Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Pantai


__ADS_3

Tetap dukung Baby El yah readers, dengan cara Like Komen dan Vote.


γ€€


γ€€


Happy Reading


γ€€


γ€€


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


γ€€


γ€€


Hari itu telah tiba, Henry mengajak El dan keluarganya berlibur. Mereka memilih pantai, sebagai tempat bersenang-senang.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


Laut indah yang dikelilingi bukit-bukit, ahh sungguh menyejukkan mata. Siapapun yang memandangnya.


γ€€


γ€€


Henry dan keluarga memiliki vila pribadi yang langsung menghadap ke pantai. Angin semilir, suara deburan ombak yang berkejaran, suasana sangat asri.


γ€€


γ€€


"Ama, disini kita tak perlu ac, udaranya sangat sejuk." Adel merentangkan kedua tangannya, menikmati udara segar lewat kedua lubang hidungnya.


γ€€


γ€€


"Kau benar Del, ini sangat indah, kita akan betah berlama lama disini." Nyonya Amel menyandarkan bahunya pada kusen pintu. Dan melipat kedua tangannya diatas perut, mereka sangat menikmati pemandangan indah itu dari balkon kamar yang ditempati Adel.


γ€€


γ€€


Baby El tertidur dengan nyenyaknya, tak merasa terusik sedikitpun dengan kebisingan 4 orang dewasa disekitarnya.


γ€€


γ€€


"Bagaimana kalau kita turun kepantai Del?" Wulan sudah tak sabar ingin bermain pasir pantai, dia terlihat sangat antusias.


γ€€


γ€€


"Kita baru saja sampai, istrirahatlah dulu." Saran Nyonya Amel. "Kita juga belum makan siang, ayo kita makan dulu, sambil menunggu El bangun."


γ€€


γ€€


"Yah aku juga merasa lapar, sepertinya kalau disini terus berat badanku akan terus meningkat." Adel terkekeh, membayangkan hidup di linkungan ini. Pasti sangat menyenangkan.


γ€€


γ€€


Henry menempati kamar utama, awalnya dia ingi bersama El. Tetapi itu tak mungkin, karena El tak akan bisa jauh dari pengasuhnya itu.


γ€€


γ€€


"Sudah lama sekali aku tak ketempat ini, masih sama seperti dulu, bahkan sekarang semakin indah." Gumam Henry. Dia membayangkan waktu mudanya, sering menghabiskan waktu liburnya disini, bersama para sahabatnya.


γ€€


γ€€


Pintu kamar diketuk, membuyarkan lamunan Henry, dia segera mengikuti yang lain untuk makan siang di lantai satu.


γ€€


γ€€


"Arga mana?" tanya Ama. Dia sedari tadi tak melihat orang terdekat Henry tersebut.


γ€€


γ€€


"Mungkin masih dikamar, Ama tenang saja, dia pasti segera turun." Ucap Henry dengan wajah datarnya.


γ€€


γ€€


"Aku seperti mendengar ada yang menyebut namaku." Arga barusaja sampai dianak tangga terakhir.


γ€€


γ€€


"Ceh, siapa yang menunggumu, Ama hanya menanyakanmu. Kau ini percaya diri sekali." Henry menatap datar pada Arga.


γ€€

__ADS_1


γ€€


"Ayolah Ar, kita sedang liburan. Jangan kau rusak dengan celotehan tak bergunamu itu."


γ€€


γ€€


"Dasar anak bodoh, berisik saja." Namun Henry hanya acuh, masa bodo dengan oceh BuPres.


γ€€


γ€€


"Duduklah Ga" Ama melirik kursi kosong disebelah Adel. Tanpa menunggu lama, Arga menarik kursi tersebut, dan mendaratkan tubuhnya disana.


γ€€


γ€€


Makan siang berjalan khidmat, hanya suara sendok yang saling beradu dengan piring. Peraturan tak tertulis yang selalu tertanam dalam keluarga besar Syahreza.


γ€€


γ€€


Uhukkk uhukkkk


γ€€


γ€€


Tiba-tiba Adel terbatuk, sebagai orang yang duduk disebelah Adel. Arga menyodorkan segelas air putih padanya, begitupun Henry, yang duduk diseberang Adel.


γ€€


γ€€


"Minumlah." Henry memberikan air putih miliknya.


γ€€


γ€€


"Nona minumlah." Ucap Arga mendekatkan gelas yang dipegangnya. Adel masih mematung, ada apa dengan dua manusia kutub ini? Pikirnya.


γ€€


γ€€


"Hey aku duluan." Henry memaksa.


γ€€


γ€€


"Saya duluan, yang paling dekat." Arga tak ingin kalah.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


Adel tak ingin ambil pusing, dia meeaih gelas dihadapannya. Dia meneguknya hingga tersisa setengah bagian. Lalu meletakkan kembali ketempatnya.


γ€€


γ€€


"Tuan-Tuan, samapai kapan kalian akan memegang gelas seperti itu?" Adel terkikik, melihat Henry dan Arga yang masing mematung, dengan tangan mereka memegang gelas ditangan kanan mereka.


γ€€


γ€€


*Si*lan\, aku sudah berbaik hati malah mempermalukan aku. Henry


γ€€


γ€€


Heyyy, kau ini memang menyebalkan nona, aku menyesal telah berniat baik padamu. Arga*.


γ€€


γ€€


Kedua orang itu meminum sendiri air yang mereka pegang sambil menggerutu.


γ€€


γ€€


"Hahahahaaaa..." Tawa semua orang menggema diruang makan, kecuali Henry dan Arga. Mereka sangat malu, dengan tindakan yang mereka lakukan.


γ€€


γ€€


Selesai makan siang, Adel dan Wulan kembali ke kamar El. Rupanya bayi itu baru saja terbangun, dia menggeliat, dan duduk dengan wajah imutnya.


γ€€


γ€€


"Heii sayanggg kau sudah bangun, hmmm." Adel duduk disamping ranjang, begitupun Wulan. Tidak seperti Rena, Wulan mengurus El dengan baik, bahkan tak jarang dia tidur bersama El dan juga Adel. Dengan El ditengah, El juga menurut pada Wulan karena kedekatan mereka sama seperti Adel.


γ€€


γ€€


Bahu membahu menyiapkan keperluan El, jadilah Adel tak terlalu repot jika harus meninggalkan El nantinya. Itulah tujuan Adel mendekatkan mereka berdua.

__ADS_1


γ€€


γ€€


"Maamiii Ey" ucap El serak.


γ€€


γ€€


"Apa kau lapar El?" tanya Wulan, dia memberikan sebotol susu pada El, yang telah dia siapkan tadi.


γ€€


γ€€


"Cucuuuu" El menyambut botol itu dengan girang. Adel mengusap puncak kepala bayi tampan itu. Lucu dan menggemaskan.


γ€€


γ€€


Diusianya yang baru satu tahun lebih, El sudah mulai pandai berbicara, menirukan ucapan orang-orang disekitarnya. Juga senyumnya, yang memperlihatkan barisan gigi putihnya. Gigi El berjumlah 10, 6 diatas dan 4 dibawah.


γ€€


γ€€


"Minumlah!! Setelah ini kita jalan-jalan, yeeeeah" Adel bertepuk tangan diikuti El, menepuk botol susu yang dia pegang.


γ€€


γ€€


"Ini masih terlalu terik Adel, sebaiknya kita tunggu sore. Pasti udaranya juga lebih sejuk." Wulan merasa keberatan, pasalnya sekarang ini tengah hari. Tak mungkin bagi mereka untuk bermain pasir, jika matahari tepat diubun-ubun.


γ€€


γ€€


"Baiklah, Dokter Wulan." Adel memberikan senyum manisnya.


γ€€


γ€€


"Hmmmpptt" Wulan tak suka Adel memanggilnya dengan sebutan Dokter, terasa ada jarak diantara mereka. Dengan menyebutkan nama, mereka terlihat lebih akrab.


γ€€


γ€€


Hawai nya pulau jawa, heee anggaplah seperti itu...( Thor maksa banget πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…). Kita hanya perlu melestarikan dan menjaga apa yang disuguhkan alam tanah air kita, tak perlu ke luar negeri. Jika kekayaan Indonesia sendiri begitu memukau.


γ€€


γ€€


Setelah matahari bergeser kebarat, Wulan mengajak Adel dan El main dipasir pantai. Untuk pertama kalinya, El bermain di luar. Bayi itu sangat antusias, berjalan hilir mudik. Saling mengejar bersama Adel dan Wulan.


γ€€


γ€€


Ama dan Nyonya Amel memilih menikmati pemandangan laut dari villa. Terlebih Ama, dia harus banyak beristirahat, karena perjalanan jauh yang mereka tempuh.


γ€€


γ€€


Sementara dua manusia kutub itu, hanya duduk sambil menikmati es kelapa yang mereka pesan. Mereka hanya mengawasi El dan pengasuhnya dari jauh.


γ€€


γ€€


"Ga kau ingat? Dulu setial libur sekolah mita sering kemari." Henry nyeruput air kelapa dihadapannya. Pandangannya tak lepas dari El, dan wanita gila yang menyevalkan itu.


γ€€


γ€€


"Yah, dan itu sudah lama sekali, sebelum akhirnya kita sibuk masing-masing." Arga memandang jauh kedepan, ada langit biru dan awan putih yang menghiasi, sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Lebih tepatnya wanita yang sedang bersama El.


γ€€


γ€€


"Cantik" gumam Henry. Namun didengar Arga, dia pun menyahutinya."Sangat cantik."


γ€€


γ€€


"Yah kau benar" Henry masih belum memutuskan pandangan matanya. Arga melirik kemana arah pandangan Henry.


γ€€


γ€€


Cih, Ternyata kau diam diam memperhatikannya. Tapi demi El, akan ku buang jauh-jauh rasa tertarik ku padanya. Asalkan kali ini kau benar-benar menjaganya sepenuh hatimu.


γ€€


γ€€


Arga hanya tersenyum masam. Dia sangat tahu sifat Henry, Henry tak akan pernah meliriknya, jika sesuatu itu tak memiliki nilai lebih dimatanya.


γ€€


γ€€


TBC


γ€€

__ADS_1


γ€€


Terima Kasih


__ADS_2