
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Nggak usah melamun, lusa Wulan udah balik Jakarta." Henry menyentil telinga Arga yang sibuk melamun.
"Bisa gak itu tangan dikondisikan." ucap Arga ketus.
"Lagian aku bicara sampai mulut ku keram, malah otakmu sibuk berkelana."
"Sembarangan, siapa yang berkelana?" Arga melempar gulungan kertas ditangannya.
"Jangan bilang kamu lagi bayangin Wulan pakai bikini ya. Hahaha...."
"Hust, dasar fiktor." Arga berjalan menjauh, menuju sofa yang ada diruangan Henry. "Jadi gimana proposal saya Tuan Henry, apa bisa diterima?" Arga mendaratkan tubuhnya, duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Boleh, tapi menurut ku ada beberapa yang perlu direvisi. Dan satu lagi, sepertinya Anda harus menyiapkan planing kedua. Atau bisa dibilang proposal cadangan." Henry menopang dagunya dengan kedua tangan diatas meja.
Mereka berdua sedang membahas masalah proyek baru yang akan ditangani Arga. Namun Henry tak bisa lepas begitu saja. Sesekali dia membantu Arga, terlebih presentasi nya hanya tinggal menghitung hari.
Namun Arga hari ini tak fokus sama sekali, entah apa yang dia pikirkan kali ini. Padahal Wulan sudah menerimanya dan hubungan mereka sudah baik seperti sebelumnya.
"Malam ini kamu menginap ditempat ku. Kita bahas detailnya." ucap Henry bersiap untuk pulang. "Aku tunggu di rumah."
"Hah, sebenarnya apa mau dia? sepertinya Aku memang harus lebih banyak belajar tentang penanganan proyek besar." Arga sedikit mengacak rambutnya. Dia harus dipusingkan dengan presentase yang biasa dilakukan Henry.
Arga hendak menyusul Henry, namun gawainya berdering. Menampilkan sosok yang akhir-akhir ini mengisi hatinya.
"Jangan pulang terlalu larut, jangan lupa makan, jangan bergadang."
"Kan begadang memang dilarang. Seperti lagunya Raja Dangdut, Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya...... begadang boleh saja....."
"Ngapa jadi nyanyi sih?" Arga menepuk keningnya sendiri, meneruskan langkahnya yang terhenti. Sudut bibirnya tertarik keatas, dengan kening sedikit berkerut.
Flash Back On
__ADS_1
"Lan, tolong fikirkan lagi, apa kamu tega menyakiti Arga? Dia sudah tahu keadaan kamu sejak awal, tetapi tak menjadikan itu masalah baginya. Dan Mommy juga Daddy, juga sudah tahu mengenai hal ini. Tetapi mereka juga tetap menyetujui hubungan kalian. Lalu apalagi yang membuat kamu ragu?" tanya Adel setelah Wulan sedikit tenang.
Wulan mere** s kedua tangannya, yang dikatakan Adel benar. Seharusnya sejak awal Arga menjauhinya saat mengetahui kondisi keluarganya, terutama Ayah Wulan. Tetapi Arga tak sedikitpun menyerah.
"Saat ini kamu adalah orang terpenting dalam hidupnya, selain kami keluarganya. Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Arga selanjutnya?" Adel menarik bahu Wulan, mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Tapi Aku malu, Aku tak sebanding dengan Arga. Sekarang Aku hanyalah anak seorang penjahat. Huuu...." Wulan kembali terisak.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi kamu gak usah kenal Aku lagi, gak usah ketemu El lagi." Adel mengancam.
"Kamu mengancam ku?" Wulan mendongakkan wajahnya, menatap Adel yang sudah berdiri.
"Ya, Aku benci sama yang namanya Wulan. Dia lemah, cengeng. Gak punya pendirian, dan satu lagi, Aku benci orang yang gak menghargai usaha orang lain. Hanya egois memikirkan dirinya sendiri." ucap Adel sinis.
Wulan semakin sedih, semua orang sudah membencinya. Karena dia anak dari seorang penjahat. Apalagi sekarang ayahnya adalah nara pidana.
"Pergi kalian semua, Aku memang pantas dibenci. Aku gak pantas berteman dengan mu." Wulan semakin tergugu, pikirannya kacau.
"Baik, Aku akan pergi sekarang. Tapi kamu jangan kecewa kalau suatu hari kamu menyesal." Adel meninggalkan Wulan sendiri. "Oh ya, kalau memang kami benci kamu dan keluarga mu, kami gak akan jauh-jauh datang kemari. Bahkan Arga sampai celaka, semuanya hanya untuk orang yang gak tahu terima kasih. Kasihan sekali Arga, memang seharusnya dia gak disini."
Arga, meski tahu Ayahnya seperti apa, namun tak pernah menyakiti Ayahnya. Dan tak menutupi hal itu dari keluarganya. Dia masih bersikap baik pada Wulan dan keluarganya.
Wulan kembali saat Arga dan semua rombongan hendak pergi. Wajahnya lusuh, penuh kekecewaan, wanita yang selama ini dia perjuangakan justru menolaknya. Dimana janji yang pernah terucap bahwa mereka akan menghadapinya bersama. Tetapi baru satu masalah sudah menyerah.
"Tunggu." Wulan mencekal pergelangan tangan Arga yang hendak memasuki mobil.
"Kita harus bicara."Wulan kembali menghalangi Arga, bahkan sekarang memeluk tangannya erat.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi." ucap Arga dingin.
"Aku mohon." Wulan memelas, bahkan sudut matanya kembali basah. "Aku minta maaf, jangan pergi."
Arga melepaskan tangan Wulan, dan masuk kedalam mobil. Wulan menangis dwngan menekuk kedua lututnya, tangannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Katanya mau bicara, kenapa malah jongkok disitu? kenapa? uang mu jatuh?" Arga mengernyit heran.
__ADS_1
Wulan mendongakkan wajahnya, mobil masih berjajar rapi. Bahkan di dalam ruang tamu masih penuh orang. "Bukanya kamu mau pergi?"
Apa Aku sedang berhalusinasi? Tidak, tidak tadi itu nyata. Tapi di dalam masih banyak orang dan... mobilnya kosong. Gak ada penumpangnya.
"Hei kamu ini kenapa?" tanya Arga, dia semakin heran melihat Wulan yang mengintip beberapa mobil yang masih berjajar dihalaman rumahnya.
"Bukanya kamu mau pergi?" tanya Wulan. Dia mengusap jejak air mata disudut matanya.
"Iya, Aku memang mau pergi, buat ambil ini." Arga memperlihatkan tas yang berisi perlengkapan El. "Dia merengek, minta dibuatkan susu." Arga meninggalkan Wulan begitu saja. Segera mengantarkan benda yang sudah ditunggu Adel.
Jadi Aku benar-benar berhalusinasi tadi? Apa aku sudah mulai hilang kendali?
Wulan berlari menyusul Arga, di dalam ruangan masih lengkap. Semuanya berkumpul menunggu keputusan Wulan dan Arga.
"Jadi apa kami bisa pulang sekarang?" tanya Adel sambil menenangkan El.
"Si-siapa yang mengizinkan kamu pulang?" Wulan sedikit malu. Mengingat ucapannya pada Adel.
"Kamu yang mengusir ku tadi, katanya aku gak pantas berteman dengan mu." ucap Adel menyindir.
"Saya minta maaf, Tuan, Nyonya, semuanya yang ada disini. Terutama untuk Arga." Wulan menundukkan kepalanya, dia sangat malu atas tindakannya yang diluar kendali. Tetapi semuanya memahaminya. Adel sudah menjelaskan bahwa Wulan yang terbawa suasana. Emosi sesaat, kesedihan yang membuatnya jadi tak memikirkan dengan baik keputusannya.
Nyonya Amel mendekati Wulan, dia memeluk calon menantunya. "Jadi kamu mau terima lamaran ini? kalau gak ada loh yang mau gantiin kamu." canda Nyonya Amel.
"Gakkkk... Maksud ku gak boleh ada yang gantiin Aku." Wulan tersipu, membuat semua mata yang memandangnya terkekeh.
"Jadi aku ulangi lagi. Wulandari, mau kah kamu menerima lamaran ku? menjadi istri ku kelak?" ucap Arga dengan lantang.
Wulan melirik Ibu dan Lintang, keduanya mengangguk. Dia juga melirik Adel, yang hanya mengedikkan bahunya.
Nyonya Amel mengusap bahu Wulan dengan sayang. Wulan memgangguk dengan mantap, lagi pula Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu tak keberratan dengan status sosial Wulan. Yang terpenting adalah kebahagiaan Arga. Masalah yang lain bisa di selesaikan nanti. Dan bagi mereka, hal itu bukanlah hal yang sulit.
Flash Back Off
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH