
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Dua hari berlalu, namun baik Henry maupun Arga tak ada yang memberikan kabar pada Wulan ataupun Adel. Hanya tadi malam Henry mengubunginya. Mengatakan bahwa mereka baru saja kembali ke hotel setelah membicarakan proyek yang mereka tangani.
Hal itu membuat kedua wanita itu uring-uringan, terutama Adel. Biasanya Henry selalu memberikan kabar padanya, sesibuk apapun pasti meluangkan waktu utuknya.
"Apa Dia menghubungi mu?" tanya Adel pada Wulan yang baru saja menina bobokan El.
Adel mendesah frustasi, pesan darinya tak satupun yang dibalas. Tak biasanya Henry mengacuhkan dirinya seperti sekarang ini. "Hufffttt.... Sok sibuk." Adel meletakkan kasar benda pipih persegi panjang yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya.
"Kamu bilang sendiri mereka sedang sibuk, mungkin mereka sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Supaya cepat kembali kesini." Wulan menenangkan Adel, padahal dia sendiri juga gelisah. Hubungannya baru saja membaik, tak mungkin karena masalah ini membuatnya kembali renggang.
"Mungkin hanya perasaan ku saja Lan." Adel kembali ke kamarnya, melupakan benda pipih di atas sofa yang baru saja dia letakkan disana.
Adel duduk merenung, mengamati pantulan dirinya dicermin, bayangan-bayangan dalam mimpinya muncul dalam ingatannya. Hampir sama dengan keadaan sekarang, dimana Henry mengacuhkan dirinya dan ada seseorang yang menahannya disana. "Mikir apa sih Aku ini, mungkin hanya kebetulan." gumamnya dalam hati.
Wulan mengetuk pintu Adel berulang kali, namun tak juga ada jawaban. Sementara dering ponsel ditangannya terus bergetar.
"Sayang, maaf Aku baru bisa...."
"Ini Wulan, Adel ada di kamarnya." Wulan memotong ucapan Henry, tak ada salam atau basa-basi apapun. Namun, Wulan tercengang saat ada suara wanita disana.
"Lan, Wulan... tolong berikan pada Adel. Wulaaaannnnn..." Henry sedikit berteriak, karena suara bising disekitarnya.
"Ada apa Lan?" Wulan langsung menyodorkan benda ditangannya, tanpa berucap sepatah katapun. Dan langsung berbalik menuju kamarnya.
Adel mengernyitkan keningnya, melirik ponsel yang masih menyala, dengan panggilan yang masih terhubung. Namun hanya suara bising yang Adel dengar, berulang kali memanggil suaminya. Tetapi tak ada jawaban darinya.
"Berisik banget sih?" Adel mematikan panggilan sepihak. Menggerutu karena panggilan yang dia tunggu hanya menelan sebuah kekecewaan.
Adel terlelap dengan ponsel ditangannya.Tanpa berniat menghubungi suaminya kembali, lagi pula saat ini sudah larut malam. Waktunya istirahat, besok pagi-pagi sekali masih ada waktu.
...----------------...
Di Lombok, saat ini sudah tengah malam. Perbedaan waktu 1 jam dengan di Jakarta. Arga dan Henry menginap di kamar yang berbeda namun bersebelahan. Mereka baru saja tiba di hotel, setelah menghadiri jamuan makan malam bersama klien.
Pagi tadi, Henry dan Arga serta Adrian sudah harus berangkat ke lokasi proyek. Sampai sore hari, karena ada beberapa pengarahan yang harus Henry beserta team nya untuk menjelaskan desain yang mereka inginkan. Sedangkan ponsel Henry low baterai, membuatnya tak bisa menghubungi Adel.
Begitu membuka, banyak sekali pesan yang masuk. Namun belum sempat membalasnya, ponselnya mati karena kehabisa baterai. Arga sibuk bersama Adrian, Direktur perencanaan. Mereka tak ingin ada kesalahan sedikit pun dalam pembangunan ini.
"Ga, boleh pinjam ponsel mu?" ucap Henry, mereka dalam perjalanan kembali ke hotel. Namun Adrian langsung menuju bandara, tugasnya sudah selesai disini. Dan masih ada tugas lain yang menunggunya di Jakarta. Sehingga dia harus segera kembali ke Jakarta sore ini juga.
"Ya, seharian Aku juga gak sempat memegang ponsel ku." Arga mengeluarkan benda pipih dari saku celananya. Sayang sekali, dia mengalami hal yang sama dengan Henry. Baterai yang tersisa 2%, masih bisa mengirim pesan. Namun belum sempat terkirim, akhirnya juga berakhir.
"Hah, kenapa bisa samaan sih Ga?" Mereka berdua tertawa bersama. Menyesali kecerobohan keduanya.
__ADS_1
"Jangan lupa malam inj jamuan makan malam, jam 8 malam." ucap Arga mengingatkan. Mereka baru saja keluar dari lift, dan berisah di depan pintu kamar masing-masing.
"Sayang, maaf Aku terlali sibuk sampai mengabaikan mu." Henry mencharge ponselnya, membiarkannya di atas nakas dan berlalu untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket. Seharian berada di lapangan membuatnya lebih banyak menguras energi.
Henry merebahkan tubuhnya sejenak, namun setelah menyegarkan tubuhnya, membuat lelah menjadi kantuk yang tak tertahankan. Henry terlelap hingga suara ketukan pintu memekakan telinganya.
"Ya ampun Tuan Henry, jangan bilang Kamu baru saja bangun tidur?" Arga kesal melihat Henry dengan wajah bantalnya. Bahkan Henry hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya. "Bagaimana Kamu bisa tidur dengan keadaan seperti ini?" Arga nyelonong masuk, membiarkan Henry di depan pintu. Dia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang tertinggal di dunia mimpi.
"Tunggu sebentar, Aku akan bersiap-siap." Henry mencuci wajahnya, sekarang ini tubuhnya terasa lebih segar. Semalam dia tidur hingga larut malam, bahkan menjelang pagi. Dan pagi harinya harus pagi-pagi sekali bersiap menuju konstruksi.
Tanpa menunggu lama, Henry sudah rapi dengan pakaiannya. Saat memakai dasi, Henry kembali teringat dengan Adel, istrinya selalu membantunya membuatkan simpul dilehernya. "Jangab bengong, kita sudah terlambat." ucapan Arga menyentak lamunan Henry.
"Sayang tunggu Aku ya." Henry mengecup potret Adel yang teselip di dompetnya, foto mereka berdua saat di bandara waktu itu. Henry segera menyimpan dompet beserta ponselnya. Hanya jamuan makan malam, pasti tak akan sampai larut, masih ada waktu nanti untuk menghubungi istrinya.
"Sayanggg tunggu Aku ya..." Arga menirukan gaya bicara Henry, membuatnya harus mendapatkan jentikan jari di keningnya.
"Makanya buruan nikah, biar tau rasanya jauh dari istri." ucap Henry mendahului Arga yang mengaduh memegangi keningnya.
"Nikah, nikah. Akunya sibuk gini, gimana ada waktu buat ngurus nikah. Emangnya Kamu, tinggal bilang iya, nggak, jangan...." Arga menggerutu, seenaknya saja Henry berbicara.
"Argaaaa... Aku dengar apa yang Kamu bicarakan." Henry melirik tajam Arga yang disebelahnya. Mereka sedang menunggu lift untuk turun menuju roftop tempat jamuan diadakan.
"Memangnya kenapa kalau Kamu dengar?"
"Hah, terserah Kau sajalah! Kau ini sekarang jadi cerewet sekali. Atau Kamu benar-benar sedang jatuh cinta?" Henry menyeringai, menemukan kartu as Arga.
Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Ada dua orang lain yang akan menuju tempat yang sama dengan mereka. Arga dengan setia mengekori Henry, sampai di tempat jamuan makan malam. Ternyata sudah ada beberapa orang yang menunggunya, tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi.
"Silahkan, Tuan." seorang pelayan wanita mengarahkan Henry dan Arga menuju tempat duduknya.
Ternyata bukan hanya acara makan malam, mereka berpesta disana. Bahkan ada minuman alkohol dengan berbagai merek terkenal yang tersaji.
"Tuan mari bersulang, untuk kerja sama kita." Henry dan Arga terpaksa meminumnya sedikit. Henry sudah lama sekali tak menyentuh minuman memabukkan tersebut. Membuat tenggorokannya seperti terbakar, padahal dahulu dia bisa menghabiskan berbotol-botol anggur dalam satu malam.
Arga berusaha menjaga kesadarannya, dia harus mengawasi Henry jangan sampai mabuk. "Ga, Aku ke toilet sebentar." Arga hanya mengangguk, mengawasi Henry dari jauh. Hingga pandangannya terhalangi dinding pembatas disana.
"Tuan, boleh saya menemani Anda?" seorang wanita dengan pakaian cukup terbuka, terutama dibagian d*d* yqng menampakkan belahannya.
Wanita itu bergelayut manja, terus menempel pada Arga, membuatnya semakin geram. Dia mendorong wanita itu hingga jatuh terduduk di kursi sebelahnya. "Tolong jaga sikap Anda." ucap Arga, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tak terpancing amarah.
Namun wanita itu menarik tangan Arga sehingha mereka dalam posisi yang sulit diartikan. Arga berada diatas wanita itu. "Arga Dirgantara." Henry dengan nada tinggi, namun suara bising dari musik yang menggema tak mengalihkan perhatian orang yang ada disana.
Deg! Deg!
Arga segera menjauhkan dirinya, Ketika Henry sudah memanggilnya dengan nama lengkapnya, sudah dipastikan tak akan baik untuknya.
"Ada yang bisa Kamu jelaskan?" Arga sedikit gugup, bagaimanapun posisinya saat itu tak menguntungkan sama sekali untuk berkilah.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan, Dia yang berusaha merayu ku." Arga menatap nyalang wanita yang duduk di depannya. Namun sebaliknya, wanita itu berusaha memelas. Menyatakan bahwa Arga yang bersalah.
"Kamu tahu Aku seperti apa? Jadi Aku gak mungkin melakukan hal yang bodoh seperti itu."
"Maaf Nona, sebaiknya Anda pergi sekarang." ucap Henry mengacungkan jari telunjuknya.
Dasar j****, Aku bukan tak percaya padamu Ga. Tetapi kondisi kita saat ini tak menguntungkan. Pasti ada yang sedang bermain-main dengan kita. Bagaimana jika orang lain yang tak mengerti kejadian yang sebenarnya? Mereka pasti salah paham.
Henry mengusap wajahnya kasar, Dia sengaja ke toilet untuk sekedar menghubungi Adel, tetapi malah Wulan yang menjawabnya. Dan saat itu juga, dia mendengar wanita yang sedang menangis.
Bulu kuduknya berdiri, merasa seram dengan situasi ini, terlebih sekarang hampir larut malam. "Apakah tadi manusia? tapi kalau iya sedang apa dia disini malam-malam begini?" Henry terus mencari asal suara, dengan ponsel dalam genggamannya dan panggilan masih terhubung.
"Tolong saya, Tuan. Anda harus menolong saya." Wanita itu langsung memeluk Henry, Henry terlonjak dan langsung menjauhkan orang itu.
"Si-siapa Kamu?" Henry sedikit bergetar, terlebih penerangan disana sedikit redup.
"Sa-saya..." wanita itu mendongakkan kepalanya. "Tuan tolong saya, ada orang jahat yang ingin membunuh saya." ucapnya berderai air mata.
Herny benar-bebar bingung dibuatnya, tempat ini sangat sepi. Dia takut ada niat jahat dari wanita itu, sedangkan para pengawal yang ditugaskan hanya mengawasi dari jauh dan itupun terlalu jauh dari tempatnya sekarang.
"Kamu manusia?" Henry berusaha menyentuh kepala orang itu. Nyata, benar-benar manusia, kepalanya hangat seperti dirinya.
"Huu huuu... Sekarang bukan saatnya bercanda Tuan." Wanita itu mencekal tangan Henry yang berniat meninggalkannya.
"Tolong bantu Saya, Tuan." Henry ragu-ragu penuh pertimbangan. Akhirnya dia memanggil seorang pelayan yag kebetulan melintas. "Hei, Kamu tolong wanita ini." ucap Henry pada laki-laki yang memakai pakaian pelayan, namun dia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Ba-baik Tuan."
"Tunggu, ada apa dengan wajah mu?" ucap Henry merasa heran.
"Sa-saya, Saya sedang flu, Tuan." ucapnya beralasan.
"Hmm. Ini untuk mu." Henry mengeluarkan beberapa lembar uang untuk pelayan yang telah membantunya. Dan meninggalkan mereka tanpa menaruh curiga sedikit pun. Henry kembali menemui Arga, tetapi matanya disuguhkan dengan pemandangan yang tak senonoh. Membuatnya murka dan segera menyeret Arga kembali ke kamarnya. Melupakan niatnya untuk mengubungi Adel.
Sementara itu, sepeninggal Henry, kedua orang itu malah tertawa puas. Menyeringai penuh kemenangan karena tugasnya berhasil.
"Hampir saja dia mengenali ku." ucap laki-laki yang menutupi wajahnya.
"Kau yang bodoh, kenapa gak langsung pergi?" ucap sang wanita.
"Tapi aku mendapatkan hasil yang memuaskan." Laki-laki itu membuka maskernya, menunjukkan kamera yang dia sembunyikan di gudang tempat menaruh alat kebersihan.
TBC
Yang punya kelebihan poin dan koinnya boleh dong disumbangkan untuk novel ini.
Jangan lupa balik ke cover dan kasih bintang lima untuk bayar author supaya lebih semangat lagi.
__ADS_1
TERIMA KASIH