
Budayakan like komen dan vote setelah membaca.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Gelang
"Tentu saja rindu, Daddy rindu El and Mami" Henry membawa Adel dalam dekapannya dengan sebelah tangannya, namun segera ditepis Adel.
"Huh, menyebalkan" Adel berbalik, dia menghentakkan kakinya, kembali ke kamar, namun mulutnya tak henti mengutuki Henry yang keterlaluan tak memberitahukan kedatangannya.
"Tuan, kau memang keterlaluan, demi menjemputmu Adel bahkan melewatkan sarapan, tapi malah sekarang kau membuatnya tambah kesal" Wulan mencibir, dia juga sebal dengan Arga yang tak memberitahunya.
"Apa? Jadi dia belum makan?" Henry memicingkan matanya, dia memijat pelipisnya, merasa bersalah pada Adel. "Bawa El kebawah, Minta Bibi Mey siapkan makanan favorit Adel" Henry ingin menyusul Adel. Rencananya untuk memberikan surprise gagal sudah.
"El ikut Mama Wulan yukk" El malah semakin erat memeluk Daddy, membuatnya mendesah pelan.
"El sayang, nanti kita main mobil, Daddy ambil dulu mainannya, okey" Henry mengangkat tangannya keudara, disambut El dengan riang, mereka ber'tos' ria.
"Otey, ayo Mam" El mengulurkan tangannya, meminta Wulan menggendongnya. Henry melanjutkan niatnya menyusul Adel. Tetapi Henry tak mendapati Adel dimanapun, Adel tak ada dikamarnya. Ternyata dia sedang berdiri di pagar di balkon kamar.
Henry berlari, dia sudah berpikiran yang aneh-aneh. "Maaf, tapi tolong jangan lompat kebawah" Henry memeluknya erat dari belakang. Adel meronta, Henry kehilangan keseimbangan dan mereka berdua jatuh dengan Adel berada diatas.
Adel segera berdiri, Henry menarik tangannya, tatapan mereka saling terkunci. Wajah keduanya tersipu, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. "Ehhmm, sampai kapan kau atas terus disana?" Adel tersadar, dia menjauhkan tubuhnya.
"Dasar mesum, kamu sendiri yang menarik tanganku" Adel merajuk, Henry malah tertawa melihat sikap Adel yang menurutnya sangat lucu.
"Hahaha, lucu sekali" hal itu membuat Adel tambah kesal, dia membiarkan Henry yang masih terduduk. "Duh, tambah ngambek" Henry menyusul Adel kedalam kamar.
"Baiklah, aku minta maaf, maaf karena membuatmu kesal" Adel menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap Henry sinis. Dia hanya diam tanpa berniat meladeni Henry, dia ingin membalas Henry.
__ADS_1
Adel meraih gagang pintu, namun dia terkejut dengan kehadiran Bibi Mey yang membawa nampan dengan beberapa makanan diatasnya. Adel mengernyitkan keningnya, dia tak memesan makanan itu.
"Bibi tolong bawa masuk ya" Henry yang sudah berada dibelakang Adel. Bibi Mey menuruti ucapan Henry, dia menaruh nampan di atas meja didekat sofa. "Terima kasih Bi Mey" Henry memamerkan deretan giginya.
Bibi Mey kembali ke dapur setelah mengucapkan permisi pada Henry dan Adel. "Sudah seperti iklan pasta gigi, hah tutup mulutmu, nanti gigi mu kering" sahut Adel tanpa memandang Henry.
Henry menyunggingkan senyumnya, Adel sudah mau berbicara dengannya. Dia membimbing Adel untuk duduk disebelahnya. Tak ada penolakan, membuat Henry semakin senang.
"Maaf ya Mami, karena ingin segera bertemu dengan ku jadi mengabaikan sarapanmu, sekarang aku ada disini, jadi biar aku yang menyuapimu" Henry mengisi sendok dengan nasi dan lauk pauk. Sarapan pagi yang kesiangan, Henry menyodorkan sendok kehadapan Adel. "Aaaa" seperti Adel sedang menyuapi El, refleks mulut Henry ikut terbuka.
"Hahaha, kenapa tidak kau saja yang makan?" Adel membelokkan sendok ke mulut Henry dengan tangannya memegang tangan Henry, mau tak mau Henry harus mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya. Sebenarnya dia juga belum makan apapun pagi ini, karena ingin segera berjumpa El dan Mami. Sedangkan anggota keluarga yang lain sudah mengetahuinya, Arga yang memberitahukan hal itu, hanya Adel sendiri yang tak diberitahu.
"Heiii, kenapa malah aku yang makan, aku kan menyuruhmu makan" ucap Henry setelah menelan makanan yang dikunyahnya.
"Tapi kamu juga lapar kan?" Adel mendengarkan cacing diperut Henry yang demo meminta jatah. Henry kembali menyuapi Adel, kali ini tak ada penolakan, makan pagi yang kesiangan menjadi romatis, saat mereka berdua bergantian saling menyuapi satu sama lain.
Selesai makan, Henry tak melepaskan tangan Adel. "Lepas, aku mau ambil minum" Adel berdiri namun ditahan Herny dengan sebelah tangannya.
"Lepas, aku gak akan lari" Adel mulai risih dengan perlakuan Henry. Dia berusaha melepaskan tangannya.
"Diam sebentar" Henry mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya, sebuah gelang cantik dengan hiasan berbentuk hati dengab berlian diatasnya. "Seharusnya ini adalah hadiah pernikahan, tapi sama saja diberikan sekarang atau nanti" ucap Henry seraya memasangkan gelang itu ditangan kanan Adel.
Adel menutup mulutnya, takut air ludahnya menetes, ups maksud thor biar kaya di sinetron gitu lah.
"Apa kau suka?" Adel mengangguk pelan, hatinya sungguh bahagia, serasa melayang diatas awan, bagaikan ada kupu-kupu beterbangan dari perutnya.
Tak ku sangka manusia kutub sepertinya bisa juga bersikap lembut dan romantis seperti ini.
Adel sesekali melirik Henry yang sibuk dengan gelang ditangannya.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau menyukainya, aku sendiri yang mendesain itu, ini edisi khusus untuk orang yang spesial. Tapi ingat jangan sampai hilang, apalagi digadaikan atau dijual" Henry dengan seringai diwajahnya.
Aku tarik kata-kataku kembali, sekali manusia kutub, tetap saja orang yang menyebalkan dengan kesombongan yang akan selalu menempel padanya.
"Ya sudah biar aku jual saja sekarang, lumayan buat tambah biaya resepsi" Adel hendak melepaskan gelang ditangannya.
Henry tak tinggal diam, dia membawa Adel dalam pelukannya. "Ayolah, mana mungkin kau menjual gelang yang tak seberapa itu, uangku tak akan habis meskipun kau berfoya-foya setiap hari" Henry masih meninggikan dirinya, dia tak menyadari Adel yang semakin kesal karena ucapannya.
Memang benar harga gelang itu tidaklah murah, terlebih itu edisi khusus. "Kau memang menyebalkan, dasar sombong" Adel mendorong tubuh Henry dengan kedua tangannya.
"Haih, baiklah sekarang aku serius, aku tau kau tersinggung dengan ucapanku, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf, aku tak bisa berkata-kata romantis, jadi tolong jaga ini dengan baik, love you" Henry mengecup gelang, bukan tangan Adel yang memakai gelang.
"Mamiii, Daddyyyy, huh" Adel dan Henry saling menjauh, merasa malu pada El yang berdiri didepannya, dengan kedua tangan bersedekap didada. Wulan terkikik melihat adegan tersebut. "Rasain, diganggu si bocah kecil" Dia meninggalkan kamar diam-diam, berjalan mundur hingga tubuhnya menabrak sesuatu.
"Awww" Ketiganya menoleh keasal suara, giliran mereka bertiga yang tertawa. "Hahaha... Kalau iri bilang Lan, nanti ku panggilkan Arga" Wulan mengerucutkan bibirnya, mengusap kepalanya yang terbentur kusen pintu.
"Si**, duh kamu ngapain sih nabrak aku" Wulan memukul kusen yang dia tabrak, membuat ketiga orang didalam kamar semakin tertawa riang.
"Dad, ayo ain, ayo abil ainan Dad" ( ayo main, ayo ambil mainan Dad) Henry segera berdiri, menggandeng tangan El menuju kamarnya.
"Nooo, Dad..." El mengulurkan kedua tangannya, meminta gendong pada Daddynya.
"Uwww anak tampan Daddy"
.
.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1