Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Rindu El


__ADS_3

uthor ucapkan banyak tetima kasih kepada seluruh readers yang senantiasa menanti kisah Baby El. Dan juga semua dukungan yang telah diberikan.


 


 


Semoga berkenan meninggalkan jejak Like Komen dan Vote serta Rate.


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


"Jo, aku sudah melacak keberadaan Nona Adel, ku kirimkan posisinya saat ini" ucap Arga ditelepon.


 


 


Arga tak bisa menghubungi Adel, bukan tak bisa tetapi tak dijawab. Jadi dia hanya mencari titik dimana Adel berada saat ini.


 


 


"Baik Tuan saya akan segera kesana" jawab Bejo.


 


 


"Yah, aku akan menyusul kau berangkatlah duluan, kita bertemu disana".


 


 


"Baik Tuan" Arga mematikan telepon, dia berkemas menjemput Adel. Dia sudah berpamitan pada Tuan Abimanyu, dan juga Henry.


 


 


Arga kembali melihat gawainya, memastikan keberadaan Adel. Tetapi tak menemukan apapun, Arga terlonjak, bagaimana bisa? Padahal tadi dia sudah menemukannya, dan posisinya disekitar hutan lindung yang terpencil.


 


 


"Ga, ada apa? Kenapa balik lagi, apa ada yang tertinggal?" ucap Tuan Abimanyu.


 


 


"Tuan, sepertinya ada yang tidak beres dengan Nona Adel, GPS yang saya pasang disabotase" ucap Arga panik.


 


 


"Hah, tidak beres bagaimana? Apakah Bejo belum juga menemukannya?"


 


 


"Belum Tuan, dan sekarang malah tak diketahui lagi posisinya".


 


 


"Dimana terakhir dia terlacak?" tanya Henry, dia baru saja turun dari kamar El.


 


 


"Sekitar hutan lindung disudut kota".


 


 


"Bukankah itu sangat terpencil? Mungkin disana tidak ada sinyal" ucap Henry enteng.


 


 


"Tadi saya sudah menemukannya Tuan, tapi sekarang menghilang, lagi pula panggilan saya masuk tapi tidak diangkat. Berarti memang ada sinyal disana".


 


 


"Ooooo" Henry hanya ber ohh ria.


 


 


"Tuan bagaimana ini?" tanya Arga.


 


 


Apa tadi dia mau kesana? Tapi dia terlihat panik, jangan-jangan terjadi sesuatu pada nya. Aku tak akan membiarkan El kehilangan ibunya untuk kedua kalinya. Ahh, kenapa aku jadi kepikiran dia? Demi El, hanya untuk El.


 


 


"Kita kesana sekarang" ucap Henry dengan mantap. Dia segera mengambil kuci mobil Arga.


 


 


"Ga apa aku tidak salah dengar?" tanya Tuan Abimanyu, Arga hanya mengangkat bahunya.


 


 


"Tapi Tuan, bagaimana dengan keberangkatan Anda ke London?" tanya Arga.


 


 


"Aku berangkat besok pagi, atau siang, situasi sudah bisa terkendali. Lagi pula aku tak mungkin membiarkan cucuku sendirian".


 


 


"Baiklah Tuan, saya pergi dulu" pamit Arga.


 


 


Tuan Abimanyu menepuk bahu Arga, "berhati-hatilah, dan segera hubungi jika ada sesuatu yang darurat".


 


 

__ADS_1


"Baik" jawab Arga lalu bergegas menyusul Henry.


 


 


Bibi Mey membantu Nyonya Amel menjaga El, juga dokter Wulan sementara waktu yang akan merawat El, atas perintah Tuan Abimanyu.


 


 


...----------------...


 


 


"Adel, kamu mau kemana nak? Ini sudah malam" kata Ibu Sari.


 


 


"Aku harus kembali bu, El pasti mencariku" jawab Adel.


 


 


"Disana banyak pelayan, ada Nyonya Amel, dan juga ayah El".


 


 


"Tapi bu, perasaan Adel tak enak, Adel takut terjadi sesuatu padanya".


 


 


"Ibu mu benar, besok saja kau kembali nak, ini sudah malam, menginaplah" ucap Eyang.


 


 


"Hanya malam ini, setelah itu kamu boleh kembali. Ibu juga sangat rindu denganmu" ucap Ibu Sari membelai surai panjang Adel.


 


 


"Baiklah" dengan berat hati, Adel mengiyakan dua orang sesepuh yang harus dia hormati saat ini.


 


 


Mereka baru selesai makan malam, sedari siang Adel melupakan makan siangnya, dan sekarang hanya beberapa suap yang masuk ke mulutnya. Perasaanya sangat cemas, meninggalkan El dimansion, meskipun dia tak tahu telah terjadi kekacauan disana, tetapi nalurinya sangat kuat.


 


 


Adel juga meminta, untuk saat ini biarlah semua berjalan sebagaimana sebelumnya. Diluar sana, Adel dan Eyang seperti tak saling mengenal.


 


 


Eyang pun setuju, karena semua demi kebaikan Adel sendiri. Bahkan Eyang Wira telah menyuruh seseorang untuk menutup akses masuk kesana, termasuk sinyal ponsel Adel. Itu akan menjadi salah satu jalan, untuk orang lain menemukan mereka.


 


 


Adel sudah menerima Eyang Wira walaupun masih belum 100%. Namun ia berusaha melakukannya, demi ibunya. Tetapi Adel juga tak menginginkan kekayaan Eyang Wira. Yang dia inginkan, hanya hidup bahagia bersama orang yang dia sayangi.


 


 


 


 


Semenjak menjadi ibu asuh El, belum sekalipun Adel meninggalkan El. Dia lebih baik kerepotan membawa El, dari pada harus meninggalkannya.


 


 


Sepertinya ikatan batin mereka sangat kuat, walaupun tidak lahir dari rahimnya, tetapi El menempati posisi penting dihati Adel.


 


 


"El kau belum tidur?" tanya Adel.


 


 


"Ibu, kenapa ibu juga belum tidur?" Adel balik bertanya.


 


 


"Apa kamu merindukan El?" tanya ibu. Adel hanya menganggukkan kepalanya pelan.


 


 


Ibu Sari hanya tersenyum, membelai pipi Adel lembut. Ia juga pernah merasakan saat Adel kecil. Walaupun selalu bersama, tetap saja tak ingin dipisahkan.


 


 


Tokkk Tokkk Tokkk


 


 


Pintu kamar diketuk, padahal sekarang sudah jam 22.00 malam. Siapa yang mengetuk pintu malam malam begini? pikir mereka. Dan diluar terdengar suara gaduh, seperti orang berkelahi.


 


 


"Apa yang terjadi diluar bu?" tanya Adel.


 


 


"Ibu juga tidak tahu, ayo kita lihat" ucap ibu.


 


 


"Lohh ayah, ada apa?" tanya Ibu Sari.


 


 


"Ada yang ingin bertemu denganmu, dua orang pemuda" ucap Eyang Wira.


 


 


Adel dan ibunya saling melempar pandangan, dua pemuda? siapa sih? Mengganggu saja, pikir Adel.

__ADS_1


 


 


Adel segera turun kelantai dasar, menuju pintu utama.


 


 


"Lohh, Tuan sedang apa disini?" tanya Adel heran.


 


 


Henry dan Arga mengernyit, Adel tak terlihat seperti sedang diculik, dan Ibu Sari pun sama. Mereka mengenakan piyama tidur. Dan wajah mereka terlihat baik-baik saja, hanya sedikit lelah diwajah Adel.


 


 


"Ga sebenarnya ada apa ini?" tanya Henry dengan nada pelan.


 


 


"Kau yang kenapa? Malam malam membuat gaduh ditempatku" ucap Eyang sinis.


 


 


"Kakek, kenapa ada disini?" tanya Henry. Dia bertemu di acara ulang tahun El kemarin, sebagai tamu Tuan Abimanyu.


 


 


"Ditanya malah balik bertanya" Eyang dengan tampang datar.


 


 


Namun Adel menyimpulkan, ada sesuatu yang terjadi pada El. Sampai Henry sendiri mendatanginya.


 


 


"Eyang, tolong biarkan Adel bicara" ucap Adel.


 


 


"Eyang?" sahut Henry dan Arga bersamaan.


 


 


"Sudahlah, nanti saja kujelaskan. Ada apa Tuan kemari?" tanya Adel.


 


 


"Maafkan kami Tuan Wira, tapi kedatangan kami..."


 


 


"Tidak perlu minta maaf Ga, kita pulang" ucap Henry segera berbalik badan.


 


 


"Berani nya dia mengerjai ku, menghilang seharian, malah enak enakan disini, apa mau wanita gila itu sebenarnya" Henr mengumpat kasar.


 


 


"Tuan ini tidak seperti yang Anda pikirkan" Adel berusaha mengejar Henry, tetapi dicegah Eyang.


 


 


"Adel benar, mereka semua tahu bahwa Adel sedang diculik, bukan liburan" ucap Ibu Sari.


 


 


"Ibu benar Eyang, kita harus tetap merahasiakan ini, tetapi untuk dua orang itu, kurasa mereka akan terus mencari tahu. Jika aku tak menjelaskan yang sebenarnya".


 


 


"Baiklah, tetapi ini sudah larut malam nak".


 


 


"Mereka pasti tidak datang sendiri eyang, dan saya yakin eyang pasti tahu itu" ucap Adel.


 


 


"Tuan Arga tunggu" teriak Adel.


 


 


Arga menoleh, mendapati Adel yang sedang mengejarnya.


 


 


"Aku ikut, tapi tunggu sebentar aku ambil ponselku" Adel hendak berbalik.


 


 


"Tak perlu, ibu sudah membawanya untukmu" Ibu Sari menyerahkan tas selempang milik Adel.


 


 


"Adel pamit Ibu, Eyang jaga diri kalian" Adel mencium punggung tangan mereka.


 


 


"Kau juga hati-hati, dan untuk sementara waktu, biarkan ibumu disini, menemani eyang dan kita sebaiknya jangan saling menghubungi" ucap Eyang Wira.


 


 


"Baik Eyang, Adel titip ibu" Adel memeluk ibunya cukup lama.


 


 


TBC

__ADS_1


 


 


__ADS_2