Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Gak Mungkin Gak Mau


__ADS_3

Thor cuma mau ingetin, jangan lupa vote, vote dan vote.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Adel berkaca-kaca, dia tak menyangka si manusia kutub bisa selembut dan setenang ini. Dia berusaha menahan genangan disudut matanya agar tak mengalir.


Henry kembali bertanya, dia memegang wajah Adel agar menatapnya kembali. "Aku tak memaksamu, jika kau berubah pikiran" Henry tersenyum, namun dihatinya menangis. Wait, jarang sekali Henry menampilkan senyum manisnya, meskipun terpaksa tapi begitu menawan menurut Adel.


"Aku gak mungkin" Adel memalingkan wajahnya.


"Baiklah kalau itu su...."


"Ssstttt" Adel meletakkan telunjuknya dibibir Henry. Entah keberanian dari mana, sehingga dia berani menyentuh bibirnya. Henry menangkap jemari Adel, tapi tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan.


"Aku belum selesai, suka banget nyerobot" Adel mengerucutkan bibirnya. "Aku gak mungkin kalau bilang gak mau" Adel menggigit bibir bawahnya.


"Maksudmu kamu mau menerimaku?" Adel mengangguk pelan.


"Yeayyyy, terima kasih" Henry mengecup jemari Adel yang masih digenggamnya. Adel tersipu, Henry memperhatikan hal itu semwkin membuatnya senang, ingin menggodanya.


"Apakah ac diruangan ini tidak menyala?" tanya Henry, dia melihat sekelilingnya.


"Disini dingin, apa kau merasa gerah?" Adel mengernyitkan keningnya.


"Ya, hareudang, melihat wajahmu yang semerah tomat" Henry tertawa, membuat Adel kesal dan memukul lengan kanannya secara refleks.


"Awwww" Henry menghentikan tawanya, dia mengusap lengannya sendiri.


"Maaf" Adel merasa bersalah, dia segera mengusap dan meniup tangan Henry. Gak bakal terasa Adel, tangan Henry digips. Thor tepuk jidat.


"Yah ini sakit sekali" wajah Henry pura-pura memelas. Membuat Adel semakin merasa bersalah.


Henry meraih bahu Adel dengan sebelah tangannya, membawanya dalam pelukannya. "Terima kasih" ucapnya.


"Kau membohongiku? Orang kesakitan malah berterima kasih" jawab Adel ketus.


"Sakit ini tak ada artinya, jika dibanding dengan kebahagiaanku saat ini" Henry mengedipkan sebelah matanya.


"Sejak kapan Tuan Henry si manusia kutub belajar gombal?" Adel terkekeh, Henry semakin berani menggodanya.


"Sejak kau membuka gembok didalam gerbang hatiku, dan tinggal di istana cintaku" Henry menanggapinya dengan candaan. Membuat Adel gemas dan kembali memukul lengannya yang sakit. Kali ini benaran sakit, terasa ngilu di tulang.


"Ssshhhhh" Henry hanya mendesis, menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa sakitnya dia tak bergerak sedikitpun.


"Jangan pura-pura" Adel beranjak, ingin meninggalkan Henry, tapi melihat Henry bercucuran keringat, membuat Adel mengurungkan niatnya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya?" Henry masih diam, tapi saat ini dia mulai rileks.

__ADS_1


"Tak ada kau hanya perlu bersamaku, menjaga El, itu sudah cukup" wajah Henry berubah serius.


"Tunggu, bukankah dokter bilang kamu amnesia ringan, sejak kapan kamu mengingatku? Memanggil aku kamu, apa kita sedekat itu?" Adel mengalihkan pembicaraan, dia enggan meladeni Henry yang mulai gila.


Flash Back On


Henry mengalami sakit yang tak tertahankan, saat melihat Adel dan El dikamarnya. Dia sempat pingsan karena tak dapat menahan rasa sakitnya. Dokter Alvin memeriksanya dengan teliti.


Saat Henry tersadar, mereka hanya tinggak bertiga dengan Arga yang duduk di sofa. Dokter Alvin kembali memeriksanya, namun Henry menolak. "Aku sudah tidak apa, tolong jangan memberitahukan ini pada siapapun. Hanya kita bertiga yang boleh tahu."


"Itu berarti kau sudah mengingat semuanya?" tanya Dokter Alvin.


"Ya, biarkan seperti ini, aku masih ada yang perlu diselesaikan. Lebih baik jangan memberitahu siapapun, termasuk Mom and Dad" Arga dan Alvin saling melirik, keduanya menganggukan kepala tanda setuju.


"Apa ini menyangkut Nona Adel?" tanya Arga.


"Aku harus memastikan perasaanku padanya, dan aku akan memberikan sebuah kejutan untuknya" Henry terkekeh membayangkan rencanya.


"Apa kamu yakin?" Arga masih belum percaya dengan keputusan Henry, bukankah akan lebih mudah jika dia mengatakan yang sebenarnya?


"Ikuti mau mu" dokter Alvin tak bisa membatah kali ini.


"Ya, ya terserah kau saja Tuan" Arga dengan nada meledek, sebuah bantal melayang tepat diwajah Arga, mereka malah tertawa bersama.


"Kau ini menyebalkan, lebih baik kau hilang ingatan, jadi hidupku akan tenang" Arga menaruh bantal di sofa, kemudian merebahkan tubuhnya.


"Kau tak senang aku kembali?" Henry mendengus kesal.


"Kau mengataiku Vin?" teriakan Henry diabaikan, Alvin menghilang dibalik pintu kayu.


"Bagaimana kamu akan menjelaskannya nanti?" ucap Arga, dia tak bergerak dari posisinya di sofa.


"Itu urusan nanti, serahkan padaku" Henry dengan penuh percaya diri.


Sesuai kesepakatan, Henry terus mengurung diri dikamarnya, meskipun sering merasa bosan, dia harus bisa menahannya.


Sampai di malam ulang tahhn El, Henry memberitahukan semua keluarganya, Adel sudah tertidur, begitupun dengan Wulan. Dia leluasa mengadakan rapat pleno dadakan.


"Mom gak setuju" Nyonya Amel merasa keberatan jika rencana Henry membiarkan Adel pergi begitu saja.


"Ayolah Mom, kita ikuti saja putra bodohmu ini" Tuan Abimanyu mendukung putranya.


"Kau membelanya Dad? malam ini tidur diluar" Tuan Abimanyu mendesah, dia tak akan bisa melawan istrinya.


"Kurasa ini bukan ide yang buruk Mel, lagi pula kita akan menjemputnya dan meminta dengan sopan pada Wira, aku setuju dengan rencanamu" ucap Ama.


Mereka mengatur strategi, akan membiarkan Adel pulang, dan menyusulnya dengan dalih lamaran. Keluarga Tuan Wira juga sudah diberi tahu, awalnya Ibu Sari keberatan, dia tak ingin membuat Adel sedih, tapi akhirnya setuju setelah dibujuk Nyonya Amel.


Flash back off

__ADS_1


"Sekarang, apalagi yang ingin kau ketahui? kalau tidak ayo kita keluar, semua orang sudah menunggu" Henry berdiri, hendak meninggalkan Adel. Kemudian berbalik saat bersamaan Adel sudah ada dibelakangnya.


Adel terkesiap, wajah mereka sangat dekat, nafas keduanya terasa hangat, jarak diantara mereka hanya beberapa centi, Adel berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin berpacu, begitupun Henry.


"Sampai kapan kalian akan seperti itu?" suara Nyonya Amel mengagetkan keduanya. Mereka tersipu, saling menjauhkan tubuh mereka.


"Mammiii, ni Mamii atu" El menerobos masuk, tak mau jika Maminya diminta Daddy.


"Kau menang bocah kecil" Henry mengacak rambut El kasar, membuat El mengerucutkan bibirnya. Yang justru membuat ketiga orang dewasa disana tertawa.


Semua keluarga sudah menantikan dua sejoli ini. "Saya umumkan, Nona Adellia Jasmine, bersedia menjadi Nyonya Muda Syahreza" pipi Adel memanas, dia merasa terharu, tapi juga malu. Semua orang turut bahagia dan bertepuk tangan.


"Huuu huuu hiikksss" Wulan terisak di ujung sofa.


"Loh, kamu kenapa menangis Lan?" tanya Ama.


"Saya sedih, kalau sudah ada Mami Adel, saya akan kembali kerumah sakit, huuuu" Ama mengernyitkan keningnya.


"Bukankah kamu senang? Bisa bebas seperti dulu?" sahut Arga yang duduk diseberangnya.


"Jangan pecat saya Nyonya" Wulan memelas.


"Siapa yang akan pecat kamu? kalau kamu gak mau balik kerumah sakit, apa kamu juga mau kaya Adel?" Nyonya Amel menatapnya dengan serius.


"Hah? kaya Adel gimana?" Wulan menghentikan tangisannya.


"Mungkin dia juga ingin jadi Nyonya Syahreza yang berikutnya Mom" Tuan Abimanyu menyahut.


"No, aku gak mau jadi istri kedua, berbagi suami dengan Adel, gak mau" Wulan bergidik ngeri membayangkan punya suami galak. Dan harus berbagi dengan Adel.


"Siapa bilang jadi istri kedua? kami masih punya satu anak lagi" Tuan Abimanyu dengan santainya, tapi lirikkanya tak lepas dari Arga.


Arga yang merasa terancam hanya bisa pasrah, tapi tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Si-siapa?" tanya Wulan dengan wajah polosnya.


"Tuh" Henry menunjuk Arga yang memalingkan wajahnya.


"Gak" seru keduanya bersamaan.


"Gak usah gengsi, nanti kalian jodoh" Ledek Adel.


"Jangan sampai" ucap Wulan.


"Jangan sampai diambil orang maksudnya ya, hahaha" Henry tertawa senang, melihat dua orang tikus dan kucing ini menjadi bahan tertawaan.


Semua orang tertawa bahagia, termasuk si bocah kecil El. "Ahhahaaa"


......~Tamat~......

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2