Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Terlambat bangun


__ADS_3

Terima kasih singgah dilapak Baby El.


Ayo dukung terus Baby El dengan Like komen dan VOTE sebanyak-banyaknya


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Pagi ini, Henry bangun sedikit terlambat dari biasanya. Semalaman El terjaga, dan mengajaknya terus bermain. Sehingga dia baru tertidur pukul 04.00 pagi tadi.


"Dasarrr anak bodohhh... Jam berapa ini hah?" Teriak Nyonya Amel. Dia melihat Henry masih bergelung dengan selimutnya.


"Hmmmmm" Henry menjawabnya dengan deheman, ia masih enggan membuka matanya.


"Heiiii... Apa kau tak ke kantor?"


Henry masih berkelit, rasa kantuknya lebih berat dibanding tanggung jawabnya dikantor. "Ini masih sangat pagi Mom, biarkan aku tidur sebentar saja."


"Kau lihat jam disana?" Nyonya Amel geram, bukan hanya dirinya yang menjaga El, tetapi ini sudah kelewatan.


Dengan sedikit mengintip Henry menatap jam dinding diseberang sana." Baru jam 8 Mom."


Setelah sadar, dia tersentak langsung terduduk." Hahhh... Jam 8? Aku terlambat, oh tidak." Henry segera menuju kamar mandi. Namun dia berbalik lagi sebelum mencapai pintu kamar mandi." Mom, tolong kau siapkan bajuku, hari ini aku ada rapat penting." Tanpa menunggu jawaban sang Mommy, Henry sudah menghilang dibalik pintu.


"Dasar anak bodoh, mau saja aku bodohi, hahaaa.. Rasain kamu, biar aku kerjain sekalian.." Nyonya Amel menyeringai, memikirkan ide gila yang tercetus dalam otak cerdiknya.


"Mel, kau ini kenapa? Malah senyum-senyum sendiri?" Ama baru saja masuk, dia ingin melihat El, ternyata sudah bangun. Dan sedang bersama Wulan untuk dimandikan.


"Sssttt, Mami cukup lihat saja, pasti akan ada pertunjukan menarik." Ama hanya pasrah, melihat kelakuan menantunya itu.

__ADS_1


Nyonya Amel menyiapkan baju kantor lengkap dengan dasi dan jasnya. Kemudian segera pergi ke kamar El. "Ayo Mam, kita ngumpet disana."


"Hahhh... Teraserah kau saja." Ama mendengus, merasa kasihan dengan Henry. Tetapi juga akan membuat hiburan sendiri baginya.


Henry keluar kamar mandi dengan tergesa, dia mengenakan pakaian yang telah disipakan Mommynya. " Untung saja rapatnya masih satu jam lagi, aku harus segera berangkat."


Henry menuruni tangga dengan langkah panjangnya, bahkan terkadang 2 anak tangga ia lewati sekaligus. "Son, kau sudah rapi?" Tuan Abimanyu menyesap cairan hitam dicangkir yang dia pegang.


"Aku buru-buru Dad, ada rapat hari ini." Ucapnya seraya membenarkan posisi dasi yang dia pakai. Arga mengernyit, inikan hari minggu. Dan menurut jadwal yang dia susun, hari ini Henry tak memiliki janji dengan siapapun.


"Rapat?" Ucap Arga, refleks membuat Henry menoleh, dia baru menyadari keberadaan Arga. "Kenapa kau masih disini? Dan pakaianmu...??"


"Bukankah kita hanya ingin kerumah Tuan Wira? Apakah perlu seformal ini?" Arga masih belum paham situasi.


Arga mengerti maksud Henry, dia pasti mengira ini hari kerja. "Sekarang hari minggu Son." Tuan Abimanyu menjawab keraguan henry.


Henry menepuk jidatnya, dia membuka benda pipih yang sedari tadi dia genggam ditangannya. "Astaga, kenapa aku baru ingat?" Henry menepuk jidatnya.


"Hahahhaaa..."Tawa Tuan Abimanyu dan Arga meledak. Diikuti Ama dan Nyonya Amel, bersama El dalam gendongan Oma nya. Mereka semua tertawa berjamaah, terkecuali Henry yang merasa kesal. Karena berhasil dikerjai Mommy nya.


"Ahakkk ahakkkk" El ikut tertawa, "Yeayyy..." Bayi itu bertepuk tangan dengan bahagianya.


"Kalian semua berani menertawakanku? Keterlaluan." Raut wajah Henry berubah dingin, seketika membungkam mulut semua orang untuk menghentikan tawanya.


Henry memijat pelipisnya yang terasa pusing, dia baru tidur beberapa jam. Dan dia bangun dengan tersentak, jadilah ia merasa linglung. Henry berbalik menuju ke kamarnya. Dia trlerus mengumpat kata-kata kasar.


"Dasar Nenek Tua tak punya ahlak, berani sekali dia mengerjaiku, dia kan tau aku baru tertidur beberapa saat. Untung saja aku masih dirumah. Kalau sudah sampai kantor, apa kata dunia? CEO HS Group linglung dengan dirinya sendiri. Hahhhh." Henry masih saja menggerutu, sambil mengganti pakaiannya.


Henry berniat merebahkan tubuhnya, namun sebhah tangan mungil berhasil mengurungkan niatnya. "Datttt.. Aaaiiinnnn" Rengek El, sembari menggoyangkan kaki Henry yamg menjuntai.

__ADS_1


"Panggil aku Daddy, baru kita bisa main." Henry mendengus, tak suka El memanggilnya Dattt.


"Ayolah Arrr, dia kan belum fasih dalam pengucapan, usianya baru setahun lebih." Ama memberikan pengertian pada cucunya itu.


"Dattt" Panggil El lagi, kali ini dengan wajahnya yang terlihat muram. Dan matanya sudah berkaca-kaca, Henry pun tak tega melihatnya." Dattt... Aiinn"


Henry harus mengiyakan, atau El akan menangis. Kalau sudah begitu maka akan susah untuk membujuknya. "Baiklah, ayo kit main." Henry berjokok, mensejajarkan wajahnya dengan El.


"Main apa? Hmmm" Henry mengusap kepala El lembut. "Kita naik kuda seperti semalam? Kau mau?" Dijawab anggukan El, wajahnya berbinar. Dia sangat senang karena kemauannya dituruti.


"Baiklah kau pegangan yang erat ya." Henry sudah diatas kasur, Ama membantu El duduk dipunggung Henry. "Siappp? Ayo kita berangkat.." Henry mulai merangkak, berputar-putar diatas kasur. Karena jika dilantai, dia takut El akan terjatuh. Setidaknya kalau terjatuh di kasur tak akan merasa sakit. Pikir Henry.


Nyonya Amel tersenyum, matanya berkaca-kaca. melihat kemesraan ayah dan anak itu. Akhirnya Henry membuka hatinya untuk El. "Syukurlah kau sudah menyadarinya anak bodoh, kau tak sebodoh yang aku katakan. Mommy tahu, kau sangat menyayangi El." Gumamnya dalam hati.


"Adel, terima kasih, kau sudah membukakan mata hati Henry ku yang tertutup selama ini, dan aku pun berharap, kau bisa benar-benar menjadi mami untuk El." Nyonya Amel tak dapat lagi menahan air matanya. Dia berlari ke kamarnya.


Menangis sepuasnya, meluapkan kesedihannya tentang Baby El. Sebagai Oma, dia tak ingin melihat cucunya kembali kehilangan sosok ibu. Untuk kedua kalinya. Meskipun Wulan merawat El dengan baik, tetapi ada darah Adel. Yang mengalir dalam tubuh El. Melalui ASI yang selalu dia berikan. Bahkan saat ini, dia membuatkan ASIP yang banyak dilemari penyimpanan. Karena tak ingin El kekurangan ASI.


"Uang memang tak dapat membeli segalanya, termasuk kebahagiaan." Nyonya Amel mengapus air matanya yang tak jiga berkesudahan.


"Mom, apa yang membuatmu begini? Hmmm" Tuan Abimanyj duduk disebelah Nyonya Amel. Mengusap bahunya dengan sangat lembut.


Nyonya Amel menyandarkan kepalanya, pada tubuh tegap Tuan Abimanyu. "Kita harus membuat Adel bertahan Dad"


" Keputusan ada ditangan Adel, kita hanya bisa mengusahakannya." Nyonya Amel menengadah, dia menatap wajah suaminya. Disana masih tersisa puing-puing ketampanan masa mudanya.


"Haruskah aku memberitahukan soal perjanjian itu padanya?" Tuan Abimanyu bertanya dalam hati. Hanya Tuan Abimanyu dan Arga yang mengetahui perjanjian antara Adel dan Henry. Tetapi dia juga tak tahu harus bagaimana memyampaikannya pada istri dan keluarganya.


TBC

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2