Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Acara penting?


__ADS_3

vote vote vote


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Pergilah!" Adel mendongakkan kepalanya, dia sudah menduga hal itu yang akan dia dengar, tapi mengapa hatinya sesakit ini. Henry memalingkan wajahnya kearah, tak sanggup melihat wajah kecewa Adel.


Jangan menangis didepanku, atau aku tak akan sanggup lagi menahannya. Aku harap keputusanku sudah benar. Janjiku ini tangismu yang terakhir, berikutnya hanya akan ada air mata kebahagiaan.


"Jaga El dengan baik, terima kasih untuk semuanya, saya permisi" Adel tak sanggup lagi, buliran bening itu tumpah ruah membasahi wajah cantiknya. Dia segera berlari meninggalkan ruangan yang tak seharusnya dia datangi.


"Ya, karena aku Daddynya" Henry masih terdiam ditempatnya. Tanpa berniat menjelaskan apapun padanya.


Adel menepis air mata di wajahnya demgan punggung tangan, dia tak ingin membuat Wulan kuatir dengannya. "Lan, aku pergi, jaga El dengan baik" kedua nya saling memeluk, mencurahkan kesedihan satu sama lain.


Dilantai bawah, ruangan tampak lengang, mereka pasti mempunyai kesibukan masing-masing. "Gak boleh sedih Adel, kamu gak boleh mengharapkan apapun" Adel menyemangati dirinya sendiri, dia menarik kopernya menuju ke pintu depan, dia sudah berpamitan dengan Bibi Mey dan juga beberapa pelayan yang dia temui.


"Hati-hati dijalan Nona" Bibi Mey menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap wajah sedih Adel, bagaimanapun, Adel wanita yang baik selama tinggal disini.


Suasana hening saat dalam perjalanan, hanya suara mesin mobil yang membelah jalanan yang sudah mulai lengang, sekarang sudah hampir siang. Kendaraan yang berlalu lalang hanya beberapa.


Mungkin ini jalan terbaik yang harus aku lalui. El, Mami pasti akan sangat merindukanmu, kau jangan nakal ya, jangan membuat Mami gelisah disini. Kita pasti akan bertemu lagi, walaupun aku tak ada didekatmu, tapi kamu tetap El anak Mami. Mami sayang El, selamanya.


"Pak, kita mampir sebentar ke danau ya" Adel selalu mengunjungi tempat itu, apalagi saat dirinya sedang sedih seperti sekarang ini.


"Maaf Non, Nyonya berpesan, agar kita langsung pulang" Pak supir yang tak Adel ketahui namanya ini menolak, dia tak ingin membuat kesalahan, apalagi dia baru beberapa hari bekerja.


"Sebentar saja Pak" ucap Adel memelas.


"...." belum juga Pak supir menjawab, Ibu Sari menelepon. Adel menjawab panggilan dengan enggan.


"Ya Bu"


"Kamu dimana El? Ibu sudah menunggumu sejak tadi, atau ada masalah dijalan?" Ibu Sari sudah tak sabar menunggu Adel, agar segera sampai dirumah.


"Iya Bu, ini sudah hampir sampai, 5 menit lagi."


"Baiklah, bilang pak supir jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya" Ibu Sari langsung menutup telepon, tanpa memedulikan Adel yang menggerutu.


"Tadi suruh cepat sampai, tapi jangan ngebut, terus gimana?" Gerutu Adel pelan, suasana hatinya tambah badmood.

__ADS_1


Pak supir yang mendengar langsung menyahut" terbang aja Non"


"Ya kali Bapak bisa terbangin mobil" Adel melirik pak supir melalui kaca tengah mobil.


"Ampun Non, maafkan saya"


"Hmmm" Adel kembali mengalihkan perhatiannya pada kendaraan yang berlalu lalang diluar sana. Tak lama, mereka sudah tiba di mansion Wiranata.


Adel mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan dekorasi rumah, baru beberapa hari dia tak pulang, semuanya disulap dengan sangat cantik dan rapi. Namun Adel enggan bertanya, dia berlalu menuju ke kamarnya.


"Putri Ibu sudah pulang, ayo Ibu antar ke kamar" Ibu Sari menggandeng tangan Adel, lebih tepatnya setengah menyeret, karena Adel terlalu lelet menurutnya.


"Ada apa sih Bu, pelan-pelan, Adel kan lelah barus juga sampai dirumah."


"Hallah, orang cuma duduk dimobil sebentar kok lelah" Ibu Sari menghiraukan Adel yang merajuk.


"Cepat ganti bajumu, ibu sudah menyiapkannya, jangan lupa dandan yang cantik, kalau perlu Ibu yang membatumu berhias" Ibu Sari mendorong tubuh putrinya ke kamar mandi, di walk in closet, sudah tergantung gaun indah yang pas ditubuh Adel.


...----------------...


Mobil yang Adel tumpangi sudah melaju, menjauh dari kediaman Syahreza. Nyonya Amel sebenarnya tak ingin membuat Adel sedih, tapi apa daya, ini semua ulah putra bodohnya.


Nyonya Amel memanggil seluruh pelayan, dengan bantuan Bibi Mey, dalam 5 menit mereka semua sudah berkumpul. "Baik, kalian pasti tahu untuk apa saya memanggil kalian, semua sudah selesai sesuai yang saya mau?" Nyonya Amel berkata pelan, namun penuh dengan penekanan, serta tatapan yang mengintimidasi.


"Oke, kalian semua bersiap ke tugas masing-masing, Bibi An tolong beritahu Wulan untuk mempersiapka dirinya dan El" ucap Nyonya Amel.


"Baik Nyah" Bibi An segera pergi menuju ke kamar El, bayi itu mulai bosan dengan mainannya, sehingga mengganggu Wulan.


Bibk An masuk setelah dipersilahkan, "Maaf Nona Anda harus bersiap, dan juga Tuan Kecil, kata Nyonya kita akan ada acara penting.


Hah, acara penting apa? Bahkan mereka sama sekali tak bersedih, Adel sudah banyak berjasa untuk keluarga ini. Tapi kalian malah bahagia diatas penderitaan Adel. Aku tetap mendukunmu Del, semangat.


Semua sudah berpakaian rapi, mobil mewah berjejer rapi dihalaman mansion mewah Syahreza, Henry Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu, tak lupa Baby El, di mobil barisan pertama. Arga bersama Wulan, Ama dan Tuan Edric diurutan kedua. Diikuti beberapa mobil lain dibelakangnya.


Sebenarnya ini mau kemana sih? seperti mau pawai pilpres, dikawal banyak pengawal. Huffft, enak yang jadi orang kaya, menghamburkan uang tanpa takut kehabisan, tak ada akhir bulan, tanggal tua, yang ada tanggal muda semua.


Wulan menghentikan imajinasinya, ketika menyadari jalanan yang tak asing baginya. "Tuan, kenapa kita kerumah Adel?" Arga menatapnya tajam dari kaca tengah mobil, Wulan menyadari hal itu, membuat nyalinya menciut. "Maaf" Wulan menunduk takut, dia mere*** jari tangannya sendiri.


Ama hanya menggelengkan kepala, dia tersenyum sendiri melihat tingkah absurd dua sejoli ini. "Ya, kita memang kerumahnya" ucap Ama kemudian.


Apa aku gak salah dengar? tadi kan dia diusir dari rumah, terus sekarang mau dijemput dengan rombongan. Waow.

__ADS_1


Otaknya travelling, tapi dia merasa sakit dikeningnya.


Cetakkk


Arga kembali menyentil keningnya," apa yang kau pikirkan hah? apa kau mau disini selamanya?" Arga turun dari mobil, Wulan menengok kesebelah Ama tak ada, Tuan Edric juga tak ada.


Dasar wanita menyebalkan, menyusahkan ku saja.


Rombongan keluarga disambut hangat oleh Tuan Wira. Semua terlihat bahagia, terkecuali Wulan, dia masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi disini.


"Sepertinya mereka sudah sampai, ayo kita turun" Ibu Sari menggandeng putri semata wayangnya, Adel sudah cantik dengan gaun pink di tubuhnya.


"Ibu belum mengatakan padaku, ada apa ini?"


"Nanti juga kamu tau" Ibu Sari tak berniat menjelaskan padanya, Adel hanya mendengus. Dia bukan anak kecil lagi yang harus diatur ini itu.


"Mamiiii, Eyyy linduuuu"


. Yang meragukan Henry, sekarang terjawab sudah, tapi thor seneng baca komenan, hahaha.. ketawa jahat...


Inilah rencana thor yang kemarin diumpetin dilubang semut. Setuju gak nih?


T: Hahaha... rasain dibully readers


H: Seneng liat orang dibully


T: banget, lagi kalau perlu, beneran dilempar kesumur, eh jangan got aja.


H: kenapa ke got thor?


T: kalu disumur airnya jernih, lebih baik got aja, bau kotor iuhh


H: uwekkk, kalau berani, El ku bawa.


T: palingan dah pingsan dibully readers duluan


H: Nyerah


.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2