
Terima kasih bersedia mampir di lapak Babby El.
Jangan lupa like komen dan Vote ya kakak semua.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Hari kedua Henry di kantor Wiranata, semuanya masih terlihat normal. Sampai pada waktu setelah makan siang. Heru mengajaknya keruangan sempit dibawah tangga. "Heiii kribo, ayo ikut denganku." Henry menggunakan nama Reza disana.
Tetapi semua rekan diruangannya memanggilnya kribo, sesuai dengan bentuk rambutnya. "Nama itu terlalu bagus untukmu, tak sesuai dengan wajahmu itu." Heru selalu mengompori rekan-rekannya. Dia juga menjabat kepala bagian Pemasaran.
Henry sangat kesal, karena diperlakukan seperti budak disana. Disuruh ini itu, tapi bukan terima kasih balasannya. Dia malah semakin diejek, sungguh bukan tugas yang mudah. "Tunggu saja waktunya tiba, kalian akan bersujud memohon pengampunan padaku." Henry menarik sudut bibirnya, membentuk seringai kecil.
"Untuk apa kita disini Tuan?" Tanya Henry saat mereka sudah berada ditempat sempit dan gelap. Tak lama datanglah seseorang, tak terlihat jelas, karena penerangan disana remang-remang. "Ini tugas selanjutnya." Hanya itu yang orang itu ucapkan.
Setelah menyerahkan setumpuk kertas orang itu pergi begitu saja. Meninggalkan tanda tanya besar dibenak Henry. "Tuan, dia siapa?" Henry masih tak mengerti dengan situasi yang dia hadapi. Lebih baik mengamati dulu, baru akan bertemu permasalahannya.
"Ku tak perlu tahu, nih, tugas baru buatmu kriboooo" Heru melemparkan tumpukan kertas itu pada Henrydengan kasar, hingga sebagian tercecer dilantai. Seseorang membantunya, wanita supel yang ramah. Dan terlihat sederhana dari pada wanita lain bagian pemasaran. "Terima kasih" Henry melamjutkan langkahnya menuju meja kerjanya.
__ADS_1
"Kamu anak baru ya?" Tanya Maya. Orang itu adalah Maya, sepertinya dia sudah terbiasa dengan situasi disini. "I-iya, saya baru dua hari ini bekerja disini." Henry fokus pada komputernya, namun ia masih belum mengerti apa sebenarnya tujuan angka-angka itu.
Menarik kursi dihadapan Henry. "Kamu pasti bingung dengan laporan ini kan? Biar aku ajari." Maya jalan memutar, menyusun angka demi angka. Dia terlihat lihai, dan familiar dengan laporan ini. "Begini, dan ini, beres deh." Henry melongo, kenapa semua angka dirubah?
"Tapi ini tak sesuai data pelanggan, dan lagi seharusnya laba perusahaan meningkat bulan ini. Dan hasilnya malah sebaliknya." Henry mulai paham dengan situasi disini. Inikah yang dimaksud Tuan Wira tempo hari? Ada yang bermain-main dibelakangnya. Dan itu menyangkut banyak orang terlibat didalamnya.
"Bukankah Pak Heru yang menyuruhmu? Dia sudah sering seperti ini, dan kami hanya bisa pasrah saja. Karena kami masih membutuhkan pekerjaan ini. Jika ada yang berani melapor kami semua akan kena imbasnya." Maya menghela nafas berat, diapun tak mau melakukan pekerjaan ini, memanipulasi data adalah kejahatan.
Henry benar-benar paham sekarang pokok permasalahan terlalu rumit untuk diuraikan. "Hei Kribo, cepatlah! Laporan itu sudah ditunggu bagian keuangan." Heru berkacak pinggang didepan kubikel Henry. "Dan kau Maya, kembali kemejamu, selesaikan tugasmu."
Maya berjalan menjauh, sebelum ada Henry, Maya yang selalu mengerjakan tugas itu. Tetapi sekarang Henry yang mengerjakannya. "Tuan, dia hanya mengajariku saja. Lihatlah! Dia sangat cekatan membantuku." Heru menatap tajam Henry, tak ingin dibantah lagi.
"Aku pulang duluan, anaku pasti sudah menungguku." Maya berbalik badan, langkahnya dihentikan Heru. "May, pulang bareng yukk, diluar hujan pasti jarang taksi atau ojek online." Maya menolaknya dengan halus. Heru sangat kesal, karena tak berhasil merebut hati wanita yang diincarnya.
Henry hanya memperhatikan dari jauh, dan melanjutkan kembali pekerjaanya yang tinggal sedikit. Selesai semua dia keruangan Accounting, disana Henry sudah ditunggu. Ternyata laporan ini memang urgent, pikirnya. Hal mengejutkan kembali terjadi, Irawan sedang ada disana.
"Bukankah dia cukup berada diruangannya, kenapa harus repot-repot datang sendiri?" Batin Henry. Tapi hari semakin sore, Henry hanya bisa mendengar sekilas perbincangan Kepala Bagian Keuangan dan Irawan.
"Ternyata ini tujuan Tuan Wira, dia sudah mengenali wajahku, dengan begini semuanya akan lebih mudah." Henry meninggalkan ruangan Accounting. Dalam hatinya terus bertanya, sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi disini? Separah inikah kekacauan yang terjadi? Sampai orang itu dengan leluasa menghancurkan namanya sendiri.
__ADS_1
Henry menuju basement, dimana mobilnya terparkir. Tentu saja ini sudah sepi karena jam pulang kantor sudah lewat 45 menit yang lalu. Langkahnya terhenti saat dia mendengar pertengkaran dua orang laki-laki dan perempuan. Salah satu suara terdengar tak asing baginya.
"Sampai kapan aku harus menunggu? Aku lelah menunggu kau yang seperti siput, lamban hanya berjalan ditempat." Maki seorang gadis, dia terlihat sangat kesal dengan orang yang sednag di maki itu. "Kau tunggulah sebentar lagi, aku hampir selesai. Dan saat itu tiba, aku pasti akan membawamu pergi jauh."
"Kau yakin? Bagaimana kau bisa seyakin itu? Apa kau pikir kakek tua itu tidak lebih pintar darimu?" Nadanya masih tinggi, wanita itu segera diseret masuk kesebuah mobil, ketika menyadari seseorang mendekat. Dia adalah Heru dan Manajer Accounting. "Diam disana!" Wanita itu ditinggalkan begitu saja.
Heru mendekat, mengulurkan sesuatu yang sulit Henry lihat, seperti sebuah flashdisk kalau Henry menebak. "Boss, sesuai yang kau minta." Heru dan satu orang lain bergegas pergi. Muncullah seringai diawajah lelaki itu. "Adel, meskipun kau kembali, itu sudah terlambat. Hahahaa..."
Henry melajukan mobilnya sedikit pelan dari biasanya, dia sempat menghubungi Nathan. Hasilnya masih sama, selisih laporan kas, antara pemasaran dan bagian keuangan menujukkan hasil yang bagus. "Aku harus menemui Tuan Wira." Henry menambah kecepatan laju kendaraanya.
Tak lupa dia melepas atribut badutnya, karena tak ingin membuat El takut. Sungguh lucu wajahnya ketika menjadi Reza, wajahnya seperti orang dungu. "Tuan, teka-teki yang kau buat semakin membingungkan. Entah sampai kapan aku harus jadi badut dikantormu itu. Hah, rubah tua itu...."
Dihalaman rumah Tuan Wira, Henry melihat ada sebuah mobil yang tak asing baginya. "Sore Tuan, saya ingin menemui El." Sapa Henry dengan sopan, dia baru saja memasuki mansion mewah Wiranata. Namun masih jelas terlihat sifat arogan yang ia tunjukan. Saatnya menjadi Henry kembali.
"Dia bersama Adel, di lantai atas." Tuan Wira berusaha menjaga sikapnya dihadapan orang lain. "Saya permisi dulu Tuan" dijawab anggukan Tuan Wira. Dia pun melanjutkan obrolannya dengan tamu yang sedang beehadapan dengannya.
Henry menemui El dan bermain bersama, tak terasa hari sudah gelap. Henry enggan meninggalkan El, tetapi dia juga tak bisa memaksakan kehendaknya. "Kau mau pulang?" Tuan Wira menghentikan langkah Henry yang akan meninggalkan pintu rumah.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH