasa, lagi pengin dimanja sama istri."
Ini orang kenapa lagi sih? semalam dia jutek, sekaramg manjanya minta ampun.
"Jangan kebanyakan mikir, yang dipikirin ada disini." Henry mencolek dagu Adel.
"Kamu ini sekarang hobi gombal." Adel masih fokus pada simpul dileher suaminya.
"Biarin, gombalin istri sendiri."
"Terserah, sudah selesai. Bergegaslah! kita sudah ditunggu untuk sarapan." Adel mendahului Henry menuju ruang makan, tak lupa membawa tas jinjingnya.
Seperti biasa, sarapan berlangsung khidmat, karena tak ingin El merajuk, Wulan memilih membawa El ke gazebo ditaman belakang. Atau bocah itu akan merengek ikut Mami dan Daddy nya.
"Jo, hari ini aku yang nyetir." ucap Henry yang membuka pintu kemudi.
"Tapi saya,..."
"Kamu antar Arga langsung ke kantor."
"Kalian mau kemana? memangnya gak ke kantor?" tanya Arga, mengernyitkan keningnya dengan sikap Henry yang sering berubah.
"Aku mau berduaan sama istri." ucapnya setengah berbisik.
"Iya iya, Tuan Bos." Arga mengalah, dia menaiki mobil miliknya. Tetapi Bejo yang menyetir, karena ada hal yang perlu Arga kerjakan. Diperjalanan, Arga fokus pada laptopnya.
"Hati-hati Nyonya." Henry dengan nada genit, Henry kembali memutar, duduk dikursi kemudi.
"Dasar Daddy El." Adel sedikit menyunggingkan senyumnya, dengan perlakuan Henry yang tak lagi acuh padanya.
"Dad ini bukan jwlan yang biasa kita lalui." Adel merasa heran, karena jalanan yang sekarang mereka lewati berlawanan dengan arah menuju kantor Wiranata.
"Iya, kan suprise." Henry melirik Adel sejenak, lalu kembali fokus pada setir kemudi.
Perasaanku gak enak, semoga tak ada hal yang mengkhawatirkan.
Sampailah mereka disebuah rumah sakit, Adel menatap heran suaminya. Apa Henry benaran sakit? begitulah pertanyaan ayang ada dalam benak Adel. Namun dia hanya diam mengikuti suaminya.
"Selamat pagi Tuan, Dokter Alvin sudah menunggu diruangannya." ucap resepsionis yang berjaga.
"Terima kasih." ucap Adel.
"Hmmm." Henry menggandeng tangan Adel yang mulai terasa dingin.
"Ada apa? tangan mu dingin sekali." Henry mengusap telapak tangan Adel dengan kedua tangannya. Mereka berada di lift menuju ruangan Dokter Alvin.
"Gak, mungkin ac disini terlalu dingin." Adel mencari alasan.
Henry langsung masuk ke ruangan Dokter Alvin, ternyata benar, disana Dokter Alvin sudah menunggunya bersama dua orang dokter wanita. Yang Henry yakini mereka adalah dokter kandungan, Salah satu diantaranya adalah yang menangani kasus Adel sebelumnya.
Adel benar-benar dibuat terkejut, dengan adanya tiga orang dokter dalam ruangan itu.
Dad, apa yang kamu rencanakan sebenarnya?
"Silahkan duduk Tuan, Nyonya." Dokter Alvin mempersilahkan keduanya duduk.
Wajah Adel semakin memucat, seperti tak ada aliran darah. Henry hanya melirik kesampingnya.
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan sayang?" ucap Henry pelan namun penuh penekanan.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH