Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Wanita Ular


__ADS_3

Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan.


Jangan lupa tinggalkan jejak Like komen dan VOTE sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Edo kembali kerumah saat petang, di terlihat sangat berantakan, bajunya kusut, rambutnya acak-acakan. Bahkan dia tak memperdulikan matanya yang sedikit sembab.


"Dasar bodoh, masih saja menangisi orang yang sudah tak ada." Gaby duduk dengan santainya diteras rumah Edo. Wanita ular itu dengan tidak tahu malunya, dia berjalan mendekati Edo. Hingga jarak mereka sangat dekat.


"Mau apa kau kemari? Dasar wanita ular, kalau kau kesini untuk mentertawakan ku lebih baik pulanglah!" Edo malas meladeni wanita ular, dia berjalan lurus dan meninggalkan Gaby begitu saja.


Gaby membalikkan badan, dia masih berusaha mempengaruhi Edo. "Aku punya rencana, untuk menghancurkan keluarga mereka." Mereka yang dimaksud adalah Henry dan keluarga besarnya. Gaby masih tak menyerah, meskipun berulang kali rencananya gagal.


"Rencana bodoh apalagi? Atau kau sudah siap menyerahkan nyawamu pada lubang harimau?" Edo tersenyum mengejek, tanpa berniat membalikkan badannya. Ia melenggang, meraih gagang pintu yang tak terkunci.


Dengan penuh percaya diri, Gaby mengatakan keinginannya. " Ayolah Do, kali ini aku jamin tidak akan gagal lagi. Terlebih saat ini si pengasuh El sudah tak lagi bekerja disana."


"Pengasuh El ?Maksudmu Nona Adel? Memangnya peduli apa aku heh? Itu bukan urusanku, dimanapun dia tak akan berpengaruh padaku." Edo sudah sangat malas meladeni. Dia segera masuk dan membanting pintu dengan keras.

__ADS_1


Gaby terjingkat, dia memegangi dadanya sendiri. "Dasar tak berguna, aku menyesal pernah mempercayaimu." Gaby mendengus, menghentakkan kakinya, dan meninggalkan rumah Edo dengan perasaan kesal.


Adi sedang menikmati kopi hitam kesukaanya. Dia memutar kepalanya, melihat kearah pintu yang baru saja di banting dengan kerasnya. "Kamu ini kenapa lagi Do?" Namun Edo masih saja acuh, dia terus berjalan menuju ke kamarnya.


Adi tak putus asa, di mencoba mengajak Edo bicara. Walaupun rasanya percuma. "Dasar lelaki bodoh, untuk apa kamu masih memikirkan wanita yang sudah tiada? Dia tak akan pernah kembali, meski kamu menangis darah sekalipun."Ternyata Edo merespon ucapannya.


Edo berbalik badan, dengan tangan yang terkepal dan tatapan wajah dinginnya. "Urus saja urusanmu sendiri, aku bisa mengurus diriku sendiri. Jadi kau tak perlu ikut campur lagi." Bukanya takut, Adi malah semakin senang. Dia kembali membalas perkataan Edo.


"Kalau kau ingin menyalahkan orang, satu-satunya yang bersalah adalah bayi itu. Karena dia Metta meninggal, dan Henry, dia yang sudah membuat Metta menderita, dengan melahirkan anaknya. Bukankah kamu sudah tahu hal itu?" Suara Adi meinggi, selama ini usahanya selalu gagal. Tapi tidak untuk kali ini.


Bahkan dia sekarang hanya bisa menggunakan Edo, karena dirinya tak bisa lagi berbuat apapun. Seluruh aksesnya telah disita, semua rencanaya hanya tinggal angan-angan belaka. Dia tak menyangka, HS Group akan mengeluarkannya dengan cara tidak hormat. Bukan hanya itu, namanya juga sudah di black list, apalah dayanya sekarang?


Adi bagaikan ular kucing tak bertaring, bahkan semua kukunya pun sudah tumpul. Dia hanya bisa menggunakan Edo, anak tirinya.


Edo sangat marah, bagaimanapun dia adalah anak Metta, tak mungkin dia menyakitinya. Hanya untuk membalaskan sakit hatinya. "Kau lebih baik diam, atau akan ku robek mulut berbisamu itu." Edo berjalan mendekat, dia meraih kerah baju Adi. Adi tak melawan, dia justru tertawa puas. Dia berhasil memancing singa tidur.


"Hahaha... Dan kau juga jangan lupa, aku masih tetap ayahmu. Dan aku juga yang telah merawatmu selama ini, jadi kau jangan pernah lupakan itu. Kalau tidak ada aku, mungkin kamu sudah m**i. Membusuk di aliran got waktu itu." Barulah Edo melepaskan tangannya, dengan kasar dia mendorong tubuh Adi hingga terhuyung kebelakang, hampir saja terjatuh dilantai.


Edo sangat muak, selalu hal itu yang dibahas. "Ayah? Bahkan orang sepertimu tak pantas menyandang status ayah. Dan aku tak rugi jika tak memiliki ayah sekalipun." Edo meninggalkan Adi, dengan wajah memerah menahan marah. Dia selalu lemah jika membahas tentang ayah.


Adi mengelus lehernya yang sedikit memerah. Edo terlalu kuat tadi, hampir saja dia kehabisa nafas. Namun dalam hatinya bersorak, apapun yang akan dilakukan Edo, yang pasti dia tak akan ikut terbawa- bawa. Bagaikan makan nangka, tetapi tak ingin terkena getahnya.

__ADS_1


Tetapi kejahatan tak akan kekal, cepat atau lambat pasti akan mendapatkan balasan. Begitupun sebaliknya, sekecil apapun kita melakukan kebaikan, suatu saat kita akan menuai apa yang kita tanam. Bahkan lebih.


...----------------...


"Percuma aku menunggunya, hah, sia-sia waktuku terbuang tak berguna disini. Dasar manusia lemah." Gaby terus saja menggerutu, dia melajukan mobilnya ketempat biasa. Nasib baik masih berpihak padanya, tanpa sengaja dia bertemu dengan orang yang pantas dia jadikan rekan.


Gaby menyeringai, ketika mendengar nama Adel disebut-sebut dua orang yang terlibat pembicaraan serius. "Hahahaa wanita ***** sepertimu memang tak pantas bahagia, mereka buktinya. Aku tak perlu repot-repot mengotori tanganku lagi." Gaby kegirangan, mendapati orang yang duduk memunggunginya menginginkan nyawa Adel.


"Bolehkah saya bergabung disini Tuan-Tuan?" Gaby dengan penuh ambisi menarik kursi kosong disebelahnya. Padahal dia belum dipersilahkan, dasar wanita ular, urat malunya sudah putus. Hahhhh.


"Tentu saja nona cantik, apakah kamu ini adalah hadiah spesial yang ditawarkan untuk kami?" Salah satu orang dengan kumis tebal itu mendekati Gabby, yang mengira bahwa dia adalah wanita yang disiapkan untuknya. Haaaa.. Sokooooorrrr....


Salah satu orang lagi enggan meladeni, dia meninggalkan tempat ini begitu saja. "Urusan kita belum selesai, temui aku besok dikantor." Ucapnya sebelum pergi. "Siapp bosss," jawabnya memberi hormat. Orang itu adalah Heru, pelanggan tetap diclub itu, juga tangan kanan orang itu.


"Nona, mari kita bersenang-senang" Ucap Lelaki berkumis. Namun segera ditepis Gaby ketika tangannya hendak menyentuh wajah Gaby. "Jangan harap hal itu akan terjadi." Gaby hendak pergi, namun sudah terlambat.


"Jangan sok jual mahal, kamu ini hanya wanita ******, yang menjajakan diri. Berapapun kamu mau, aku pasti sanggup membayarnya." Heru menarik Gaby dengan kasar, dan membawanya pergi dengan mobilnya. Gaby terus berteriak, membuat Heru tak sabar lagi. Dia memberikan jurus mautnya, membuat Gaby tertidur dengan perlahan.


"Hah, hanya segitu kemampuanmu Nona?" Heru menyeringai, padahal dia hanya ingin memberinya pelajaran. Karena berani menguping pembicaraan mereka. Dia kemudian menghubungi boss nya, "Sudah ku bereskan boss, apa yang harus lakukan padanya?"


"Terserah kau saja, aku tak peduli. Asalkan dia bisa tutup mulut, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui rencana kita." Panggilan datikan sepihak. "Dasarr bosss, untung saja aku butuh uang." Heru membanting ponselnya ke kursi belakang.

__ADS_1


TBC


Terima kasih


__ADS_2