Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Etra part 4


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Keesokan paginya, Ama sedang duduk di kursi rodanya. Ia begitu bersemangat untuk menemui cucu dan cicitnya. Tubuhnya terasa ringan untuk bergerak, tak seperti beberapa hari yang lalu. Ama hanya bisa berbaring di tempat tidurnya.


"Amaaa..." El segera berlari, menyergap oma buyutnya yang baru keluar dari kamar dibantu Nyonya Amel.


"El, sekarang sudah besar. Semakin tampan." Ama mencubit gemas wajah El. Serasa baru kemarin El lahir, sekarang sudah mandiri dan menjadi seorang kakak. Ama menangis haru, mengusap wajah cicit tampannya.


"Ama, El sudah jadi Kakak. Nah itu Al sama Arlan." El menunjuk Adel dan Wulan yang membawa Al dan Arlan mendekat.


"Iya, Sayang. Ayo kita lihat Baby Al dan Arlan." Ama dengan suara pelan. "Ayo, Mel. Antar Mami melihat mereka." Ama mendongakkan wajahnya, meminta Mom Amel untuk membawanya menemui kedua cicit yang hanya ia lihat dari gambar layar ponselnya.


Baby Al dan Arlan sedang asyik bermain bersama Adel dan Wulan, saat Ama datang menyapa. Tetapi Al memangis histeris saat melihat seorang nenek tua duduk diatasnya. "Huuuaaaaa.. Mamm..." Al langsung membenamkan wajahnya diceruk leher Mami Adel begitu Ama mendekat.


"Hei, Sayang. Ada apa?" Adel mengernyitkan keningnya. Saat ini dirinya duduk memunggungi arah datangnya Ama.


"Sepertinya Al takut denganku." Wajah Ama menjadi sendu, melihat Al ketakutan. Tetapi tidak dengan Arlan yang justru datang mendekati kursi roda yang di dorong Oma Amel.


"Ini pasti Arlan, cicitku yang pemberani." Ama mengusap pucuk kepala Arlan yang berpegangan pada kursi roda.


"El juga, El juga pemberani."


"Iya, kalian anak laki-laki harus pemberani. Kelak bisa melindungi keluarga jika sudah besar nanti." ucap Nyonya Amel.


"Ama, bagaimana keadaanmu?" Adel mencium punggung tangan Ama, bergantian dengan Wulan.


"Semoga semakin sehat setelah kedatangan kami, Ama." ujar Wulan.

__ADS_1


Adel mengarahkan wajah Al untuk melihat Ama. Al hanya melirik sekilas, dan kembali menyembunyikan wajahnya. "Sayang, Lihatlah! Itu Ama, Nenek Buyutmu." Tetapi Al tak juga beralih dari posisinya, justru kembali terisak. "Maaf, Ama. Dia ini sama seperti El kecil. Takut dengan orang yang baru ditemuinya." jelas Adel. Ia tentu merasa tak enak hati pada Ama, namun begitulah sikap Al yang sebenarnya. Tak mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya.


"Tak apa, iya kan, Mam." Ama mengangguk, ia dapat memahami keadaan Al. Yang pasti ia sudah sangat bahagia melihat keluarganya bisa berkumpul bersama.


"Wah, rame nih. Gak ngajak-ngajak." Henry bqru saja datang bersama Arga dan Tuan Abimanyu serta Tuan Edric. Mereka berempat baru saja kembali dari peternakan yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat tinggal Ama. Keluarga besan Tuan Edric adalah seorang peternak sapi perah. Dan putrinya tinggal disana membantu suami dan mertuanya.


"Al, kenapa menangis?" Henry meraih putri kecilnya kedalam dekapannya. Setelah sebelumnya melampiaskan semua kerinduannya dengan Ama. Karena bagi Henry, Ama adalah orang yang paling dekat dengannya. Semenjak kecil, ia bersama Ama. Dibandingkan dengan kedua orang tuanya.


Henry bangun pagi sekali untuk mengunjungi Ama. Karena semalam saat Henry membuka pintu kamar Ama. Wanita renta yang merawatnya itu telah terlelap dengan nyenyaknya. Henry menemui Ama lebih dulu dari siapapun.


"Al takut, Dad." sahut El.


"Takut apa?" tanya Tuan Abimanyu.


"Takut sama Ama."


"Kau seperti tak mengenal Al, Dad. Dia kan persis Daddynya." Ledek Nyonya Amel, semuanya turut tertawa mendengar ledekan Nyonya Amel. Tak terkecuali Ama, kebahagiaannya terasa sangat lengkap sekarang. Diusia senjanya, bisa melihat anak dan cucunya hidup rukun berdampingan adalah cita-citanya.


"Oma, berarti Daddy dulu suka nangis ya." tanya El dengan polosnya. Ia tak memedulikan wajah Heney yang memerah menahan malu. Bagaimana tidak? Hal memalukan saat dirinya kecil harus diungkit di depan orang banyak. Terutama di depan anak-anaknya.


"Kau tanyakan saja pada Daddymu itu." Nyonya Amel menunjuk dengan dagunya. Ia sengaja menyuruh El menanyakan langsung pada Henry.


"Hah, eih, Daddy kan masih kecil. Mana mungkin Daddy ingat." Elaknya, lebih baik El mengatakan hal itu daripada bertanya lebih banyak hal yang tak diinginkan.


"Hahaha..." jawaban Henry menjadikan gelak tawa orang-orang yang ada disana pecah seketika. Tak terkecuali Ama. Ia tak menyangka, cucu yang dirawatnya sekarang ini telah tumbuh dewasa dan menjadi orang tua dari dua orang anak.


"Sudah, cukup. Kalian sengaja ingin mengejekku." Henry mendengus, lebih memilih menghindar dengan alasan membawa Al jalan-jalan.


"Itu fakta, Son. Bukan ejekan." Tuan Abimanyu terkekeh. Meski ia tak begitu memperhatikan Heney kecil. Namun sepertinya sifat kedua cucunya tak jauh berbeda dengan Daddy mereka.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya. Sarapan sudah siap." Kepala pelayan memberitahukan bahwa hidangan sarapan pagi sudah disiapkan. Mereka semua berpindah ke meja makan.


"Yeay, Makan." El kegirangan, ia tak sabar mencicipi hidangan ala eropa yang sering diceritakan Daddy Henry padanya.


"Nah, Sayang, ayo kita makan." Arga mengajak anak dan istrinya menuju meja makan. Mengikuti Ama dan yang lain yang lebih dulu meninggalkan mereka.


"Maamm... Mammm.."


"Biar Aku suapi Arlan dulu. Kau makan duluan bersama mereka." Wulan menyuapkan makanan pada Arlan yang disiapkan koki mansion. Arlan masih makan dengan tekstur yang lunak, meski tak lembek. Karena Masih belum bisa mengunyah dengan baik, terlebih saat ini giginya sedang bertambah lagi dua dibagian atas. Membuatnya susah untuk makan makanan selain bubur dan makanan lembut.


"Aku akan meunggumu, kita makan bersama. Kalau tidak, Aku akan makan bersama Henry nanti." Arga menyusul Henry di halaman samping bersama Arlan yang duduk distroler dorongnya. Membantu mengurus Arlan sudah menjadi kebiasaan Arga disaat waktu luang.


"Ga, Kau kemari?" Henry menolehkan wajahnya pada Arga yang datang membawa Arlan. Diikuti Wulan dan Adel dibelakangnya.


"Kalian, para bapak. Sudah ditunggu dimeja makan." Adel mengambil alih Al. Meminta Henry dan Arga ke ruang makan. Akhirnya, semuanya mengikuti peeintah Adel. Termasuk Wulan dan Adel, mereka juga ikut sarapan pagi bersama. Dengan kedua anak kecil yang turut serta.


Suasana bahagia mengharu biru, Ama mengucapkan terima kasih karena semua keluarga besarnya bersedia menemaninya diakhir hayatnya. "Ama, sangat bahagia. Semoga kalian tetap seperti ini selamanya." Buliran air mata membasahi wajah keriputnya. Namun ini adalah air mata kebahagiaan.


"Kami semua juga menyayangi Mami." Nyonya Amel meraih bahu renta Mami mertuanya. Ia juga sangat berterima kasih bisa menjadi menantu dari Ama.


Acara makan penuh haru biru selesai. Ama kembali ke kamarnya untuk beristirahat setelah lelah bermain bersama El dan Arlan. Baby Al sudah mulai menyesuaikan diri, meski masih malu-malu di depan Ama. Tetapi ia tak lagi menangis melihat Ama.


......................


Jangan lupa mampir di TERJERAT CINTA SEMU.


Atau bisa cek ig thor @keynan7127


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2