
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Ga, Kamu mau bawa Aku kemana lagi sih?" Wulan benar-benar kesal dengan Arga yang seharian ini tak membiarkannya beristirahat.
"Silahkan Tuan Putri." Arga mendudukkan Wulan, dan perlahan membuka penutup matanya.
"Hobi banget nutupin mata deh." Wulan menggerutu, sesaat kemudian matanya terbelalak melihat sekelilingnya. Sebuah meja dengan dua kursi ditengah taman dihiasi lampu kelap kelip warna warni yang bertuliskan nama Wulan.
"Ada acara apaan sih?" Wulan masih belum menyadari maksud Arga.
"Surprizeeee...." Wulan terlonjak dibelakangnya Lintang bersama semua keluarga Syahreza. Bahkan ada Ibu Sari yang turut serta.
"Selamat Ulang Tahun Lan, bersediakah menjadi istriku kelak? Maaf hanya acara sederhana yang bisa Aku siapin." Arga membuka kotak berwarna biru yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Ya ampun, Aku malah gak ingat sekarang tanggal berapa. Heheeee..." Wulan menggaruk tengguknya sendiri.
"Kakak, udah tua jadi pelupa." ucap Lintang.
"Sembarangan." Wulan melirik tajam pada adiknya.
"Jawab dulu Lan." ucap Adel.
"Kasihan tuh pangeran kodok nungguin." sahut Henry.
"Terima... terima...." Wulan menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Mau..." Wulan menundukkan kepalanya, wajahmya sudah semerah tomat.
"Mau apa?" tanya Arga.
"Mau jadiiii istri kamu." Wulan menggigit bibir bawahnya setelah berucap. Semua yang hadir disana bertepuk tangan.
"Makasih Lan. Aku tahu kemarin sudah melamar mu pada keluarga mu. Tetapi setelah mengetahui semuanya, Aku hanya ingin memastikan sekali lagi. Dan ini semua juga untuk memberikan kesan di hari ulang tahun Kamu." Arga mengecup jemari tangan kanan Wulan. Wulan benar-benar dibuat terkesan dengan semua yang diberikan padanya.
"Papaa... El mau cun juga." ucapnya menunjuk pipi gembulnya.
"Sini sayang, sama Mama." Wulan merentangkan tanganya, menyambut El. Tetapi Adel mencegahnya.
"El sama Mami aja ya, jangan ganggu Mama. Dad.. Ayo cun El." Adel dan Henry mengapit Wl dan mengecup sebelah pipi El bersamaan.
"Yeeaayy.. cayang Mami..."
"Daddy?"
"Cayang Daddy."
"Ehemmm..." Tuan Abimanyu sengaja menggoda keduanya. "Jadi Kita gini aja nih, dianggurin?" lanjutnya.
"Hehee... Maaf Dad. Silahkan tamu yang terhormat, silahkan duduk, selamat menikmati hidangan." Arga mempersilahkan keluarganya duduk, mengelilingi meja yabg penuh dengan makanan dan sebuah kue yang sangat indah ditengahnya.
"Jadi Kita hanya tamu nih?" sindir Henry.
"Terserah kalian saja." Semuanya tertawa berjamaah, malam ini penuh canda tawa dari seluruh keluarga yang berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun Wulan.
...----------------...
__ADS_1
Nyonya Amel dan Wulan sedang menyiapkan sarapan pagi, El pulang ke rumah orang tuanya semalam. Membuatnya yak perlu repot dengan kehadiran si gembul. "Lan, hari pernikahan mu semakin dekat, bagaimana persiapannya?"
"Sudah hampir selesai Mom, sekitar 80% menunggu gaun diatarkan." ucap Wulan sibuk menata makanan di atas meja.
"Apa kalian sudah menemui ayah mu?" Nyonya Amel bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Wulan. Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Nyonya Amel, Wulan menjeda kegiatannya.
"Mom tahu apa yang Kamu rasakan saat ini. Tapai bagaimanapun juga, beliau masih ayah kandungmu. Dalam tubuh mu mengalir darahnya., sebesar apapun kesalahannya, beliau tetaplah wali yang sah untuk mu." Nyonya Amel meraih Wulan dalam dekapannya.
"Tapi Wulan belum siap bertemu Ayah." Matanya berkaca-kaca jika mengingat kejadian waktu itu.
"Apa perlu Mom temani?" Nyonya Amel mendudukkan Wulan di kursi yang baru ditariknya.
Wulan menggelengkan kepalanya, perasaannya kacau. Bahkan untuk sekedar mendengar namanya disebutkan. "Wulan, dengarkan Mom, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tugas kita hanya memaafkan kesalahan itu dan membuang jauh-jauh dendam itu. Tuhan juga maha pemaaf, apalah artinya kita yang hanya manusia biasa."
"Istriku sekarang sudah lebih bijak dalam hal bujuk-membujuk." ucap Tuan Abimanyu yang baru saja datang.
"Dad, bukankah apa yang Aku katakan benar?"
"Ya ya ya, Mom memang selalu benar."
"Baiklah Mom." Wulan hanya bisa menurut, benar yang dikatakan Mommy, hanya Ayah satu-satunya orang tua kandung yang Wulan miliki. Sejahat apapun, tanpa Ayah, Wulan tak mungkin ada di dunia ini sekarang.
"Mom akan bilang Arga supaya menemani mu."
"Tapi Mom, Arga sibuk bekerja. Biar Aku sendiri saja."
"Siapa bilang Aku sibuk?" Arga datang tiba-tiba, ada sesuatu yang perlu ia bicarakan dengan Tuan Abimanyu.
"Ga, sini sarapan bareng." ucap Tuan Abimanyu melambaikan tangannya.
"Kebetulan Arga lapar nih." Arga dengan semangat mendudukkan diro di sebelah Wulan.
"Udah berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada penambahan jam pelajaran di awal." Nyonya Amel menjelaskan.
"Ama?"
"Ada apa mencari ku? Baru sehari gak bertemu, Kau sudah merindukan Ama ini?" Wulan segera membantu Ama, diusianya yang semakin senja, Ama sudah tak leluasa bergerak seperti dulu.
"Tentu, Ama kan memang pantas dirindukan."
"Hmmm." Wulan berdehem, sedari tadi ia didepannya tak ditanya sekalipun.
"Arga, Kamu ini bagaimana sih? masa calon istri dianggurin aja." Nyonya Amel menggelengkan kepalanya heran.
"Mom, apa yang mau ditanya lagi? kan udah kelihatan di depan mata." ucapnya beralasan.
"Kau harus banyak belajatlr soal merayu wanita Ga. Haha..." Tuan Abimanyu terkekeh melihat Arga yang kaku.
"Sudah-sudah, sekarang kita sarapan dulu." Nyonya Amel mengambilkan roti yang diolesi selai coklat kesukaan suaminya. Dan segelas susu hangat, Tuan Abimanyu jarang sekali sarapan dengan menu lain selain roti.
"Aku mana Mom?" protes Arga.
"Noh, minta sama Wulan."
Bukannya menurut, Wulan malah memalingkan wajahnya dan membantu Ama mengambilkan sarapan. Arga hanya bisa manyun dan mengambil sendiri makanan. Tetapi Wulan juga tak setega itu, akhirnya ia membantu mengisi air di gelas untuk Arga.
Selesai sarapan, Arga dan Daddy keruang belajarnya. Ada hal penting yang akan mereka bahas sebelum ke kantor hari ini. Hal ini berkaitan dengan proyek yang Arga tangani sebelumnya. Semuanya sudah berjalan sesuai rencana. Tetapi masih membutuhkan bimbingan untuk memperluas pemasaran.
__ADS_1
Henry menyarankan supaya Arga menemui Daddy secara langsung untuk membicarakan hal ini. Tentu saja sebagai senior Daddy harus membantu Arga. Meski masih bisa dibilang pemula, Arga sudah melakukan dengan baik hanya beberapa hal yang diluar bidangnya perlu evaluasi.
...----------------...
Keesokan harinya, Arga pulang lebih awal untuk memgantar Wulan meminta restu dari Ayah Wulan. Diperjalanan Wulan tak banyak bicara seperti biasanya. Arga berusaha menghibur Wulan dengan melempar beberapa candan, tetapi Wulan hanya menanggapi sekenanya saja.
"Ada apa? hmm..." Mobil sudah berhenti 10 menit yang lalu, tetapi Wulan tak juga turun. Ia masih mematung ditempatnya.
"Aku..."
"Kalau gak siap sebaiknya kita pulang, kita bisa kesini lagi lain waktu."
"Kita masuk sekarang." Wulan bergegas turun, diikuti Arga di belakangnya. Petugas meminta mereka berdua menunggu. Tetapi ia kembali hanya sendiri, tanpa diikuti orang yang Wulan ingin temui.
"Maaf untuk sementara beliau tak bisa ditemui, kondisinya sedang kurang sehat." Wulan bertanya-tanya, apakah Ayahnya benar-benar sakit atau hanya alasan saja.
"Tolong Pak, tolong bilang padanya Wulan ingin bertemu." Wulan memaksa petugas untuk mempertemukannya dengan Ayahnya.
"Lan, jangan seperti ini Lan, kita pulang dulu ya. Besok kita kesini lagi." Arga membujuk Wulan untuk tetap tenang.
"Tapi Ga..."
"Iya, kita akan kesini lagi besok, terima kasih Pak." pamit Arga pada petugas yang berjaga.
"Tolong berikan ini untuk ayah saya, Pak." Wulan menyerahkan paper bag berisi penuh makanan kesukaan ayahnya.
(Kagak ada selundupan ye, kayak diberita kripik diselipin narkoba. Haddeuh terlalu kreatip warga +62 ini.)
Ada ada aja, ada yang jengukin malah gak mau temuin. Giliran ada yang gak dijengukin sama sekali malah marah-marah. Dasar para penjahat.
Wulan masih berfikir positif, mungkin Ayahnya memang butuh waktu untuk istirahat. Begitulah yang Arga ucaokan padanya, namun kenyataanya, Ayah Wulan tak bersedia bertemu dengan putrinya. Bahkan untuk sekedar melihatnya, ia selalu menyalahkan dirinya.
Tiga hari berturut-turut, Wulan selalu mengunjungi tempat Ayahnya ditahan. Bahkan setiap hari pula, Wulan selalu membawakan berbagai macam makanan untuknya. Tetapi hasilnya sama, Ayah Wulan tak bersedia menemuinya walau hanya untuk sebentar saja.
"Ga, apa Ayah sudah tak ingin menganggap ku sebagai anaknya lagi?" Wulan terisak dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bukan begitu Lan, mungkin memang benar-benar lagi sakit. Kita doakan saja untuk Ayah mu." Arga mengusap punggung Wulan yang bergetar karena tangisnya.
"Kalau benaran sakit, kenapa gak dibawa ke rumah sakit? kenapa dibiarkan begitu saja. Huuuhuuu..."
"Besok kita kesini lagi ya, Aku yakin besok pasti sudah bisa kita temui." bujuk Arga.
"Gak, Aku gak mau kesini lagi." Wulan menghentakkan kakinya mendahului Arga menuju mobilnya.
Sepertinya memang ada yang gak beres, atau memang sengaja membuat Wulan semakin membencinya?
Arga hanya bisa membatin, tak mungkin membuat Wulan semakin sedih. Arga mengantarkan Wulan kembali ke mansion, tanpa menyapa siapapun, Wulan segera berlari ke kamarnya. Saat ini ia hanya ingin menagis. Meluapkan semua perasaan yang dia rasakan saat ini.
Nyonya Amel yang menyadari sikap Wulan pun bertanya. "Bagaimana Ga?"
Arga menggelengkan kepalanya, ia mendaratkan tubuhnya disamping Nyonya Amel. " Masih sama seperti kemarin." ucapnya menyandarkan kepalanya disandaran kursi. Arga memejamkan matanya sejenak, ia harus dipusingkan dengan masalah seperti ini.
Sepertinya Aku harus membujuk Daddy untuk turun tangan. Gak bisa dibiarkan, kalau tidak acara pernikahan ini pasti bisa berantakan.
Nyonya Amel tak bisa tinggal diam, sementara hari pernikahan Arga dan Wulan semakin dekat. Sedangkan masalah wali masih belum jelas.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH