
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Hai sayangnya Papa, sehat-sehat ya di dalam sana. Papa kerja dulu, jangan nakal ya." Arga mengusap perut buncit Wulan, dan sebuah gerakan halus merespon setiap Arga dan Wulan mengajaknya bicara.
Dugg Duggg
Mendapat respon begitu, Arga senang bukan main. Ia mengecupi perut Wulan yang tinggal menghitung hari menuju persalinan. Jangan ditanya rasanya, setiap wanita hamil pasti merasakannya. Sedih, bahagia, takut, apalagi Wulan baru pertama kalinya mengalami hal itu.
"Sayang udah dong, Mama geli nih." Wulan mengusap perutnya sambil berbicara, lambat laun, tak ada pergerakan lagi. Wulan bisa bernafas lega.
"Nah, anak pintar." Arga mengusap bagian yang berdenyut sebelumnya. Bahkan setiap malam, Arga harus mengusap perut Wulan agar Wulan bisa tertidur. Trimester akhir membuat Wulan susah tidur, juga sering bolak balik kamar mandi karena perubahan hormon selama kehamilan. Dan kandungan yang sudah menekan bagian kandung kemih ibu hamil.
"Ingat kata dokter, kalau ada sesuatu yang tidak biasanya beritahu Aku. Mommy juga ada dirumah." Arga mengecup kening Wulan dan segera melajukan kendaraannya menuju kantor.
Wulan sudah sering merasa perutnya kencang, tapi menurut dokter itu hal yang wajar. Kontraksi palsu, bahkan terkadang tak hanya sekali Wulan merasakannya. Tetapi belum ada tanda-tanda lain seperti orang melahirkan.
"Lan, duduk sini. Mom melihat Kamu jalan, seperti ikut merasakan kesusahan mu." Nyonya Amel menuntun Wulan duduk di teras rumah. Biasanya ia menemani Wulan jalan pagi, tetapi hari ini Wulan merasa lelah dan ingin istrirahat.
"Mom, ini namanya nikmat." Wulan mengusap perutnya yang terasa geli, lagi-lagi si kecil kembali aktif di dalam sana.
"Ya sudah, Mom mau ke atas sebentar. Kalau perlu apapun panggil aja." Nyonya Amel meninggalkan Wulan di teras, Wulan merasakan kehangatan sinar mentari pagi langsung diwajahnya. Ia mengusap perutnya sambil terus bercerita, hari ini kencang diperutnya lebih sering dari biasanya.
Bahkan sampai siang hari, ia masih merasakan kontraksi yang hanya beberapa detik saja. Ia juga merasa basah di area V, dan Wulan terkejut saat mendapati bercak darah disana. Tetapi ia berusaha tidak panik, ia sudah mempelajari semuanya sebelumnya. "Jangan panik, jangan panik. Tarik nafas... hembuskan." Wulan berbicara sendiri sambil mempraktekan ucapannya.
Keringat dingin mulai membasahi sekitar wajahnya, ia segera menghubungi Dokter Siska dan mengabarkan apa yang di alaminya. "Jika kontraksi masih hilang timbul, coba tenang. Anda bisa ke rumah sakit kapanpun Anda merasa kontraksi itu semakin sering dan durasinya bertambah lama." ucap Dokter Siska di dalam telepon.
"Baik dok, terima kasih." Wulan mengakhiri panggilan, ia bimbang harus memberitahu Arga atau tidak. Tetapi Arga pasti sibuk dijam segini, lagi pula ia hanya beberapa kali merasa perutnya kencang.
"Mom, Aku..." Wulan menggigit bibir bawahnya, saat kontraksi datang lagi.
"Kamu mau melahirkan?" Nyonya Amel sudah panik melihat Wulan penuh keringat, terlebih ia memegangi perutnya yang terasa semakin kencang. Nyonya Amel ketakutan, ia membayangkan Metta waktu itu.
"Bi, Bibi Mey. Panggil sopir, kita ke rumah sakit sekarang. Persiapkan semua kebutuhan Wulan." Nyonya Amel mengambil tisu untuk mengelap keringat Wulan. Ia kemudian memapah Wulan ke dalam mobil.
"Mom, kata dokter gak apa-apa. Ini masih tidak terlalu sering." ucap Wulan setelah kontraksinya berakhir.
"Gak papa gimana? Kamu kesakitan gitu. Pak cepat jalan ke rumah sakit X." Nyonya Amel memegangi bahu Wulan, ia sesekali mengelap keringat yang terus bercucuran.
"Sayang, kalau emang udah saatnya lahir, tunggu sampai di rumah sakit ya." Nyonya Amel ikut mengusap perut Wulan. Tak ada respon, tetapi Wulan semakin sering meringis. Menahan ngilu di bagian bawah perutnya.
Dan saat kontraksinya hilang, Wulan bisa kembali merasa lega. "Aduh Pak, kenapa jalannya lambat banget? udah kayak siput aja." Nyonya Amel sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah sakit. Melihat Wulan kesakitan, ia seperti ikut merasakan seperti yang Wulan rasakan.
"Arga sudah tau?" Wulan hanya menggelengkan kepalanya, ia harus menghemat tenaganya.
"Ya ampun Lan, mana ponsel mu?"
"Di rumah." Nyonya Amel menepuk keningnya sendiri, karena terburu-buru. Ia juga tak membawa apapun.
Sampai di rumah sakit, kontraksi yang Wulan rasakan semakin sering dengan durasi yang lebih lama. Disana Arga sudah menanti bersama para dokter. Arga menghubungi nomor Wulan, tetapi tak ada jawaban sama sekali. Ia kemudian ke telefon rumah dan Bibi Mey mengatakan Wulan baru saja ke rumah sakit bersama Mommy. Kebetulan Arga sedang di luar kantor. Dan jaraknya dekat dengan rumah sakit yang dituju.
"Arga, cepat bantu Wulan." panggilan Nyonya Amel menyadarkan Arga. Ia tak tega melihat Wulan dengan wajah sedikit pucat menahan sakit. Juga peluh yang membasahi hampir seluruh tubuh istrinya. Arga segera memapah Wulan bersama Dokter Siska.
Kenapa gak di gendong? Sekuat apapun, menggendong dua orang terlebih berat badan Wulan yang naik drastis setelah hamil. Itu bukanlah hal yang mudah bro.
"Apa sakit banget?" Arga menggenggam tangan Wulan yang berbaring di brankar dorong. Wulan hanya bisa menggigit bibir bawahnya, kontraksi sedang berlangsung saat Arga bertanya.
__ADS_1
Dokter segera memeriksa kondisi ibu dan bayi. Termasuk detak jantung janin menggunakan alat pendeteksi, dan juga sudah pembukaan berapa.
"Ibu dan bayi sehat. Dan saat ini masih pembukaan 2 jadi harap sabar ya." ucap Dokter Siska.
"Memangnya berapa lama lagi dok?" tanya Arga.
"Saya tidak bisa memastikan waktunya, karena setiap orang berbeda-beda. Tetapi masih harus melewati 8 pembukaan lagi sebelum bayi siap di lahirkan."
"Hah? Maksudmu, sampai 10?" Dokter Siska mengangguk, dan pergi untuk menyiapkan alat-alat yang lainnya.
"Dimana yang sakit?" tanya Arga, Wulan mulai tenang karena kontraksinya menghilang.
"Minum." Arga memberikan minuman hangat sesuai perintah dokter.
"Ssshhhh..." Wulan mencengkeram selimut saat perutnya terasa kencang kembali.
"Sabar ya sayang, jangan buat Mama kesakitan ya." Arga mengusap perut Wulan.
"Sabar-sabar, Kamu gak rasain. Aduhhh sakit tau." Wulan mengeratkan tangannya.
"Sakit banget ya? Kamu boleh marahin Aku, boleh pukul juga gak papa." Arga menggenggam tangan Wulan.
"Ini semua gara-gara Kamu."
"Iya maaf, memang salahku." Arga mengiyakan saja. Dari pada tambah panjang urusannya.
Kita buatnya berdua, bagaimana bisa hanya Aki yang salah?
Arga hanya bisa membatin, ia menjadi pelampiasan Wulan. Setiap kontraksi datang, tangannya dicakar dan dicengkeram. Bahkan pernah Wulan menggigitnya.
Nyonya Amel tak berani masuk, tangannya masih gemetar. Ia tak mau lagi menemani Wulan, rasa trauma yang pernah ia alami sebelumnya. Membuatnya merasa ketakutan yang kuar biasa. Nyonyq Amel menghubungi anggota keluarga yang lain, termasuk Henry dan Adel.
"Bagaimana Wulan Mom?" tanya Adel baru saja tiba bersamaan dengan Henry. Nyonya Amel sibuk mondar-mandir di luar ruangan bersalin.
"Masih di dalam, dokter bilang masih satu tahap lagi." Nyonya Amel tak bisa diam, seperti setrikaan. Ia mendekap dirinya sendiri setiap mendengar teriakan Wulan.
Di dalam ruangan.
Hampir 4 jam mereka menunggu, dan Wulan semakin tak karuan. Ia sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit yang dia rasakan.
"Aaarrgghhhh... Sakiittt Ga." Wulan merintih kesakitan, sekarang kotraksinya semakin sering hampir tak berjeda, dengan durasi yang sangat lama.
"Dokterrrr... sampai kapan lagi harus menunggu?" Arga sudah tak sanggup melihat Wulan kesakitan. Dokter Siska segera mengecek kembali, ternyata sudah waktunya.
"Sekarang boleh mengejan, tetapi tunggu kontraksinya datang. Anda baru boleh mengejan, jika hilang maka berhenti." Dokter Siska memberikan instruksi pada Wulan.
"Ya, tarik nafas panjang... Keluarkan perlahan. Jangan ditahan, seperti orang mau pup." Tanpa sadar, Arga juga mengikuti instruksi dokter. Bagaimanapun juga ini pengalaman pertamanya, ia sangat gugup dan takut.
"Aaaakkkhhhh.... Hufft.. huffttt... huffttt..."
"Ya dorong terus, sudah kelihatan kepalanya. Tarik nafas lagiiii... Yang panjang... Hembuskan...." Wulan berusaha mendengarkan instruksi Dokter Siska, meski dirinya merasa sakit sekujur tubuhnya. Tangan Arga tak lepas menggenggam Wulan. Meski takut, Arga tetap menemani Wulan dan tak berpaling dari sisinya.
"Aaarrgghhhhh....." tak lama terdengar suara bayi menangis.
"Oooeeekkk... ooeekkkk...." Perjuangan Wulan sungguh luar biasa. Arga menitikkan air mata haru, ia segera memeluk Wula dari samping dan mengecupi wajah istrinya meski peluh bercucuran.
Begitu mendengar tangis bayi, rasa sakit Wulan seakan menghilang. Berganti menjadi kebahagiaan. "Anak kita sayang, terima kasih sudah berjuang. Kalian hebat." Arga kembali menghadiahkan banyak kecupan diwajah istrinya. Keduanya menangis haru, penuh syukur atas kebahagiaan yang diberikan.
__ADS_1
Bayi segera di bersihkan, dan di ukur serta ditimbang. Setelahnya, bayi dibiarkan berinteraksi untuk pertama kalinya dengan sang ibu. "Selamat Tuan, Nyonya. Putra Anda sangat tampan seperti Papanya." Dokter Siska menaruh bayi yang masih merah itu di dada Wulan.
Dengan tangan bergetar, Wulan perlahan menyentuh putra yang baru saja ia lahirkan. Begitupun Arga, ia tak menyangka akan mendapatkan seorang putra yang sehat dan tampan. Selama ini, Wulan dan Arga memang tak ingin mengetahui jenis kelamin sang bayi. Biarkan menjadi kejutan saja. Asalkan keduanya sehat.
Mendengar suara tangisan bayi, Nyonya Amel dan semua yang ada diluar ruangan begitu gembira. Adel berpelukan bersama ibu mertuanya, mereka bersyukur atas kehadiran anggota baru dalam keluarga besar Syahreza.
"Sudah lahir Mom, bayinya sudah lahir." Adel begitu heboh, ia melupakan El yang bersama Daddynya.
"Dad, Mami kenapa?" tanya El bingung.
"Adek bayi Mama Wulan udah lahir. Nanti bisa main bareng El." ucap Henry menyentuh pipi gembul El dengan telunjuknya.
"Ade bayi? Holeeee... El punya ade.. belalti sekalang Mami mau kasih El ade lagi... Yeahhh ade banyak-banyak." Henry mengernyit heran mendengar ucapan El. Tetapi ia menganggap uacapan El hanya candaan anak kecil. Padahal El masih ingat betul ucapan Mami Adel waktu itu, yang mengatakan bahwa Mami akan memberi adik bayi setelah Mama Wulan melahirkan.
Adel yang mendengar ucapan El segera menjauhkan diri dari Mommy mertuanya. Ia tak menyangka jika El masih mengingatnya. Padahal waktu itu ia hanya bicara asal saja.
Arga segera keluar, ia dipersilahkan untuk menunggu di luar. Dokter akan menangani Wulan dan membersihkan bayi mereka. Pancaran kebahagiaan tak menyurut dari wajahnya. "Mom, Aku jadi Papa, Aku punya bayi sekarang." ucapnya tanpa memudarkan senyumannya.
"Selamat Ga, Jadi Papa yang baik dan bertanggung jawab ya." Nyonya Amel merangkul putranya. Diikuti Tuan Abimanyu, Henry, dan Adel. Serta si gembul yang tak ingin ketinggalan.
"Oh iya, apa jenos kelamin anak mu?" tanya Henry.
"Dia, hmmm... Dia sama seperti El."
"Yeay... El punya ade bayi. El mau liat."
"Nanti dulu ya, Ade bayinya masih di dalam." ucap Arga.
Tak menunggu lama, Wulan sudah dipindahkan keruang perawatan. Tetapi kondisinya masih lemah dan harus beristirahat setelah melahirkan. Keluarga hanya boleh menjenguknya sebentar.
"Wulan, selamat ya." Adel menghambur memeluk Wulan yang masih bersandar pada tempat tidur.
"Makasih Adel, semoga setelah ini Kamu menyusul." ucap Wulan pelan.
"Makasih doanya." Adel tersenyum mengusap tangan Wulan yang tak diinfus.
"Wulan, Makasih ya. Maaf Mom tak menemanimu tadi." Nyonya Amel kembali menitikkan air matanya, melihat Wulan dalam keadaan sehat, meski masih terlihat pucat, itu sudah membahagiakan Nyonya Amel.
Ucapan selamat terus mengalir untuk Wulan dan Arga, termasuk Dokter Alvin yang tadi sedang melakukan operasi untuk pasiennya. Menyempatkan diri untuk mengunjungi Wulan.
"Jadi siapa namanya Ga?" tanya Tuan Abimanyu.
"Jangan bilang Kamu belum menyiapkan nama Ga." ledek Henry.
"Sudah, Kami sudah menyiapkan nama iya kan yang." Arga melirik Wulan yang mengangguk pelan.
"Namanya ARLAN." ucap Arga dengan lantang.
"Arlan Haris Dirgantara."
"Kenapa gak ada nama belakang Daddy?" Tuan Abimanyu memprotpes karena tak ada nama marganya.
"Dad, hanya soal nama. Tak perlu dijadikan masalah." Nyonya Amel menengahi, ia mengusap lengan suaminya. Hal itu sudah menjadi keputusan Arga dan Wulan.
"Baiklah! Arlan ya. Nama yang bagus." Tuan Abimanyu mengangguk sambil memegangi rambut halus yang mulai memutih didagunya.
TBC
__ADS_1
Welcome Baby Arlan.
TERIMA KASIH