
Terus dukung Baby El ya kakak semua, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Saya disini memang menggantikan Anda, tetapi masalah laporan bukankah setia saat saya melaporkan pada Anda. Dan semua berkas juga melalui tanda tangan dan persetujuan Anda." Paman Irawan mulai menunjukkan taringnya.
"Bagaiman ini Tuan, jika seperti ini hasilnya, saya akan menarik saham saya." Ucap seorang dengan perawakan tinggi dan kumis tebal.
"Benar, saya juga tidak akan membiarkan uang saya di perusahaan yang akan pailit ini." Wanita bersanggul ikut bicara.
"Ya saya juga." Lelaki kepala botak ikut menimpali.
Suasana rapat semakin memanas, Tuan Wira sudah mencoba menjelaskan, tetapi tak kunjung menemukan titik terang. Adel membantu Eyang, tetapi malah dihiraukan, sepertinya memang sengaja ada yang menyalakan api diantara mereka. Disaat seperti ini, ruangan rapat yang tertutup rapat terbuka.
Seorang pemuda tampan, dengan gagah bak seorang pahlawan datang dengan beberapa orang dibelakangnya. Bayangannya seperti itu, tetapi yang ada hanyalah seorang rambut kribo, dengan kacamata tebal bertengger dihidung mancungnya. Untunglah dia mancung. Hahaa....
"Hah, Kribo, mau apa kamu kemari? Disini bukan tempatmu. Apa kamu salah masuk ruangan?" Suara Paman Irawan merendahkan.
Adel menggebrak meja, dia menegaskan agar semua peserta rapat harus duduk dan tenang kembali. Suasana bisa terkendali, mereka menempati kursi masing-masing. "Kalian adalah orang-orang terhormat dengan pendidikan tinggi, inikah cara kalian memperlakukan orang lain?" Suara Adel meninggi, dia sangat geram dengan manusia sampah seperti mereka.
"Maaf Tuan dan Nyonya, saya hanya mengantarkan berkas yang tertinggal untuk Tuan Wira." Henry menundukkan kepalanya, bukan takut tetapi malas melihat orang-orang dengan wajah palsu dihadapannya.
"Terima kasih Reza. Kamu tetaplah disini." Tuan Wira segera membuka berkas yang ada ditangannya. Ia sedikit terjingkat, ternyata sudah separah ini kecurangan yang mereka lakukan. Batin Tuan Wira.
__ADS_1
"Bagi kalian yang ingin menarik kembali saham kalian saya persilahkan." Adel bersedekap, namun ia sudah duduk dikursinya. Para pemegang saham tak berkutik, wajahnya memucat, terutama orang yang dengan tidak sopan membuat keributan. "Saya hitung sampai sepuluh, bagi yang tidak bersedia mengaku, silahkan tinggalkan ruangan ini."
"Saya minta maaf Nona, karena saya terburu-buru mengambil keputusan." Ucap Si kumis tebal.
"Saya juga Nona, saya akan mendengarkan penjelasan Tuan Wira kali ini." Si Botak ikut memohon.
Tidak dengan wanita bersanggul yang tetap pada keputusannya. Untuk menarik kembali saham yang telah dia investasikan. "Saya tetap akan menarik kembali dana yang sudah saya tanamkan disini." Wanita itu memiliki 15% saham di Wiranata Group, tetapi bukan masalah, masih ada banyak yang masih mempertahankan sahamnya.
Total saham yang diambil ada sekitar 45%, hampir setengahnya. Tuan Wira merasa kuatir dengan masa depan Wiranata Corporation. Adel berusaha menguatkan Eyangnya. "Adel pasti akan mengembalikan kepercayaan investor, Eyang tenang saja. Adel akan berusaha keras."
Henry sejenak menatap Tuan Wira, kemudian saling menganggukkan kepalanya. Dengan dua kali tepukan tangan, Udin dibawa paksa masuk dengan tangan diborgol dibelakang tubuhnya. "Ampun Tuan." Udin berdiri dengan lututnya.
"Sia***!!!" Paman Irawan mengepalkan tangannya. Semua yang sudah ada digenggamnnnya terlepas begitu saja. Dia tak mengira bahwa situasinya akan berbalik menyerangnya. " Mohon perhatian semuanya" Henry berdiri disamping kiri Tuan Wira. Ditangannya ada sebuah flasdisk, dia menyalakannya pada komputer yang terhubung ke layar proyektor.
Disana menunjukkan setiap kecurangan yang dilakukan Paman Irawan, termasuk rekamannya di basement waktu itu. "Apa sekarang Anda semua sudah percaya?" Henry kembali memutar laporan arus kas yang sebenarnya. Yang dia dapatkan dari Nathan.
Dasar penghianat!! Aku akan membunuhmu Kribo. Ini semua pasti ulahmu.
BUKKKK
Sebuah pukulan mendarat diwajah tampan Henry, bukan tapi wajah cupu si kribo. Henry yang tidak siap mundur beberapa langkah, dan kembali bisa menyeimbangakan tubuhnya. "Siapa kau sebenarnya hah?" Bentak Paman Irawan.
Henry mengelap darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. "Ceh, Anda tak perlu mengetahui siapa saya sebenarnya." Henry berdecih, Paman Irawan ingin kembali melancarkan aksinya. Namun ditahan oleh beberapa orang, dengan seragam yang sama, tubuh tegap dan wajah siap memangsa. Entah darimana mereka datang. Tiba-tiba sudah berada disana.
"Tolong jangan membuat keributan dikantor saya." Tuan Wira mendekati Paman Irawan. Sebuah tamparan membekas dipipi kanannya. "Itu masih belum seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan. Aku begit mempercayaimu, tetapi apa balasan yang ku terima?" Tuan Wira menatap nyalang pada Paman Irawan.
__ADS_1
"Kau ingin tahu siapa dia?" Tuan Wira mendekati Henry. "Memang sudah saatnya kamu tahu siapa dia." Henry melepas atributnya, semua mata terpana, termasuk Heru. Ternyata orang yang dia tindas selama ini adalah pangeran kerajaan bisnis yang sedang meroket. "Tuan Henry" Gumam Heru pelan.
"Sekarang kalian sudah tahu siapa dia, jadi apa masih ingin membuat keributan disini?" Tuan Wira kembali kekursinya, beberapa orang kembali duduk, dan pemegang saham yang merasa keberatan sudah meninggalkan ruangan. Paman Irawan masih dalam posisinya, diapit oleh kedua Algojo bawahan Henry.
"Jangan kira saya bodoh Wan, saya dari awal sudah mengetahui niat busukmu itu. Saya diam bukan berarti saya terima atas perlakuanmu. Sekarang kamu pertanggung jawabkan semuanya. Aku harap kamu merenungi kesalahan yang telah kamu perbuat." Tuan Wira memutar kepalanya kembali kemeja rapat.
Menghela nafas sejenak, dan melanjutkan pidatonya. "Hari ini juga akan saya umumkan, bahwa Cucuku, Adellia Jasmine yang akan menggantikan saya. Untuk kedapannya dia yang akan memimpin Wiranata Corporation." Suara riuh tepuk tangan menyambut Adel sebagai CEO baru mereka.
Tuan Wira kembali melirik Henry. "Dan dia juga yang akan bertanggung jawab untuk itu." Henry tercengang, mencerna dengan lebih dalam apa maksud dari ucapan Tuan Wira. Tetapi otaknya buntu, dia tak bisa menemukan apapun. Begitupun Adel, dia sendiri tak mengerti maksud dari Eyangnya. Adel dan Henry saling melempar pandangan, mengedikkan bahu sebagai tanda tak mengerti.
Prokkk Prokkk Prokkk
"Yes, CEO cantik."
"Wah bisa cuci mata tiap hari."
"Selamat Nona, kita akan sering bertemu."
"Gebetan baru."
Dan masih banyak yang lain, kalimat pujian untuk Adel. Semua peserta rapat memberi tepuk tangan meriah, bahkan ada yang bersiul. Mereka larut dalam kegembiraan. Kecuali Paman Irawan dan Heru, mereka semakin menambah kadar kebencian dihati mereka.
Bahkan beberapa orang yang terlibat sudah digiring kekantor polisi. Bahkan Udin sudah lebih dulu diamankan, itulah mengapa pekerjaan Henry sedikit ringan.
Udin dengan mudahnya buka mulut tentang rencana busuk Tuan Irawan. Udin melakukan itu sebagai bentuk penyesalannya, beberapa hari hidup dalam pengejaran, membuatnya semakin gelisah. Kemanapun dia takut, tetapi dia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa perbuatannya harus dipertanggung jawabkan.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH