
Menuju episode terakhir, ayo vote vote vote.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Kondisi Henry masih belum banyak mengalami perubahan, dia juga lebih memilih mengurung diri di dalam kamar. Nyonya Amel dengan tulus selalu membantu putranya, begitupun Tuan Abimanyu. Sesekali El dibawa masuk, tapi Adel, sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Adel sedih, namun dia juga tak ingin membuat Henry merasa kesakitan.
Dua hari lagi adalah ulang tahun El yang ke-2, seperti tahun lalu, dia mengunjungi makam mendiang suami dan putrinya. Tak lupa Adel sempatkan ke makam Metta. Dia juga membawa El saat berkunjung. "Dua tahun berlalu, banyak hal yang sudah berubah" gumam Adel.
Adel juga pulang ke rumah Eyang Wira, sekedar melepas rindu dengan Ibu dan Eyang. Untunglah urusan dikantor bisa berjalan lancar, Nathan sudah kembali ke Wiranata Corporation. Karena Tuan Abimanyu sudah kembali memegang kendali HS Group, mungkin untuk jangka waktu yang lama, sampai Henry benar-benar sembuh.
Adel sedang menyiapkan pakaian El, bayi itu baru saja selesai berenang bersama Wulan. "Lan, bawa El kesini, biar aku yang gantikan bajunya" Adel mengambil alih El, dia juga membawakan handuk untuk Wulan.
"Mami, inin" El mengeratkan pelukannya, bahkan jari tangannya keriput karena terlalu lama berada di dalam air.
"Iya sayang kita mandi air hangat dulu, ganti baju biar hangat, okeyy" Adel mengedipkan sebelah matany.
"Otey Mami, muachh" El mengecup pipi Adel, membuat nya terkekeh, bayi yang dia rawat sekarang sudah besar. Bahkan sudah pandai melakukan banyak hal, bayi merah yang tak berdaya, kini tumbuh menjadi makhluk mungil yang tampan dan menggemaskan.
Saat mandi, El tak bisa diam, membuat Adel menarik nafasnya panjang, "katanya dingin, tapi malah main air lagi" Adel mencubit pipi El gemas.
"Mami, andi yukk, acah hahaha.... Mami acah" Adel tak jadi marah, dia justru senang dan saling melempar air dengan menyipratkan dari kedua tangannya.
"Ahahaaa, dah Mami" El akhirnya menyerah, bagaimanapun tenaganya kalah banyak dari Adel.
__ADS_1
"Kau curang hmm, membuat Mami basah" Adel mengambil handuk kimono, dan melepas pakaiannya di walk in closet, beruntung Adel menguci pintu kamarnya tadi. Tak lupa mengambilkan handuk untuk El, dia tak bisa meninggalkan El terlalu lama, takut terjadi hal yang diinginkan.
Benar saja, baru sebentar Adel meninggalkannya, El sudah penuh dengan sabun, padahal tadi sudah bersih. Adel menepuk keningnya sendiri. "Astaga, tingkahmu semakin lama semakin menyebalkan seperti Daddy mu" Adel menggerutu, namun tetap membersihkan tubuh El dan membawanya ke kasur.
"Nah, selesai" Adel mengecup pipi El cukup lama, dia sudah memakaikan minyak telon dan juga baju pada El. Sekarang gilirannya, dia mengutamakan El takut dia masuk angin terlalu lama berendam.
"El tunggu disini ya" Adel menuju lemari baju, dia tak menyadari El yang berjalan mengikutinya dari belakang, setelah mengambil pakaian ganti, Adel kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Adel tersentak saat melihat El tak ada dimanapun, tetapi pintu kamar dan pintu balkon keduanya terkunci rapat. Adel panik, mencarinya hingga ke kolong ranjang sambil berteriak. Wulan yang kebetulan lewat menggedor pintu kamar dengam keras. "Ada apa? Kenapa teriak memanggil El?"
"Huuhuuu, El hilang" Wulan ikut kaget, mendengar El tak ada dimanapun.
"Hilang lagi? Kau tak bercanda dengan ku kan?"
"Kau lihat wajahku, apa aku terlihat sedang bercanda?" Adel mengusap wajahnya kasar, dia harus bagaiman jika El kembali hilang, dan akan menimbulkan kehebohan seperti waktu itu.
"Tunggu disini" Adel menuju ke arah lemari, Wulan mengikutinya, dia membuka lemari dengan perlahan.
"Ya ampun El, Mami mencarimu, tapi kamu enak tidur disini?" El tertidur di antara selimut yang tertata rapi di lemari bagian bawah, dan menyisakan ruang untuk El bersembunyi didalamnya.
"Hahaha... Kau dikerjai seorang bayi?" Wulan tak dapat menahan tawanya, melihat mimik wajah Adel yang kesal juga lega karena El tak jadi hilang. Bahkan dia tertidur sangat pulas, tanpa merasa terusik saat Adel mengangkatnya. Bahkan dengan suara bising yang Wulan timbulkan.
"Diam Wulan, atau..."
"Atau apa? Kau akan memukulku? Hahaha... ini lucu sekali" Adel meninggalkan Wulan yang tertawa sambil memegangi perutnya. Bahkan dia sedikit mengeluarkan air mata karena terlalu menghayati tertawanya.
__ADS_1
Adel memindahkan El ke atas kasur dengan perlahan, dia pandangi wajah imut dan memggemaskan El. "Sweet dream El sayang" Adel mengecup pucuk kepala El, menyalurkan seluruh kasih sayangnya.
"Mami hany berdoa, semoga kita bisa bahagia bersama, selamanya" batin Adel seraya menyelimuti El.
Henry menatap kotak beludru merah ditangannya, benda yang sama saat dirinya mengalami kecelakaan. Tuan Abimanyu yang menimpannya, semalam dia memberikan benda itu pada Henry, dengan harapan Henry segera pulih, dan mengingat semua hal yang telah dia lalui bersama Adel.
"Aku tak bisa melakukannya Dad, aku tak memiliki perasaan apapun padanya." Henry menolak keinginan Daddy untuk melamar Adel saat acara ulang tahun sederhana El. Mengingat kondisi Henry, keluarga hanya mengadakan syukuran kecil dengan keluarganya.
"Kali ini Daddy mohon padamu Son, tolong lakukan ini untuk El, jika tidak mungkin semuanya akan terlambat. Dan aku tak sanggup lagi melihat El seperti kemarin, Daddy mohon padamu, mohon dengan sangat" Tuan Abimanyu memelas, dia bahkan menggenggam erat putranya. Selama ini Tuan Abimanyu tak pernah memohon samapi seperti sekarang ini.
Henry tak sanggup melihat laki-laki yang telah membesarkan dan merawatnya bersedih. Dia tak sejahat itu, Henry mengangguk. "Hanya untuk El" ucapnya.
"Daddy tunggu janjimu" Henry tak merespon, dia menatap punggung tegap Daddy yang rambutnya mulai memutih.
"Aku tak berjanji" gumam Henry sangat pelan, sehingga hanya dirinya yang mendengar.
*Apa kamu bersedia bersamaku? untuk mengingatmu saja aku tak mampu, dan sekarang aku bukanlah aku yang dulu, bahkan untuk mengurus diriku sendiri pun harus dibantu orang lain. Bagaimana aku bisa membahagiakan mu kelak?
Jika El alasanmu bertahan disini, aku akan mengizinkanmu membawa El. Ada orang yang lebih pantas menjagamu, aku percaya bahwa kamu akan bahagia bersamanya. Tanpa harus berpisah dengan El*.
Henry sibuk dengan prasangkanya, kenapa susah sekali membuka hati untuk Adel? Jelas-jelas hatinya menginginkan Adel, tapi mulutnya berkata lain. Benar benar bodoh.
Henry teringat saat di rumah sakit, meskipun dia tak melihat, tali dia merakasn betapa Rey mencintai Adel dengan tulus, bahkan rela memberikan Adel padanya, tapi kenyataanya, dia tak bisa membahagiakan Adel seperti permintaanya, dia akan mengembalikan Adel padanya.
"Aku menyayangi kalian"
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH